Bab 87: Ini Adalah Tanda Seorang Raja dan Jenderal Hebat
Seluruh tubuh Fan Zhitong bergetar halus, ia tahu jika Qin Xuanyuan berani bicara seperti itu, maka ia juga pasti berani melakukannya. Meskipun ia membawa banyak orang bersamanya, dia merasa sama sekali tidak yakin bisa menghadapi Qin Xuanyuan. Ia memang tak takut menyinggung Keluarga Leng, tapi ia juga tidak mau mempertaruhkan nyawanya di sini, sebab menurutnya Qin Xuanyuan seperti dewa pembantai.
Suasana menjadi tegang.
Ponsel Lu Zuixiang tiba-tiba berdering. Ia mengangkatnya, lalu melapor kepada Leng Rushuang, "Direktur, di luar datang banyak sekali wartawan."
Ponsel Qin Xuanyuan pun ikut berdering, ia segera mengangkatnya.
Dari seberang telepon, Zhuque berkata, "Xuange, banyak wartawan datang. Mungkin karena kasus hilangnya mahasiswi, atau bisa juga karena Fan Zhitong."
"Aku sudah tahu," jawab Qin Xuanyuan, lalu menutup telepon. Ia kembali menatap Fan Zhitong, "Pergilah. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik siapa yang telah dimusuhi anakmu. Jika aku mendengar Keluarga Fan menjelek-jelekkan Keluarga Leng, aku akan menghapus Keluarga Fan dari Kota Donghai."
"Kau... siapa sebenarnya dirimu?" Fan Zhitong, meskipun terintimidasi oleh aura Qin Xuanyuan, merasa sangat marah mendengar ucapan itu. Bagaimana mungkin Qin Xuanyuan berani berkata akan menghapus Keluarga Fan dari Donghai? Padahal, Keluarga Fan adalah keluarga kelas dua di kota ini dengan aset lebih dari lima puluh miliar. Apa dasarnya Qin Xuanyuan berani berkata begitu?
"Sebab sekarang aku adalah menantu Keluarga Leng. Istriku yang memimpin grup perusahaan ini. Kau membawa banyak orang ke sini untuk membuat keributan, dan di bawah sana banyak wartawan. Jadi aku ingatkan, jangan berbuat bodoh." Qin Xuanyuan menegakkan kepala, menatap tajam ke arah Fan Zhitong.
Fan Zhitong menggertakkan gigi dan bertanya, "Kau benar-benar tidak menyuruh orang menyerang De'er?"
"Fan Mingde semalam bertemu denganku di belakang panggung perayaan kampus Universitas Donghai. Jika aku benar-benar ingin melumpuhkannya, dia pasti sudah bernasib sama dengan Zhang Tianjiao. Pagi ini, Fan Mingde diserang puluhan orang. Menurutmu, dengan kemampuanku, aku butuh puluhan orang hanya untuk menyerang satu pecundang sepertinya? Dia belum menyentuh batas kesabaranku, jadi aku tak perlu menyerangnya. Tapi jika dia melampaui batas, bukan hanya dia—kau pun akan aku hancurkan!"
Nada suara Qin Xuanyuan sangat tajam.
Wajah Fan Zhitong langsung kaku. Ia paham maksud Qin Xuanyuan, menuduhnya gagal mendidik anak.
Melihat sikap Qin Xuanyuan, ia percaya jika Fan Mingde benar-benar melampaui batas, mereka berdua pasti sudah dilumpuhkan. Apalagi ia juga mendengar tentang apa yang terjadi pada Zhang Tianjiao. Tadinya ia sempat ragu, tapi kini ia yakin, Qin Xuanyuan bukanlah orang sembarangan.
Namun, jika bukan Qin Xuanyuan yang melakukannya, siapa yang telah melukai Fan Mingde?
"Direktur Fan, sebaiknya kita pergi dulu. Memang semalam kita bertemu orang itu, tapi menurutku bukan dia yang menyerang Tuan Muda De," kata Pi Kan buru-buru.
"Kita pergi!" Fan Zhitong menggertakkan gigi, langsung berbalik dan pergi.
Pi Kan dan para pengawal langsung mengikutinya.
Leng Rushuang menatap Fan Zhitong dan rombongannya, kemudian berjalan cepat ke arah Qin Xuanyuan.
"Tenang saja, tak apa-apa," kata Qin Xuanyuan sambil tersenyum tipis pada Leng Rushuang.
Namun, ia sudah mengeluarkan ponsel dan menelepon Zhuque, "Zhuque, ada temuan apa di sekitar sini?"
Dari seberang, Zhuque menjawab, "Sementara ini belum ada. Para wartawan juga sudah diperiksa identitasnya, semuanya benar-benar wartawan, tak ada penyusup."
