Bab Seratus Enam Belas: Musim Gugur Tak Kembali
Dahulu, Su Muya dan Guo Xiao tumbuh bersama sejak kecil. Hubungan mereka begitu dekat dan manis.
Entah sejak kapan, keretakan mulai muncul di antara mereka, bahkan hubungan itu sampai berada di titik ketika keduanya saling meninggalkan.
“‘Hujan air mata berderai, lonceng berbunyi, namun pada akhirnya tak menyimpan dendam’? Kau sedang membicarakan dirimu sendiri, ya? Bahkan jika aku memakimu atau memukulmu, kau tetap tidak akan mendendam kepadaku?”
Kabut tipis muncul di mata indah Su Muya. Saat ini, ia benar-benar ingin berlari ke kamar sebelah dan memeluk pria itu.
Guo Xiao meletakkan pulpennya, lalu berkata pelan, “Sebenarnya, masih banyak puisi yang ingin kutulis untuknya. Namun kalau terlalu banyak, rasanya malah menjadi berlebihan. Jadi, sudahlah.”
“Jangan begitu. Aku akan memanggilmu Ayah, bagaimana?”
“Kak Huichu, kau mau membuat kami mati penasaran, ya?”
“Hiks, aku masih ingin melihatmu menulis dan mendengarmu membacakan puisi.”
“Puisi ini terlalu bagus, terutama dua baris pertama. Ya ampun, dari mana kau mendapatkan rangkaian kata seperti itu?”
“Hidup seolah hanya pertemuan pertama—kalimat itu benar-benar mengungkap akar dari segala kisah cinta antara pria dan wanita.”
“Kak Huichu, kumohon. Tulis satu puisi lagi.”
“Benar, tulis satu saja. Boleh, ya?”
Bahkan Su Muya pun berseru pelan, “Dasar bajingan besar, semua orang sudah memintamu begitu. Cepat tulis satu puisi lagi!”
Namun Guo Xiao hanya berkata datar, “Aku tidak akan menulis puisi lagi. Tapi bagaimana kalau kalian mendengarkan lagu?”
“Mau, tentu saja!”
“Jangan-jangan lagu itu juga ditulis untuk kakak ipar?”
Guo Xiao mengangguk. “Benar. Lagu-lagu ini sudah lama selesai kutulis. Sejak dulu aku ingin menyanyikannya untuknya. Sekarang, sekalian saja kunyanyikan untuknya.”
“Tunggu, aku tidak salah dengar, kan? Kak Huichu bilang lagu-lagu ini?”
“Maksudnya bukan hanya satu lagu!”
“Ya ampun, kita benar-benar beruntung! Kak Huichu, cepat nyanyikan!”
Guo Xiao berkata dengan tenang, “Judul lagu ini adalah Musim Gugur Takkan Kembali. Semoga semua pasangan yang saling mencintai pada akhirnya dapat bersatu.”
Guo Xiao mengambil gitarnya dan mulai memetik senar.
Suara nyanyian penuh perasaan mengalun dari tenggorokannya yang dalam dan merdu:
Langit di awal musim gugur, malam yang dingin
Kenangan perlahan menyerbu
Cinta yang tulus bagaikan dedaunan gugur
Mengapa kita harus berpisah
…
Biarlah angin musim gugur membawa rinduku
Membawa air mataku
Aku masih diam-diam menunggu
Di tempat kita berjanji bertemu
Baik suara gitar maupun nyanyian Guo Xiao sama-sama dipenuhi pesona.
Semua warganet di ruang siaran langsung terhanyut. Mereka yang mudah tersentuh bahkan menitikkan air mata dan tanpa sadar mulai menangis.
“Hiks, Huichu, dasar bajingan besar!”
“Apa maksudmu? Lagu Huichu begitu merdu sampai membuatku menangis. Bagaimana kau bisa memakinya?”
“Aku memang akan memakinya! Dia benar-benar bajingan! Aku membutuhkan waktu tiga tahun untuk melupakannya. Namun bajingan besar ini lebih dulu menghantamku dengan puisi tadi, lalu lagu ini benar-benar membuat pertahananku runtuh! Hiks, aku sangat merindukannya!”
“Hah, aku juga jadi merindukannya!”
“Angin hangat berembus di wajahku hari itu. Begitu menoleh, aku bisa melihat pipinya yang masih polos. Saat mendongak, bulan terang tampak di langit. Pada saat itu, aku memahami arti kebahagiaan. Itulah masa mudaku, sayangnya masa itu takkan pernah kembali.”
“Kenapa aku merasa begitu sedih saat mendengarkan lagu ini? Rasanya benar-benar dalam!”
“Lirik dan melodinya juga sangat serasi. Sungguh memikat, bukan?”
“Benar. Kak Huichu baru menyanyikannya sekali, tetapi melodinya masih terus berulang di kepalaku!”
“Enak sekali didengar. Mereka yang tidak sempat mendengarnya pasti akan menyesal setengah mati!”
“Aku iri sekali kepada istri Huichu. Dia menulis lagu semerdu ini untuk istrinya.”
“Bukan hanya lagu. Kalimat ‘hidup seolah hanya pertemuan pertama’ itu pantas dicatat dalam sejarah!”
