Bab 45: Apakah Dia Akan Merayakan Ulang Tahunnya?
“Gila, keren banget!” Begitu Fang Junche keluar dari ruang ganti, Ma Yue langsung berteriak, seketika semua mata tertuju padanya. Fang Junche yang kini mengenakan seragam basket putih tampak semakin menawan.
“Menurutku, membiarkan dia turun ke lapangan adalah keputusan yang keliru. Orang ini terlalu mencuri perhatian kita,” kata An Zaiyu pada Wu Siyi, sambil mengeluh pada dirinya sendiri kenapa tadi iseng memancingnya.
Wu Siyi hanya terkekeh kecil pada An Zaiyu, lalu bangkit berjalan ke sisi Fang Junche untuk menerima ponsel dan kunci mobilnya.
“Kamu duduk saja di sini, aku akan main,” ujar Fang Junche sambil menyerahkan ponsel dan kunci mobil pada Wu Siyi, lalu ia bergabung dengan Ma Yue dan yang lainnya di lapangan, siap memulai babak kedua, menggantikan An Zaiyu yang kini beristirahat.
“Bro, semangat ya! Aku dan calon kakak iparmu nonton nih!” An Zaiyu berdiri dan berseru pada punggung Fang Junche, lalu duduk di kursi sebelah Wu Siyi untuk menonton pertandingan.
“Hei, An Zaiyu.” Wen Jing yang sedari tadi duduk memperhatikan gerak-gerik mereka, terutama cara Fang Junche memperlakukan Wu Siyi dengan lembut, merasa sangat terganggu. Ia tumbuh besar bersama Fang Junche, bahkan tak pernah sekalipun melihatnya bermain basket. Tak disangka, kali pertama ia menyaksikan Fang Junche bermain justru karena Wu Siyi. Ia benar-benar merasa tidak rela. Setelah berpikir sejenak, Wen Jing berjalan ke sisi An Zaiyu dan duduk di sebelahnya.
“Ada apa?” An Zaiyu menjawab ketus, tidak menyukai nada bicara Wen Jing. Memang sejak dulu, mereka berdua selalu saling tidak suka.
“Kakek Fang akan mengadakan pesta ulang tahun di rumah untuk Kak Che, kamu tahu tidak?” Kemarin ayahnya menerima undangan dari keluarga Fang, kalau tidak, ia juga tidak akan tahu. Karena, menurut kepribadian Fang Junche, ia tidak pernah suka acara seperti itu. Pasti ada maksud lain dari sang kakek selain sekadar merayakan ulang tahun cucunya.
“Terus?” Jujur saja, An Zaiyu memang tidak tahu soal itu. Kalaupun ada undangan, pasti langsung ke ibunya. Ia juga tahu itu bukan keinginan Fang Junche, jadi wajar saja Junche tidak memberitahunya. Tapi tetap saja, hadiah ulang tahun tahun ini tidak boleh ketinggalan.
“Pesta itu hanya untuk orang-orang terhormat di Kota F yang punya undangan. Selain itu, jangan coba-coba datang.” Sebenarnya ia sengaja membicarakan hal ini agar Wu Siyi sadar betapa jauhnya perbedaan antara dirinya dan Fang Junche. Setelah berkata begitu, ia melirik sinis ke arah Wu Siyi.
“Lalu?” An Zaiyu tahu maksudnya, dan sengaja tidak mengikuti alur pembicaraan Wen Jing.
“Sudahlah, ngomong sama kamu juga percuma.” Dengan kecerdasan Wen Jing, tentu saja ia tidak bisa menang adu mulut dengan An Zaiyu. Setelah menatapnya kesal, ia bangkit meninggalkan lapangan.
“Kamu nggak apa-apa?” Setelah Wen Jing pergi, An Zaiyu bertanya dengan nada perhatian. Tadi siapa pun pasti tahu, kata-kata Wen Jing mengandung maksud tertentu.
“Che, dia akan ulang tahun ya?” Wu Siyi, seolah tidak mendengar perhatian An Zaiyu, menatapnya dengan terkejut. Semua yang dikatakan Wen Jing tadi didengarnya dengan jelas. Ia tiba-tiba merasa gagal, bahkan tanggal ulang tahun pacarnya sendiri pun ia tidak tahu.
