Bab 31
Akhir-akhir ini Fu Yang sangat sibuk, dari dia yang tak lagi sempat mengajak mereka dan Si Ha keluar berjalan-jalan saja sudah bisa terlihat. Jika pagi-pagi dia bangun lebih awal, mereka masih sempat saling bertatap muka, tapi jika bangunnya kesiangan, seharian itu kemungkinan besar sama sekali tak akan bertemu. Sejak jarangnya bertemu, Xiang Hai kadang-kadang jadi sering memikirkannya. Hari ini, tanpa gangguan sang pemilik, Xiang Hai merasa sangat bosan, hanya bermain lempar-tangkap bola bersama Si Ha. Setelah lelah, Xiang Hai duduk di lantai, menatap Si Ha yang berbaring di sampingnya.
“Kau kangen tuanmu tidak?”
“Tidak.”
Mengucapkan kalimat sekejam itu dengan wajah sepolos itu, apa tidak terasa agak kelewatan? Xiang Hai tiba-tiba merasa iba pada tuan mereka yang bekerja keras sejak pagi hingga larut.
“Tuan kita kasihan sekali.”
“Tuan kita tidak kasihan,” sahut Si Ha menatap Xiang Hai.
Xiang Hai heran, “Kenapa kau bilang begitu?”
“Karena tuan kita punya kamu yang selalu memikirkannya, dia sama sekali tidak patut dikasihani.”
Jawaban itu terasa hangat di hati, meski entah kenapa Xiang Hai menangkap nada iri di balik ucapannya, atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Tak begitu peduli, Xiang Hai mengusap kepala Si Ha, “Benar juga, tuan kita memang tidak patut dikasihani.” Mana mungkin seorang pemenang hidup seperti tuannya layak dikasihani? Hanya karena dia merasa tuannya tidak dirindukan hewan peliharaannya saja sudah merasa iba, betapa konyolnya.
“Lagipula, siapa yang bisa dikangenin oleh seekor panda sepertiku, mana mungkin bisa dibilang kasihan?”
“Dari jauh saja aku sudah dengar kau, si sombong, sedang membual dan mencuci otak dia lagi.”
Mendengar suara itu, tubuh Xiang Hai langsung menegang, tapi setelah sadar siapa yang datang, dia bergumam pelan, “Membual? Dipikirin panda sepertiku itu jelas sebuah kehormatan, tahu!”
“Benar juga, bagaimanapun kau adalah makhluk purba terakhir di dunia,” ujar Fu Yang sambil melepas sarung tangan putihnya, melemparnya ke sofa, lalu melangkah mendekati keduanya, satu tangan mengelus satu kepala, lalu menoleh pada Xiang Hai.
Keningnya berkerut, “Akhir-akhir ini aku tidak bisa sembarangan bawa kalian keluar.”
Baru saja Xiang Hai ingin bertanya “kenapa”, tapi melihat raut serius di wajah Fu Yang, dia langsung sadar ada hal besar yang terjadi, lalu menurut mengangguk.
Tak mendengar kalimat “kenapa” yang biasa, Fu Yang agak tak terbiasa juga. Ia menepuk kepala keduanya, “Jangan keluyuran dulu akhir-akhir ini.” Dia mulai berpikir, mungkin sudah waktunya pindah rumah.
Fu Yang benar-benar memikirkan hal itu dengan serius.
Meskipun Fu Yang tidak memberitahu Xiang Hai apa pun, Xiang Hai sudah bisa menebak sendiri dari berita-berita di internet. Ternyata ayah tuannya, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Negara, sedang kritis karena masalah jantung. Dari gaya penulisan berita, sepertinya tak lama lagi beliau akan wafat. Meski bahasa berita terkesan sangat hati-hati, namun kekhawatiran tentang siapa penerus tahta negeri itu jelas terasa, bahkan sudah terkesan lancang dan membuat orang geram.
