Bab 121: Kakak Beradik Keluarga Zhang yang Mencari Mati

Menantu Tabib Tiada Tanding Tiramisu 3009kata 2026-03-31 22:44:50

Menjelang tengah hari.

Tiba-tiba beredar dua kabar buruk tentang Leng Ruxue di internet: pertama, ia dituduh menggunakan koneksi gelap untuk menaikkan jabatannya; kedua, ia dituduh memiliki latar belakang pendidikan yang rendah.

Ini adalah ulah Leng Mingxue yang sengaja menyewa tim buzzer untuk menjatuhkan Leng Ruxue. Namun, yang membuat Leng Mingxue kecewa adalah kedua kabar negatif tersebut dengan cepat dihapus, dan penghapusannya pun sangat tuntas.

Tak lama kemudian, Grup Jinxiu mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa Leng Ruxue memenangkan kontrak proyek berdasarkan kemampuannya sendiri, dan tidak ada praktik kotor yang terlibat. Bersamaan dengan itu, Rektor Universitas Donghai, Qiu Liangjun, juga merilis pernyataan yang memaparkan rekam jejak pendidikan Leng Ruxue—baik masa lalu, sekarang, maupun rencana studinya di masa depan—untuk mengakui kapasitas intelektualnya. Bahkan, primadona Universitas Donghai, Jiang Xiyu, ikut angkat bicara dan menyatakan bahwa ia telah menjadi teman belajar Leng Ruxue di program studi yang sama.

Para netizen yang tadinya siap menghujat Leng Ruxue pun berbalik arah dan mulai memuji keteguhan serta kegigihan Leng Ruxue dalam belajar. Melihat dirinya mendapatkan dukungan dan masalahnya telah terselesaikan, Leng Ruxue merasa lega.

"Sayang, ternyata kau sudah bersiap sejak awal. Tapi kali ini, semua berkat bantuan mereka juga. Kau harus membantuku berterima kasih kepada mereka," ucap Leng Ruxue.

Qin Xuanyuan mengangguk. Ia memang sudah mengirim pesan terima kasih kepada Chu Lingyun, Qiu Liangjun, dan yang lainnya.

Saat jam pulang kerja tiba, Leng Ruxue menghampiri dan memeluk Qin Xuanyuan. "Ayo, kita pergi makan."

Melihat itu, Leng Rui segera mengulurkan tangan. "Mama, Rui-rui juga mau dipeluk."

Qin Xuanyuan segera menggendong Leng Rui. "Biar Papa saja yang menggendong Rui-rui. Mama sudah lelah, jangan merepotkan Mama lagi, ya."

Mereka pun keluar dari ruang rapat. Karena Chen Zijie dan Wang Shuo sedang berada di ruang VVIP Hotel Oriental, Qin Xuanyuan tidak membawa Leng Ruxue ke sana, melainkan ke sebuah restoran terdekat bernama Paviliun Lingyan.

Begitu menginjakkan kaki di lobi Paviliun Lingyan, Leng Ruxue melihat banyak orang sedang mengantre.

"Kak Xuan, Kakak Ipar?" Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.

Mereka pun berbalik dan mendapati Zang Peiping berjalan menghampiri.

"Peiping? Kenapa kau ada di sini?" tanya Leng Ruxue.

"Aku ke sini untuk menemui Ibuku. Paviliun Lingyan ini milik Ibuku, dia adalah Ling Yan," jelas Zang Peiping dengan cepat.

"Begitu rupanya. Kami ke sini untuk makan siang, tapi karena antrean sangat panjang, sepertinya tidak ada ruang privat lagi, ya?" ujar Leng Ruxue dengan canggung.

"Itu tidak masalah. Aku sudah meminta Ibu untuk memesankan satu ruang privat untukku, jadi aku berikan saja untuk kalian," ujar Zang Peiping sambil tersenyum ceria.

