Bab 72: Perhitungan Cermat Yuan Wenhua
Setelah makan malam, Leng Rurshuang mengusulkan kepada Nenek Agung untuk pamit pulang karena harus kembali ke perusahaan dan mengurus pekerjaan. Sebenarnya Nenek Agung ingin menahan Leng Rurshuang agar tetap tinggal, namun ia pun menyadari bahwa Leng Rurshuang sengaja ingin melindungi Qin Xuanyuan, sehingga akhirnya ia mengurungkan niatnya. Lagi pula, ia paham, jika ia terus-menerus mempermalukan Qin Xuanyuan di depan umum, mungkin saja gadis itu akan berbalik menentangnya. Lebih baik ia mengalah demi kebaikan dan mengambil hati Leng Rurshuang.
Melihat Leng Rurshuang menggandeng tangan Qin Xuanyuan meninggalkan aula, entah mengapa Nenek Agung teringat akan masa mudanya sendiri. Dulu, saat ia mengikuti suaminya, ia juga tidak memiliki apa-apa. Kini suaminya telah lama tiada, dan kesepian kerap menyelimuti hari-harinya. Meski memiliki empat putri dan banyak cucu, semuanya telah pindah keluar, menyisakan dirinya seorang diri di kediaman keluarga Leng.
“Gadis ini juga bernasib malang! Jika aku benar-benar memaksanya bercerai dengan Qin Xuanyuan, ia mungkin tidak akan sanggup menanggungnya.”
Para anggota keluarga Leng yang lain hanya melirik kepergian Qin Xuanyuan sekeluarga, tanpa berniat ikut pergi. Mereka menatap Nenek Agung, menanti sesuatu darinya, karena mereka yakin pasti ada hal yang ingin disampaikan.
Siapa sangka, Nenek Agung hanya menggelengkan kepala, lalu berbalik melangkah masuk ke bagian dalam aula.
“Apa-apaan ini? Nenek Agung langsung pergi begitu saja?” bisik seseorang.
“Aku kira beliau akan memberikan penjelasan soal sesuatu,” ujar yang lain.
“Mungkin beliau dibuat kesal oleh Qin Xuanyuan si pecundang itu!” Sontak suasana menjadi ramai oleh bisik-bisik penuh spekulasi.
Yuan Wenhua segera menarik Leng Ruiyun keluar dari aula. Bukan hanya Leng Mingsue yang dipermalukan, seluruh keluarganya pun turut menanggung malu dalam jamuan makan keluarga itu. Wajar bila ia tak sanggup lagi berbasa-basi dengan para anggota keluarga lain, dan memilih mengajak Leng Ruiyun segera meninggalkan tempat itu.
Begitu keluar dari kompleks kediaman, Leng Ruiyun melihat mobil van hitam Qin Xuanyuan telah melaju pergi.
“Qin Xuanyuan brengsek itu! Tunggu saja, aku pasti akan membalasnya!” geram Leng Ruiyun.
“Kau mau membalas, memangnya bisa apa? Apa kau mau membunuhnya? Jika kau tidak berpijak pada kenyataan dan hanya sibuk merancang hal-hal semacam itu, apa gunanya?” hardik Yuan Wenhua sambil menepuk kepala belakang Leng Ruiyun dan menggiringnya menuju tempat parkir terdekat.
Mereka masuk ke dalam sebuah BMW abu-abu metalik. Yuan Wenhua dengan wajah penuh amarah segera menyalakan mesin mobil.
Setelah mobil melaju keluar dari jalan utama kompleks, Yuan Wenhua melirik sekilas pada Leng Ruiyun dan mendengus pelan.
“Ruiyun, bukan maksudku menggurui, kau sudah cukup dewasa. Kalau kau terus bertindak gegabah, cepat atau lambat kau akan menanggung akibatnya. Kakakmu itu contohnya.”
Suasana hati Yuan Wenhua benar-benar tertekan. Andaikan saja Leng Mingsue bisa menahan diri, ia pasti akan berusaha mencari cara agar putrinya tetap menjabat sebagai direktur utama. Sayangnya, Leng Mingsue terlalu sembrono. Dari yang tadinya menjadi andalan keluarga Leng, kini ia justru menjadi contoh buruk setelah dipecat dari perusahaan.
Tentu saja ia juga tak ingin Leng Ruiyun mengulangi kesalahan yang sama.
“Tapi Ayah, mereka benar-benar sudah keterlaluan,” ujar Leng Ruiyun, wajahnya memerah, giginya bergemeletuk menahan amarah, memandang ayahnya dengan penuh dendam. Apakah ia ingin bersikap gegabah? Sebenarnya tidak. Tapi Qin Xuanyuan dan Leng Rurshuang lah yang memaksanya seperti itu, terutama Qin Xuanyuan. Jika ia tak menghajarnya, ia merasa dadanya akan terus tercekik oleh amarah.
