Bab Sembilan Belas: Wanita Gila
Pada saat itu, Liu Yanmei bertanya dengan nada menggoda, “Kalau begitu, katakan, apa syaratmu?”
Semua yang hadir tahu, menantu tak berguna ini benar-benar sudah tamat. Siapa pun lebih baik jangan dimusuhi, tapi dia malah berani menentang Liu Yanmei. Padahal, perempuan ini jauh lebih menakutkan dari Hwangfu Tian!
Khususnya Xia Lin dan A Long, pada saat seperti ini mereka seolah bisa membayangkan nasib Li Chenfeng ke depannya. Sungguh pemandangan yang keji.
Xia Lin membatin, akhirnya dendamku bisa terbalaskan. Lakukan saja! Habisi menantu sampah ini, lebih bagus lagi kalau Fang Qingxue ikut kena imbasnya. Toh, di mata Liu Yanmei, Fang Qingxue tak berarti apa-apa.
Tatapan Hwangfu Tian dipenuhi niat membunuh. Selama Liu Yanmei memberi perintah, malam ini Li Chenfeng pasti tamat. Di matanya, Fang Qingxue adalah Fang Qingxue, Li Chenfeng adalah Li Chenfeng, dia tahu jelas batas antara keduanya.
Fang Qingxue justru ketakutan. Dia tak menyangka, di saat seperti ini, Li Chenfeng malah berani mengajukan syarat. Kini tak ada lagi ruang untuk mundur.
Li Chenfeng lalu berkata dengan tegas, “Syaratku adalah usir pasangan bajingan itu dari sini!”
Yang dimaksudnya tentu saja A Long dan Xia Lin. Seketika keduanya marah besar.
Xia Lin memaki, “Kau pikir kau siapa? Kau layak mengajukan syarat di hadapan Nona Liu?”
“Tak tahu diri!”
Mereka memandang rendah Li Chenfeng.
Hwangfu Tian pun menganggap Li Chenfeng benar-benar tolol. Kali ini, Li Chenfeng pasti habis, sama sekali tak ada peluang untuk selamat.
Namun, pada saat itu juga, Liu Yanmei berkata, “Seret mereka keluar!”
“Apa?”
Semua orang terkejut, tak percaya kenyataan yang terjadi. Siapa sangka Liu Yanmei benar-benar mengabulkan syarat Li Chenfeng.
A Long dan Xia Lin terpaku di tempat, wajah mereka terasa panas dan perih.
“Pengawal! Seret mereka keluar!” bentak Hwangfu Tian.
Lebih dari sepuluh pengawal langsung datang, mengangkat keduanya dan membawa mereka keluar dari klub. Hingga saat itu, mereka masih terkesima, bahkan tak sempat memohon ampun.
Mengapa Liu Yanmei mau mengabulkan permintaan Li Chenfeng?
Semua orang tercengang, terutama Fang Qingxue dan Hwangfu Tian. Menurut Fang Qingxue, kali ini dia harus memanfaatkan koneksi tokoh besar di belakangnya untuk meminta bantuan.
Siapa sangka Liu Yanmei benar-benar menuruti Li Chenfeng.
Selain terkejut, Hwangfu Tian juga merasa harus mengikuti perintah Liu Yanmei. Jika diminta seret, maka harus benar-benar diseret, bukan sekadar diusir.
Saat itu, Li Chenfeng langsung mengambil sebotol arak dan menenggaknya habis. Semua orang kagum pada kemampuan minum menantu yang dianggap sampah ini. Ia minum seperti air, padahal itu arak.
Air atau arak, baginya sama saja.
Setelah menghabiskan satu botol, baru hendak mengambil yang kedua, Liu Yanmei langsung membentaknya, “Cukup!”
Li Chenfeng pun berhenti. Lalu, Liu Yanmei membentaknya lagi, “Pergi dari sini!”
Kata-katanya memang kasar, tapi Li Chenfeng tetap menuruti. Fang Qingxue ingin ikut pergi, namun Liu Yanmei berkata pada Hwangfu Tian, “Tahan dia di sini!”
“Siap!”
Hwangfu Tian pun segera menghampiri Fang Qingxue lalu tersenyum, “Nona Fang, tunggu sebentar. Saya akan ambil kontraknya, setelah itu kita bahas bersama. Kalau cocok, langsung saja tanda tangan malam ini!”
“Aku ingin menemui suamiku dulu!”
Fang Qingxue berkata dengan nada penuh kekhawatiran. Ia sangat cemas pada Li Chenfeng. Pukulan kali ini terlalu berat baginya. Urusan kontrak bisa ditandatangani lain waktu.
Namun Hwangfu Tian berkata, “Nona Fang, kalau tidak tandatangan sekarang, entah kapan lagi ada kesempatan. Suamimu tak apa-apa, aku akan suruh orang mengawasinya, takkan terjadi sesuatu.”
Mendengar itu, Fang Qingxue terkejut. Kenapa Hwangfu Tian harus menahannya? Sebenarnya Hwangfu Tian sendiri juga tak tahu rencana Liu Yanmei, tapi ia tetap menuruti tanpa bantahan.
