Bab 2: Pahlawan Muda
"Xiao Cheng, Xian'er, Kakak berhasil lulus ujian kabupaten!"
Begitu memasuki rumah, Su Yu langsung mengumumkan kabar gembira tersebut.
"Benarkah?" Adik bungsu, Su Xian'er, yang sedang menyalakan api untuk memasak, langsung berdiri dengan perasaan terkejut sekaligus gembira begitu mendengar perkataan Su Yu.
"Selamat ya, Kak!" Adik kedua, Su Cheng, yang sedang duduk di kursi roda kayu, tersenyum lebar.
Melihat wajah pucat adiknya, hati Su Yu dipenuhi rasa bersalah. Jika saat itu adiknya tidak nekat maju melindungi, dia pasti sudah tewas di bawah tebasan pedang perampok. Namun, sejak saat itu, adik keduanya tidak bisa lagi berjalan.
"Dengan kualifikasi sebagai pelajar, aku bisa mengikuti ujian provinsi berikutnya. Setelah nanti lulus dan mendapatkan gelar, aku pasti akan membuatmu dan adik bungsu hidup sejahtera." Sebagai kakak tertua yang sudah seperti orang tua bagi mereka, Su Yu bertekad untuk menjadi tulang punggung keluarga.
"Kak, aku yakin Kakak pasti bisa," ujar Su Cheng. Ia sangat percaya pada kakak sulungnya, sosok yang sejak kecil selalu merawatnya dengan penuh kasih.
Tak lama kemudian, Su Cheng mengubah topik pembicaraan dan mengingatkan, "Kak, karena sudah lulus ujian kabupaten, Kakak harus pergi memberi kabar kepada Paman Chen!"
Paman Chen yang dimaksud Su Cheng adalah sahabat lama ayah mereka. Keberlangsungan hidup mereka bertiga di Kabupaten Bailu sepenuhnya berkat bantuan Paman Chen. Paman Chen, yang bernama Chen Ming, adalah teman masa kecil ayah Su Yu. Dahulu, berkat bantuan dana dari ayah Su Yu, Chen Ming bisa belajar hingga akhirnya berhasil meraih gelar pejabat. Oleh karena itu, hubungan kedua keluarga sangat erat. Saat ini, Chen Ming menjabat sebagai kepala daerah di Kabupaten Bailu.
"Baiklah," Su Yu mengangguk. Sejujurnya, dia sangat enggan pergi ke kediaman keluarga Chen. Karena hubungan baik kedua keluarga, orang tua mereka dahulu telah menjodohkan Chen Yun, putri Chen Ming, dengan Su Yu.
Ketika keluarga Su mengalami kemalangan, Su Yu terpaksa datang ke Kabupaten Bailu untuk meminta perlindungan kepada Chen Ming agar bisa bertahan hidup. Menurut pikirannya, keluarga Su sudah hancur, jadi keluarga Chen pasti akan membatalkan pertunangan. Dia berniat menerima kompensasi dan mencari tempat tinggal agar bisa menghidupi adik-adiknya.
Namun di luar dugaan, Chen Ming sangat memegang teguh janjinya dan sangat memperhatikan mereka. Bahkan Chen Yun pun tidak membatalkan pertunangan tersebut, meski ia kini telah menjadi murid perguruan bela diri ternama, Perguruan Qingcheng.
Awalnya ini adalah hal yang baik, namun setelah keluarga Su jatuh miskin, istri Chen Ming memandang rendah dirinya sebagai calon menantu. Kata-kata yang pedas dan tajam sering kali membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Itulah sebabnya Chen Ming menempatkan Su Yu di luar kediamannya, agar dia tidak harus menanggung perlakuan buruk di dalam rumah.
Su Yu enggan ke kediaman Chen karena tidak ingin menghadapi calon ibu mertuanya yang ketus. Namun, karena kini ia telah lulus ujian kabupaten, ia merasa wajib melaporkan kabar gembira tersebut kepada Chen Ming.
***
Setibanya di kediaman Chen, pelayan tua, Paman Fu, menyambut Su Yu dengan sangat sopan. Saat ayah Su masih ada, setiap kali berkunjung, beliau selalu membawakan hadiah untuk Paman Fu. Karena masih mengingat kebaikan ayah Su, pelayan tua itu pun bersikap hormat kepada Su Yu.
"Tuan Muda Su, silakan ikut saya!" Paman Fu memimpin Su Yu masuk ke dalam kediaman.
Saat itu, Chen Ming sedang bersantap bersama istrinya. Mendengar kedatangan Su Yu, ia tersenyum dan berkata kepada istrinya, "Anak Su Yu itu pasti telah lulus ujian kabupaten." Ia selalu memperhatikan Su Yu dan tahu bahwa hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian.
"Huh, itu hanya ujian kabupaten. Sekalipun nanti dia lulus ujian tertinggi, dia tetap tidak pantas untuk putri kita!" Ren Min mendengus, matanya penuh dengan pandangan meremehkan.
"Cukup, jangan bicara seperti itu. Putrimu sendiri saja tidak keberatan!" Chen Ming mengerutkan kening, meski nadanya tidak berani terlalu keras. Dia adalah orang yang jujur dan pejabat yang bersih, tetapi memiliki kelemahan: takut pada istrinya. Jika Ren Min mulai menangis atau membuat keributan, dia tidak akan punya pilihan lain. Jika bukan karena rasa terima kasihnya kepada ayah Su, dia mungkin sudah membatalkan pertunangan ini di bawah desakan istrinya.