“Ayah paham. Tapi mereka punya kemampuan memenangkan proyek, sedangkan kamu? Apa kamu punya kemampuan itu? Mau ayah kasih pisau supaya kamu langsung membunuh Qin Xuanyuan dan Leng Rurshuang? Apa dengan begitu kamu bisa mewarisi Hongtu Grup?” bentak Yuan Wenhua dengan nada keras.
“Aku…” Wajah Leng Ruiyun mendadak kaku. Ia tak tahu harus berkata apa. Jika ia benar-benar membunuh mereka, bukankah ia malah akan masuk penjara? Jika sudah begitu, ia malah semakin tak layak menjadi pewaris Hongtu Grup.
“Intinya, aku ayahmu dan tak mungkin menjerumuskanmu. Kakakmu terlalu egois, dan kamu, selama ini juga terlalu tinggi hati dan semaunya sendiri.”
“Ruiyun, ayah ini sudah tua. Hidup hanya sisa menunggu ajal. Tapi kau berbeda, kau masih muda.”
“Hongtu Grup jika bangkrut, kita pun tidak akan mendapat keuntungan. Maka kita harus membuat Hongtu Grup berkembang, dan kamu harus berusaha menunjukkan nilai dirimu.”
“Ayah dengar, Nenek Agung tadi berniat membicarakan soal pembagian saham. Sekarang kakakmu sudah berbuat ulah hingga membuat Nenek Agung murka, ia pasti akan merugi. Kalau kamu ikut-ikutan, sahamnya bisa jatuh ke tangan orang lain.”
“Leng Rurshuang suka jadi direktur utama, biarkan saja. Yang penting kita dapat bagian saham dan kamu duduk di kursi ketua dewan, itu yang utama.”
Yuan Wenhua berkata panjang lebar. Kalau biasanya, Leng Ruiyun mungkin akan mengabaikannya. Tapi kali ini, setelah mendengar penjelasan ayahnya, ia benar-benar mulai tenang.
Ia membayangkan dirinya menjadi ketua dewan, serasa menjadi seorang kaisar yang berada di atas segalanya. Sensasi itu membuat hatinya bergelora.
“Ayah, maksudmu aku bisa jadi ketua dewan?”
“Ayah tak tahu pasti. Tapi kalau kamu bisa menunjukkan kemampuanmu, kamu akan jadi kandidat terkuat. Ayah percaya padamu, jadi jangan lagi ikut kakakmu membuat masalah. Itu tak ada untungnya,” ucap Yuan Wenhua.
“Baik, aku janji tak akan bikin ulah.”
“Itu baru benar. Kalau kamu jadi ketua dewan, kamu akan punya segalanya, tak perlu peduli bagaimana Leng Rurshuang. Sebenarnya Nenek Agung itu lebih condong pada laki-laki.”
“Aku cucu laki-laki sulung keluarga Leng, saham yang kubagi pasti akan lebih banyak. Lagi pula aku calon ketua dewan, tentu harus punya lebih banyak saham,” ujar Leng Ruiyun dengan bangga, makin percaya diri setelah mendengar ayahnya bicara soal keistimewaan laki-laki.
Sekarang, ia benar-benar tak peduli lagi dengan nasib Leng Mingsue. Selama ia bisa menjadi ketua dewan, siapa saja yang menjadi direktur utama dan bekerja untuknya, ia tak peduli.
Yuan Wenhua melihat putranya sudah begitu puas, ia pun merasa lega, sebab ia benar-benar khawatir Leng Ruiyun akan melakukan sesuatu yang ceroboh dan menimbulkan masalah besar.
Dulu, jika terjadi masalah, Leng Mingsue yang selalu membereskan segalanya untuk adiknya. Tapi sekarang, Leng Mingsue sendiri tengah kesulitan, jadi Yuan Wenhua harus turun tangan membimbing anaknya itu.
Mobil mereka akhirnya tiba di kawasan vila Taman Beituo, dan berhenti di depan vila nomor tiga puluh enam.
Begitu turun dari mobil, Yuan Wenhua segera berjalan menuju pintu vila, diikuti Leng Ruiyun di belakangnya.
Begitu masuk, mereka mendapati Leng Mingsue tengah berteriak di ruang tamu.
“Aaaa… Jangan urusi aku lagi!”
Leng Mingsue sedang membentak Leng Yingmei.
Leng Yingmei langsung menampar pipi kanan Leng Mingsue.
“Sadar, kau!”
Yuan Wenhua segera maju melindungi Leng Mingsue, lalu menoleh dengan tatapan marah pada Leng Yingmei.