Fang Qingxue ragu. Ini menyangkut hidup mati perusahaannya, kontrak harus segera ditandatangani agar tak terjadi perubahan. Tapi ia sangat khawatir pada keselamatan Li Chenfeng. Akhirnya ia memilih mengirim pesan pada suaminya, menyuruhnya pulang lebih dulu.
Setelah pulang, ia akan menghiburnya, sebab hari ini Li Chenfeng benar-benar dipermalukan.
...
Li Chenfeng keluar dari klub. Ia berdiri di bawah cahaya neon, menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Li Chenfeng mendongak dan melihat Liu Yanmei berdiri di hadapannya.
Liu Yanmei menyeringai dingin, “Aku tak habis pikir, Raja Naga Hitam yang pernah membuat dunia gentar, sekarang jadi begini. Siapa pun bisa menindas dan menghinamu!”
“Kenapa bisa begini? Katakan padaku!”
“Kau tak perlu tahu!”
Jawab Li Chenfeng dingin.
“Begitu, ya?”
Liu Yanmei mengeluarkan sapu tangan, hendak mengusap sisa arak di kepala Li Chenfeng, tapi ia menolaknya.
Liu Yanmei berkata, “Kau tahu kenapa tadi aku menghinamu?”
“Aku tahu, tapi aku juga tak melawan. Apa pun yang harus kubayar, akan kulunasi padamu!”
Jawab Li Chenfeng.
Benar, andai tadi ia membalas, entah berapa kali Liu Yanmei sudah mati. Tapi ia menahan diri, karena sadar, ia memang berutang pada Liu Yanmei.
“Lunasi? Kau lucu sekali! Raja Naga Hitam, setahun lalu aku mengundang semua teman dan tokoh penting hanya untuk menyaksikan lamaranku!”
“Tapi apa yang kau lakukan? Kau langsung berkata aku tak pantas! Kau tahu, sejak saat itu hatiku hancur berkeping-keping!”
“Dibandingkan penghinaan waktu itu, penghinaan hari ini tak ada artinya. Kau kira bisa melunasinya?”
Kali ini ia benar-benar marah.
Li Chenfeng berkata, “Tak perlu mengungkit masa lalu. Aku tahu telah melukai harga dirimu, juga hatimu!”
“Tapi seperti yang pernah kukatakan, dunia ini tak seindah yang kau bayangkan!”
“Kau menolakku dan mempermalukanku, karena dia, bukan?”
Tanya Liu Yanmei, jelas maksudnya adalah Fang Qingxue.
Li Chenfeng menggeleng, tak menjawab.
Entah kenapa, Liu Yanmei merasa lega dalam hati. Ia mendekat dan bertanya, “Apa tujuanmu menahan diri sejauh ini? Mengapa jadi menantu keluarga Fang? Apa tujuanmu datang ke Kota Jiang?”
Jelas ia tak habis pikir, sosok Raja Naga Hitam yang pernah membuat semua orang gentar, kini harus jatuh seperti ini. Ia hanya ingin tahu alasannya.
Namun Li Chenfeng berkata, “Kau belum pantas tahu!”
Kalimat itu membuat Liu Yanmei hampir meledak marah. Ia berkata dingin, “Kalau kau tak mau bicara, akan kuberitahu semua tentangmu pada Fang Qingxue!”
“Terserah, dia pasti tak percaya. Bukan hanya kau, aku sendiri pun kalau memberitahunya, dia belum tentu percaya!”
Jawab Li Chenfeng acuh.
“Begitu? Tapi kalau aku menculiknya? Atau merusak wajahnya?”
“Raja Naga Hitam, kau tahu sendiri cara-cara yang bisa kulakukan. Begitu perempuan menempuh jalan ini, kami bisa jauh lebih kejam dari laki-laki!”
Nada Liu Yanmei sedingin es.
Sekejap, wajah Li Chenfeng berubah dingin. Ia langsung mencengkeram Liu Yanmei dan berkata, “Kuminta kau jangan pernah menguji batas kesabaranku!”
“Aku memang menahan diri, tapi itu bukan berarti aku tak punya batas. Begitu batas itu terlanggar, jangan harap kau, bahkan keluarga di belakangmu, bisa lolos!”
Mendengar itu, Liu Yanmei bukannya marah. Ia justru menatap Li Chenfeng dengan penuh kekaguman, begitu dekat jarak di antara mereka.
Ia ingin mencium Li Chenfeng, namun ia langsung didorong menjauh olehnya. Li Chenfeng berkata dingin, “Tak tahu malu!”
Liu Yanmei tak marah, malah bangkit dari tanah dengan gaya menggoda, “Raja Naga Hitam, kita lihat saja nanti!”
Lalu ia berbalik dan pergi dari sana.
Li Chenfeng merasa hampa. Ia pikir, setelah tiba di Kota Jiang, takkan bertemu siapa pun yang dikenalnya. Tak disangka, Liu Yanmei justru orang pertama yang ia jumpai.
Perempuan ini sangat merepotkan. Dalam hati, Li Chenfeng bimbang, harus bagaimana ia bertindak? Menginginkan hidup normal ternyata begitu sulit.
Liu Yanmei memang sosok yang rumit. Meskipun perempuan, kalau sudah gila, laki-laki pun bisa gentar.
Kebetulan, Liu Yanmei memang perempuan seperti itu.