Bab Lima Puluh Delapan: Wajah yang Berubah Mendadak
Su Muya menatap cermin, namun yang terlihat di sana adalah wajahnya yang penuh keriput, layaknya seorang nenek tua yang nyaris membusuk!
“Aaa!”
Tiba-tiba terdengar jeritan melengking yang menembus udara.
Guo Xiao yang sedang memasak di dapur langsung terkejut, ia menjatuhkan wajan dan berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi.
Dengan cemas Guo Xiao bertanya, “Muya, ada apa denganmu?”
Su Muya menutupi wajahnya dan berteriak, “Jangan mendekat!”
Tanpa ragu, Guo Xiao mendekat ke sisi Su Muya dan berkata lembut, “Muya, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Semuanya sudah berakhir, wajahku rusak.” Suara Su Muya bergetar, penuh dengan tangis dan keputusasaan.
Hati Guo Xiao langsung mencelos, jangan-jangan ada masalah dengan Pil Kecantikan itu.
Namun, meski bercampur dalam minuman, paling tidak hanya tidak berpengaruh, kenapa bisa membuat wajahnya hancur?
Guo Xiao menggenggam tangan Su Muya dengan mantap, “Tidak apa-apa, biar aku lihat.”
Begitu melihat, hatinya langsung bergetar keras.
Wajah Su Muya penuh dengan keriput, sudah bukan lagi wajah seorang gadis muda.
“Hah?”
Tiba-tiba, tatapan Guo Xiao terfokus; di pipi Su Muya, keriput yang menjijikkan itu tampak retak, dan dari celahnya tampak rona merah muda.
“Jangan lihat, aku terlalu jelek,” air mata membasahi wajah Su Muya, ia pun memalingkan muka.
“Muya, jangan bergerak,” Guo Xiao menenangkan dengan suara lembut, lalu dengan hati-hati menarik lapisan kulit keriput itu dengan perlahan.
Terdengar suara sangat pelan, kulit tua itu terlepas begitu saja dari wajah Su Muya di tangan Guo Xiao.
“Ternyata benar, seperti kulit mati yang terkelupas,” batin Guo Xiao penuh kegirangan, ia pun tak henti-henti mengelupasi kulit di wajah Su Muya.
Su Muya tampak linglung, nyaris tanpa reaksi, membiarkan Guo Xiao melakukan apa pun di wajahnya.
Setelah seluruhnya terlepas, Guo Xiao mengambil handuk basah dan mengusap wajahnya dengan lembut.
Begitu handuk diangkat, napas Guo Xiao tertahan, ia terpaku menatap wajah cantik Su Muya.
Wajah itu memang masih sama, namun kini berubah jauh lebih indah dari sebelumnya.
Bahkan permata paling berharga di dunia pun tak sanggup menggambarkan kecantikan Su Muya saat ini.
Jika sebelumnya Su Muya sudah menjadi wanita tercantik di dunia, kini kecantikannya telah melampaui batas duniawi.
Ia bagaikan bidadari yang tak sengaja jatuh ke dunia fana, pesonanya membuat siapa pun yang memandang akan terbuai dan tak kuasa mengalihkan pandang.
Bagai bunga teratai yang baru mekar, alis dan matanya bak lukisan, semua kata pujian pun tak cukup untuk menggambarkan keelokannya.
Melihat Guo Xiao terdiam tanpa sepatah kata, Su Muya menampakkan kesedihan di matanya dan berbisik, “Jangan lihat lagi, aku sekarang sangat jelek.”
“Mana mungkin? Kau adalah wanita tercantik di dunia,” ucap Guo Xiao dengan tulus memuji.
Su Muya menatap pilu, ia tahu Guo Xiao sedang menghiburnya.
“Kau akan meninggalkanku, kan?”
Belum pernah Su Muya merasa setakut ini, ia menggenggam erat lengan baju Guo Xiao, seolah itu satu-satunya pegangan hidupnya.
“Meninggalkanmu?”
Guo Xiao balik bertanya, baru kemudian ia tersadar dari pesona Su Muya.
Ia hanya bisa tersenyum getir dan berkata dengan tegas, “Jangan bicara begitu. Sekarang kau adalah wanita tercantik di langit dan di bumi, tetapi sekalipun kau menua dan tak lagi cantik, cintaku padamu takkan pernah berubah sampai mati!”
Su Muya terharu, tak menyangka dalam keadaannya seperti ini, Guo Xiao tetap setia.
Air mata bening mengalir di matanya. Ia berbisik, “Terima kasih.”