“Sudah cukup! Ia sudah cukup menderita, menamparnya tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kau mau dia sampai benar-benar hancur?”
Leng Yingmei menggigit bibir, kedua tangannya mencengkeram rambut sendiri, juga berteriak histeris.
“Dia tidak hancur pun, aku yang akan hancur! Siapa suruh dia membuat masalah besar di rapat lalu akhirnya dipecat Leng Rurshuang? Apa aku yang memaksanya?”
“Cukup! Kalian berdua tenangkan diri! Terus begini juga tak ada gunanya. Sekarang Leng Rurshuang sudah berhasil mendapatkan kontrak proyek Jinxiu Grup, kita harus punya keunggulan di sisi lain,” tegas Yuan Wenhua dengan suara keras sambil menarik Leng Mingsue duduk di sofa.
Leng Mingsue menoleh, wajahnya bergetar, lalu dengan suara penuh harap bertanya, “Ayah, apa itu? Cepat katakan!”
Melihat kakaknya dalam keadaan seperti orang gila, rambut awut-awutan demi satu jabatan direktur utama, Leng Ruiyun merasa ngeri. Ia tak pernah melihat kakaknya sehancur ini. Ia pun membayangkan, jika suatu saat ia gagal menjadi ketua dewan, apakah ia akan mengalami hal serupa?
“Tidak, itu tidak akan terjadi. Kursi ketua dewan pasti milikku! Nenek Agung pasti akan menyerahkannya padaku, selama ini beliau paling menyayangiku,” batinnya yakin.
Leng Yingmei melihat Leng Mingsue mulai tenang, ia pun lega, lalu duduk di kursi.
“Mingsue, kau putriku, sejak dulu kau yang paling menonjol, Leng Rurshuang tak ada apa-apanya dibanding kau, paham?”
Leng Mingsue segera mengangguk. “Aku paham. Ayah, katakan, apa yang harus kulakukan?”
Yuan Wenhua menghela napas, lalu menatap tajam.
“Kau sudah tahu soal undangan Jenderal Perang di tangan Nenek Agung, kan? Jadi, berikutnya, kau harus kembali ke rumah Nenek Agung dan meminta maaf.”
“Jika kau bisa merebut hati Jenderal Perang, lalu menjadi istrinya, bagaimana menurutmu? Tentu saja kau akan jauh lebih terhormat dibanding Leng Rurshuang.”
“Jadi, memperjuangkan jabatan direktur utama dan mencemarkan nama sendiri itu tidak perlu. Sekarang Nenek Agung akan meminta Leng Rurshuang mengadakan konferensi pers, kau harus hadir. Saat itu, katakan saja kau ingin melanjutkan pendidikan, jadi jabatan direktur utama kau serahkan pada Leng Rurshuang.”
Mendengar penjelasan ayahnya, wajah Leng Mingsue langsung berseri-seri.
Istri Jenderal Perang?
Benar! Ia akan menjadi istri Jenderal Perang, apa artinya jabatan direktur utama? Apa artinya jamuan makan keluarga? Tak sebanding dengan status itu.
Leng Rurshuang memang sudah menikah dan memiliki putri sakit-sakitan bernama Leng Rui, jadi meski secantik apapun, ia tetap bukan tandingannya.
“Ayah, kau benar. Aku yang membuat kalian malu.”
“Tidak apa-apa. Malu itu tidak penting. Yang penting, kau harus lebih anggun dan menjaga kehormatan diri.”
Yuan Wenhua menepuk tangan Leng Mingsue.
“Kak, kali ini kau memang terlalu gegabah. Tapi aku adikmu, tentu aku tak akan membiarkanmu di-bully. Begitu keluar dari aula tadi, aku langsung memarahi Qin Xuanyuan dan mereka,” ujar Leng Ruiyun, berusaha tersenyum pada kakaknya, padahal pikirannya sudah merancang masa depan.
Jika Leng Mingsue benar-benar menjadi istri Jenderal Perang, ia yakin akan mendapat banyak keuntungan. Ia tak hanya akan mewarisi Hongtu Grup, tapi juga akan melahap banyak perusahaan lain. Selama Jenderal Perang dan Leng Mingsue mendukungnya, ia yakin akan menjadi raksasa bisnis.
Leng Ruiyun pun tak kuasa menahan getar kegembiraan di tubuhnya.
Leng Mingsue mengira adiknya itu takut padanya, karena sejak pulang, ia selalu marah-marah dan Leng Ruiyun pun melihatnya.
“Ruiyun, maaf, kakak memang terlalu gegabah, semua salah kakak. Tapi tenang, kakak pasti akan berusaha keras menjadi istri Jenderal Perang.”