Bab 83: Pengakuan Fan Mingde
Di atas panggung.
Jiang Xiyu dengan jemarinya yang putih dan ramping terus memetik dawai kecapi, memainkan lagu "Gunung Tinggi dan Aliran Sungai".
Tiba-tiba, Jiang Xiyu tersenyum manis ke arah para penonton di bawah panggung.
Terdengar tepuk tangan singkat dari bawah, namun segera hening kembali, seolah tak ada seorang pun yang berani mengganggu Jiang Xiyu.
Saat itu, Jiang Xiyu tampak seperti peri yang tak tersentuh debu dunia, auranya luar biasa, kecantikannya tiada banding.
Kemudian, pandangan Jiang Xiyu tertuju ke arah Qin Xuanyuan.
Melihat Qin Xuanyuan memejamkan mata, hatinya semakin gembira. Ia tak menyangka Qin Xuanyuan begitu terhanyut mendengarkan permainannya.
Karena itu, Jiang Xiyu segera menenangkan hati dan memusatkan seluruh perhatian pada permainannya.
Saat lagu berakhir, para penonton masih terbuai, bahkan Jiang Xiyu pun masih terbawa suasana dari lantunan barusan.
Beberapa saat kemudian, tepuk tangan menggema bagaikan guntur, banyak orang berseru dan bersiul memuji Jiang Xiyu.
Empat pembawa acara dengan busana mewah keluar dari sudut, berjalan ke tengah panggung dan saling memuji penampilan Jiang Xiyu tadi.
Namun, saat Jiang Xiyu hendak pergi, seorang pemuda tinggi dengan rambut yang disisir rapi, membawa seikat bunga, menghadangnya.
"Xiyu, penampilanmu barusan sungguh luar biasa. Jadilah kekasihku, aku pasti akan setia padamu."
Pernyataan cinta yang tiba-tiba ini membuat wajah Jiang Xiyu berubah.
Tentu saja ia mengenali pemuda tinggi itu, Fan Mingde, salah satu pengejarnya. Berbeda dengan Zhang Tianjiao, Fan Mingde telah mengejarnya selama enam tahun.
Karena keluarga Fan juga keluarga kelas dua, bersama Zhang Tianjiao mereka dijuluki "Dua Jagoan Kampus" Universitas Donghai.
Namun, ia tak tertarik pada Zhang Tianjiao maupun Fan Mingde, karena ia lebih menyukai pahlawan sejati, bukan anak manja seperti mereka.
Melihat Jiang Xiyu diam saja, Fan Mingde mengangkat tangan kanannya, bersumpah, "Xiyu, aku berjanji akan tulus padamu selamanya."
"Kita tidak cocok, jadi aku tidak butuh janjimu."
Jiang Xiyu menggeleng tegas, menatap Fan Mingde, lalu berbalik menghindarinya.
"Xiyu, kumohon, beri aku satu kesempatan lagi," pinta Fan Mingde, mengejar Jiang Xiyu meski di hadapan banyak orang, tak rela gagal.
Jiang Xiyu mengabaikannya, langsung berjalan menuju ruang belakang panggung.
Orang-orang di ruang belakang pun mendengar pengakuan Fan Mingde tadi, namun mereka pura-pura tak tahu, mengalihkan pandangan.
Jiang Xiyu menyapa penata riasnya dan yang lain, bahkan tak sempat berganti pakaian, sudah ingin keluar dari ruang itu.
Fan Mingde melihat itu, langsung menyusul.
"Mengapa? Xiyu, aku sangat menyukaimu, kenapa kau memperlakukanku seperti ini?"
Di area terbuka di luar ruang, Fan Mingde menarik lengan kiri Jiang Xiyu.
Jiang Xiyu mengernyit tajam, lalu membentak marah, "Apa-apaan ini? Lepaskan! Lepaskan aku!"
"Kalau kau tak mau jadi kekasihku, aku takkan melepaskanmu. Xiyu, aku sungguh mencintaimu, aku tak sama dengan Zhang Tianjiao, tolong beri aku kesempatan," pinta Fan Mingde.