“Tidak usah berterima kasih,” Guo Xiao menarik Su Muya dalam pelukannya sambil tersenyum, “Sekarang coba lihat dirimu di cermin lagi.”
“Tidak, aku tidak mau!”
Su Muya tampak panik dan berusaha melepaskan diri, ia sudah kehilangan keberanian untuk melihat wajahnya sendiri.
“Tenanglah, percaya pada suamimu, ya?” Guo Xiao membujuk lembut.
Dengan bujukan Guo Xiao, Su Muya mulai tenang, mengumpulkan keberanian dan membuka matanya.
Ia terbelalak, melihat matanya yang bening, wajahnya yang putih bersih, bibirnya yang merah merona—semua itu menegaskan, wajahnya tidak rusak.
Dalam sekejap, seolah ia terangkat dari neraka ke surga. Tak mampu menahan haru, Su Muya memeluk Guo Xiao dan menangis keras.
“Hiks... barusan aku benar-benar ketakutan.”
“Sudah, sudah... Sekarang tidak apa-apa,” Guo Xiao berkata dengan rasa bersalah. Ia benar-benar tak menduga Pil Kecantikan itu begitu ampuh sampai-sampai membuat wajah Su Muya mengelupas lapisan kulit mati.
Bukan hanya di wajah, bahkan kulit di seluruh tubuh Su Muya pun dipenuhi kulit mati, namun di balik itu semua tampak kulit yang halus dan merona.
Setelah beberapa lama, Su Muya akhirnya melepaskan diri dari pelukan Guo Xiao dengan malu-malu.
Guo Xiao tersenyum, “Tubuhmu masih banyak kotoran, sebaiknya kamu mandi dulu.”
Melihat kotoran di tubuhnya, Su Muya menjerit kecil dan buru-buru berlari ke kamar mandi.
Mendengar suara Su Muya mandi, bahkan bersenandung di dalam, Guo Xiao pun ikut tersenyum.
Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum, lalu keluar dari kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Su Muya keluar dari kamar mandi dan sekali lagi membuat Guo Xiao terperangah.
“Langkahmu ringan bagaikan angsa terbang, gerakmu indah laksana naga menari,” Guo Xiao pun bergumam pelan.
Su Muya melemparkan tatapan jengkel pada Guo Xiao, namun tatapan itu hampir saja membuat Guo Xiao kehilangan kesadaran, seakan jiwanya terenggut.
Guo Xiao tersenyum pahit, kecantikan memang anugerah, tak ada yang tak menyukainya.
Namun, kecantikan Su Muya kini sudah di luar nalar manusia.
Ini jelas akan mendatangkan lebih banyak masalah di sekitarnya, sesuatu yang tidak bisa diperkirakan oleh Guo Xiao.
Guo Xiao tak meragukan, demi bisa menyentuh tangan Su Muya, mungkin ada orang yang rela mempertaruhkan nyawa.
Kini Su Muya benar-benar memiliki daya pikat itu.
“Ini tidak boleh dibiarkan, Muya terlalu berbahaya!” Guo Xiao mengernyitkan dahi, tampak khawatir.
Su Muya mendekat dan bertanya lembut, “Ada apa? Sepertinya kau sedang tidak senang?”
Guo Xiao mengangguk, dengan jujur berkata, “Kamu sekarang terlalu cantik, aku takut kamu akan direbut pria lain.”
Su Muya mendengus pelan, namun matanya justru berbinar-binar bahagia.
Entah mengapa, ucapan Guo Xiao itu membuatnya sangat gembira.
Saat Tang Wan datang tergesa-gesa dan melihat Su Muya, matanya langsung membelalak, tampak terpesona.
Ia mendekat, mengelus tubuh Su Muya layaknya tengah memegang harta karun.
“Wan’er, apa yang kau lakukan?” Su Muya mencibir manja.
“Astaga, benar-benar kau, Muya? Baru semalam tidak bertemu, kenapa kau jadi secantik ini?” Tang Wan berseru tak percaya.
“Benarkah aku secantik itu?” Su Muya menyentuh wajahnya, sambil teringat kepanikan dan keputusasaannya tadi, lalu melirik Guo Xiao.
Tatapan itu penuh pesona, membuat mata Tang Wan terkesima.
Mendadak mata Tang Wan membelalak, lalu berseru, “Orang bilang cinta adalah rahasia kecantikan wanita. Kalian semalam... jangan-jangan kalian sudah tidur bersama?”
Guo Xiao: “...”
Wajah Su Muya seketika memerah, ia mencubit pipi Tang Wan dan berkata kesal, “Kalau kau masih mengoceh, awas saja nanti kubuat mulutmu jontor!”