Bab 31: Semua Hanya Semut Kecil
Di luar negeri, di dalam hotel layar kapal, tempat ini adalah hotel termewah di dunia. Saat itu, beberapa tokoh besar sedang mengadakan pertemuan di suite presiden.
Seorang pria kulit putih dengan tegas berkata, "Saudara-saudara, alasan saya mengumpulkan kalian hari ini sangat sederhana. Orang saya yang ditempatkan di Bank Feigen baru saja mengirimkan berita penting!"
"Raja Naga Hitam muncul di sebuah kota bernama Jiangzhou di Yanxia, karena baru saja ada dua puluh miliar mata uang Yanxia yang ditransfer dari kartunya di sana!"
Mendengar hal itu, semua orang langsung kehilangan ketenangan.
"Ternyata akhirnya dia muncul juga. Sudah hampir setahun sejak dia menghilang, dan selama setahun ini, kita semua hidup dalam ketakutan!"
"Kita tak pernah berani menyentuh markas atau bisnisnya, tapi sekarang adalah kesempatan bagus, karena kita bisa menyelesaikannya di Yanxia!"
"Selama dia masih hidup, kita tak akan pernah bisa bangkit!"
Seorang tokoh besar berkata demikian.
Empat tahun lalu, Raja Naga Hitam bangkit dengan sangat kuat. Sejak itu, mereka hidup di tengah tekanan, dan bisnis mereka hampir lumpuh.
Mereka semua hidup dalam bayang-bayang Raja Naga Hitam.
Saat itu, seorang pria kulit hitam berkata, "Kekuatan Raja Naga Hitam sudah mencapai puncak dunia, membunuhnya bukan hal sederhana!"
"Aku tahu. Maka dari itu, kita akan menyewa Zero untuk menyingkirkan musuh terkuat ini!"
Begitu nama Zero disebut, semua tak kuasa menahan gemetar. Semua tahu, Zero dijuluki Bunga Shura, pembunuh terbaik dunia.
"Kalau tak ada keberatan, maka sesuai rencana, kita masing-masing keluarkan sepuluh juta dolar, lalu sewa Zero untuk membunuhnya!"
Begitu menyebut sepuluh juta dolar, semua merasa berat hati, tapi demi menyingkirkan Raja Naga Hitam, seberat apa pun, harus mereka tanggung.
...
Li Chenfeng berencana membeli mobil untuk dirinya sendiri, karena kadang-kadang ia tak bisa pulang bersama Fang Qingsueh, jadi harus naik taksi, sungguh merepotkan.
Karena itu, ia hendak membeli mobil. Namun mobil apa yang harus dibeli? Itu cukup menjadi dilema baginya. Akhirnya ia memutuskan memilih Land Rover.
Sebagai seorang pria, memang sepantasnya membeli mobil off-road kelas atas seperti itu. Kebetulan uang di kartunya sangat cukup, jadi ia memanfaatkan akhir pekan ini untuk pergi ke showroom mobil.
Baru saja tiba di showroom, seorang sales yang ramah segera menghampirinya dan bertanya, "Pak, mobil apa yang ingin Anda beli?"
Li Chenfeng menjawab, "Range Rover Sport!"
Mata sales itu langsung berbinar. Jelas, ini mobil off-road mewah! Harganya lebih dari satu setengah miliar. Jika berhasil menjual, komisinya lumayan.
Namun, melihat penampilan Li Chenfeng, ia tampak bukan orang yang sanggup membeli mobil semahal itu!
Karenanya, ia bertanya, "Pak, ingin bayar tunai atau kredit?"
"Tentu saja tunai. Kapan saya bisa test drive?"
"Sekarang pun bisa, tapi showroom kami punya satu syarat, yaitu sebelum test drive, Bapak harus membayar uang muka dulu."
Ia berkata demikian kepada Li Chenfeng.
Jelas, ini langkah cerdas, karena dengan begitu bisa menguji apakah Li Chenfeng benar-benar punya kemampuan untuk membeli.
Li Chenfeng agak jengah dengan aturan rumit seperti itu. Ia segera mengeluarkan kartu, lalu berkata, "Silakan cek sendiri!"
Sales itu buru-buru memeriksa kartunya, dan ternyata di dalamnya ada dua puluh juta. Seketika ia merasa lega, Li Chenfeng jelas mampu membeli.
Ia pun berkata penuh semangat, "Pak, showroom kami baru saja kedatangan unit baru, saya akan temani Bapak test drive!"
Li Chenfeng mengangguk, lalu mulai mengendarai mobil itu. Harus diakui, performa mobil ini benar-benar luar biasa.
Sepuluh menit kemudian, Li Chenfeng berkata, "Saya sangat puas dengan mobil ini. Bisakah langsung proses pembeliannya?"
"Bisa, tentu saja!" jawab sales itu dengan penuh antusias. Meski impiannya dalam hidup adalah menikah dengan orang kaya, namun penampilannya biasa saja. Dapat menjual mobil mewah seperti ini, komisinya juga besar.
Keduanya kembali ke dalam showroom untuk mengurus administrasi.
