Bab 42: Mabuk dan Terlelap dalam Pelukan Si Tianming
Teringat akan sosok itu, Feng Yuetong tak kuasa menahan helaan napas.
Hari pernikahan kian dekat, ia pun bertanya-tanya bagaimana keadaan di dunia modern setelah ia meninggalkan tempat itu. Apakah ia benar-benar sudah mati? Atau jiwanya yang terlepas dari raga? Apakah orang itu mencemaskan dan mencarinya ke sana kemari? Ataukah ia akan segera melupakannya?
"Jiwa dan ragamu belum sepenuhnya selaras, sehingga tingkat kultivasimu tertekan."
Suara yang dingin bagai es dan indah bagai giok itu tiba-tiba memutus lamunan Feng Yuetong. Feng Yuetong tertegun, bingung dengan maksud kata-kata itu. Jiwa dan raga? Hatinya berdegup kencang; mungkinkah Si Tianming mengetahui sesuatu?
"Pelan-pelan saja pemulihannya, teruslah berkultivasi. Saat ragamu sudah mampu mengimbangi tingkat kultivasimu, mungkin kekuatanmu akan terlepas dengan sendirinya," ujar Si Tianming seraya menarik tangannya dengan tenang.
Wajah yang rupawan tanpa cela itu tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi, benar-benar sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia tahu bahwa ia merasuki tubuh orang lain untuk hidup kembali? Jika ia tahu, akankah Si Tianming memusnahkan jiwanya nanti?
"Kembalilah dan istirahatlah lebih awal, besok kita lanjutkan latihan."
Si Tianming menarik tangannya kembali. Feng Yuetong merasa lega, ia pun segera bangkit dan berpamitan. "Guru juga istirahatlah lebih awal, murid pamit undur diri."
Si Tianming masih berekspresi datar. Ia menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri lalu menyesapnya perlahan. Entah karena rasanya kurang pas atau sebab lain, tampak alisnya yang indah sedikit berkerut. Baru setelah Feng Yuetong meninggalkan halamannya, ia meletakkan cangkir tehnya dengan tenang.
"Pantas saja kau tiba-tiba menjadi begitu hebat, ternyata alasannya adalah... ya sudahlah, itu pun baik!"
Feng Yuetong kembali ke kediamannya, menengok kondisi sang Ibu Suri Tua sebelum masuk ke dalam ruang dimensi untuk beristirahat. Beristirahat di dalam ruang dimensi juga merupakan salah satu bentuk kultivasi, sekaligus waktu untuk memanen pil yang telah ia ramu. Selama beberapa waktu ke depan, Feng Yuetong fokus berkultivasi dengan sungguh-sungguh. Meskipun tingkat kultivasinya tidak bertambah, kemampuan bertarungnya meningkat pesat. Jika bukan karena dukungan Si Tianming selama ini, ia pasti sudah meragukan segalanya.
Hubungan Feng Yuetong dengan keempat utusan juga kian akrab. Kedelapan murid kehormatan telah kembali ke negara mereka masing-masing, bahkan Shang Tianxin dan Wen Yun juga telah kembali ke keluarga mereka. Ibu kota Kerajaan Zhuque berangsur pulih, dan Kediaman Pangeran Feng pun telah selesai direnovasi.
"Selamat atas kepindahan Anda ke kediaman baru, Junzhu," ucap keempat utusan saat mengantar Feng Yuetong kembali ke Kediaman Pangeran Feng.
"Terima kasih banyak. Malam ini mari kita makan bersama, aku akan memasak langsung. Mohon bantuan Utusan Zhaocai untuk menjemput Guru." Feng Yuetong merasa sangat puas melihat Kediaman Pangeran Feng yang baru.
Jika bukan karena pengaturan Si Tianming, kediaman itu tidak akan selesai direnovasi secepat dan sebagus ini. Banyak bagian yang telah dipasangi formasi sesuai arahan Feng Yuetong. Kini, Kediaman Pangeran Feng bisa dikatakan sekuat benteng yang tak tertembus.
"Kalau begitu, kami akan menyusahkan Anda, Junzhu." Mereka kini sudah sangat akrab, dan keempat utusan itu sangat mengagumi Feng Yuetong.
Chuntao segera menyiapkan bahan makanan sesuai menu yang diberikan Feng Yuetong. Sementara itu, Feng Yuetong menata kembali tempat peristirahatan Ibu Suri Tua. Kondisi kesehatan sang Ibu Suri Tua kini jauh lebih baik, tampak tidak ada bedanya dengan orang normal. Feng Yuetong bahkan merasa bahwa Ibu Suri Tua akan segera siuman.
Berkat kerja keras Feng Yuetong, satu meja penuh hidangan modern pun segera terhidangkan. Karena keempat utusan menyukai rasa yang kuat, Feng Yuetong menyiapkan hotpot, ayam pedas, ikan sayur asin, dan kelinci cabai hijau.
