Bab 88: Semakin Pudar
Setelah rekaman acara selesai, Wang Ye secara khusus menemui He Dan untuk mengucapkan terima kasih. Awalnya ia ingin mengajak He Dan dan pembawa acara lainnya makan malam, namun mereka sibuk, jadi terpaksa dijadwalkan lain waktu.
Akhirnya Wang Ye makan hotpot hanya bersama para penggemarnya. Suasananya sangat akrab, hanya saja di tengah acara, beberapa penggemar wanita entah mengapa tiba-tiba menangis.
Promosi selanjutnya tidak diikuti Wang Ye, semuanya diserahkan kepada Xu Hao. Ia merasa dirinya kurang cocok tampil di acara ragam seperti itu.
Promosi dilakukan secara daring dan luring sekaligus, hasilnya cukup nyata, tingkat popularitasnya sangat tinggi. Terutama di malam hari, cerita yang dirancang He Wei dan timnya telah memancing rasa penasaran banyak orang.
Wang Ye dan Lin Xiaowan naik pesawat menuju Kota Ajaib.
Wang Ye tiba-tiba bertanya, “Beberapa waktu lalu kamu pergi mengajar di desa?”
Lin Xiaowan memandang Wang Ye dengan heran, “Dari mana kamu tahu?”
“Jangan pedulikan dari mana aku tahu, tapi kenapa tidak memberitahuku?”
“Aku kira ini bukan hal besar, tidak perlu diberitahukan. Lagi pula, itu pun hanya kebetulan. Aku ke sana untuk liburan, lalu menyewa pemandu setempat. Tak disangka, pemandunya ternyata seorang guru sukarelawan. Biasanya saat liburan, dia kerja sampingan jadi pemandu untuk menambah penghasilan, agar bisa membelikan alat tulis dan buku latihan untuk murid-muridnya. Sepanjang perjalanan dia bercerita banyak kisah menyentuh, jadi aku memutuskan ikut merasakan selama beberapa hari.”
Wang Ye berkata, “Itu hal baik, kenapa tidak bilang padaku? Kalau aku tahu alasannya, tentu aku tidak akan marah.”
“Huh!” Lin Xiaowan manyun, “Waktu itu kamu terus saja bicara, mana sempat aku cerita.”
Wang Ye tersenyum canggung, “Setelah itu pun bisa kamu ceritakan padaku. Kalau bukan aku lihat di koran, aku pasti tidak tahu apa-apa.”
“Kamu tahu dari koran?” Lin Xiaowan bertanya, “Koran apa?”
Padahal hanya dia sendiri yang tahu soal ini, kok bisa masuk ke koran, ia jadi penasaran. Kebetulan guru sukarelawan yang dikenalnya itu punya teman jurnalis. Saat itu si jurnalis sedang berkunjung, lalu bertemu dengannya. Kebetulan pula jurnalis itu pernah menonton filmnya, jadi langsung mengenalinya.
“Lupa nama korannya,” jawab Wang Ye. “Pokoknya lain kali ada apa-apa, ceritakan ke kakak iparmu, kakak ipar akan selalu mendukungmu.”
Lin Xiaowan tiba-tiba memalingkan wajah, lalu setelah beberapa saat, dengan enggan berkata, “Iya, aku tahu.”
Wang Ye menggeleng dan menghela napas pelan, memang perempuan itu emosional.
Setelah kembali ke Kota Ajaib, Lin Xiaowan langsung menuju lokasi syuting. Meski perannya tak banyak, tapi masih ada beberapa adegan tersisa.
Wang Ye tetap masuk kerja seperti biasa, tapi belakangan ia cukup santai. Seharian di kantor, main game, hari pun berlalu.
Tanggal 20 Juni, Jumat, acara “Ayo ke Keluarga” tayang. Kepedulian Wang Ye terhadap penggemarnya menuai banyak pujian, begitu juga penampilannya di atas panggung serta lagu yang dinyanyikannya, menarik banyak penggemar baru.
Setelah menyelesaikan adegan terakhir, Lin Xiaowan kembali ke Kota Ajaib.
“Kakak ipar, aku rasa kamu sebaiknya merilis album. Suara kamu enak didengar!” kata Lin Xiaowan.
Saat itu Lin Xiaojun yang sedang membantu mengeringkan rambut Linlin juga setuju, “Betul, kakak ipar. Lagu ‘Bunga Ungu’ mending jangan dijual, simpan saja untukmu sendiri.”
Dua adik ipar ini membuat Wang Ye sedikit besar kepala, tapi ia sadar kalau nyanyiannya tak bagus, itu akan jadi aib seumur hidup. Ia pun langsung menolak, “Tidak bisa, aku kurang mahir bernyanyi.”
Lin Xiaowan merasa kecewa, “Kakak ipar, takut apa? Sekarang suara bisa diedit. Kamu memang belum latihan profesional, tapi kalau berlatih sebentar, pasti akan jauh lebih baik.”
Wang Ye terdiam, dalam hati ia tertarik mencobanya, tapi ia tak ingin memperpanjang topik ini.