“Iya, tanggal sepuluh bulan depan,” jawab An Zaiyu setelah berpikir sejenak. Ia yakin Wu Siyi memang tidak tahu kapan ulang tahun Fang Junche, jadi sekalian saja ia memberitahunya.
“Makasih!” Wu Siyi mengucapkan terima kasih.
“Eh, Kakak ipar, pesta itu bukan keinginan Fang Junche, jadi dia nggak bilang ke kamu, jangan salahkan dia ya,” kata An Zaiyu melihat Wu Siyi tampak serius, mengira ia sedang marah.
“Kenapa harus aku salahkan? Dia kan nggak salah apa-apa.” Wu Siyi berpikir pasti ada alasannya kenapa Fang Junche tidak memberitahunya. Kalau dia memang belum ingin bicara, ia akan pura-pura tidak tahu saja.
“Tapi tadi Wen Jing bilang…”
“Sudahlah, Kak An, aku benar-benar nggak apa-apa!”
“Kita nonton pertandingan mereka saja, yuk.” Wu Siyi memotong ucapan An Zaiyu, lalu fokus menyaksikan Fang Junche bertanding.
“Ya sudah.” An Zaiyu pun menghentikan pembicaraan.
Babak kedua berjalan sangat sengit sejak Fang Junche turun ke lapangan. An Zaiyu dan Wu Siyi pun segera lupa akan insiden barusan dan asyik menonton pertandingan.
Akhirnya, tim Fang Junche menang dengan selisih enam belas poin. Ternyata memang pengalaman tidak bisa dibohongi, meski para junior juga tampil luar biasa. Setelah itu, Fang Junche menyerahkan bendera organisasi olahraga pada ketua baru, sedangkan kunci ruangan yang telah dikelola hampir tiga tahun, diserahkan Liang Wei pada penerusnya.
“Tadi kamu benar-benar keren, loh.” Setelah semua urusan penyerahan selesai, Wu Siyi datang menghampiri Fang Junche dan memujinya.
“Jadi makin ngefans sama aku, ya?” Fang Junche sangat senang mendengar pujiannya, sambil tersenyum bertanya.
“Aduh, kalian bisa nggak sih jangan pamer di depan umum?” Ma Yue merasa geli mendengar ucapan Fang Junche.
“Bener tuh, pikirin perasaan kami juga dong,” An Zaiyu pun kali ini setuju dengan Ma Yue.
“Nanti malam kita makan bareng, Wu Siyi ikut juga ya?” Liang Wei menghampiri Wu Siyi dan mengajaknya, lalu melirik Fang Junche seolah menunggu persetujuannya.
“Hah? Kalian makan-makan, aku ikut nggak apa-apa?” Wu Siyi tak menyangka wakil ketua mengajaknya, ia pun menatap Fang Junche dengan ragu.
“Apa salahnya? Kamu juga anggota organisasi olahraga, kan?” An Zaiyu kali ini bicara benar.
“Tapi, kalian semua laki-laki, aku ikut nanti malah…” Wu Siyi masih bimbang.
“Gitu aja kok repot, kamu kan keluarga!” Ma Yue tiba-tiba berkata dengan suara lantang, melihat Wu Siyi terus ragu-ragu.
“Keluarga?” Wu Siyi sedikit terkejut mendengar sebutan itu, lalu melirik Fang Junche dengan canggung.
“Ya sudah, ikut saja. Kalian duluan, nanti aku nyusul sama dia,” akhirnya Fang Junche memutuskan. Jujur, ia sangat suka sebutan itu, “keluarga,” rasanya menyenangkan. Senyum tipis yang menawan pun tersungging di bibirnya.
“Ya sudah, deh!” Wu Siyi masih bingung, sebenarnya ia kurang suka suasana makan-makan dengan banyak pria yang minum-minum, tapi karena Fang Junche sudah mengiyakan, ia tidak ingin mengecewakannya.
“Kakak ipar, kami duluan ya, sampai ketemu nanti!” Ma Yue mengemasi barang-barangnya dan pergi bersama yang lain.
“Aku juga pergi dulu,” ujar An Zaiyu pada Fang Junche.
Wu Siyi hanya bisa tersenyum menanggapi mereka.