Leng Rushuang mendengar Qin Xuanyuan menelepon Zhuque, hatinya menduga masalah ini cukup serius. Tapi karena Qin Xuanyuan tidak menjelaskan, ia pun tak berani bertanya.
Qin Xuanyuan memejamkan mata, sudut bibirnya tersungging, "Jadi, mereka hanya mengirim wartawan, tidak berani menyusup di antara mereka, juga tidak berani berlama-lama di sekitar? Kewaspadaan mereka tinggi, pastinya ini lawan yang penuh perhitungan."
"Xuange, lalu apa langkah kita selanjutnya?" tanya Zhuque.
"Jangan urus yang lain dulu, lepaskan semua wartawan. Lawan ini menarik, sepertinya bukan dari Keluarga Zhang atau Bai. Mulai sekarang, semua orang siaga satu, siap tempur."
"Baik, Xuange."
Qin Xuanyuan menutup telepon, memberi isyarat kepada sekretarisnya, Ni Hong.
Ni Hong mengangguk, lalu mengambilkan teropong untuk Qin Xuanyuan.
Qin Xuanyuan menerima teropong itu dan langsung berjalan ke jendela kaca, mengamati ke luar.
Di dalam lift.
Wajah Fan Zhitong tetap muram, ia diam saja.
Pi Kan ingin bicara, tapi tak berani.
Begitu sampai di lobi lantai satu, Fan Zhitong keluar dari gedung dan langsung masuk ke mobil van hitam, memberi isyarat pada sopir untuk segera pergi.
Pi Kan beserta para pengawal juga naik ke mobil.
Namun, di kursi belakang sudah duduk seorang lelaki tua berpakaian serba hitam, berwajah persegi dan sangat dingin, matanya terpejam seolah tidur.
Rombongan mobil Keluarga Fan segera meninggalkan Gedung Hongtu.
Setelah cukup jauh, Fan Zhitong buru-buru mengeluarkan ponsel, membuka sebuah video, lalu menyerahkannya kepada lelaki tua berbaju hitam itu.
"Guru Yun, ini video yang Anda minta."
Guru Yun menerima ponsel itu, baru kemudian membuka matanya.
Ia menatap Qin Xuanyuan di layar, sambil terus-menerus mengangguk, "Mata naga, alis naga, aura pembantai di seluruh tubuh—ini adalah sosok pemimpin besar!"
"Sosok pemimpin besar?" Fan Zhitong menatap Guru Yun dengan kaget, hatinya sangat terguncang karena ia melihat ada sorot keterkejutan di mata Guru Yun.
Guru Yun segera mengangguk, "Benar. Dalam Kitab Yi dikatakan, 'menemui naga di ladang, baik bertemu orang besar.' Orang seperti ini akan mendapatkan bantuan dari tokoh-tokoh penting, mudah meraih kejayaan besar."
"Guru Yun, jadi benar bukan dia yang menyuruh orang memukul De'er?" tanya Fan Zhitong gelisah.
Ia tak peduli lagi apa yang akan dilakukan Qin Xuanyuan, yang ia khawatirkan sekarang adalah siapa sebenarnya yang melukai putranya, Fan Mingde.
Guru Yun mengangguk, lalu memperingatkan, "Jika dia mengatakan bukan dia, maka memang bukan dia. Tapi orang seperti dia sangat berbahaya, sebaiknya Tuan Muda jangan pernah memusuhi dia, agar tak tertimpa celaka."
Fan Zhitong mendengar itu, langsung mengernyit.
Namun kemudian ia mengangguk, "Tenang saja, mulai sekarang aku akan mengawasi De'er, jangan sampai dia memusuhi Qin Xuanyuan."
Pi Kan dan yang lain yang mendengar percakapan Fan Zhitong dan Guru Yun merasa sangat penasaran, siapa sebenarnya Qin Xuanyuan hingga membuat Guru Yun pun ketakutan?
Di saat yang sama, mereka juga sangat bersyukur tidak nekat melawan Qin Xuanyuan. Jika benar-benar terjadi perkelahian, belum tentu mereka bisa keluar dari Gedung Hongtu dengan selamat. Karena saat datang tadi, tiga orang Qinglong dan para satpam sudah berjaga di lobi, Pi Kan yakin, ketiganya memiliki aura pembunuh.
Rombongan mobil Keluarga Fan naik ke jalan tol, langsung menuju Rumah Sakit Rakyat Tianhui Xinghua di kawasan Tianhui, tempat Fan Mingde dirawat.
Fan Zhitong turun dari mobil membawa Guru Yun dan segera menuju kamar Fan Mingde.
