Bab 35: Pertempuran Hebat
Untuk naik dari level 16 ke 17, dibutuhkan 50.000 poin pengalaman. Seekor zombie memberikan 320 poin, jadi tiga ekor hampir seribu. Artinya, hanya butuh sekitar 150-an zombie saja! Kalau distribusi monster merata dan Lin Qi bekerja sama dengan Lai Fu, dalam satu menit bisa mengalahkan empat atau lima ekor, maka dalam empat puluh menit saja dia sudah bisa naik level!
Tentu saja, itu dalam skenario ideal.
Kenyataannya, sering kali dia tak bertemu monster karena baru saja dibersihkan pemain lain, atau malah bertemu gerombolan besar. Lin Qi tak bisa membawa Lai Fu menerobos langsung—mereka tak akan sanggup bertahan. Jadi mereka harus menarik musuh sedikit demi sedikit, bertempur dengan hati-hati. Kalau sampai bertemu zombie listrik, masalahnya makin pelik. Monster itu bisa mengeluarkan jurus Cahaya Kilat yang sangat menyakitkan.
Awalnya, Lai Fu belum tahu dan langsung saja menerjang, akhirnya malah jadi korban. Lin Qi hanya bisa tertawa sambil menyembuhkannya. Dia sendiri pernah merasakan jurus petir itu, jadi tahu betul betapa menyebalkannya kemampuan listrik di dunia Marfa ini.
Namun, zombie listrik juga punya kelebihan, yaitu tingkat drop barang yang sedikit lebih tinggi. Dari situ, Lin Qi mendapatkan satu buku “Panggilan Kerangka”, salah satu jurus penting bagi seorang Pendeta di awal permainan.
Kesulitan monster masih tergolong masalah kecil. Masalah besarnya justru manusia lain. Di gua zombie, Lin Qi kerap bertemu pemain lain yang lebih tinggi level dan kekuatannya. Jalan satu-satunya adalah kabur memakai gulungan teleportasi acak. Bukan karena dia pengecut, tapi di dunia nyata seperti ini, setiap pertarungan berarti pertaruhan nyawa. Walau baru saling bertatap muka, tak ada yang mau mengambil risiko, jadi masing-masing berusaha menyerang lebih dulu untuk berjaga-jaga.
Resikonya terlalu besar, sementara keuntungannya tidak pasti. Lin Qi merasa tak sepadan. Alhasil, efisiensi latihan level pun menurun drastis.
Dia sudah merencanakan, setelah kali ini selesai, akan kembali ke Gua Kerangka. Kalau bisa menemukan portal ke lantai tiga gua itu, akan sangat ideal. Monster di sana tidak terlalu kuat, jumlahnya banyak, dan pemain level tinggi jarang lewat. Tempat itu lebih cocok untuk naik level.
Terlebih, set Dewa Kematian miliknya, bonus serangan terhadap zombie belum terasa manfaatnya. Tapi karena sudah terlanjur masuk ke gua zombie, Lin Qi terpaksa berlatih di sini saja. Sambil berburu buku jurus pula—dia masih butuh “Jurus Api Jiwa” dan “Ilmu Menghilang”. Kalau bisa mendapatkan dari drop, itu yang terbaik. Kalau tidak, dia pun tidak terburu-buru. Lagipula, dari mantan pacarnya dia dapat buku “Jurus Tebasan Penghancur”, skill level 19 untuk ksatria yang cukup mahal. Bisa ditukar di pasar gelap dengan dua buku jurus untuk Pendeta.
Singkat cerita, setelah 2 jam 38 menit di dunia Marfa, Lin Qi akhirnya berhasil naik ke level 17. Poin kesehatannya pun menembus angka seratus—tepatnya 105. Untuk naik ke level 18, ia butuh 70.000 poin pengalaman.
Lin Qi dan Lai Fu melanjutkan perburuan level. Saat berjalan melewati sudut tembok—
“Roar!”
Dari tanah tiba-tiba muncul seorang biksu tua berkepala plontos. Ini adalah salah satu monster khas gua zombie (lihat ilustrasi), mengenakan jubah oranye, dan setiap kali muncul selalu meninggalkan lubang di tanah. Sebagian besar lubang itu palsu, tapi ada beberapa di titik tertentu yang merupakan jalan masuk ke Istana Raja Mayat!
Lin Qi menghindari lubang itu dengan sangat hati-hati. Topografi dunia Marfa jauh lebih luas dari game aslinya, sehingga mencari lubang menuju Istana Raja Mayat pun sulit. Kalau apes dan dia masuk ke sana sekarang, tamatlah riwayatnya.
Segera Lin Qi menyihir si biksu dengan racun merah, lalu bersama Lai Fu menyerangnya dari depan dan belakang.
Monster ini mirip zombie penambang dari segi atribut, hanya saja tidak bisa bangkit lagi. Bisa dibilang, ini “monster baik” di gua zombie.
Pertarungan selesai, dan pengalaman bertambah 320 poin!
“Gelar Bintang Bichie aktif, kau mendapatkan satu barang langka.”
