Bab Tiga: Keluarga Fang
Apa sebenarnya yang direncanakan oleh Fang Shuai ini? Bukankah sudah jadi aturan bahwa bagian olahraga tidak memperbolehkan perempuan masuk? Lalu, apa maksudnya sekarang? Tapi sudahlah, bagaimanapun ini adalah kabar baik bagi mereka, mulai sekarang ada perempuan cantik yang akan menemani, haha… Memikirkan itu, Monyet tak kuasa menahan tawanya.
“Kau kenapa, kesurupan?” Fang Junche menoleh dan menegur Monyet dengan kesal.
“Siyi, kau benar-benar akan masuk ke bagian olahraga besok? Kudengar di sana tak ada satu pun perempuan, semuanya laki-laki, kalau nanti mereka mengganggumu bagaimana?” Wu Lili berkata lirih nyaris menangis. Ia memang yang paling penakut dan pendiam di antara mereka berempat, biasanya paling tidak punya pendirian.
“Mana mungkin? Aku gila apa, pergi ke sana cuma buat jadi pesuruh? Asal ingat wajah Fang Junche yang menyebalkan itu saja aku langsung kesal. Lucu sekali, suruh aku masuk bagian olahraga! Selama ini aku sebisa mungkin menghindar dari bagian itu, dulu memang terpaksa, sekarang sudah di universitas—akhirnya bebas dari keharusan ikut semua lomba olahraga. Mana mungkin aku mau sengaja cari masalah sendiri?”
“Siyi, ayo kita ke klinik kampus saja, pakai obat anti radang, biar cepat sembuh.” Wu Lili menawari dengan tulus.
“Iya, ayo.” Ia pun tidak ingin terus-terusan tampil dengan mata bengkak seperti bakpao. Sampai di klinik, dokter kampus bilang tak ada cedera serius, cukup oleskan obat dan dua-tiga hari sembuh sendiri. Keluar dari klinik, mereka langsung makan malam di kantin lalu kembali ke asrama.
Sampai di asrama, Wu Siyi mandi air hangat, lalu langsung merebah di kasur dan tidur. Di universitas, kelas malam memang tidak wajib, apalagi sore tadi ia sudah dibuat kesal oleh si pengganggu itu, jadi ia benar-benar tak punya niat untuk belajar. Ia pun tertidur pulas sampai pagi, baru terbangun ketika musik dari pengeras suara kampus mulai berkumandang.
“Ayo cepat, teman-teman, nanti telat masuk kelas!” Wu Siyi yang pertama bangun.
“Hei, Lu Xiaofeng, biar aku duluan ke kamar mandi!” Xie Dan di luar hampir melompat-lompat tak sabar.
“Lili, di mana facial wash-ku?” Lu Xiaoya memang selalu saja ceroboh dan lupa barang.
“Xie Dan, cepat kasih aku cermin!” Wu Siyi segera merebut cermin dan memeriksa mata kanannya. Sudah hampir tak bengkak lagi. Memang, selama ini sudah terbiasa cedera kecil, jadi tubuhnya jadi cepat sembuh. Seketika, suasana asrama riuh seperti perang—ini adalah rutinitas tiap pagi. Setelah siap, Wu Siyi dan teman-temannya sarapan di kantin lalu menuju gedung kuliah.
“Siyi, sore ini setelah kelas selesai kita main sepatu roda, ya?” Lu Xiaofeng berkata bersemangat. Sudah lebih dari dua minggu mereka tidak bermain, kalau tidak, nanti makin kaku.
“Boleh, habis main sepatu roda kita langsung makan kwetiau goreng di luar, sudah lama tidak makan.” Begitu berbicara soal makanan, mata Wu Siyi langsung berbinar. Maklum, dia memang pecinta makanan sejati.
“Siyi, bukannya sore ini kau harus pergi ke bagian olahraga? Bagaimana bisa ikut main?” Xie Dan mengingatkan. Ia tahu betul karakter Fang senior, kalau sudah memutuskan sesuatu, harus sesuai keinginannya, kalau tidak pasti ada masalah besar.
“Siapa bilang aku jadi pergi? Mataku saja sudah kena lempar, aku juga tidak marah padanya, anggap saja apes. Lagipula, aku anggap saja kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Mulai sekarang, aku dan dia urus urusan masing-masing saja.”
“Tapi…”
“Sudah, tak usah dipikirkan, aku tidak akan pergi dan dia juga tak mungkin bisa memaksa aku. Ayo cepat, nanti terlambat!” Selesai bicara, Wu Siyi pun berlari kecil menuju kelas.
“Fang Junche, umurmu sudah dua puluh tahun, harusnya lebih dewasa. Tiap hari kau hanya sibuk turnamen olahraga dengan teman-temanmu, mau kau buat aku marah sampai mati?” Di ruang keluarga kediaman Fang, kakek Fang duduk di sofa memarahi Fang Junche. Ia adalah satu-satunya cucu lelaki keluarga Fang. Kakeknya hanya ingin ia serius belajar manajemen, segera siap menggantikan posisinya. Di zaman sekarang, tanpa keahlian yang mumpuni, meski suatu hari ia mewarisi jabatan kakeknya, pasti banyak orang di perusahaan yang tak akan tunduk padanya. Maka, semua gerak-geriknya di kampus selalu dalam pengawasan sang kakek.