Setelah itu, ia berlari ke meja resepsionis untuk memberikan instruksi, lalu memanggil manajer agar memberikan kartu keanggotaan VVIP kepada Leng Ruxue. Zang Peiping baru pergi setelah mengantar mereka sampai ke ruang privat.

Saat pintu ruang privat tertutup, Leng Ruxue menatap Qin Xuanyuan. "Kita jadi merepotkannya."

"Tidak apa-apa, dia tidak akan keberatan," jawab Qin Xuanyuan sambil terkekeh.

Leng Ruxue mengangguk. "Sayang, menurutmu apakah Leng Mingxue masih akan melakukan tindakan licik lainnya?"

Qin Xuanyuan mengerutkan kening dan menghela napas. "Dia pasti masih akan berulah. Intinya, kau harus berhati-hati. Apa pun yang dia rencanakan, aku akan membereskannya untukmu."

"Aku tahu kau pasti bisa membereskannya." Leng Ruxue menatap Qin Xuanyuan dengan ekspresi serius. "Tapi, Leng Mingxue tidak akan melepaskanku begitu saja. Aku khawatir dia tidak hanya akan menyerangku, tapi juga kau dan Rui-rui."

Qin Xuanyuan menanggapi dengan tenang, "Jangan khawatir. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sekalipun dia ingin memfitnahmu, pada akhirnya dia hanya akan menjilat ludahnya sendiri."

Beberapa menit kemudian, hidangan lezat disajikan, membuat Leng Rui bersorak kegirangan. Namun, belum lama mereka mulai makan, ponsel Qin Xuanyuan berdering. Ia melirik layar ponselnya lalu mengangkat telepon tersebut.

Su Yunmeng berkata dengan panik dari seberang telepon, "Kak Xuan, Ibuku dalam bahaya. Dia dikepung di Hotel Xinfu, Jalan Xia Pu. Aku menelepon Kakakku, tapi tidak bisa tersambung."

"Aku mengerti, aku akan segera memerintahkan orang untuk menyelidikinya," jawab Qin Xuanyuan segera, lalu menutup telepon dan menghubungi Qing Long.

Namun, beberapa menit kemudian, Qin Xuanyuan menerima kabar buruk: Liang Mei telah diculik.

Qin Xuanyuan segera berkata kepada Leng Ruxue, "Aku harus kembali ke Xia Pu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi."

"Jaga dirimu baik-baik," jawab Leng Ruxue sambil mengangguk. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia tahu bahwa situasinya sangat serius.

Melihat Qin Xuanyuan melangkah keluar dengan ekspresi serius, hatinya merasa cemas. Baru saja Qin Xuanyuan pergi, Zang Peiping datang membawa seorang wanita paruh baya. Ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, lalu memperkenalkan ibunya, Ling Yan, kepada Leng Ruxue.

"Ngomong-ngomong, Kakak Ipar, di mana Kak Xuan? Kenapa dia tidak kelihatan?"

Leng Ruxue menggeleng cepat. "Dia ada urusan mendadak, baru saja pergi."

Di Jalan Xia Pu, Qin Xuanyuan segera menelepon Qing Long begitu sampai. "Di mana Liang Mei sekarang?"

"Liang Mei telah dibawa ke Kompleks Perumahan Longjing Tianhua," jawab Qing Long cepat.

Qin Xuanyuan segera memacu mobilnya menuju lokasi tersebut. Beberapa menit kemudian, beberapa mobil SUV tiba di sana. Qin Xuanyuan turun dari mobil dan menghampiri Qing Long yang berdiri di gerbang kompleks. "Orangnya ada di dalam?"

Qing Long mengangguk. "Ya, ini kompleks lama yang sudah dijadwalkan untuk dibongkar, tapi masih ada dua bulan lagi sebelum pembongkaran, jadi masih ada beberapa penghuni. Mungkin pelaku sengaja memilih tempat ini untuk menyekap Liang Mei."

