Bab 32: Pemilik Tambang Baru
Halaman (1/3)
“Wuuung...”
Lebih dari setengah jam kemudian, tiba-tiba pusaran angin kencang berembus di dalam area pertambangan.
Setelah angin itu menghilang, sosok Leluhur Penembus Angin muncul di tanah lapang di hadapan mereka.
“Hormat kami, Leluhur Penembus Angin!”
Qin Jiange dan Ma Yingjie memberi hormat dengan mengepalkan tangan.
[Ding! Anda telah melihat Leluhur Penembus Angin dan memperoleh informasi terkait. Hari ini, Leluhur Penembus Angin menerima hadiah dari Raja Singa Hijau sehingga suasana hatinya sangat baik. Lebih seringlah berinteraksi dengannya untuk memperoleh hadiah yang tak terduga.]
Pada saat yang sama, sebuah pemberitahuan terdengar.
Melihat pemberitahuan itu, hati Qin Jiange langsung membara penuh semangat.
Leluhur Penembus Angin adalah siluman agung yang telah berwujud manusia.
Hadiah darinya tentu bukan sesuatu yang sederhana.
“Apakah Bunga Seribu Ilusi sudah siap?” tanya Leluhur Penembus Angin.
“Melapor kepada Leluhur, Bunga Seribu Ilusi sudah siap!”
Setelah berkata demikian, Ma Yingjie berjalan lebih dahulu ke depan.
Leluhur Penembus Angin pun mengikuti di belakangnya.
“Leluhur, Anda tampak sangat gembira hari ini!”
“Pasti ada kabar baik, bukan?” ujar Qin Jiange sambil melangkah maju.
“Benar!”
Senyum tampak di sudut bibir Leluhur Penembus Angin, dan ia pun menghentikan langkahnya.
“Leluhur, kalau ada kabar baik, bagikan juga kepada saya!”
“Biar saya ikut merasa senang,” kata Qin Jiange sambil tersenyum.
“Hari ini, rajaku menghadiahkan sebuah pusaka kepadaku!”
Leluhur Penembus Angin mengibaskan tangannya. Sebuah kantong berwarna hijau muncul di tangannya.
“Leluhur, pusaka apa itu?” tanya Qin Jiange dengan pura-pura penasaran.
“Pusaka ini adalah Kantong Semesta!”
“Ruang di dalamnya sangat luas!”
Leluhur Penembus Angin tampaknya sangat menyukai kantong hijau itu.
“Selamat, Leluhur. Selamat atas hadiah pusakanya!”
Qin Jiange segera mengucapkan selamat.
“Ha ha ha...”
Suasana hati Leluhur Penembus Angin semakin baik.
Ia melirik Qin Jiange, lalu mengibaskan tangannya dan mengeluarkan sebuah kantong kecil berwarna merah dari pinggangnya.
“Ini adalah Kantong Semestaku yang dahulu. Meskipun ruang di dalamnya tidak terlalu luas, masih cukup untuk menyimpan banyak benda.”
Setelah berkata demikian, Leluhur Penembus Angin melemparkan kantong merah itu kepada Qin Jiange.
“Terima kasih, Leluhur!”
Qin Jiange menerima kantong itu dengan wajah penuh sukacita.
Ia sama sekali tidak menyangka Leluhur Penembus Angin akan begitu murah hati. Ia hanya menyanjungnya beberapa kali, tetapi Leluhur Penembus Angin langsung menghadiahkan Kantong Angin dan Awan yang dahulu digunakannya.
Dengan kantong ini, berbagai pusaka milik Qin Jiange dapat disimpan di dalamnya.
“Ayo, temani aku melihat Bunga Seribu Ilusi!”
Leluhur Penembus Angin kembali berjalan ke depan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Qin Jiange segera mengikuti di belakang Leluhur Penembus Angin.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka baru melihat Ma Yingjie sedang menunggu dengan wajah penuh kebingungan.
Ma Yingjie berjalan lebih cepat, sehingga ia tidak melihat Leluhur Penembus Angin menghadiahkan Kantong Angin dan Awan kepada Qin Jiange.
“Leluhur, Bunga Seribu Ilusi berada di depan!”
Ma Yingjie menunjuk ke arah pintu masuk gua yang tertutup.
“Baik. Kalian menyingkir!”
Leluhur Penembus Angin melambaikan tangannya.
Qin Jiange dan Ma Yingjie segera mundur ke samping.
Leluhur Penembus Angin kembali mengibaskan tangannya. Sebilah pisau kecil berwarna emas muncul di tangannya.
“Lihat pusakaku!”
Leluhur Penembus Angin berseru pelan.
Pisau kecil berwarna emas itu melesat ke depan.
“Bumm!”
Terdengar suara ledakan dahsyat. Batu-batu besar yang menutup pintu masuk gua di hadapan mereka lenyap seluruhnya.
Leluhur Penembus Angin pun menjadi orang pertama yang memasuki lorong tambang.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di bagian terdalam gua tambang.
Di sana tumbuh sekuntum bunga berwarna ungu.
“Bagus, bagus. Bunga ini sudah matang sepenuhnya!”
Leluhur Penembus Angin mengibaskan tangannya dengan lembut, dan bunga ungu di hadapan mereka pun menghilang.
“Leluhur, saya sudah menyiapkan hidangan lezat...” Ma Yingjie melangkah maju.