Pantas saja akhir-akhir ini ia begitu sibuk sampai jarang bisa ditemui, pantas juga keningnya selalu berkerut. Xiang Hai menghela napas, menutup laman berita, lalu melihat Fu Yang yang baru saja selesai mandi berjalan ke arahnya. Ia pun buru-buru mengganti layar ke percakapan dengan teman, berpura-pura tak tahu apa-apa.
Fu Yang, yang jelas-jelas tidak rabun, dari sorot mata Xiang Hai yang sembunyi-sembunyi saja sudah bisa menebak semuanya. Tinggal cek riwayat pencarian, pasti tahu bocah ini sudah ngapain saja. Meski sudah tahu, Fu Yang tidak membongkar kebohongan Xiang Hai, hanya menyuruhnya istirahat lalu duduk di tempat Xiang Hai tadi, membuka riwayat pencarian, melihat berita-berita itu, hanya mengangkat alis, tanpa ekspresi khusus, lalu mematikan internet dan masuk kamar untuk tidur.
Berbeda dengan Xiang Hai yang setiap hari memantau perkembangan negara lewat dunia maya, Fu Yang justru berubah dari sangat sibuk menjadi tampak santai, seolah tak ada hubungan antara Ketua Negara yang kritis dengan dirinya, seolah dia bukan putra mahkota negeri itu.
Sampai suatu hari, Fu Yang dengan serius bertanya padanya, apakah ada tempat yang ingin ia kunjungi. Xiang Hai benar-benar bingung.
Sebenarnya, siapa yang ayahnya sedang kritis? Kenapa orang ini malah santai dan seperti mau liburan?
“Kau sedang cuti, ya?” tanya Xiang Hai ragu-ragu.
Fu Yang meliriknya sekilas, lalu mengangguk, “Hampir sama seperti cuti. Di markas juga tidak ada urusan apa-apa. Memangnya kenapa tiba-tiba kau peduli dengan pekerjaanku?”
“Tidak, cuma tanya saja. Yang penting tidak ada masalah.”
“Mau pergi ke mana?” Fu Yang bertanya lagi.
Xiang Hai sebenarnya tidak berminat liburan, dia menatap Fu Yang tanpa berkedip, lalu berkata dengan manis, “Tidak ada, aku cuma ingin di rumah saja, tidak ada tempat yang lebih nyaman dari rumah! Masakan koki luar pun tidak ada yang seenak Paman Yun!”
Ucapan itu mendapat dukungan penuh dari Si Ha, “Guk guk guk!”
Kebetulan Paman Yun, yang sedang memakai celemek dan menyiapkan makan siang, lewat sambil membawa adonan. Mendengar suara mereka berdua, ia menatap tuannya dengan heran. Fu Yang pun berkata pada Paman Yun, “Aku tanya mereka mau ke mana, jawabnya mereka tidak mau pergi ke mana pun demi merasakan masakanmu.”
Sebagai pengasuh sekaligus tangan kanan Fu Yang yang sudah merawatnya sejak kecil, Paman Yun sangat paham tentang kemampuan istimewa tuannya, apalagi kemampuan itu diwarisi dari sang nyonya. Mendengar ucapan itu, keriput di ujung matanya bahkan tak bisa menyembunyikan senyumnya yang sumringah. Ia berkata dengan penuh semangat, “Mereka suka masakanku, itu kehormatan bagi Yun Qi.” Meski sangat senang, ia tetap menjaga sopan santun sebagai seorang pengasuh yang setia.
Karena Xiang Hai tak menyebutkan ingin pergi ke mana, akhirnya Fu Yang memutuskan sebuah pulau kecil untuk berlibur. Awalnya Xiang Hai mengira harus berpisah sementara dengan Paman Yun, tak disangka kali ini mereka semua ikut, meski formasinya tidak lengkap, tapi tetap terasa megah meski sekilas terlihat sederhana. Melihat satu pesawat besar dan dua pesawat pengawal bersenjata mengiringi, Fu Yang hanya bisa mengelus dada, inilah memang anak raja, bahkan kalau dibilang pergi diam-diam pun tetap saja terkesan luar biasa.
Penulis berkata: Libur Hari Anak ini benar-benar membuatku kelelahan, sekarang baru bisa bernapas lega.