Bab 65 Aku Bisa Menjadi Penghangat Tempat Tidurmu
Menara Hongtu.
Lantai paling atas.
Burung Zhuque terus memantau aktivitas Leng Mingsyue, dan mengetahui bahwa Leng Yingmei telah membawa Leng Mingsyue pergi serta kembali ke kediaman keluarga Leng.
Pada waktu yang sama, ia juga menerima kabar bahwa Zhang Ruiming memohon sambil berlutut agar diizinkan kembali ke grup perusahaan.
“Kak Xuan, Zhang Ruiming dan sekretarisnya, Liao Xirong, sedang berlutut di pintu masuk utama, berharap presiden direktur memaafkan mereka.”
“Memaafkan?”
Qin Xuanyuan tertawa dingin, matanya menyipit, lalu ia menggeleng pelan.
“Suruh mereka segera angkat kaki, kalau tidak, larang mereka di seluruh kota.”
“Baik, Kak Xuan.”
Zhuque mengangguk dan langsung menelepon untuk menyampaikan perintah.
Setelah selesai, ia kembali memandang Qin Xuanyuan.
“Kak Xuan, lalu bagaimana dengan Zheng Taishan dari Grup Garuda?”
Zheng Taishan adalah “Kak Taishan” yang direkrut Zhang Ruiming. Namun karena mereka membuntuti Qin Xuanyuan dengan mobil van hitam di jalan, mereka sudah lebih dahulu ditangkap oleh Qinglong dan kawan-kawan.
“Tahan saja mereka di mobil dulu, tunggu sampai malam. Kali ini mereka berani menyerang kita bahkan di taman makam, kemungkinan para pembunuh akan datang lagi setelah gelap.”
Qin Xuanyuan tersenyum tipis, bibirnya terangkat sedikit.
Zhuque kembali mengangguk. Ia tak tahu untuk apa Qin Xuanyuan menahan Zheng Taishan dan kelompoknya, namun ia yakin Qin Xuanyuan pasti punya rencana sendiri.
Leng Rushuang sibuk dengan pekerjaannya, banyak dokumen yang harus ia tangani sehingga hampir tak ada waktu untuk menemani Qin Xuanyuan.
Tampak seolah Qin Xuanyuan justru tak punya urusan yang berarti.
Hal itu membuat Lu Zuixiang semakin memandang rendah Qin Xuanyuan, apalagi setelah melihat Qin Xuanyuan asyik mengobrol dengan Zhuque, makin kuatlah kesan bahwa pria itu hanya mengandalkan istrinya.
“Aneh sekali! Presiden direktur secantik itu, kenapa memilih pria macam dia? Suka berkelahi, lalu betah ngobrol dengan pengawal wanita, bagaimana beliau bisa percaya pada pria seperti itu?”
Meski hatinya penuh tanda tanya, Lu Zuixiang tak berani menanyakannya secara langsung. Selama ini ia sering diintimidasi Leng Mingsyue, yang sewaktu-waktu bisa memukul atau memakinya.
Andai gaji pekerjaan ini tak cukup bagus, sudah lama ia mengundurkan diri. Ia pun belum mengenal betul sifat Leng Rushuang, jadi tak berani bergosip sembarangan.
Lu Zuixiang tengah mengamati Qin Xuanyuan, tanpa tahu bahwa Leng Rushuang pun sedang memperhatikannya diam-diam.
Sampai jam enam, waktu pulang kerja, Leng Rushuang masih mencermati Lu Zuixiang.
“Sudah waktunya pulang. Sekretaris Lu, ikutlah makan bersama saya, sekalian ajak dua orang di luar itu. Kalau tidak ikut, saya anggap kalian mengundurkan diri.”
Leng Rushuang mendengus pelan, memberi isyarat pada Lu Zuixiang, lalu berjalan ke arah Qin Xuanyuan.
Wajah Lu Zuixiang berubah. Makan malam bersama presiden? Selama dua tahun bekerja, ia belum pernah makan bersama Leng Mingsyue.
Yang dimaksud “dua orang di luar” adalah dua asisten, Pan Shijing dan Tang Xiuje.
Karena Leng Rushuang berkata dengan begitu tegas, ia pun bergegas keluar memanggil Pan Shijing dan Tang Xiuje.