Dulu mungkin ia masih menjaga sikap, tapi kini ia sudah tak peduli, sebab jika gagal, besok ia pasti jadi bahan gosip.
Lagi pula, ia dengar Jiang Xiyu kini dekat dengan seseorang, bahkan Zhang Tianjiao pun sudah dibuat tak berdaya.
Perempuan yang ia kagumi sekian lama, tak boleh ia serahkan begitu saja.
"Fan Mingde, cepat lepaskan aku, atau aku akan lapor polisi. Lepaskan!"
Jiang Xiyu menggertak dengan suara gemetar.
Tak disangka Fan Mingde bisa jadi segila itu.
Namun kini, tak ada pengawal di sisinya.
Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia memukuli Fan Mingde?
"Lepaskan dia!"
Suara tiba-tiba terdengar.
Di area segitiga yang salah satu sudutnya tertutup tirai, di pintu masuk antara tirai dan dinding, berdiri Qin Xuanyuan.
"Kau?" Fan Mingde mengenali Qin Xuanyuan, lelaki yang menjadi rumor bersama Jiang Xiyu di forum kampus, membuatnya menggertakkan gigi.
"Aku bilang, lepaskan dia!" bentak Qin Xuanyuan.
Ia melangkah lebar ke arah Fan Mingde.
Jiang Xiyu melihat Qin Xuanyuan datang, hatinya berdebar keras, seolah Qin Xuanyuan adalah penyelamat dari langit.
Qin Xuanyuan tampak bersinar di matanya.
Ia bahkan lupa rasa sakit di tangan yang dicengkeram Fan Mingde.
"Jangan dekati aku!" Fan Mingde tiba-tiba panik, merasakan aura Qin Xuanyuan sangat kuat, terutama tatapannya yang tajam membuatnya gemetar.
Secara refleks, ia melepaskan tangan Jiang Xiyu.
Qin Xuanyuan segera menarik Jiang Xiyu menjauh.
Jiang Xiyu buru-buru berdiri di belakang Qin Xuanyuan, "Kakak senior, aku baik-baik saja."
"Baguslah," Qin Xuanyuan mengangguk dengan wajah serius, memandang Fan Mingde.
"Kakak senior? Siapa dia bagimu?" tanya Fan Mingde dengan wajah muram.
"Aku tak perlu menjelaskannya padamu," sanggah Jiang Xiyu.
Wajah Fan Mingde mengeras, alisnya mengerut, ia tersenyum getir, "Jadi, kau menyukainya, kan?"
"Fan Mingde, cukup! Apa yang kau omongkan? Dia kakak kelasku, dia sudah menikah. Lagipula, aku suka siapa bukan urusanmu, jadi tolong jangan ganggu aku lagi," seru Jiang Xiyu tajam, sambil diam-diam melirik Qin Xuanyuan.
Fan Mingde tak terima, menggertakkan gigi, "Selama kau belum menikah, aku berhak mengejarmu!"
Jiang Xiyu mengernyit, ia paling tak suka Fan Mingde yang terus menerus seperti ini.
"Berhentilah bermimpi. Aku sungguh tidak suka tipe sepertimu. Aku suka pahlawan besar seperti Pelindung Negara. Jadi, lupakan saja."
Mendengar itu, Fan Mingde ingin menarik Jiang Xiyu lagi.
Namun baru saja ia mengulurkan tangan, Qin Xuanyuan menepisnya.
"Siapa kau sebenarnya? Mau apa kau?" Fan Mingde mundur dua langkah, menatap Qin Xuanyuan dengan marah. Meskipun Qin Xuanyuan tampak menakutkan, ia yakin Qin Xuanyuan masih mempertimbangkan statusnya.
Bagaimanapun, ia adalah putra sulung keluarga Fan, siapa yang tak kenal Fan Mingde di Distrik Beituo?
"Kau belum pantas tahu siapa aku. Gadis itu sudah jelas menolakmu, jangan pernah lagi mengganggu dia, atau jangan salahkan aku bertindak tegas."
Qin Xuanyuan terkekeh, lalu memberi isyarat pada Jiang Xiyu untuk pergi lebih dulu.
"Brengsek!"