“Kamu senyumnya palsu banget!” Setelah semua pergi, Fang Junche menatap Wu Siyi dan berkata. Sejak tadi saat diajak kumpul, ia sudah melihat Wu Siyi gelisah.
“Serius, ketahuan ya?” Wu Siyi buru-buru menepuk pipinya yang kaku karena tersenyum terpaksa.
“Kalau kamu memang nggak mau ikut, nggak apa-apa kok. Jangan memaksakan diri.” Kalau Wu Siyi tak ingin ikut, ia bisa saja mencari alasan pada teman-temannya. Tadi ia setuju hanya untuk mengurangi kecanggungan Wu Siyi. Meski ia berharap Wu Siyi ikut, ia tak ingin gadis itu merasa tidak nyaman. Ia ingin Wu Siyi melakukan apa pun sesuai keinginannya, bukan demi menyesuaikan diri dengan lingkaran sosialnya.
“Tidak apa-apa, selama kamu ada di sampingku, aku tidak takut.” Wu Siyi memutuskan untuk ikut saja, toh sudah cukup lama ia mengenal mereka, kalau tidak ikut nanti dianggap aneh.
“Baiklah, aku ganti baju dulu, tunggu di sini ya.” Fang Junche pun masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajunya.
“Bajumu mau dicuci di rumah?” Setelah Fang Junche kembali, Wu Siyi melihat ia memegang seragam basket yang baru saja dilepas, dan hendak memasukkannya ke dalam ransel.
“Iya, di asrama ada mesin cuci,” jawab Fang Junche santai, mengira Wu Siyi khawatir ia tak bisa mencuci manual.
“Nanti bajunya kusut kalau pakai mesin cuci, kasih saja padaku, biar aku cuci tangan.” Wu Siyi pernah mencucikan seragamnya, tahu bahwa bahan itu mudah kusut jika dicuci mesin, jadi ia menawarkan diri.
“Baiklah, setelah dicuci simpan saja dulu di tempatmu, toh akhir-akhir ini jarang dipakai. Kalau nanti butuh, tinggal ambil.” Fang Junche sangat senang Wu Siyi mau mencucikan bajunya, ia segera menyerahkan seragam itu.
Wu Siyi menerimanya dengan senang dan memasukkannya ke dalam tas.
“Ayo pergi.” Fang Junche menggandeng tangan Wu Siyi menuju parkiran kampus.
Asrama perempuan
“Teman-teman, aku lagi pusing nih.” Setelah makan malam bersama, Fang Junche mengantar Wu Siyi pulang ke asrama lebih awal, lalu pamit pulang ke rumah.
“Kamu kan bisa belajar dan pacaran sekaligus, apanya yang bikin pusing?” Xie Dan berkata tak habis pikir. Katanya, wanita yang jatuh cinta itu jadi bodoh, tapi Wu Siyi justru pengecualian. Minggu lalu, ujian simulasi tengah semester ia tetap peringkat tiga besar, bahkan nilainya naik dari semester lalu. Berbeda dengan Lu Xiaoya yang juga berpacaran, nilainya malah anjlok!
“Aku serius, mau dengar nggak?” Wu Siyi akhirnya curhat pada teman-teman sekamarnya.
“Apa yang bikin kamu nggak bahagia, ayo ceritain biar kita semua senang,” canda Lu Xiaoya yang baru keluar dari kamar mandi setelah mandi.
“Eh, tumben banget kamu pulang cepat?” Wu Siyi heran melihat Lu Xiaoya sudah di asrama saat ini, biasanya sebelum setengah sebelas malam ia belum pulang.
“Jangan ganti topik, lanjutkan curhatmu tadi,” pinta Lu Xiaoya, yang tak ingin teman-temannya tahu bahwa hari ini ia baru saja bertengkar dengan Zhao Tao. Sebenarnya hubungannya dengan Zhao Tao memang sedang banyak masalah, tapi ia belum siap membicarakannya. Ia hanya bisa berharap, nanti semuanya akan membaik dengan sendirinya.
“Jadi begini, Fang Junche akan ulang tahun, tapi dia nggak pernah bilang ke aku, dan aku juga nggak tahu kapan ulang tahunnya.” Wu Siyi berkata malu-malu. Apa teman-temannya akan mengejeknya karena sudah berpacaran lama tapi tak tahu tanggal ulang tahun pacarnya?