“Kita sudah boleh pergi?” tanya Qin Xuanyuan sambil tersenyum pada Leng Rushuang.
“Sudah, tapi kita makan bersama sekretaris dan para asisten, agar lebih mengenal mereka dan memudahkan urusan nanti,” jawab Leng Rushuang sambil mengangguk.
“Tak masalah,” Qin Xuanyuan juga mengangguk setuju.
Zhuque segera melambaikan tangan pada Leng Rushuang, “Kakak ipar, tadi kau sibuk, jadi aku tak mau mengganggu. Para pengawal pribadimu sudah datang, mereka menunggu di luar. Perlukah mereka masuk untuk berkenalan sekarang?”
Leng Rushuang tersenyum canggung dan mengangguk.
Tak lama kemudian,
Empat pengawal wanita gagah berani berdiri di hadapan Leng Rushuang.
Mulai saat itu, Leng Rushuang memiliki empat pengawal wanita baru, yakni Li Xinnuo, Wen Yu, Zhan Yun, dan Xi Nanqin.
Setelah saling berkenalan, rombongan pun keluar dari lantai kantor.
Di lobi bawah, Lu Zuixiang dan dua asisten sudah menunggu.
Setelah itu, mereka naik ke mobil. Keempat pengawal wanita mengendarai masing-masing satu mobil SUV hitam.
Begitu rombongan keluar dari gedung, Zhuque langsung merasa ada yang mengikuti, dan setelah memastikan bahwa itu adalah Zhang Ruiming bersama beberapa orang, ia langsung melapor pada Qin Xuanyuan.
“Abaikan saja, langsung ke Hotel Dongfang. Mereka sudah masuk daftar hitam hotel, jadi walaupun mengikuti, mereka takkan bisa masuk,” ujar Qin Xuanyuan sambil melambaikan tangan.
Zhuque paham maksudnya, lalu segera menyampaikan perintah itu.
Di belakang, Zhang Ruiming menyetir mobil hitam, membuntuti mereka bersama seorang wanita berwajah tirus, yaitu sekretarisnya, Liao Xirong.
“Kenapa kamu nyetir lambat sekali? Cepatlah!” bentak Liao Xirong yang duduk di kursi penumpang depan.
“Jangan mendesak! Mobilnya banyak, bagaimana aku bisa menyalip? Lagi pula, kalau bukan karena kamu, aku takkan menyinggung presiden! Semua ini ulahmu!” Zhang Ruiming menoleh marah ke arah Liao Xirong, lalu membentak.
“Salahkan saja aku. Kau memang cuma bisa menyalahkan orang lain. Aku tak pernah memaksamu menyapanya, tapi kau sendiri yang lari ke sana seperti anjing penjilat!”
Liao Xirong membalas tanpa basa-basi. Ia ingat betul, Zhang Ruiming sendiri yang meninggalkannya untuk mendekati Leng Rushuang.
“Tutup mulutmu!”
Zhang Ruiming kembali membentak.
Ia tahu, bagi Liao Xirong, kehilangan pekerjaan sebagai sekretaris itu bukan masalah besar—ia bisa mencari pekerjaan baru dengan mudah.
Sebaliknya, bagi dirinya, kehilangan pekerjaan kali ini berarti ia takkan mendapat pekerjaan sebagus ini lagi.
Karena itu, ia tak mau menganggur dan berniat memohon pada Leng Rushuang agar dimaafkan.
Liao Xirong cemberut, wajahnya penuh rasa terzalimi.
Ia tak menyangka, di saat genting seperti ini, Zhang Ruiming malah membentaknya, tak sedikit pun memperlihatkan sikap sopan seperti sebelumnya.
Namun ia tak membantah lagi, karena tujuannya saat ini hanya satu: bertemu Leng Rushuang, meminta maaf, dan mempertahankan pekerjaannya.
Hotel Dongfang.
Setelah rombongan berhenti, Qin Xuanyuan dan yang lainnya turun dan langsung menuju lobi hotel.
Sebuah van hitam datang, dan begitu berhenti, Leng Mingsyue segera melompat turun dan bergegas mengejar rombongan Qin Xuanyuan.
“Qin Xuanyuan, tunggu!”