[Wah, menarik.]
Di tanah tergeletak sebuah kalung lentera yang memancarkan cahaya hijau.
Kalung Lentera (Unggul): Menghindari sihir +20%, Serangan 1-0, butuh level 18.
[Agak tanggung...]
Kalung lentera hanya berguna kalau punya penghindaran di atas 40% atau keberuntungan 2 ke atas, selebihnya tidak berharga.
[Tapi kalau digabung dengan 10% penghindaran sihir dari diri sendiri dan 10% dari gelar, total 40%, lumayan juga...]
[Simpen dulu saja, siapa tahu nanti berguna.]
Lin Qi melanjutkan perjalanan dan segera menemukan satu kelompok kecil monster—enam ekor zombie, jaraknya berdekatan. Demi kehati-hatian, dia menaruh perangkap di belakang. Setiap kali bertemu gerombolan monster, dia pasti memasang satu perangkap. Dulu, itu untuk memperlambat monster dan menghemat ramuan. Sekarang, lebih untuk mengantisipasi serangan pemain lain di saat dia sedang sibuk bertarung.
Untungnya, selama ini belum pernah ada orang yang menangkap basah dirinya saat bertarung. Setelah perangkap terpasang, Lin Qi memakai jurus racun untuk menarik satu zombie mendekat. Agar tidak mengundang zombie lain, dia mundur beberapa langkah ke arah perangkap.
Baru saja sampai di tepi tembok, tiba-tiba terdengar suara “plek”, dan Lin Qi langsung tertawa. Dari dalam tanah, muncul lagi seorang biksu tua. Itu sendiri bukan hal aneh, yang lucu adalah posisi kemunculannya sangat tepat—langsung di atas perangkap!
“Roar!”
Belum selesai mengaum, si biksu sudah terjepit kepalanya oleh perangkap!
Serangan kritis, -40!
Lalu luka berdarah, -5, -5, -5!
“Roar!”
Entah karena kesakitan atau marah, si biksu terus mengaum. Lin Qi segera menghabisinya, mengakhiri penderitaan singkatnya.
Pengalaman bertambah 320!
Setelah biksu mati, zombie penambang yang tadi ditarik juga sudah sampai. Lai Fu maju menghadang zombie, sementara Lin Qi dengan cekatan mengambil kembali perangkap lalu menaruhnya di belakang, antisipasi serangan pemain lain.
Satu manusia satu anjing, dengan mudah menghabisi kelompok zombie itu satu per satu. Latihan berlanjut, Lin Qi sudah mencapai 30% level 17.
Bertemu kelompok monster lagi. Meski perangkap jarang benar-benar efektif selain insiden biksu tadi, Lin Qi tetap rutin memasangnya. Gua zombie lebih berbahaya dari dugaan, satu kesalahan saja bisa fatal, jadi lebih baik berhati-hati.
Setelah menarik monster dan mulai bertarung, Lin Qi sudah mengalahkan dua zombie dan sedang melawan yang ketiga, tiba-tiba di hadapannya muncul seorang ksatria berkulit kuning mengenakan zirah berat dan membawa pedang Es Membeku!
Minimal level 25, nyawa 314 ke atas, jelas pemain kelas kakap!
Begitu mendarat, ksatria itu melihat Lin Qi memegang senjata setengah bulan dan langsung girang.
“Anak kecil, jual aku ramuan dong, harganya bisa dinego!”
Sambil bicara, ksatria itu maju mendekat. Trik semacam ini sudah basi di game, mana mungkin Lin Qi tertipu.
“Mau beli ramuan, jangan bergerak!” seru Lin Qi sambil mundur.
“Jangan panik, kamu juga orang dari Negeri Daxia kan, sesama saudara, mudah diatur!” ujar ksatria itu sambil tertawa dan tetap maju.
Lin Qi mencibir dalam hati—
[Karena kau sesama orang Daxia makanya kukasih satu kesempatan.]
[Tapi kalau tak tahu diri, jangan salahkan aku tak mempedulikan perasaan sesama bangsa!]
Satu mengejar, satu lari. Lin Qi segera melewati posisi perangkap. Tentu dia tak akan menginjaknya, tapi—
“Plek!”
“Sial, apaan nih!” Ksatria itu tersandung, hampir jatuh tersungkur.
-15!
-3!
-3!
-3!
[Sayang, perangkap tak bisa memicu jurus Pencuri Emas, mungkin karena dianggap tak bertuan.]
Lin Qi segera menjauh, lalu menyihir lawan dengan racun merah dan hijau.
“Jurus Pencuri Emas sukses, mendapat 869 koin emas.”
“Jurus Pencuri Emas sukses, mendapat 869 koin emas.”
(Selanjutnya, jurus Pencuri Emas hanya akan disinggung sekilas agar tidak memakan banyak tempat.)
Dia mengeluarkan busur tanduk, menarik anak panah.
Saat membidik, ksatria itu sibuk membuka perangkap di kakinya. Lai Fu langsung membantu mengganggu, menggigit tepat di selangkangan lawan!
Serangan kritis, -38!