Fan Mingde sedang marah-marah di kamar, beberapa perawat wanita ketakutan, tak berani bersuara.
"Ada apa?" tanya Fan Zhitong begitu masuk kamar, berjalan cepat ke sisi ranjang Fan Mingde.
Fan Mingde melihat ayahnya datang, langsung bertanya, "Ayah, sudah kau tangkap bajingan itu?"
Fan Zhitong menggeleng, "De'er, sudah kuperiksa, yang memukul kepalamu bukan dia."
Wajah Fan Mingde langsung masam, "Bukan dia? Ayah, jangan-jangan kau salah? Pasti dia, semalam dia tak berani berbuat apa-apa, lalu pagi-pagi saat aku belum bangun, dia menyuruh orang menghadang dan menyerangku."
"Aku sudah bilang, bukan dia. Aku sendiri sudah mendatangi kantornya, memang bukan dia pelakunya. Jadi, jangan lagi kau cari gara-gara dengannya," tegas Fan Zhitong.
"Tak mungkin! Pasti dia. Dia berani melumpuhkan Zhang Tianjiao, apalagi cuma aku, pasti dia juga yang menyuruh orang memukulku," geram Fan Mingde.
Guru Yun buru-buru mengangkat tangan memberi isyarat.
Fan Mingde menatap Guru Yun dengan marah, "Guru Yun, Anda juga ikut ayah menemui bajingan itu? Bukankah dia yang memerintahkan orang memukulku?"
"Bukan dia. Tuan Muda, ada satu hal yang harus saya ingatkan, mulai hari ini sebaiknya Anda jangan pernah memusuhi dia, karena dia bukan orang yang bisa diremehkan," kata Guru Yun dengan nada berat.
"Siapa sih dia sebenarnya? Kenapa tidak boleh dimusuhi?" tanya Fan Mingde bingung, merasa Guru Yun menyimpan sesuatu.
"Pokoknya dengarkan saja kata saya. Sekarang Keluarga Zhang sudah berseteru dengannya, biarkan saja. Kau lebih baik fokus mewarisi usaha keluarga, besarkan Keluarga Fan," ujar Guru Yun.
Fan Zhitong segera maju, memeluk Fan Mingde, "De'er, dengarkan saja Guru Yun. Tahun ini akan ada konglomerat besar masuk ke Kota Donghai, kita harus dapat beberapa proyek utama, agar bisa naik tingkat menjadi keluarga papan atas."
Fan Mingde mengangguk mendengar penjelasan ayahnya.
"Tapi, Ayah, kalau bukan dia yang memukulku, siapa? Jangan-jangan Zhang Tianjiao? Tapi Zhang Tianjiao sendiri sudah dilumpuhkan, masa dia masih bisa menyuruh orang memukulku?"
Fan Zhitong mengangguk, "Bisa jadi. Kau menyuruh orang mengawasinya, dia pun selalu mengawasi gerak-gerikmu. Jadi, dia tahu semalam kau hampir bentrok dengan Qin Xuanyuan, lalu menyuruh orang memukulmu agar kau bermusuhan dengan Qin Xuanyuan."
Fan Mingde langsung merasa semuanya masuk akal, "Kalau dipikir-pikir memang logis juga. Keluarga Fan dan Keluarga Zhang sudah beberapa kali berebut bisnis, Zhang Tianjiao juga berebut Jiang Xiyu denganku. Kalau bukan Qin Xuanyuan, pasti Zhang Tianjiao pelakunya."
Ia menggertakkan gigi, lalu berkata marah, "Zhang Tianjiao brengsek, dia mau memancing di air keruh. Tak bisa dibiarkan, saat dia sudah lumpuh begini, harusnya kubunuh saja!"
"Jangan bertindak gegabah!" bentak Fan Zhitong dengan suara keras. "Jangan berbuat macam-macam. Bagaimana kalau ternyata bukan Zhang Tianjiao pelakunya? Masalah ini belum jelas, jangan bertindak sembarangan. Aku akan suruh orang menyelidiki lebih lanjut."
Wajah Fan Mingde makin suram, "Tapi, apalagi yang perlu diselidiki? Jelas-jelas itu perbuatan Zhang Tianjiao, selain dia, tak mungkin ada orang lain."
Mata Fan Zhitong membelalak, "Pokoknya, tunggu hasil penyelidikan dulu. Jangan asal bertindak. Kalau rencana besar Kakekmu gagal, kau percaya tak kalau Kakek sendiri yang akan melumpuhkanmu?"
Fan Mingde langsung terdiam.
Yang paling ia takutkan memang kakeknya sendiri. Kalau sampai menyinggung perasaannya, semua sumber keuangannya bisa langsung dicabut, dan itu tidak akan sanggup ia hadapi.