Bab Lima: Pemberitahuan dari Wali Kelas
"Siyi, jangan lanjutkan, Fang..." Wu Lili melihat Fang Junche bangkit dan berjalan ke arah mereka, ingin segera menghentikan Wu Siyi agar tidak terus bicara.
"Takut apa? Jaraknya sejauh ini, masa dia bisa dengar? Lagipula, kalau pun dengar, apa dia bakal memakan aku?" Wu Siyi malah semakin bersemangat, sama sekali tidak sadar bahwa seseorang sedang bergerak mendekat dengan ekspresi dingin yang membuat bulu kuduk meremang.
"Benarkah?" Fang Junche tiba-tiba mengeluarkan suara rendah dan dingin.
"Ah, k-kamu ini hantu ya? Jalan saja tidak bersuara," Wu Siyi terkejut dan ketika berbalik, ia mendapati wajah masam yang luar biasa.
"Kalau kamu tidak pernah melakukan hal buruk, kenapa harus takut?" Fang Junche menatap matanya tanpa ekspresi. Sehari tidak bertemu, mata gadis itu sudah sembuh, bahkan tak ada bekas lebam. Kemampuan pemulihan yang luar biasa itu membuatnya tak sadar mengerutkan kening.
"Aku tidak melakukan hal buruk apa pun! Ini kamu sendiri yang seperti hantu, berjalan tanpa suara," jawab Wu Siyi agak gugup. Sungguh sial, mengeluh dari jauh saja masih bisa ketahuan, apa dia punya telinga super?
"Guru TK-mu tidak pernah mengajarkan jangan membicarakan orang lain di belakangnya?"
"Guruku malah mengajarkan jangan bicara dengan orang jahat. Lagi pula, yang barusan kubicarakan itu fakta," balas Wu Siyi.
"Orang jahat? Baiklah, kalau kamu sudah bilang aku orang jahat, maka aku akan jadi benar-benar jahat." Sebuah kilatan tak terduga melintas di mata Fang Junche. Ia perlahan mendekatkan wajahnya, semakin dekat, hingga hampir saja hidung mereka bersentuhan. Teman-teman di sekitarnya sampai menahan napas.
"Apa yang mau kamu lakukan? Kukasih tahu, jangan macam-macam," tiba-tiba Wu Siyi jadi gugup. Ia tahu lelaki itu bisa melakukan apa saja, andai saja tadi ia tidak sembarangan bicara. Ia pun menutup mata, pasrah menunggu nasib.
"Kamu sepertinya pelupa, jadi aku ingin mengingatkan. Kemarin kamu terlambat, sore ini aku ingin kamu datang tepat waktu ke biro olahraga," bisik Fang Junche di telinganya sebelum mundur, melewati An Zaiyu, menjentikkan jari dan hendak keluar.
Wu Siyi langsung membuka matanya lebar-lebar. Ya ampun, memalukan sekali! Ia barusan menyangka Fang Junche akan menciumnya, dasar perempuan aneh, berani-beraninya berimajinasi. Tunggu, tadi dia bilang apa? Terlambat? Tepat waktu?
"Heh, tunggu, tadi kamu bilang apa?" Wu Siyi memberanikan diri bertanya.
"Ck, rupanya kamu benar-benar pelupa, atau tadi kamu berharap terjadi sesuatu sehingga tak mendengar ucapanku?" Fang Junche menoleh dengan nada mengejek.
"Kamu ngomong apa sih? Aku tidak seperti itu!" Wu Siyi merasa telinganya panas, wajahnya pun ikut memerah. Ia bahkan reflek menyentuh pipinya, seolah memastikan dirinya tidak sedang melamun.
Teman-teman sekamar menatapnya, membuat ia semakin gerah. Kalau saja ada lubang di lantai, ia pasti sudah masuk ke dalamnya.
"Sore ini jam setengah enam, aku ingin melihatmu di biro olahraga," Fang Junche benar-benar tak mengerti apa isi kepala perempuan ini. Waktu di lapangan basket, semua orang menghindari bola yang meleset, hanya dia yang diam saja menunggu bola mengenai dirinya. Berbicara dengannya juga butuh banyak tenaga. Bahkan Fang Junche sendiri heran mengapa ia bisa begitu sabar menghadapi perempuan ini.
