Bab Tiga Belas: Balas Dendam Tuan Muda Lin
Beberapa orang langsung terkejut, terutama Fang Qingxue. Kalung yang harganya lebih dari satu juta, ternyata Li Chenfeng mampu membelinya. Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu? Selama ini dia hanya di rumah membantu pekerjaan, menjadi menantu yang dipanggil orang tuanya sesuka hati, bagaimana mungkin dia punya uang sebanyak itu? Pokoknya dia tidak percaya.
Di sisi lain, Wanrou juga terkejut. Awalnya ia mengira Li Chenfeng hanya berpura-pura, namun ternyata benar-benar mampu membeli. Jangan-jangan dia selama ini hanya menutupi kemampuannya, tapi penampilannya selama ini memang seperti orang tak berguna!
Semua ini sungguh membalikkan pemahaman Wanrou.
Saat itu, Xia Lin segera bertanya, "Kalian yakin tidak salah lihat?"
"Nyonya, Anda bercanda!" jawab pelayan itu.
Xia Lin sama sekali tidak percaya. Seorang menantu tak berguna saja, mana mungkin bisa membeli kalung semahal itu? Tak disangka, kali ini ia benar-benar salah perhitungan.
Namun, ia tak akan membiarkan Li Chenfeng mendapatkan kemenangan mudah.
Karena itu, ia langsung berkata, "Kalung ini saya beli! Saya bayar dua kali lipat!"
"Maaf, Nyonya! Di tempat kami berlaku siapa cepat dia dapat!" jawab pelayan.
"Aku tidak peduli, pokoknya aku mau beli! Mas, bayar!" kata Xia Lin dengan nada arogan.
Wanrou merasa sangat muak mendengarnya, tapi baik Li Chenfeng maupun Fang Qingxue tidak berkata apa-apa. Membiarkan Xia Lin merasakan sakit hati juga bukan hal buruk.
"Pak, Anda setuju?" tanya pelayan itu pada Li Chenfeng.
Li Chenfeng berkata, "Baik, saya setuju!"
Pelayan itu langsung berkata, "Nyonya, kalau begitu Anda harus menyiapkan dana delapan juta!"
"Delapan juta?" Mendengar angka itu, pria paruh baya yang hendak membayar langsung gemetar. Jumlah itu sudah jauh melampaui kemampuannya. Meski ia punya aset miliaran, uang yang bisa ia gunakan tidak lebih dari dua juta. Jangankan delapan juta, bahkan empat juta pun ia tak sanggup membayar!
Karena itu, ia buru-buru berkata dengan canggung, "Xiaolin, sebaiknya kita tidak beli. Kalung ini juga tidak sepadan harganya, jadi lebih baik kita tidak beli!"
Mendengar ucapan itu, Xia Lin hampir saja pingsan karena marah. Justru saat ia ingin pamer, malah tidak jadi beli? Lalu, di mana muka dia?
Ketiganya tersenyum sinis, karena mereka tahu pria paruh baya itu memang tidak sanggup membeli. Kini, mereka hanya menunggu melihat Xia Lin dipermalukan.
Xia Lin berkata dengan suara dingin, "Kalau tidak beli, kita putus!"
"Xiaolin, kamu yakin ingin seperti ini?" tanya pria paruh baya itu dengan penuh kesedihan. Saat itu, ia benar-benar tak bisa lagi bersikap arogan, karena harga yang harus ia bayar sudah di luar kemampuannya.
"Benar, kalau kamu tidak beli, kita putus!" ujar Xia Lin keras kepala.
Sejurus kemudian, pria itu berkata, "Baik, kalau begitu kita putus saja!"
"Apa?" Xia Lin langsung terperangah. Pria paruh baya yang selalu memanjakan dirinya kini malah memutuskan hubungan?
Ia pun membentak, "Kamu yakin? Sekali putus, aku tak akan pernah kembali padamu!"
Xia Lin mengancam.
"Hmph! Meski kamu cantik, aku tidak butuh. Setiap hari hanya tahu pamer, aku mana sanggup membiayai gaya hidupmu. Dasar perempuan pemboros!"
Pria paruh baya itu pergi dengan marah, karena ia akhirnya melihat siapa Xia Lin sebenarnya.
Xia Lin berdiri di tempat dengan rasa malu dan marah. Tadinya ia kira hari ini bisa melampiaskan amarah, tak disangka akhirnya yang dipermalukan adalah dirinya sendiri, bak badut sial yang ingin menghilang saja.