Qin Xuanyuan memberi isyarat. "Masuk, selamatkan Liang Mei."

"Siap, Kak Xuan," jawab Qing Long, lalu memimpin anak buahnya masuk.

Karena ini adalah kompleks tua, pos keamanan hanya dijaga oleh seorang kakek tua. Melihat Qing Long dan rombongannya masuk, sang penjaga tidak berani bertanya, apalagi menghalangi.

Qin Xuanyuan tidak segera masuk. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Su Yunmeng. "Aku sudah memastikan ibumu diculik ke sebuah kompleks tua. Kami belum menemukannya, tapi aku akan segera menghubungimu begitu dia ditemukan."

"Terima kasih, Kak Xuan," jawab Su Yunmeng dengan nada lega.

Setelah menutup telepon, Qin Xuanyuan baru melangkah masuk ke dalam kompleks. Namun, sesaat setelah masuk, ia melihat beberapa mobil datang dan berhenti. Dari salah satu mobil van hitam, ia melihat Zhang Wenhu turun. Qin Xuanyuan segera bersembunyi di sudut.

"Jangan-jangan kali ini Zhang Wenhu dalangnya?"

Tak lama kemudian, ia melihat Zhang Lanzhi juga turun dari mobil. Kedua kakak beradik itu berjalan masuk ke dalam kompleks dengan pengawalan beberapa pria berpakaian hitam. Melihat mereka menuju ke arah yang sama dengan Qing Long, Qin Xuanyuan segera menelepon Qing Long.

"Qing Long, setelah berhasil menangkap mereka, pura-puralah menjadi anak buah mereka. Kakak beradik keluarga Zhang sudah menuju ke sana. Sepertinya penculikan Liang Mei ini ada hubungannya dengan mereka."

"Siap, Kak Xuan."

Di sebuah gang, Zhang Wenhu berkata dengan penuh semangat, "Kak, setelah berhasil menangkap Liang Mei, apakah kita harus memancing Su Yunmeng ke sini, atau Su Wei?"

Zhang Lanzhi mengerutkan kening. "Aku belum memikirkannya. Yang jelas, kita harus membuat Su Wei putus dengan tunangannya agar dia bisa bersamaku. Dan orang yang memukulmu itu juga harus diberi pelajaran."

Zhang Wenhu mengangguk. "Benar, bajingan itu harus ditangkap. Aku akan mematahkan keempat anggota tubuhnya—tidak, kelima anggota tubuhnya sekalian! Sial, seumur hidupku aku belum pernah dipermalukan seperti ini."

"Tunggu sampai kita melihat Liang Mei dulu. Tapi sebelum bertemu dengannya, sebaiknya kita jangan sampai terlihat. Pakai masker kalian sekarang," perintah Zhang Lanzhi.

"Siap." Zhang Wenhu segera meminta anak buahnya memasangkan masker, karena tangannya sendiri masih sulit digerakkan.

Tak lama kemudian, rombongan itu sampai di sebuah gedung tua dan menuju ke lantai paling atas. Di dalam sebuah ruangan, Qing Long yang melihat mereka datang segera memerintahkan anak buahnya untuk menutup pintu.

Zhang Wenhu mengetuk pintu dengan tidak sabar. Begitu pintu dibuka, ia langsung memaki, "Kenapa lama sekali? Di mana orangnya?"

Qing Long menjawab dengan tenang, "Orangnya ada di ruangan dalam, dia sangat penurut."

Zhang Wenhu mengangguk dan berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Namun, Zhang Lanzhi mengerutkan kening. "Kapan kalian datang? Kenapa aku belum pernah melihat kalian sebelumnya?"

Qing Long menjawab cepat, "Kami baru saja ganti sif. Sebaiknya kau segera periksa Liang Mei, dia sepertinya ingin bunuh diri, terus-menerus membenturkan kepalanya ke dinding."

Mendengar itu, Zhang Lanzhi segera bergegas masuk dengan perasaan cemas.