"Kenapa kamu yakin aku akan datang? Kamu tidak berhak menyuruhku begitu saja," Wu Siyi sebenarnya enggan menuruti kemauan lelaki itu.
"Aku punya atau tidak punya hak, nanti juga kamu tahu," jawab Fang Junche tanpa menoleh lagi dan langsung melangkah pergi.
Di ruang kelas 1013, setelah dua jam pelajaran matematika, tiba giliran pelajaran mandiri.
"Siyi, lebih baik kamu pergi saja. Banyak orang ingin masuk biro olahraga tapi tidak bisa. Lagi pula, itu bukan hal buruk, siapa tahu suatu hari Fang Junche sedang baik hati dan menerimamu jadi anggota. Kalau sudah begitu, kamu otomatis jadi anggota OSIS kampus. Kamu tahu sendiri kan, betapa hebatnya mereka? Setiap semester dapat tambahan nilai kredit," kata Xie Dan dengan mata penuh iri. Masuk OSIS itu tidak mudah, siapa pun yang keluar dari OSIS selalu tampak percaya diri dan bangga.
"Benarkah? Dapat tambahan nilai kredit?" Wu Siyi langsung tertarik. Di universitas, nilai kredit sangat penting. Kekurangan kredit berarti harus ujian ulang, dan jika sering ujian ulang selama empat tahun, itu bisa memengaruhi peluang kerja. Wu Siyi sangat berharap bisa dapat beasiswa.
"Tetap saja aku tidak bisa pergi. Masa demi kredit aku harus rela jadi bawahan mereka?" Wu Siyi merasa harga diri lebih penting.
"Teman-teman, mohon tenang," suara wali kelas, Bu Chen Yan, membuyarkan suasana. Ia berdiri di depan kelas dan meminta semua diam. Suasana pun langsung hening.
"Hari ini, saat pelajaran mandiri, saya ingin mengambil sedikit waktu untuk membacakan sebuah pengumuman penting dari jurusan," katanya sambil menyesuaikan kacamatanya dan menatap surat pengumuman di tangan. Walau agak tidak setuju, ia sadar ini di luar kuasanya, sebab ketua jurusan sendiri yang memerintahkannya pagi tadi. Sebenarnya ini lebih seperti perintah daripada sekadar pengumuman. Siapa suruh Wu Siyi menyinggung anak keluarga Fang? Seluruh lahan kampus yang luasnya ribuan meter persegi ini milik keluarga Fang, termasuk perpustakaan sepuluh lantai yang baru dibangun tahun lalu, itu pun sumbangan mereka. Jadi, permintaan pangeran keluarga Fang, jangankan ketua jurusan, rektor pun tak berani menolak. Benar-benar uang bisa menggerakkan segalanya, beginilah kaum kapitalis.
"Baik, dengarkan dengan saksama," lanjut Bu Chen Yan.
"Pengumuman! Berdasarkan hasil rapat pimpinan jurusan, demi kelancaran persiapan acara pekan olahraga tahunan, serta demi menumbuhkan jiwa sportivitas dan menjamin atlet berada dalam kondisi terbaik, jurusan memutuskan memilih satu mahasiswa baru yang terbaik untuk membantu biro olahraga kampus sebagai bagian logistik. Mohon seluruh kelas terkait berkoordinasi."
"Bu, pekerjaan logistik itu artinya jadi tukang suruhan ya?" tanya ketua olahraga kelas. Ia mengira ini kesempatan untuk berprestasi, ternyata hanya jadi tukang suruhan.
"Jangan dipandang seperti itu. Biro olahraga kampus bukan hanya tulang punggung acara olahraga, tapi juga kebanggaan universitas. Sudah banyak prestasi yang mereka raih dari kejuaraan antar kampus. Karena itu, pimpinan kampus sangat menaruh perhatian pada hal ini. Dan jurusan sudah menentukan siapa yang terpilih, yaitu Wu Siyi dari kelas ini. Mari kita beri tepuk tangan!" Setelah berkata demikian, Bu Chen Yan memimpin tepuk tangan.
Wu Siyi benar-benar terkejut. Refleks pertamanya, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Ia pun langsung teringat perkataan Fang Junche di kantin pagi tadi.
