Bab 15 Kisah Masa Lalu Guo Zhen
"Mas, kau tidak apa-apa?"
Begitu telepon tersambung, Lin Xiaojun langsung menanyakan kabar dengan penuh perhatian. Setelah memastikan Wang Ye baik-baik saja, Lin Xiaojun pun meluapkan emosinya.
"Mas, ada apa denganmu? Semalaman menghilang, telepon juga tak diangkat..."
Wang Ye refleks menjauhkan ponselnya, tak bisa membantah. Memang ini kesalahannya, apalagi Lin Xiaojun sebenarnya hanya khawatir padanya, membuat hatinya terenyuh.
Rasanya menyenangkan ada yang peduli, tidak seperti Xu Hao dan yang lain, meskipun semalam suntuk tak pulang, tak ada yang mencarinya.
Setelah menutup telepon dengan perasaan lega, Wang Ye pun memberi kabar pada Lin Xiaowan dan Lin Xiaopeng bahwa ia selamat.
Ia menghela napas panjang, menatap hari baru yang indah.
Ketika ia kembali ke kantor Guo Zhen, Guo Zhen dan Xu Hao sudah bangun. Keduanya sibuk memijat pelipis, jelas kepala mereka juga sakit.
Guo Zhen menatap Wang Ye lalu tersenyum kaku, "Adik Wang, maafkan aku, semalam kau jadi melihat hal memalukan."
"Tidak apa-apa, bukankah kau bilang yang sudah berlalu biarlah berlalu?" jawab Wang Ye dingin.
Tatapan Guo Zhen kosong, bergumam, "Tak bisa kulupakan, dulu kupikir semuanya akan berlalu, sampai kemarin aku sadar, ternyata tak semudah itu."
Tampaknya perilaku Guo Feifei kembali melukai hati Guo Zhen, kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Guo Feifei juga, entah mengapa setelah sepuluh tahun, masih kembali untuk menusuknya sekali lagi.
"Guo, kau harus bangkit, jangan larut dalam kesedihan. Guo Feifei telah berkali-kali menyakitimu, masa kau hanya diam saja?" Xu Hao geram. "Perempuan seperti itu tak pantas kau perlakukan seperti ini. Dia yang mengkhianatimu duluan."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memukulnya demi melampiaskan kemarahan?" Guo Zhen menertawakan dirinya sendiri. "Memukul perempuan bukanlah sifat lelaki sejati. Aku, Guo Zhen, takkan melakukan itu."
"Lalu kembalilah ke dunia hiburan, buktikan padanya bahwa kepergianmu adalah kerugian besar baginya."
"Kembali?" Guo Zhen kembali terdiam.
Setelah hening sejenak, ia berkata, "Maukah kalian mendengar sebuah kisah dariku?"
Tanpa menunggu jawaban Wang Ye dan yang lain, ia mulai bercerita.
"Dulu, ada seorang pemuda. Saat tahun kedua kuliah, ketika menyambut mahasiswa baru, ia bertemu dengan seorang gadis. Saat itu, menurutnya gadis itu adalah yang paling cantik di dunia.
Rambut hitamnya yang panjang, mata bening yang seolah bisa berbicara—semua itu menjadi bunga tidur bagi pemuda itu. Ia tahu, ia jatuh cinta pada adik kelas yang baru sekali dilihatnya, lalu ia mencari berbagai cara untuk mendekatinya.
Kantin kampus, lapangan, perpustakaan... Di mana pun gadis itu muncul, pemuda itu pasti ada di sana. Mereka berkenalan, saling mengenal, hingga akhirnya saling mencintai.
Segalanya terasa seperti mimpi bagi pemuda itu. Ia sangat berhati-hati menjaga cinta yang sulit didapat ini, takut semuanya akan berakhir hanya karena kesalahannya.
Pemuda itu lulus, lalu bekerja keras, karena ia pernah berjanji akan menikahi gadis itu, memberikan sebuah rumah untuknya. Setelah dua tahun, ia akhirnya berhasil. Namanya mulai dikenal di dunia hiburan, ia juga pernah meraih beberapa penghargaan, media pun memujinya sebagai bintang masa depan.
Dua tahun berlalu, gadis itu juga lulus dan masuk ke dunia kerja. Namun, jalannya tak semudah sang pemuda. Ia sering menemui kegagalan, terutama setelah melihat sang pemuda sukses, ia semakin gelisah.
Mereka mulai sering bertengkar, padahal sebelumnya mereka hampir tak pernah bertengkar. Gadis itu jadi semakin posesif, setiap hari menelpon berkali-kali, merasa tak aman.
Pemuda itu sangat memahami perasaan sang gadis, selalu berusaha menyisihkan waktu untuk menemaninya, berharap kehadirannya bisa menenangkan hati sang gadis.