Wanrou menunjukkan ekspresi “rasakan akibatnya”, sedangkan Fang Qingxue berkata pada Xia Lin, "Xia Lin, kamu tak perlu membandingkan dirimu denganku, karena aku sama sekali tak menganggapmu sebagai saingan!"
"Aku juga tidak punya niat untuk bersaing!"
Xia Lin menjawab dengan lesu, "Fang Qingxue, kamu tak perlu berpura-pura, benar aku memang kalah darimu, tapi jangan terlalu sombong!"
Lalu ia langsung berlari keluar, malu karena sudah cukup dipermalukan.
"Rasakan akibatnya!" kata Wanrou dengan puas.
Inilah akibat dari sikap suka bersaing. Sedangkan Fang Qingxue tidak berkata apa-apa, karena Xia Lin di matanya hanya seorang badut. Namun, justru penampilan Li Chenfeng yang membuatnya terkejut.
Ia bersumpah akan mencari tahu dari mana sebenarnya uang Li Chenfeng berasal.
Pelayan itu lalu bertanya kepada Li Chenfeng, "Tuan, kalung ini tetap Anda beli?"
Li Chenfeng yang sejak tadi tenang berkata, "Tentu saja, bungkuskan untuk saya!"
"Baik!" jawab pelayan itu senang. Ia mengambil kotak lalu membungkusnya dan menyerahkannya pada Li Chenfeng.
Wanrou benar-benar iri melihat kejadian itu. Hari ini segalanya sungguh di luar dugaan. Semua orang bilang Li Chenfeng menantu tak berguna, tapi melihat ini, mana mungkin dia seperti itu!
Dia benar-benar seperti pangeran berkuda putih. Bahkan Fang Qingxue sendiri masih kebingungan.
...
Sesampainya di mobil, Li Chenfeng hendak memberikan kalung itu pada Fang Qingxue, tapi Fang Qingxue berkata, "Bukankah kamu seharusnya memberikan penjelasan padaku?"
Li Chenfeng jadi bingung. Jelas-jelas dia sudah membantu Fang Qingxue, tapi masih harus memberikan penjelasan? Dunia macam apa ini!
Ia pun segera berkata, "Aku bilang uang ini kudapat setelah menyelamatkan seorang kakek, lalu sebagai balas budi dia memberiku satu miliar, kamu percaya?"
"Kamu kira aku akan percaya?" Fang Qingxue menganggap cerita itu lebih tidak masuk akal dari dongeng anak-anak.
Li Chenfeng sendiri kesulitan menjelaskan, karena ia pun sadar cerita itu terdengar mustahil. Orang lain tidak menipumu saja sudah bagus, mana mungkin malah diberi satu miliar sebagai ucapan terima kasih.
Tapi begitulah kenyataannya! Ia benar-benar tak tahu lagi harus bicara apa.
Karena itu, ia berkata, "Serius, aku tidak bohong. Kalau lain kali kamu bertemu dengan kakek itu, akan kupertemukan kalian agar ia bisa menjelaskan sendiri padamu!"
"Li Chenfeng, aku peringatkan, jangan pernah mencari uang dari jalan yang tidak jelas. Di dunia ini tidak ada yang namanya rejeki jatuh dari langit!"
Di mata Fang Qingxue, uang itu pasti didapat Li Chenfeng dari cara yang tidak benar. Di zaman internet seperti sekarang, banyak situs ilegal.
Karena itu, ia yakin uang Li Chenfeng pun berasal dari sana.
Li Chenfeng ingin menjelaskan, tapi ia tahu penjelasan tidak akan berguna. Bahkan dirinya sendiri sulit percaya, apalagi Fang Qingxue.
Jadi, ia malas berbicara lebih jauh. Itulah sifatnya, kalau penjelasan tak berguna, ia tidak akan buang-buang kata.
Akhirnya, ia hanya mengangguk.
"Lalu, kalung ini masih kamu mau?" tanya Li Chenfeng dengan suara pelan.
"Tentu saja mau!" jawab Fang Qingxue, lalu langsung merebut kotak itu dengan perasaan sedikit girang. Ia baru menyadari, beberapa hari terakhir Li Chenfeng benar-benar berubah.
Setidaknya perubahan itu membuatnya tak lagi terlalu membenci.
Sebenarnya, ini baru permulaan saja.
...
"Bos, kau harus membantuku! Aku tak terima dipermalukan seperti ini!"