Ren Min hendak membantah, tetapi saat melihat Paman Fu mengantar Su Yu masuk, ia segera menelan kembali kata-katanya. Di depan orang luar, ia masih menjaga kehormatan suaminya.
"Salam, Paman Chen, salam, Bibi!" Su Yu memberi hormat kepada pasangan tersebut setelah memasuki ruangan.
"Bagaimana hasil ujian kabupaten kali ini?" tanya Chen Ming. Ia tahu dengan kemampuan Su Yu, ia pasti akan meraih peringkat yang baik. Ia bertanya demikian hanya agar Su Yu bisa menunjukkan prestasinya di depan istrinya.
"Beruntung bisa meraih peringkat pertama," jawab Su Yu.
Chen Ming mengelus jenggotnya dan memuji, "Bagus sekali!" Ia melirik istrinya, namun mendapati Ren Min tetap memandang dengan sinis, yang membuat Chen Ming merasa sangat tidak berdaya.
"Kamu pasti belum makan, ayo duduk dan makan bersama, temani Paman mengobrol!" Chen Ming berdiri dan menarik Su Yu untuk duduk, sama sekali mengabaikan ketidaksenangan di mata Ren Min.
"Baik!" Menghadapi sikap hangat Chen Ming, Su Yu tidak bisa menolak dan akhirnya duduk. Namun, ia tidak berselera menyantap hidangan di atas meja. Siapa pun akan kehilangan nafsu makan jika terus dipandang dengan tatapan dingin oleh Ren Min.
Setelah selesai makan, Chen Ming meminta Paman Fu mengambil sepucuk surat dari ruang kerja. "Xiao Yu, ini surat dari Yun'er yang dikirimkan beberapa hari lalu khusus untukmu. Dia berpesan agar surat ini diberikan setelah kamu lulus ujian, bukan berarti aku sengaja menahannya sampai sekarang."
Tatapan mata Ren Min seolah ingin membunuh saat menatap suaminya, sayangnya Chen Ming bersikap seolah tidak menyadarinya.
"Apakah musim dingin ini dia tidak pulang?" tanya Su Yu sambil menerima surat itu dengan perasaan heran. Meskipun Chen Yun sudah empat tahun menuntut ilmu bela diri di Perguruan Qingcheng, dia selalu pulang setiap musim dingin.
Chen Ming baru saja hendak menjelaskan, namun Ren Min yang sudah tidak sabar segera menyela, "Yun'er berprestasi sangat baik di Perguruan Qingcheng. Kabar dari rekan seperguruannya yang datang tadi, dia mendapat perhatian dari salah satu sesepuh dan kemungkinan besar akan diangkat menjadi murid langsung."
Tatapan Ren Min pada Su Yu dipenuhi kebanggaan dan kesombongan. Perguruan Qingcheng adalah perguruan besar di dunia persilatan, dan para sesepuhnya adalah ahli yang disegani. Menjadi murid langsung dari sosok seperti itu adalah sebuah loncatan besar dalam hidup.
"Perguruan Qingcheng memang luar biasa. Murid yang mengantar surat saja sudah memiliki tingkat bela diri peringkat tujuh, itu sudah tergolong ahli di Kabupaten Bailu kita ini," ucap Ren Min sambil terus melirik Su Yu, jelas sekali ada maksud terselubung di balik kata-katanya.
Su Yu bukan orang bodoh, ia tentu mengerti maksudnya: putrinya akan segera menjadi burung phoenix yang terbang tinggi, sementara Su Yu sama sekali tidak pantas mendampinginya. Su Yu sangat menyadari hal itu, tetapi apa yang bisa ia lakukan?
Chen Ming dan putrinya tidak ingin membatalkan pertunangan dan sangat baik padanya. Ia tidak mungkin mengajukan pembatalan secara sepihak, selain akan melukai perasaan mereka, ia juga akan dicap sebagai orang yang tidak tahu diri, dan kemungkinan besar Ren Min tetap akan membencinya. Akhirnya, ia hanya bisa berpura-pura bodoh dan tidak mengerti maksud Ren Min.
"Jika aku bisa mendapatkan pemahaman bela diri tingkat tinggi, mungkin aku juga bisa bergabung dengan perguruan ternama," pikir Su Yu dalam hati.
Mengenai murid Perguruan Qingcheng yang datang, Chen Ming juga memuji, "Masih muda, namun ilmu pedangnya sangat luar biasa."
"Belakangan ini di sekitar Gunung Cuizhu muncul kelompok bandit yang sangat kejam, dipimpin oleh Zhao Chong si 'Pedang Penyayat Wajah'."
"Itu adalah ahli bela diri tingkat tujuh puncak. Aku sangat pusing memikirkan hal ini dan sudah berkali-kali meminta bantuan Biro Pengawas Bela Diri, namun mereka tidak mampu mengatasinya. Hal ini sangat mengganggu kehidupan rakyat, sampai-sampai aku tidak bisa makan dan tidur tenang." Chen Ming tersenyum getir, menunjukkan betapa besar tekanan yang ia hadapi.
"Namun, coba tebak, anak muda itu sendirian dengan pedangnya berhasil memusnahkan kelompok bandit tersebut. Benar-benar pahlawan muda!" Chen Ming tertawa lepas, beban di hatinya akhirnya terangkat.
Hal itu membuat Su Yu merasa kagum. Seorang pemuda yang menenteng pedang untuk menegakkan keadilan, sungguh sebuah kehidupan yang bebas dan membanggakan!