Bab Tiga Puluh Enam: Menyanyikan Lagu Anak-anak di Ruang Siaran Langsung
Guo Xiao berbicara perlahan, mencoba membantu Su Muya mengingat kembali.
“Sudah, jangan lanjutkan!” Wajah Su Muya memerah, ia menatap Guo Xiao dengan kesal.
Guo Xiao mengangkat bahu tanpa dosa, bukankah tadi kau bilang lupa? Aku hanya membantumu mengingat.
Semua kenangan kembali membanjiri Su Muya. Tak heran waktu itu meski ia sangat menginginkannya, kepalanya selalu terasa pusing dan berat. Ternyata, semua itu gara-gara Wei Changming, bajingan itu, telah memberinya obat.
Syukurlah Guo Xiao menyelamatkannya. Setelahnya, Guo Xiao sempat berkelahi dengan Wei Changming, dan sejak saat itu mereka tak pernah bertemu lagi.
Guo Xiao berjalan mendekat seraya tersenyum, “Istriku, kalau makanannya tidak segera dimakan, nanti dingin. Ayo makan bersama, ya?”
“Aku tidak mau. Bukankah kau mau menceraikanku? Aku tidak sudi makan masakanmu!” Su Muya tetap dingin, membalikkan badan.
“Muya, kau adalah wanita terbaik di dunia ini. Mana mungkin aku menceraikanmu?” Guo Xiao tersenyum pahit, “Aku sudah bilang pada Qianqian, cintaku padamu melebihi segalanya, tanpa ada sedikit pun kepalsuan. Kenapa kau tak percaya padaku?”
“Hmph, kau tak mau menceraikanku, tapi aku yang akan menceraikanmu. Kau memang brengsek!” Suara Su Muya tetap dingin.
“Benar, dulu aku memang brengsek. Tapi sekarang aku benar-benar berubah. Percayalah, aku tak akan terjerumus lagi.” Guo Xiao berjongkok di depan Su Muya, menggerak-gerakkan tangannya seperti anak anjing, memohon, “Sayang, makanlah sedikit saja. Meja penuh makanan ini kubuat dengan susah payah...”
“Pfft.” Su Muya tak tahan, akhirnya tertawa.
“Hehehe.” Guo Xiao ikut tertawa bodoh.
“Ayo berdiri, jangan kebanyakan gaya.” Su Muya menoleh, matanya sedikit memerah, “Luka yang kau timbulkan padaku selama dua tahun ini, takkan pernah bisa kuampuni!”
“Maafkan aku, biarkan seumur hidupku jadi penebusan.” Guo Xiao berkata lirih.
Meski belum memaafkannya, Guo Xiao sudah sangat bahagia. Setidaknya, Su Muya mau makan bersama ketika hanya berdua.
Guo Xiao yakin, suatu hari nanti, ia akan mampu mencairkan hati Su Muya yang telah lama membeku dan membuatnya mau menerima dirinya kembali.
Selesai makan, Su Muya tak langsung pergi, malah membantu Guo Xiao membereskan meja makan.
Keduanya tak banyak bicara, namun di antara mereka terjalin keakraban layaknya pasangan suami istri yang sudah lama bersama.
Begitu Su Muya berangkat kerja, Guo Xiao pun membuka aplikasi Douya dan mulai siaran langsung.
Yang mengejutkan, baru saja ruang siaran dibuka, ratusan orang langsung membanjiri ruangannya.
Bahkan, jumlah penonton makin bertambah dengan kecepatan luar biasa.
Hanya dalam hitungan menit, sudah lebih dari enam puluh ribu orang yang menonton!
"Abang Hui Chu, akhirnya kau online juga. Sampai aku jadi gelisah menunggu.”
“Benar. Abang Hui Chu, tolong buat grup, dong! Supaya kami bisa menghubungimu. Masuk grup harus kasih hadiah apa? Pedang raksasa atau perahu motor?”
“Nanti saja itu! Hui Chu, cepat nyanyikan lagi lagu ‘Hidup Seindah Bunga Musim Panas’, aku sudah tak sabar!”
“+1, kumohon!”
Di ruang siaran, berbagai komentar membanjiri layar, semua memohon Hui Chu menyanyikan ‘Hidup Seindah Bunga Musim Panas’. Hadiah pun terus berdatangan, penonton tak henti-henti memberi saweran.
Dalam waktu singkat, jumlah saweran sudah menembus puluhan juta rupiah!
Melihat semua itu, Guo Xiao buru-buru berkata dengan tegas, “Aku tahu kalian menyukaiku. Tapi soal saweran, lakukan sebisanya. Dan untuk yang masih di bawah umur, tolong jangan ikut-ikutan saweran, ya? Oke?”
“Duh, Abang Hui Chu memang baik banget!”
“Aku tadinya mau nonton gratis saja, tapi sekarang jadi ingin sawer juga.”