“Hari ini aku masih ada urusan, jadi tidak bisa tinggal lebih lama.”
Leluhur Penembus Angin menggeleng pelan dan berbalik hendak pergi, tetapi kemudian seolah teringat sesuatu.
“Hasil satu bunga setiap bulan terlalu sedikit!”
“Di sebelah timur Kabupaten Ping'an telah ditemukan tambang besi baru!”
“Xiao Qin, besok pergilah ke tambang di sebelah timur dan jadilah kepala tambang di sana!”
Mendengar itu, Qin Jiange segera berkata penuh rasa syukur, “Terima kasih atas bimbingan dan kepercayaan Anda, Leluhur Penembus Angin!”
“Bekerjalah dengan baik. Aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk!”
Setelah berkata demikian, sosok Leluhur Penembus Angin menghilang di dalam gua tambang.
“Selamat, Adik Qin, karena telah menjadi kepala tambang yang baru!”
Wajah Ma Yingjie dipenuhi rasa iri.
Ia dapat merasakan dengan jelas bahwa Leluhur Penembus Angin sangat menghargai Qin Jiange.
“Terima kasih, Kak Ma!”
Qin Jiange mengepalkan tangan sebagai tanda hormat.
“Adik Qin, aku sudah menyiapkan hidangan lezat di ruang makan!”
“Karena Leluhur Penembus Angin tidak jadi makan, mari kita minum beberapa cangkir. Sekalian merayakan keberhasilanmu menjadi kepala tambang!”
Ma Yingjie mengajaknya.
“Kalau begitu, saya akan menerimanya dengan senang hati.”
Qin Jiange mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Qin Jiange dan Ma Yingjie telah duduk di ruang makan.
“Ayo, Adik Qin. Mari kita minum!”
Ma Yingjie mengangkat cangkirnya.
“Terima kasih, Kak Ma!”
Setelah menenggak secangkir minuman, Qin Jiange bertanya, “Kak Ma, di tambang baru itu bahkan belum ada seorang penambang pun. Bagaimana tambang tersebut bisa beroperasi dengan normal?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Adik Qin, tenang saja!”
“Serahkan semuanya kepada Kakak. Besok kau hanya perlu pergi ke tambang baru itu.”
“Urusan lainnya akan kuatur dengan baik untukmu,” ujar Ma Yingjie sambil tertawa.
“Terima kasih, Kak Ma!”
Wajah Qin Jiange langsung dipenuhi kegembiraan.
“Adik Qin, kau hanya perlu memastikan satu Bunga Seribu Ilusi berhasil dibudidayakan setiap bulan!”
Sambil menuangkan minuman untuk Qin Jiange, Ma Yingjie juga menjelaskan berbagai hal yang perlu diperhatikan di tambang baru itu.
“Terima kasih banyak, Kak Ma!”
Qin Jiange mengepalkan tangan sebagai tanda hormat.
...
Malam hari.
Han Quan mengendarai kereta keledai dan mengantar Qin Jiange pulang.
“Suamiku, mengapa kau pulang begitu larut hari ini?”
Han Qingya keluar dari dalam rumah.
“Adik, suamimu mulai besok akan menjadi kepala tambang! Hari ini dia sibuk mengurus berbagai urusan di area pertambangan!”
Han Quan berbicara dengan suara lantang.
“Apa?”
Wajah Han Qingya dipenuhi keterkejutan.
Ia sama sekali tidak menyangka Qin Jiange ternyata begitu cakap.
Lebih dari dua bulan lalu, Qin Jiange hanyalah seorang penambang biasa.
Setiap hari, ia dan Qin Jiange bahkan tidak mampu makan sampai kenyang.
Namun kini, Qin Jiange telah menjadi kepala sebuah tambang.
“Benar!”
Qin Jiange mengangguk, lalu berkata, “Leluhur ingin meningkatkan hasil Bunga Seribu Ilusi. Karena itu, beliau membuka tambang baru dan memintaku menjadi kepala tambang di sana.”
“Suamiku, kau hebat sekali!”
Han Qingya sangat gembira.
Namun, tak lama kemudian, kekhawatiran mulai muncul di wajahnya.
Bagaimanapun, di zaman ini, lelaki yang memiliki kemampuan biasanya akan mempunyai lebih dari satu istri.
Kini Qin Jiange telah menjadi kepala tambang. Pasti akan ada banyak orang yang ingin menikah dan masuk ke keluarga Qin.
“Adik ipar, tambangmu belum memiliki pengurus!”
“Bolehkah aku menjadi salah satu pengurus?” Han Quan memandang Qin Jiange dengan wajah penuh bujuk rayu.
“Baiklah. Kau bertugas sebagai pengurus pencatatan.”
Qin Jiange mengangguk.
Meskipun kini telah menjadi kepala tambang, ia sama sekali belum memiliki orang kepercayaan.
Han Quan adalah kakak Han Qingya, sehingga masih dapat dipercaya.
“Terima kasih, Adik Ipar!”
Wajah Han Quan dipenuhi kegembiraan.
Setelah menjadi pengurus, keluarganya tidak akan pernah kelaparan lagi.
Selain itu, ia juga dapat memanfaatkan jabatannya untuk mengatur agar anggota keluarganya bekerja di tambang.
Halaman (3/3)