Namun, pada saat itu, sudah ada tiga atau empat orang yang datang. Dua di antaranya dikenali Li Chenfeng, mereka adalah A Long, anak buah Huangfu Tian, dan seorang wanita bernama Xia Lin.
Begitu A Long tiba, manajer langsung menyambut. Meski showroom ini milik keluarga Huangfu, ia tahu betul posisi A Long.
A Long segera berkata, "Mobil yang aku pesan sudah siap?"
Manajer buru-buru menjawab, "Sudah siap, Bro Long tenang saja, pasti puas. Dengan hubunganmu dan Tuan Muda, kami bahkan siap kasih diskon sepuluh persen!"
Mendengar itu, A Long tampak puas dan berkata pada Xia Lin, "Sayang, ayo test drive! Kalau cocok, hari ini langsung bawa pulang!"
"Baik!" jawab Xia Lin dengan gembira.
Namun, saat itu juga, sales tadi buru-buru berkata, "Pak Manajer, mobil itu sudah laku, dan pelanggan sudah bayar uang muka!"
Mendengar itu, manajer terlihat serba salah. Memang sebelumnya A Long pernah bilang, tapi tanpa uang muka, mana ia tahu A Long benar-benar serius?
Karenanya, ia berkata, "Bro Long tenang saja, mobil itu sudah jadi incaranmu, siapa pun tak boleh bawa pergi!"
"Ayo kita temui pembelinya, mungkin aku bisa membujuknya untuk melepas mobil itu!"
A Long mengangguk, amarahnya sudah setengah reda. Sales itu tampak murung, karena kalau mobil itu jatuh ke tangan A Long, komisinya hilang.
Yang paling penting, ia akan mengecewakan pelanggan.
Li Chenfeng sedang menunggu penyelesaian administrasi, tiba-tiba manajer datang dan berkata, "Maaf, Pak, mobil yang Anda incar sudah diincar juga oleh orang penting. Bisakah Anda dengan berat hati melepaskan mobil ini untuknya?"
Li Chenfeng menjawab, "Dalam bisnis, seharusnya siapa cepat dia dapat, bukan? Jadi, saya tidak mau melepasnya!"
Mendengar jawaban itu, wajah manajer berubah. Ia membentak, "Lebih baik Anda serahkan saja, kalau tidak, silakan keluar sekarang juga!"
"Oh ya? Jadi kalian mau menindas pelanggan karena merasa besar?"
Nada Li Chenfeng dingin.
Ia paling benci ancaman. Maka, kali ini ia juga tidak mau mengalah.
Wajah manajer makin buruk, lalu ia menyeringai, "Kalau memang kami menindas, lalu apa? Mau apa kau?"
"Berani taruhan aku hancurkan showroom ini?"
Li Chenfeng menghardik.
"Coba saja! Anak muda, jangan mimpi terlalu tinggi, tahu diri itu lebih baik."
Ucapnya dengan dingin.
Saat itu juga, A Long dan Xia Lin pun mendekat, penasaran siapa orang yang berani bersaing dengan mereka.
Begitu melihat Li Chenfeng, keduanya langsung terkejut.
Dalam sekejap, kemarahan mereka membuncah. Benar-benar dunia sempit, mereka takkan lupa betapa memalukan malam itu ketika mereka dilempar keluar oleh orang-orang Huangfu Tian.
Tak disangka, mereka akan bertemu pecundang ini di sini.
A Long langsung berkata dengan nada dingin, "Mobil itu sudah kupilih, kalau berani, coba saja bawa pergi!"
"Betul! Aku benar-benar heran, dari mana kau dapat keberanian untuk cari masalah di showroom Tuan Muda!" ejek Xia Lin.
Dua lalat ini lagi, Li Chenfeng sangat muak. Ia pun berkata, "Aku tak tertarik bertengkar dengan kalian, aku tetap mau mobil itu. Kalau tak dijual, akan kuhancurkan showroom ini!"
Manajer mencibir, "Silakan coba! Aku jamin kau takkan hidup sampai besok!"
Menurutnya, Li Chenfeng pasti tak berani, karena ini milik keluarga Huangfu, jadi ia bisa sesombong itu.
A Long dan Xia Lin menonton dengan senang, ingin melihat Li Chenfeng dipermalukan. Membual pun ada batasnya, kalau Li Chenfeng terus membual, itu keterlaluan.
Namun, saat itu juga, Li Chenfeng mengangkat kursi dan menghantamkan ke sebuah mobil mewah seharga jutaan. Seketika kaca mobil pecah berserakan.
Semua terdiam kaget. Mereka kira Li Chenfeng hanya pura-pura berani, ternyata dia benar-benar berani menghancurkan.
Tak hanya itu, ia menghantamkan kursi ke mobil sport lain seharga lebih dari tiga miliar, baru kali ini ia merasa puas. Saat itu, Li Chenfeng merasa seluruh tubuhnya lega. Soal balas dendam, itu tak ada artinya. Ia bisa menahan, tapi bukan berarti tak punya harga diri. Sekali marah, orang-orang seperti ini tak lebih dari semut di matanya.