Fan Mingde memaki, lalu berteriak ke arah pintu ruang belakang, "Pengawal! Pengawal! Semuanya keluar sekarang!"
Enam pengawal berbaju hitam segera keluar dari ruang.
Namun ketika mereka melihat Qin Xuanyuan, wajah mereka langsung menegang, tampak jelas mereka merasa Qin Xuanyuan bukan orang sembarangan.
"Majulah, hajar dia untukku!" Fan Mingde membentak pengawalnya. Dengan mereka di sini, ia merasa lebih percaya diri.
Qin Xuanyuan tampak seperti pengawal biasa, pengawalnya pasti bisa mengurusnya.
Namun, yang membuat Fan Mingde terkejut, para pengawalnya hanya saling pandang, tak satu pun bergerak maju.
Ia jadi semakin marah, kembali membentak, "Kalian tunggu apa lagi? Kusuruh hajar dia!"
Qin Xuanyuan menyipitkan mata, berkata datar, "Mereka bukan tandinganku. Karena itu mereka tak berani bertindak. Lagipula, apa kau pikir aku datang sendirian?"
Baru saja ia selesai bicara, terdengar derap langkah.
Yeh Xin datang bersama sekelompok pengawal berbaju hitam.
Melihat mereka, wajah Fan Mingde langsung pucat, sebab jumlah mereka lebih banyak dari pihaknya.
Namun, saat menatap Yeh Xin, matanya tak berkedip, kerongkongannya bergeser, jantungnya berdebar kencang.
Cantik sekali!
Siapa pula perempuan ini?
"Kak Xu, kau tak apa-apa?"
Yeh Xin mendekat, menatap Qin Xuanyuan. Melihat Qin Xuanyuan baik-baik saja, ia hanya melirik para pengawal keluarga Fan.
"Tidak apa-apa," Qin Xuanyuan melambaikan tangan, tersenyum ringan.
Sebenarnya ia tak meminta Yeh Xin datang, mungkin Yeh Xin melihat Jiang Xiyu bermasalah, jadi ia ikut membantu.
"Lalu, bagaimana dengan mereka?" tanya Yeh Xin dengan dahi berkerut.
Meski ia tak melihat para pengawal keluarga Fan bertindak, mereka sudah berani kurang ajar pada Qin Xuanyuan, terlalu lancang.
Jika Qin Xuanyuan menyuruh pengawalnya menghajar mereka, ia pun takkan segan-segan.
Apalagi Jiang Xiyu adalah temannya, ia tak suka melihat Fan Mingde mengganggu Xiyu.
"Lupakan. Kali ini biarkan saja," Qin Xuanyuan menggeleng pelan, lalu berbalik pergi.
Yeh Xin memberi isyarat pada pengawalnya dan mengikuti Qin Xuanyuan keluar.
Fan Mingde memandang kepergian mereka, baru sadar dan langsung memarahi para pengawalnya.
"Tak berguna! Tak berguna! Kalian ini semua tak berguna! Disuruh urus satu orang saja tak berani!"
Seorang pengawal berambut cepak menunduk, "Tuan Muda, orang itu benar-benar luar biasa. Jika kami bertindak sembarangan, mungkin akan sangat merugikan."
"Merugikan apanya! Segera cari tahu siapa dia. Aku ingin tahu siapa sebenarnya orang itu!" Fan Mingde membentak, menampar pengawal berambut cepak.
Lalu ia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
Pengawal itu hanya menunduk, memegangi pipinya, berdiri diam di samping.
Selesai menelpon, wajah Fan Mingde kembali tampak cemas, karena ia baru saja mendapat kabar bahwa tangan Zhang Tianjiao telah dilumpuhkan seseorang.
Dan orang itu, kemungkinan besar adalah Qin Xuanyuan.
"Siapa sebenarnya bajingan itu, berani-beraninya melumpuhkan tangan Zhang Tianjiao? Aku sudah bertahun-tahun berseteru dengan Zhang Tianjiao pun tak pernah melakukannya."
Fan Mingde bergumam, lalu menatap pengawal berambut cepak.
"Lao Pi, begitu dapat infonya, segera sampaikan padaku."