Leng Mingsyue berteriak dari belakang.
Melihat Leng Mingsyue menerobos masuk ke lobi hotel, wajah semua orang jadi tegang, namun tak seorang pun berhenti.
Leng Mingsyue cepat-cepat lari menuju lift khusus, dan saat lift hendak naik, ia menghadang pintu lift.
“Qin Xuanyuan, aku ingin bicara denganmu secara pribadi.”
Keempat pengawal wanita langsung siaga, mereka tak membiarkan Leng Mingsyue masuk ke dalam lift.
“Tak ada lagi yang perlu kubicarakan denganmu,” sahut Qin Xuanyuan sambil tertawa sinis dan menggeleng.
“Hanya lima menit. Kau juga tak ingin aku terus-menerus mengganggumu dan Leng Rushuang, kan? Beri aku waktu lima menit saja, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
Leng Mingsyue memohon, menatap Qin Xuanyuan dengan mata penuh harap.
Leng Rushuang tersenyum tipis, memberi isyarat pada Qin Xuanyuan, “Suamiku, beri dia lima menit saja.”
“Baik, istriku.” Qin Xuanyuan langsung mengangguk, lalu keluar dari lift.
Begitu pintu lift tertutup dan naik, barulah Leng Mingsyue menatap Qin Xuanyuan dengan dahi berkerut.
“Bisakah kau memberitahuku, siapa yang telah menyembuhkan Leng Rushuang? Sekarang Leng Rushuang merebut posisiku hanya karena dia jadi lebih cantik. Kalau kau mau mengenalkan dokter itu padaku, aku bisa menemaniku tidur.”
Qin Xuanyuan tertegun, tak menyangka Leng Mingsyue begitu terobsesi mencari dokter yang menyembuhkan Leng Rushuang.
Padahal, dokter itu adalah dirinya sendiri. Maka ia hanya menggeleng.
“Maaf, aku tak bisa memberitahumu.”
“Qin Xuanyuan, jangan keterlaluan! Sudah kubilang aku bisa menemanimu tidur, apa lagi yang kau mau? Aku hanya ingin secantik Leng Rushuang, itu saja.”
Leng Mingsyue menatap Qin Xuanyuan dengan gemas, merasa bahwa pria itu sengaja menyembunyikan dokter tersebut karena takut ia bakal lebih cantik dari Leng Rushuang.
“Pertama, aku tidak keterlaluan. Kedua, aku tidak butuh kau untuk menemaniku tidur. Ketiga, akulah dokter itu, dan aku tidak akan mengobatimu.”
Qin Xuanyuan berkata dengan dingin.
Leng Mingsyue tertegun.
Qin Xuanyuan adalah dokter itu? Mana mungkin?
Jika benar demikian, mengapa selama ini Qin Xuanyuan tampak begitu lemah dan tak berdaya?
“Qin Xuanyuan, aku tidak bercanda. Asal kau memberitahuku siapa dokter itu, aku janji takkan mengganggu kalian lagi.”
“Pergilah, dan sebaiknya jangan pernah muncul di hadapan kami lagi.”
Qin Xuanyuan melambaikan tangan pada para satpam hotel yang berjaga di meja resepsionis.
Xia Junxiong segera mendekat sambil membungkuk hormat.
“Tuan Qin.”
“Usir dia, dan pastikan setiap kali aku datang ke sini, aku tak melihat wajahnya lagi.”
“Baik, Tuan Qin.”
Xia Junxiong segera menggandeng seorang satpam lain untuk membawa pergi Leng Mingsyue.
Leng Mingsyue mengamuk dan berteriak keras.
“Qin Xuanyuan! Kau keterlaluan! Kenapa kau bisa seperti ini padaku? Kalau kau tak memberitahuku, aku akan terus mengganggu kalian!”
Namun Qin Xuanyuan hanya memandang dingin ketika Leng Mingsyue diseret pergi. Karena dokter itu adalah dirinya sendiri, dan jika Leng Mingsyue tak percaya, ia tak peduli.
Lagi pula, ia tak peduli apakah Leng Mingsyue percaya atau tidak.
Seorang wanita yang pernah menghianatinya sedemikian rupa, masih berharap bernegosiasi dengannya?
Tidak akan pernah!