Bab Tiga Puluh Dua: Puas atau Tidak Saat Menghancurkan
Manajer tahu semuanya sudah berakhir. Ia tak menyangka orang ini benar-benar berani merusak toko. Dengan marah ia berkata, "Bocah, kau sudah tamat! Aku jamin kau tak akan hidup sampai besok!"
A Long juga bicara dengan suara dingin, "Berani-beraninya kau merusak toko Tuan Muda, tak ada seorang pun yang bisa menyelamatkanmu. Bersiaplah untuk mati!"
"Segera telepon Tuan Muda!" seru Xia Lin buru-buru.
Tentu saja ia berharap masalah ini makin besar. Ia tak tahu kenapa Huangfu Tian bisa berteman dengan Fang Qingxue, tapi jika Huangfu Tian tahu soal ini, ini pasti kesempatan terbaik membuat mereka berselisih. Dulu ia pernah ditampar oleh pria tak berguna ini, sekarang akhirnya punya kesempatan membalas dendam.
Ia tahu kerugian ini tak ada artinya bagi Huangfu Tian, tapi ini soal harga diri. Demi harga diri, Huangfu Tian pasti akan membunuh pria tak berguna ini.
Manajer pun segera menelepon Huangfu Tian.
"Sialan! Ada yang merusak toko, untuk apa kau digaji? Tunggu aku datang!" bentak Huangfu Tian, lalu langsung menutup teleponnya.
Saat itu, A Long dan yang lain menghalangi jalan Li Chenfeng. Huangfu Tian akan segera tiba, dan manajer benar-benar gelisah, karena ia tahu Huangfu Tian pasti akan membereskannya juga.
Li Chenfeng berkata dingin, "Tak perlu menghalangi, aku tidak akan pergi. Aku mau lihat, masih adakah hukum di dunia ini?"
Benar-benar bicara seenaknya. Semua orang kehabisan kata. Kau sudah menghancurkan dua mobil milik orang, masih berani bertanya soal hukum, siapa yang sebenarnya lebih sombong?
Tak lama kemudian, Huangfu Tian tiba dengan lebih dari sepuluh orang. Begitu masuk, ia langsung membentak, "Siapa yang berani merusak tokoku?"
"Itu dia!" jawab manajer buru-buru.
Ia didorong kasar oleh Huangfu Tian. Saat itu, Huangfu Tian benar-benar ingin mencincang pelaku keributan hidup-hidup. Namun, ketika melihat pria yang duduk di atas kap mesin, ia hampir saja jatuh terduduk.
Ternyata itu adalah Li Chenfeng, pria yang bahkan kakeknya harus hormati.
A Long dan Xia Lin menunggu pertunjukan, yakin bahwa pria tak berguna ini pasti celaka.
Saat itu, Li Chenfeng berkata, "Aku yang merusaknya!"
Huangfu Tian hampir saja berlutut. Ia buru-buru bertanya dengan hormat, "Tuan Li, puas merusaknya? Kalau belum, silakan hancurkan beberapa mobil lagi, tak masalah!"
"Apa?"
Mendengar itu, A Long dan Xia Lin tertegun. Orang ini sudah menghancurkan tokonya, bukan hanya tidak dimarahi, malah ditanya apakah sudah puas. Kalau belum puas, boleh hancurkan mobil lagi? Apakah ini masih Huangfu Tian yang sombong itu?
Lebih aneh lagi, yang menghancurkan mobil adalah menantu tak berguna yang selalu jadi bahan olokan. Apa sebenarnya yang terjadi?
Li Chenfeng berkata, "Aku tidak akan merusak toko orang tanpa alasan. Aku sudah lebih dulu menaksir mobil ini dan bahkan sudah membayar uang muka!"
"Tak disangka, begitu dua orang bodoh itu datang, manajermu malah tak mau menjual mobil itu padaku, bahkan mengancamku tidak akan bisa melihat matahari besok!"
"Jadi, aku hanya menuntut penjelasan!"
Mendengar penjelasan itu, Huangfu Tian langsung paham duduk persoalannya. Saat itu juga, ia benar-benar ingin mencincang manajer itu.