Alih-alih menghentikan saweran, kata-kata Guo Xiao justru membuat penonton makin royal. Tak ada jalan lain, Guo Xiao hanya bisa berkata, “Terima kasih semuanya. Selanjutnya, aku akan membawakan lagu ‘Hidup Seindah Bunga Musim Panas’ untuk kalian.”
Guo Xiao mengambil gitar, larut dalam irama, lalu mulai menyanyi dan bermain.
Semua penonton di ruang siaran seakan terbuai, menikmati suara Guo Xiao dengan tenang dan khusyuk.
Baru setelah lagu selesai, ribuan komentar kembali memenuhi layar.
“Lagu ini benar-benar luar biasa, makin didengar makin terasa indah!”
“Benar, tapi menurutku yang lebih luar biasa itu puisi berjudul ‘Hidup Seindah Bunga Musim Panas’. Sungguh indah tak terlukiskan!”
“Benar juga, Abang Hui Chu. Bagaimana caramu menciptakan puisi seindah itu?”
Banyak warganet bertanya lewat kolom komentar.
Guo Xiao hanya bisa menghela napas, kalau saja kalian tak menanyakan ini, kita masih bisa berteman baik.
“Hui Chu, boleh bocoran nggak soal lagu yang kau tulis untuk Dewa Chen Shuotian? Apakah nuansanya mirip dengan yang ini? Bisa kasih tahu judulnya?”
Guo Xiao menggeleng, “Maaf, yang itu belum bisa kuberitahu. Tapi satu hal yang pasti, lagu itu tidak akan mengecewakan kalian.”
“Dewa Chen sudah mengumumkan, satu jam lagi, lagu itu akan dirilis!”
Tiba-tiba, layar dipenuhi komentar serupa.
Guo Xiao buru-buru mencari info, dan benar saja, lagu itu segera rilis.
“Ini kolaborasi antara Dewa Chen dan Hui Chu, aku sudah tak sabar menunggu!”
“Satu jam lagi, rasanya lama sekali!”
“Bukankah masih ada Abang Hui Chu di sini?”
“Benar, Abang Hui Chu, apa kau masih punya lagu ciptaan sendiri? Nyanyi satu lagi dong!”
“Jangan bercanda. Lagu asli itu bukan sayur kol, bisa keluar kapan saja?”
“Orang lain mungkin tidak bisa, tapi Abang Hui Chu pasti bisa!”
Layar semakin ramai dengan berbagai perdebatan.
Guo Xiao tersenyum, “Lagu serius sudah habis, mau dengar lagu anak-anak?”
“Haha, ternyata ada lagu anak-anak juga? Wajib dengar, dong!”
“Asli ciptaanmu juga? Cepat nyanyi, ayo!”
Penonton semakin tak sabar menunggu.
Guo Xiao bertanya, “Lagu anak-anak, kalian mau yang serius atau yang kocak?”
“Hah, lagu anak-anak juga ada yang kocak segala?”
“Abang Hui Chu, jangan-jangan mau nyanyi yang aneh-aneh ya? Ih, aku jadi malu!”
“Aku bisa jitak yang sok manja! Tapi kalau memang lucu, apa nggak bakal kena masalah? Jujur, aku pengen dengar!”
Guo Xiao menggeleng, “Kalian pikir ke mana, sih? Bukan yang aneh-aneh kok.”
Sebenarnya Guo Xiao ingin menyanyikan lagu horor tentang kelinci, tapi mengingat mungkin ada penonton di bawah umur, ia khawatir itu bisa menakuti mereka, jadi ia urungkan niatnya.
Guo Xiao tersenyum tipis, lalu mulai bernyanyi.
“Di bawah jembatan depan rumah, ada sekelompok bebek berenang, ayo cepat kita hitung, dua, empat, enam, tujuh, delapan...”
Guo Xiao bernyanyi dengan suara riang penuh kepolosan, khas anak-anak.
Lagu ini juga sering ia nyanyikan untuk Qianqian, dan Qianqian sangat menyukainya.
“Haha, lagunya seru sekali!”
“Benar-benar lucu, ternyata betulan lagu anak-anak.”
“Abang Hui Chu keren banget, lagu anak-anak pun bisa diciptakan. Aku cinta kamu!”
“Wah, lagunya nempel banget di kepala. Aku jadi bisa nyanyi juga, percaya nggak?”
“Bukan cuma kamu, anakku yang baru dua tahun pun sudah bisa nyanyi!”
“Aduh, anak perempuanku bilang, Om Hui Chu tolong nyanyi sekali lagi!”
“Tambah satu, keponakanku juga mulai ribut!”
Tak disangka, siaran langsung malah makin ramai dengan permintaan penonton.
Banyak penggemar meminta Guo Xiao mengulang lagu anak-anak itu sekali lagi.