“Xiaojun, sudah tanya Xiaopeng, besok bisa pulang makan malam atau tidak?”
Besok adalah hari raya Duanwu. Saat Imlek kemarin, Lin Xiaopeng tidak di rumah. Wang Ye ingin keluarga berkumpul untuk memperbaiki hubungan.
“Sudah kutelpon, tapi dia dan Shanshan ada acara, makan malam sepertinya bisa pulang.”
“Shanshan juga akan ikut?”
“Dari nadanya, sepertinya pulang bersama.”
“Huh!”
Sejak masalah pembagian warisan tempo hari, Lin Xiaowan memang sudah tidak terlalu suka pada Wen Shanshan, tampaknya masih punya banyak keberatan.
Wang Ye langsung melotot padanya, “Besok kamu harus bersikap baik, tersenyum yang wajar, jangan cemberut. Bagaimanapun juga, dia kakak iparmu, dan dia tidak berbuat salah apa-apa.”
Lin Xiaowan membantah, “Kalau bukan dia yang memprovokasi kakakku, mana mungkin kakakku mengusulkan pembagian warisan? Keluarga damai-damai saja, semenjak dia datang, semua jadi kacau.”
“Kamu diam saja. Kalau merasa bagiannya kurang, aku kasih saham perusahaan.”
“Aku tidak perlu, aku bisa cari uang sendiri,” Lin Xiaowan manyun. “Lagi pula, ini bukan soal uang. Kakak ipar, kamu pikir aku orang macam apa?”
Wang Ye tentu tahu Lin Xiaowan bukan karena uang.
Lin Xiaojun sedari tadi diam, hanya membantu Linlin merapikan rambut. Tiba-tiba ia berkata keras, “Sudahlah, semua sudah berlalu. Apa karena sudah pisah rumah, kita bukan keluarga lagi?”
Linlin tidak mengerti apa yang terjadi pada orang dewasa, tapi suara Lin Xiaojun membuatnya takut. Bibirnya bergetar, hampir menangis, namun ia tahan, hanya memandang Lin Xiaojun dengan tatapan memelas.
Melihat itu, Lin Xiaojun langsung memeluk Linlin dengan sayang, lalu membawanya ke samping.
Wang Ye menunjuk Lin Xiaowan, “Jangan pernah bahas ini lagi. Shanshan sudah menikah jauh-jauh ke sini, di kota ini tidak punya keluarga. Apa dia tidak boleh memikirkan masa depannya?”
Lin Xiaowan merengut, “Bagaimanapun juga, aku tetap tak suka dia.”
“Tak suka pun simpan saja dalam hati. Besok kalau kulihat kamu tidak tersenyum, lihat saja akibatnya.”
“Huh, memangnya kamu bisa apa?”
Wang Ye langsung terdiam, tak bisa berkata apa-apa.
Keesokan harinya, hari raya Duanwu, perusahaan libur. Namun Lin Xiaojun tetap ke kantor, sedangkan Wang Ye harus menyiapkan makan malam, jadi ia tidak pergi.
Sejak pagi sampai sore, Wang Ye sibuk sendiri di dapur. Sebenarnya ia sangat suka memasak, sendirian di dapur, menikmati waktu pribadi, menyiapkan hidangan lezat untuk keluarga adalah hal yang sangat memuaskan.
Pukul tujuh malam, Lin Xiaopeng datang bersama Wen Shanshan. Wang Ye segera keluar menyambut.
“Shanshan, silakan duduk, anggap saja di rumah sendiri, jangan sungkan.”
Lin Xiaojun diam-diam menerima bingkisan dari tangan Lin Xiaopeng, dalam hati berpikir, sejak kapan adik sendiri pulang harus bawa oleh-oleh?
“Kakak kedua, ini dari Shanshan.”
Lin Xiaojun tersenyum pada Wen Shanshan, “Terima kasih, Shanshan.”
Sementara Wang Ye sibuk menyambut, ia memberi isyarat pada Lin Xiaowan. Gadis keras kepala itu malah asyik berbicara dengan Linlin, pura-pura tak melihat kakaknya pulang.
Melihat isyarat Wang Ye, ia pun bangkit dengan enggan, memaksakan senyuman.
“Kakak, kakak ipar, selamat datang.”
Wang Ye sampai kehabisan kata, senyum itu palsu sekali, “Dasar bocah, baru saja ditegur, masih saja ngambek.”
“Lin Xiaowan, tadi aku suruh beli penyedap rasa, sudah beli belum? Kalau belum, cepat pergi.”
Segera saja Wang Ye mengusirnya sebentar, agar dia bisa menenangkan diri.
Makan malam kali ini tak seceria biasanya. Lin Xiaopeng dan Wen Shanshan saling pamer kemesraan, membuat tiga lajang lainnya merasa tersisih. Hidangan seenak apapun jadi terasa hambar, akhirnya acara makan selesai seadanya.
Tak lama setelah makan, Lin Xiaopeng dan Wen Shanshan pamit pulang.
Lin Xiaojun duduk di sofa menatap televisi, tiba-tiba merasa sedih, “Semua terasa hambar…”
…