“Kakak ipar benar-benar beruntung. Kalau aku berada di posisinya, sebesar apa pun kemarahanku, aku pasti sudah memaafkannya.”
“Benar, benar. Kakak ipar, demi lagu ini, cepat maafkan Huichu!”
Melihat komentar-komentar itu, pipi Su Muya memerah. Ia mendengus pelan, “Lagu ini memang cukup bagus, tetapi kalau dia pikir itu sudah cukup untuk membuatku memaafkannya, dia terlalu banyak bermimpi.”
Su Muya bergumam pelan, tetapi kegembiraan di matanya sama sekali tidak dapat disembunyikan.
Ia bisa sepenuhnya merasakan cinta Guo Xiao kepadanya melalui lagu itu.
Namun, tidak semua komentar berisi pujian.
Setelah para penonton memintanya dengan keras, Guo Xiao kembali menyanyikan lagu tersebut.
Kali ini, beberapa musisi yang sangat profesional mulai mengemukakan pendapat.
“Harus diakui, lirik dan melodi lagu ini sama-sama enak didengar. Namun, melodinya sederhana dan agak kuno. Itu juga fakta.”
“Benar. Meskipun ini lagu yang bagus, maknanya tidak terlalu dalam. Dibandingkan lagu-lagu Huichu sebelumnya, seperti Pejuang Kesepian dan Dirimu yang Dulu, lagu ini masih sedikit tertinggal.”
“Kurasa itu bukan kekurangan besar. Memangnya kenapa kalau terdengar kuno? Justru lagu seperti ini lebih mudah meledak. Aku berani menjamin lagu ini akan sama populernya dengan lagu-lagu sebelumnya!”
“Hehe, ucapanmu tidak salah. Mungkin aku memang menuntut terlalu banyak dari Huichu.”
“Sudahlah. Huichu itu idola kami, bukan ayahmu. Tidak ada alasan baginya untuk selalu memenuhi tuntutanmu.”
Di antara komentar-komentar itu, semua orang mulai berdebat.
Melihat keributan tersebut, raut tidak senang muncul di mata Su Muya.
Para warganet ini benar-benar sulit dipuaskan!
Banyak sekali tuntutan mereka. Kalau memang hebat, coba saja tulis lagu seperti itu sendiri.
Su Muya mulai merasa marah dan tidak terima Guo Xiao diperlakukan seperti itu. Terlebih lagi, lagu tersebut ditulis Guo Xiao untuknya.
Namun, di mulut orang-orang itu, lagu tersebut seolah-olah sama sekali tidak memiliki kelebihan.
Ketika melihat sebuah komentar, Su Muya langsung naik pitam.
Tuan Fujiang: Harus kuakui, lagu Huichu kali ini sangat mengecewakanku. Mungkin setelah mulai menulis puisi, dia sudah tidak lagi memedulikan lagu. Menulis lagu pasaran seperti ini memangnya mau menipu siapa?
Komentar itu juga dilihat oleh banyak penggemar, dan mereka pun menjadi murka.
“Bukankah kau seorang pembenci?”
“Lagu ini jelas sangat enak didengar, juga begitu menyentuh dan mampu menggugah emosi. Bagaimana bisa kau menyebutnya lagu pasaran?”
“Benar. Kalau kau bilang melodinya sederhana, mungkin masih bisa dimengerti. Tapi bagian mana yang membuatnya terdengar seperti lagu pasaran?”
“Hehe, sepertinya ada orang-orang yang mulai panik. Mereka melihat Kak Huichu terus naik dalam peringkat pencipta melodi, penulis lirik, bahkan penyanyi, sampai masuk seratus besar. Tentu saja ada yang mulai gelisah!”
Para penggemar beramai-ramai mengecam, menenggelamkan komentar-komentar sumbang itu.
Guo Xiao hanya tersenyum. Bahkan mata uang Jiuzhou pun tetap memiliki banyak orang yang tidak menyukainya, apalagi dirinya.
Lagipula, sejak insiden penjiplakan sebelumnya, ia sudah tahu bahwa seseorang telah mengincarnya.
Dan orang itu kemungkinan besar adalah Dou Lanzhi.
Karena itu, ia sama sekali tidak peduli jika ada beberapa pembenci di ruang siaran langsung.
Namun, tak lama kemudian, ia langsung menepis pikiran tersebut.
Di antara komentar-komentar itu, tiba-tiba muncul sebuah akun bernama Peri Tepi Giok.
Peri Tepi Giok: Marga Guo, sudah melihatnya? Orang-orang bilang kau sedang menipu penonton!
Tatapan Guo Xiao langsung menajam. Akun Peri Tepi Giok adalah salah satu akun milik Muya.
Guo Xiao membukanya untuk memeriksa, dan benar saja, pemiliknya adalah Muya.
Ekspresi Guo Xiao menjadi serius. Dengan suara berat, ia berkata, “Barusan aku melihat istriku berbicara di ruang siaran langsung. Dia sangat tidak senang karena beberapa orang mengatakan bahwa aku sedang menipu penonton. Kalau begitu, tentu saja aku harus membuktikan kepadanya bahwa mereka salah!”