Si Tianming duduk di meja terpisah; hidangannya sama, namun peralatan makan yang digunakan jauh lebih elok.
"Guru, silakan dicicipi, ini adalah anggur buah yang kubuat sendiri." Feng Yuetong mengeluarkan satu kendi anggur dan menuangkannya ke cangkir Si Tianming. Sebenarnya ini bukan sekadar anggur buah, melainkan anggur buah spiritual yang dibuat dari buah-buah spiritual di ruang dimensinya yang melimpah.
Melihat cairan merah di cangkirnya, Si Tianming menyesapnya sedikit. Rasanya manis dan aromatik, sangat murni. Memang jauh lebih enak daripada anggur yang tajam.
"Lumayan."
"Mari makan." Si Tianming melirik orang-orang di sekitarnya. Tanpa perintahnya, keempat utusan itu tentu tidak berani menyentuh sumpit.
Saat Feng Yuetong hendak kembali ke meja keempat utusan, Si Tianming memanggilnya, "Kenapa belum duduk?"
Feng Yuetong yang hendak beranjak pun mengerti bahwa ia harus duduk di sana untuk melayani gurunya bersantap. Keempat utusan tidak berpikir macam-macam; setelah tuan mereka memberi izin, mereka pun mulai makan dengan lahap.
"Masakan Junzhu benar-benar enak, aku belum pernah makan sesuatu selezat ini. Anggur buah ini juga luar biasa, rasanya aku bisa menghabiskan satu tong," seru Utusan Jinbao dengan riang.
"Ayam pedas ini sangat sesuai dengan seleraku, Junzhu, lain kali harus sering-sering memasak ya," tambah Utusan Zhaocai tak kalah senang. Sementara Ziqi dan Donglai hanya diam fokus menyantap hidangan, terlalu sibuk untuk berbicara.
Feng Yuetong merasa sangat senang karena semua orang menyukai masakannya. Ia menggunakan sumpit saji untuk mengambilkan lauk untuk Si Tianming, meski ia sendiri tidak tahu pasti selera sang guru.
"Guru, silakan coba ayam pedas ini, dan juga kelinci cabai hijau ini..." Ia memutuskan untuk menyajikan semua jenis masakan ke piring Si Tianming. Lalu, ia mengeluarkan kendi anggur anggur spiritual berwarna merah keunguan yang menggugah selera. "Ini anggur anggur, rasanya berbeda."
"Mari minum bersama." Si Tianming mencicipi ayam pedasnya, alisnya yang indah tampak bergerak sedikit.
Feng Yuetong tentu saja ikut minum, karena semuanya adalah hidangan kesukaannya. "Guru, murid bersulang untuk Anda."
Setelah beberapa cangkir anggur, pipi Feng Yuetong memerah bagai apel. Utusan Zhaocai tertawa, "Junzhu, Anda pandai membuat anggur, tapi ternyata tidak kuat minum. Baru dua cangkir, Anda sudah terlihat mabuk."
Padahal, saat di dunia modern, Feng Yuetong bukanlah peminum kelas berat, tapi ia tidak akan tumbang hanya karena dua cangkir. "Utusan Zhaocai, aku tidak, aku tidak mabuk, jangan bicara sembarangan. Ayo, kita lanjutkan!"
Feng Yuetong menyantap ikan bakar dan daging rebus, lalu kembali meminum anggurnya. Namun, saat ia mendongak, ia mendapati ada dua sosok Si Tianming di hadapannya.
"Guru, apakah ini jurus bayangan? Masakanku enak, ya, sampai-sampai Guru menggunakan jurus bayangan?" Mata Feng Yuetong tampak sayu.
Si Tianming mengangkat alisnya, tatapan dinginnya tertuju pada wajah Feng Yuetong yang memerah. "Benar saja, dia mabuk."
"Junzhu benar-benar mabuk," sahut keempat utusan dengan tawa yang tertahan.
"Aku tidak... aku tidak mabuk, jangan asal bicara, aku masih sanggup minum..." Feng Yuetong merasakan kepalanya sangat pening, namun ia masih bersikeras dengan kapasitas minumnya. Ia bangkit dan hendak menuangkan anggur untuk Si Tianming, namun...
*Prak...*
Kendi anggur itu terjatuh di atas meja, cairan merah keunguan mengalir di sepanjang meja dan membasahi pakaian Si Tianming. Namun, lengan Si Tianming yang kuat dengan sigap mendekap tubuh Feng Yuetong yang hendak terjatuh.
*Prak!*
Sumpit Utusan Ziqi terjatuh ke lantai. Utusan Donglai menahan napas. Mereka melihat Si Tianming menarik gadis kecil yang mabuk itu ke dalam pelukannya.
"Masih berani bilang tidak mabuk? Anggur buah ini memang enak, tapi jangan berlebihan."
Suara yang dingin bagai es dan indah bagai giok itu akhirnya, pada saat ini, terdengar jauh lebih lembut.