"Dasar licik!" desis Wu Siyi sambil menggertakkan gigi.
"Wu Siyi, kamu bicara apa?" tanya wali kelas melihat wajahnya murung dan bergumam sendiri.
"Eh, Bu... apa saya boleh tidak pergi? Jurusan kita ada lebih dari tiga puluh kelas, seharusnya yang seperti ini diberikan pada yang lebih layak. Saya takut malah mempermalukan kelas kita," Wu Siyi berdiri, memohon dengan senyum kaku.
Ia tahu ini memalukan, tapi demi hidupnya, harga diri bisa dikesampingkan. Kalau benar-benar harus pergi, siapa tahu dia akan dipermainkan oleh Fang Junche. Jadi mendingan mengalah saja.
"Kamu adalah pilihan terbaik. Berdasarkan penilaian pelatih militer waktu orientasi, kamu dinilai sangat baik. Jurusan sudah sepakat kamu yang paling cocok," tegas Bu Chen Yan.
Pelatih militer? Sial, ini semua gara-gara waktu orientasi terlalu rajin! Malah jadi bumerang!
"Tapi, Bu..." Wu Siyi masih berusaha menolak.
"Tidak ada tapi-tapian. Ini perintah langsung dari jurusan. Kalau kamu tidak pergi, itu berarti kamu tidak mendukung program jurusan. Kalau sampai dinilai tidak taat aturan, nilai kreditmu bisa dikurangi, saya tidak bisa membantu," jelas wali kelas.
"Apa? Tidak pergi malah dikurangi kredit?" Gawat, ini benar-benar keterlaluan. Tapi menolak berarti menentang kredit, dan itu sama saja mengorbankan uang dan ijazah. Wu Siyi masih ingin lulus dengan nilai bagus dan mendapat beasiswa. Ya sudah, demi kredit, ia harus bertahan.
"Baiklah, kalau saya bekerja dengan baik, apakah bisa dapat tambahan kredit?" Wu Siyi langsung teringat janji Xie Dan soal tambahan kredit tadi.
"Itu tergantung hasil kerjamu. Kalau ketua biro olahraga puas, bukan tidak mungkin," jawab wali kelas sambil tersenyum.
"Baik, saya akan berusaha sebaik mungkin." Wu Siyi merasa dirinya payah, tapi tidak apa-apa, yang penting bisa menyesuaikan diri. Meskipun ia perempuan!
"Bagus, setelah pelajaran nanti sore, kamu langsung ke biro olahraga untuk melapor. Oh ya, mulai sekarang, kamu tak perlu hadir di kelas saat pelajaran mandiri. Ini keistimewaan dari jurusan supaya kamu bisa fokus membantu para atlet," jelas wali kelas.
Serius? Sepertinya masuk biro olahraga tidak seburuk itu, pikir Wu Siyi sambil tersenyum sendiri.
"Baik, silakan lanjutkan pelajaran mandiri," ujar wali kelas sebelum keluar dari kelas.
"Wah, Siyi, kamu benar-benar beruntung! Banyak orang menginginkan posisi itu tapi tak mendapatkannya," seru Xie Dan pertama kali.
"Sudahlah, ini berkah atau musibah belum tentu. Yang jelas, ini pasti ulah si Fang itu," kata Wu Siyi tanpa ragu.
"Masa sih? Dia memang punya pengaruh besar, tapi tidak mungkin sampai menentukan kebijakan kampus, kan? Lagi pula, dari sekian banyak mahasiswa, kenapa harus kamu? Masa hanya gara-gara insiden di lapangan basket? Bukankah biro olahraga biasanya tidak menerima perempuan, dan itu aturannya sendiri? Apa untungnya buat dia? Malah mempermalukan diri sendiri," ujar Lu Xiaoya menganalisis panjang lebar.
"Kamu juga benar. Tak mungkin dia repot-repot karena hal sepele. Sekaya apa pun dia, tak mungkin bisa menguasai segalanya. Mungkin aku saja yang terlalu curiga," Wu Siyi mencoba menenangkan diri.
Bertahun-tahun kemudian, saat mengenang kejadian ini, Wu Siyi hanya bisa tertawa geli. Ternyata saat itu ia terlalu naif!