Namun, karier pemuda itu sedang menanjak, waktu yang ia sisihkan tetap terasa kurang. Keluhan sang gadis pun makin sering, membuat pemuda itu merasa lelah. Meski begitu, ia tak pernah menyerah, karena ia tahu betul ia sangat mencintai gadis itu. Ia ingin menabung cukup uang, membangun rumah tangga, dan percaya semua akan baik-baik saja.
Gadis itu berubah, tanpa pemuda sadari, ia mulai sering pulang larut malam, tubuhnya beraroma alkohol. Awalnya pemuda mengira gadis itu hanya sedang murung dan minum sedikit.
Namun, lama kelamaan, penampilan sang gadis semakin berani. Pemuda itu akhirnya curiga, lalu mencari kesempatan untuk bertanya.
Gadis itu tak mau bicara, mereka pun bertengkar hebat—pertengkaran terparah sejak mereka bersama. Malam itu, sang gadis membanting pintu dan pergi, beberapa hari tak mengangkat telepon.
Akhirnya gadis itu kembali, namun pemuda merasa gadis itu sudah sangat asing. Ia tak paham, apa yang membuat gadis itu begitu gelisah, kenapa tak bisa menunggu, menantinya benar-benar sukses.
Suatu malam, setelah selesai bekerja, pemuda itu membawa cincin yang sudah lama diidamkan sang gadis dan sertifikat rumah, berniat meletakkannya di samping tempat tidur gadis itu, lalu memberi kejutan besar keesokan paginya. Hatinya penuh harap dan bahagia.
Namun, saat tiba di bawah apartemennya, ia melihat sang gadis turun dari sebuah mobil dan berpelukan mesra dengan seorang pria. Saat itu, mimpinya hancur, benar-benar hancur.
Pemuda itu memilih berpisah baik-baik, tak mengungkit kejadian malam itu, demi menjaga harga diri masing-masing. Ia mengemasi barangnya dan pergi tanpa suara.
Awalnya ia kira semuanya akan berlalu begitu saja, tapi tak disangka, tiga hari kemudian, berita tentang mereka menyebar di mana-mana, membuatnya kehilangan arah.
Pemuda itu tak menyangka, gadis itu justru memutarbalikkan fakta, menuduh pemuda itu meninggalkannya setelah sukses, bahkan menggelar konferensi pers. Sejak itu, pemuda itu dicap sebagai laki-laki brengsek.
Tak lama kemudian, gadis itu kembali membuat sensasi dengan mengumumkan akan membintangi film baru sutradara muda Zhang Yi..."
Wang Ye tahu, Guo Zhen sedang menceritakan kisahnya sendiri. Kisah yang biasa saja, namun sebenarnya cinta Guo Zhen begitu rendah diri dan egois. Ia hanya memikirkan dirinya, tanpa benar-benar memahami apa yang diinginkan Guo Feifei.
Semua sudah dewasa, Guo Feifei juga tak sepenuhnya salah. Kesalahan terbesarnya adalah saat akhirnya mengkhianati Guo Zhen dengan cara kejam. Empat-lima tahun cinta, hanya dijadikan alat? Pengkhianatan yang terakhir benar-benar menyakitkan, mungkin karena terlalu terobsesi ingin terkenal.
Guo Zhen tersenyum getir, "Kalian pasti sudah tahu siapa yang kumaksud."
"Dua hari lalu, Guo Feifei menghubungiku, ingin menemuiku. Aku tak berpikir macam-macam, lalu setuju bertemu. Begitu bertemu, Guo Feifei menangis tersedu-sedu, aku pun ikut sedih mendengarnya. Ia bilang film barunya gagal di pasaran, tak bisa menutup biaya produksi, katanya itu akan mempengaruhi kariernya ke depan.
Akhirnya ia mabuk, aku berusaha membantunya berdiri, dan di situlah foto yang tersebar di media diambil. Sudut fotonya sangat pas, seolah-olah aku sedang menarik-narik Guo Feifei."
Wanita ini benar-benar kejam, tak segan melakukan apa saja. Sepuluh tahun berlalu, masih ingin memanfaatkan Guo Zhen, sungguh berhati iblis.
"Guo, jadi selama ini itulah kebenarannya? Kenapa kau tidak menjelaskan semuanya pada media?" Xu Hao baru kali ini mendengar kisah Guo Zhen.
"Apa bisa dijelaskan?" jawab Guo Zhen. "Kalau aku bicara, semuanya justru akan makin rumit. Lagipula, aku ingin memberinya kesempatan sekali saja."
"Tapi aku tak menyangka, dia melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya."
Sambil berkata begitu, Guo Zhen mengambil foto dalam bingkai, mengelusnya sebentar, lalu tanpa ragu merobeknya hingga hancur.
Wang Ye tahu, sejak saat itu, Guo Zhen benar-benar sudah menyerah, sepenuhnya putus asa.