“Tak usah Bapak ingatkan terus, saya punya mimpi sendiri, saya tahu apa yang ingin saya lakukan. Kalau Bapak terus mengatur hidup saya, hati-hati saja, nanti saya benar-benar menghilang dan Bapak tak akan pernah menemukan saya lagi!” Fang Junche menatap tajam kakeknya.
“Kau tidak usah mengancam. Pokoknya tahun depan, apapun yang terjadi, kau harus kuliah di luar negeri!” Sejak lulus SMA ia sudah ingin mengirimnya ke luar negeri, tapi Fang Junche bersikeras masuk Universitas F. Dulu ia maklumi karena masih muda, tapi sekarang sudah dua puluh tahun, tak bisa terus dibiarkan. Perusahaan besar keluarga Fang ke depannya harus dipikul olehnya, sementara dirinya sudah tua dan tidak lagi sanggup.
“Mau ke mana pun, kecuali Universitas F, saya tidak akan pergi!” Fang Junche paling benci hidup yang serba diatur. Sejak lahir, semua makan, pakaian, tempat tinggal, semuanya bukan pilihannya sendiri, benar-benar seperti boneka yang dikendalikan. Kini sudah di tingkat tiga, ia tak mau terus-terusan jadi boneka.
“Junche, dengarlah kata Kakek, selesaikan setahun lagi di Universitas F, lalu tahun depan lanjut kuliah di Amerika. Ibu sudah mengatur semuanya di Harvard,” ujar ibunya, lebih tepatnya ibu angkatnya—satu-satunya orang yang paling ia benci seumur hidup.
“Huh… Ibu? Kau pantas disebut ibu?” Pandangan Fang Junche begitu tajam, penuh kebencian kepada perempuan anggun di hadapannya. Kalau bukan karena perempuan ini, ibu kandungnya tak akan meninggal, ayahnya pun tak akan putus asa hingga meninggalkan Grup Fang dan tak pernah kembali. Semua ini ia salahkan pada perempuan itu.
“Kurang ajar! Bagaimana bisa bicara seperti itu kepada ibumu? Bagaimana pun dia sudah merawatmu dua puluh tahun!” bentak Fang Zhengang dengan suara menggelegar.
“Sudahlah, dia masih belum dewasa,” bisik Qin Wan, mencoba menenangkan suasana. Ia tak ingin terjadi pertengkaran besar antara kakek dan cucu.
“Huh, kau pura-pura baik di depan siapa? Di depan Kakek? Sayang sekali, meski kau berusaha setengah mati, Kakek tak akan pernah menyerahkan Grup Fang padamu!” Fang Junche benar-benar muak melihat kepalsuan Qin Wan.
“Cukup! Aku juga tidak akan setuju kau tinggal di asrama. Kenapa harus tinggal di sekolah, bukankah di rumah lebih baik?” Fang Zhengang sangat mengkhawatirkan cucu satu-satunya. Ia tidak mau cucunya menderita sedikit pun.
“Tidak masalah, saya tidak perlu persetujuan Kakek, saya hanya memberitahu saja.” Selesai bicara, Fang Junche berbalik menuju halaman, lalu naik mobil. Sebelum berangkat, ia masih sempat menengok keluar dan berkata,
“Oh iya, Kakek, mulai hari ini, saya tidak mau melihat ada orang yang mengganggu di sekitar saya. Kalau tidak, saya tidak bisa menjamin apa yang akan saya lakukan.”
“Tuan, bagaimana ini? Harus tetap mengikutinya?” tanya kepala pelayan dengan hati-hati.
“Ah, sudah, jangan dulu. Dia sedang marah, nanti saja. Sekarang, bawa koper ke mobil dan antar dia ke kampus!” Fang Zhengang tak pernah bisa menaklukkan cucunya itu. Setelah koper dimasukkan ke bagasi, mobil pun meninggalkan rumah besar keluarga Fang.
“Papa, benar-benar membiarkan dia tinggal di asrama?” tanya Qin Wan, mencoba memastikan.
“Kalau tidak, kau mau dia kabur dari rumah? Lebih baik di asrama, setidaknya kita bisa tahu kegiatannya sehari-hari.” Fang Zhengang benar-benar sudah pasrah.
“Mulai sekarang, jangan ikut campur urusan Junche, aku sudah punya rencana.”
“Baik,” meski enggan, Qin Wan tetap mengiyakan.
“Satu lagi, nanti aku akan minta seseorang bicara ke pihak kampus, suruh Bu Liu masak untuk Junche di asrama. Selain Bu Liu, masakan orang lain ia tak suka.” Kakek masih saja penuh perhatian pada cucunya.
“Baik, akan segera saya urus,” jawab Qin Wan.