Ia pun segera berkata, "Tuan Li, tenang saja. Saya pasti akan menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya!"
Kemudian ia berbalik, menatap tajam ketiga orang itu dengan mata penuh amarah. Xia Lin langsung ketakutan, manajer jatuh lemas di lantai, sementara A Long merasa firasat buruk. Ia tak menyangka, pria yang dianggap tak berguna ini ternyata memiliki kedudukan setinggi itu.
Bahkan Huangfu Tian takut padanya. Ini jelas bukan menantu rendahan yang bisa dihina siapa saja, melainkan seorang tokoh besar yang luar biasa.
Huangfu Tian membentak, "Lao Zhao, dulu aku menyerahkan toko ini padamu supaya kau tak lupa pada tujuan awal dan prinsip keluarga Huangfu dalam berbisnis!"
"Tapi sikapmu sangat mengecewakan. Kalau yang datang hari ini bukan Tuan Li, berarti keluargaku akan tercoreng namanya gara-gara kau. Dosamu tak terampuni!"
"Pengawal, bawa dia pergi!"
Dua pengawal masuk dan langsung mengamankan manajer. Manajer tahu nasib apa yang menantinya, ia pun segera memohon ampun.
Tapi semua sudah terlambat. Orang yang takkan melihat matahari besok adalah dirinya.
A Long dan Xia Lin gemetar ketakutan. Mereka tahu Huangfu Tian sudah benar-benar marah dan segera berlutut memohon ampun.
Huangfu Tian berkata dengan suara dingin, "A Long, kau sudah lama bersamaku, tapi tak seharusnya kau menyinggung Tuan Li!"
"Pengawal, bawa mereka juga!"
"Tuan Muda, ampun!"
"Tuan Li, maafkan kami!"
Mereka memohon sekuat tenaga, tapi Li Chenfeng tetap tak bergeming. Dua lalat ini selalu mengganggu, mati pun tidak masalah baginya.
Sampai saat mati pun, mereka tak percaya Li Chenfeng hanyalah menantu tak berguna. Pria ini jelas seorang tokoh besar yang bahkan melebihi siapa pun di Jiangzhou.
Barulah saat itu Huangfu Tian bertanya dengan cemas, "Tuan Li, apakah tindakan saya sudah memuaskan Anda?"
Diam-diam ia berdoa supaya Li Chenfeng tak melampiaskan amarah padanya. Bukan hanya dari kakeknya ia tahu betapa hebatnya Li Chenfeng, dari Liu Yanmei pun ia dengar bahwa Li Chenfeng adalah orang yang tak boleh dimusuhi oleh keluarga Huangfu.
Li Chenfeng berkata, "Asal sudah beres, dua mobil yang aku hancurkan akan aku ganti rugi!"
Mendengar itu, Huangfu Tian buru-buru berkata, "Tuan Li, Anda sungguh terlalu sopan. Anda sudi menghancurkan mobil saya saja sudah merupakan penghargaan!"
"Lagi pula, Tuan Li hanya mempertahankan haknya sebagai konsumen yang sah, jadi tak perlu ada ganti rugi!"
Semua orang terkejut. Orang yang bisa membuat Tuan Muda tunduk di Jiangzhou bisa dihitung dengan jari. Siapa sebenarnya Tuan Li ini? Kenapa sebelumnya tak pernah terdengar namanya?
Yang lain dalam hati bersyukur mereka tadi tak menyinggung tokoh besar ini. Kalau tidak, yang celaka sekarang adalah mereka sendiri.
Li Chenfeng berkata, "Kalau begitu, aku hanya akan membayar mobil yang aku beli."
"Tuan Li, anggap saja mobil ini hadiah dari saya, tak perlu bayar!" kata Huangfu Tian buru-buru.
Tapi Li Chenfeng menolak, "Tidak perlu, aku punya uang!"
"Baiklah," jawab Huangfu Tian yang memang tahu menempatkan diri. Ia sadar, ada batas-batas yang tak boleh dilanggar, apalagi menyangkut harga diri seorang tokoh besar. Ia pun menyetujui.
...