Di sebuah ruang VIP klub hiburan mewah, Lin meminta tolong pada seorang pria berusia tiga puluhan. Pria itu meletakkan gelas anggurnya, lalu berkata pada dua model cantik di sisinya, "Sayang, kalian keluar dulu sebentar!"
Dua model bertubuh molek itu pergi dengan enggan.
Kini di ruangan hanya tinggal Lin dan pria itu. Pria itu tidak lain adalah pewaris utama keluarga Huangfu, Huangfu Tian!
Di seluruh Kota Jiang, ia adalah salah satu orang paling terkenal. Keluarga Huangfu adalah keluarga kuno peringkat kelima di kota itu.
Keluarga Lin hanya dianggap keluarga kelas dua di Jiang, tak ada apa-apanya dibanding lima keluarga besar.
Huangfu Tian pun bertanya, "Lin, katakan saja, ada urusan apa kamu mencariku?"
Menurutnya, Lin adalah orang yang sempit hati. Sudah beberapa kali menyinggung dirinya dan selalu dihukum, tapi Lin tetap saja menyanjung-nyanjung, membuatnya muak.
Ia pun ingin tahu, apa sebenarnya yang diinginkan Lin.
Lin segera menjawab, "Bos, begini! Aku naksir Fang Qingxue dan ingin menjadikannya mainanku. Tapi perempuan itu benar-benar tidak tahu diri, tidak hanya menolak, malah berani melawan! Bos juga tahu, keluargaku jauh lebih kuat dari keluarga Fang, tapi aku belum cukup kuat berkuasa di keluarga Lin!"
"Jadi, aku hanya bisa bermain curang. Tapi aku malah dihajar suaminya yang tak berguna itu. Aku tak terima dipermalukan. Aku ingin Bos menekan Fang Qingxue lewat bisnis, supaya dia mau tunduk padaku!"
Lin segera menjelaskan tujuannya.
Huangfu Tian memandang Lin dengan sinis. Meski ia pewaris keluarga besar, ia selalu rendah hati. Karena itu, ia sama sekali tak berniat membantu Lin.
Ia pun berkata, "Cari orang lain saja! Aku tidak mau terlibat urusan seperti ini!"
Lin benar-benar tidak terima. Beberapa hari ini ia terus-menerus tertekan, dan ternyata Huangfu Tian juga menolak membantunya.
Padahal, perusahaan Fang Qingxue bekerja sama dengan anak perusahaan keluarga Huangfu. Jika keluarga Huangfu turun tangan, perusahaan Fang Qingxue bisa hancur dalam sekejap.
Lin juga sudah menelepon manajer pinjaman, tapi dijawab bahwa yang bertanggung jawab adalah Tuan Charlie, dan ia tak punya wewenang. Itu membuat Lin semakin marah. Sejak kapan Fang Qingxue punya hubungan dengan Presiden Charlie?
Di Jiang, yang setara dengan Presiden Charlie hanya lima keluarga besar. Karena itu, Lin datang meminta bantuan Huangfu Tian, karena ia belum berani berhadapan langsung dengan Charlie.
"Bos! Setidaknya kita pernah jadi teman, masa urusan sekecil ini pun tak mau membantu?" kata Lin.
Namun Huangfu Tian berkata sinis, "Kita bukan teman, karena kamu belum layak!"
Wajah Lin berubah. Walau menyakitkan, sejujurnya ia memang hanya dianggap seperti anjing oleh Huangfu Tian.
Karena itu, ia berkata, "Bos, kau harus membantuku!"
"Keluar sekarang!" bentak Huangfu Tian.
Namun Lin sudah dikuasai api dendam. Ia kehilangan akal sehat. Ia segera berkata, "Bos, kalau kau bantu aku, nanti kalau aku jadi kepala keluarga Lin, aku akan berikan setengah saham keluarga Lin padamu!"
Huangfu Tian yang awalnya tidak tertarik, matanya langsung berbinar. Kalau dihitung, ia malah tidak rugi, karena Lin kemungkinan besar segera menjadi kepala keluarga Lin. Tentu saja, ia tak takut Lin ingkar janji, asal Lin sanggup menanggung akibatnya.
Ia pun tersenyum sinis, "Baik, aku akan membantumu!"
"Terima kasih, Bos!" seru Lin penuh semangat. Kali ini, ia harus membuat Fang Qingxue berlutut memohon ampun di hadapannya.