Li Chenfeng mengendarai mobil barunya pulang ke vila.
Baru saja memarkir di halaman, Fang Ziliang keluar. Melihat mobil sebagus itu, ia langsung membentak Li Chenfeng, "Apa kau mengambil uang Xiaoxue?"
"Aku sudah bilang, kau berusaha masuk ke perusahaan Xiaoxue hanya demi niat jahat. Sekarang bukti sudah jelas, apa lagi yang mau kau katakan?"
Fang Ziliang sama sekali tak percaya Li Chenfeng mampu membeli mobil, jadi menurutnya, mobil itu pasti dibeli dari uang Fang Qingxue.
Zhou Hongyan juga buru-buru keluar, dan begitu melihat pemandangan itu, ia langsung naik darah. Putri kesayangannya saja hanya naik mobil seharga puluhan juta, itu pun sudah bertahun-tahun. Tak disangka menantu tak berguna ini malah mengendarai mobil sebagus itu. Tapi yang paling membuat mereka kesal, sebagai orang tua Fang Qingxue, mereka sendiri pun tak mampu membeli mobil sebagus itu.
Li Chenfeng malah bisa memilikinya. Saat itu juga, mereka bersiap 'menghukum' Li Chenfeng.
Namun Li Chenfeng berkata, "Mobil ini kubeli dengan uangku sendiri, tak ada hubungannya dengan perusahaan!"
"Oh, kau pikir siapa yang kau bohongi? Seharian tak punya kerjaan, mana mungkin punya uang sebanyak itu untuk membeli mobil ratusan juta!" ejek Zhou Hongyan.
Apakah Li Chenfeng punya uang? Sebenarnya ia sangat kaya, mengelola dana ribuan triliun dolar saja bukan hal mustahil, hanya saja selama ini ia tak pernah memperlihatkannya.
Dulu, ia dan orang-orang di markasnya bahkan bisa menandingi kekayaan sebuah negara. Jadi, ratusan juta baginya tak ada artinya sama sekali.
Pertengkaran mereka membuat Fang Qingxue memperhatikan. Ia terkejut, ia tahu uang Li Chenfeng asal-usulnya tak jelas.
Ia pernah menasihati Li Chenfeng, tapi ia tak mau mendengar. Karena itu, ia marah. Namun di saat itu, ia tetap berkata, "Ayah, Ibu! Memang betul ini uangnya sendiri. Mana mungkin aku punya uang untuk membelikannya mobil, lagipula ia juga tak mungkin menyalahgunakan uang perusahaan!"
Mendengar penjelasan itu, barulah kedua orang tuanya sedikit tenang. Tapi Zhou Hongyan berkata lagi, "Mobil ayahmu saja sudah beberapa tahun tak ganti, menurutku mobil ini sebaiknya dipakai ayahmu saja! Biar dia pakai mobil lamanya, mana pantas dia memakai mobil mewah seperti ini!"
Fang Qingxue merasa ibunya sudah keterlaluan. Permintaan itu benar-benar tak masuk akal. Ia pun segera berkata, "Bu, mobil ini dibeli dengan uangnya sendiri, jangan minta mobilnya. Dia juga sudah cukup menderita!"
"Dia menderita, memang kami tidak? Bertahun-tahun demi perusahaanmu, kami tak pernah hidup enak! Sekarang minta satu mobil saja kenapa?" kata Fang Ziliang, yang memang berwatak keras. Melihat mereka akan segera bertengkar, Li Chenfeng pun berkata, "Baik, mobil ini biar ayah yang pakai!"
"Begitu dong!" kata Fang Ziliang dengan bangga.
Fang Qingxue tak menyangka Li Chenfeng bisa selegowo itu. Tapi baginya, ini bukan intinya. Ia merasa sudah waktunya bicara serius dengan Li Chenfeng. Ia pun segera berkata, "Ikut aku ke lantai dua!"
"Baik," jawab Li Chenfeng, lalu mengikuti Fang Qingxue ke lantai dua. Sementara Fang Ziliang dan Zhou Hongyan dengan rakus memeriksa mobil SUV mewah itu, karena sekarang mobil itu sudah menjadi milik mereka.