Bab Sembilan Puluh: Lambang Kepala Keluarga
Setelah itu, keduanya tiba di kediaman keluarga Liu. Namun kali ini, seluruh anggota keluarga dipenuhi kemarahan yang mendalam. Satu per satu memandang Liu Yanmei dan Li Chenfeng dengan tatapan penuh amarah.
Liu Yanmei menyadari kesalahannya dan tidak berani menatap mereka secara langsung.
Liu Tiannan membentak, “Berani-beraninya kau kembali ke sini?”
“Aku hanya ingin melihat ayah!” jawab Liu Yanmei lirih.
“Melihat ayah? Jika bukan karena keputusanmu yang gegabah, apakah ayah akan bunuh diri? Kau masih punya muka untuk kembali? Kau adalah penyebab kematian ayah!” teriak Liu Tiannan lagi.
Tak diragukan lagi, pada saat itu, setelah Liu Tiannan menghasut, seluruh keluarga Liu menatap Liu Yanmei dengan kebencian yang meluap. Dendam pun menyebar dengan cepat.
Perlu diketahui, keluarga Liu tidak mungkin berkembang sampai sekarang tanpa para ahli. Para ahli itu satu per satu mengumbar tekanan aura mereka. Liu Yanmei merasa sangat tertekan.
Namun Li Chenfeng membentak, “Jangan lancang!”
Suara beratnya menggema dan seketika membuat semua orang mundur, menatap Li Chenfeng dengan penuh kewaspadaan.
Kekuatan Li Chenfeng terlalu besar. Seorang diri saja sudah bisa memaksa mundur semua orang. Mereka semua terkejut oleh kekuatannya.
Saat itu, Li Chenfeng berkata, “Dia tidak bersalah sedikit pun. Justru kalian, keluarga Liu, tidak punya harga diri. Kalian bahkan mengorbankan seorang wanita demi kepentingan keluarga. Aku sungguh meremehkan kalian!”
“Kau punya hak apa menilai keluarga kami? Kau adalah biang keladi yang menindas keluarga Liu!” balas Liu Tiannan.
“Dengarkan perintahku! Hari ini, meski harus mati, kita tetap akan membasmi pendosa ini!” seru Liu Tiannan lagi.
Seketika, seluruh keluarga Liu mulai bergerak. Karena pengaruh Liu Tiannan terlalu kuat, situasi menjadi gawat. Melihat hal itu, Li Chenfeng segera bertindak. Ia mengayunkan satu telapak tangan dan membuat Liu Tiannan terpental. Semua orang terintimidasi oleh kehadirannya. Meski semangat mereka menggelora, mereka sadar bahwa hidup adalah segalanya.
Ketika nyawa terancam, mereka tidak berani bertindak gegabah.
Lalu Li Chenfeng berkata, “Aku tidak datang untuk berkelahi. Kematian kepala keluarga belum tentu sesederhana yang terlihat!”
Mendengar ini, Liu Tiannan membentak, “Sudah sampai begini, kau masih saja mencurigai hubungan keluarga kami! Tak punya hati nurani kah kau?”
Jelas sekali, pada saat itu Liu Tiannan sangat marah, namun justru itulah yang ingin diuji Li Chenfeng.
Semakin gelisah Liu Tiannan, semakin jelas sikapnya.
Li Chenfeng berkata, “Aku ingin membuka peti dan memeriksa jasadnya!”
“Berani-beraninya kau!” Liu Tiannan dan beberapa petinggi keluarga langsung maju, menghalangi Li Chenfeng.
Liu Yanmei berkata pada Li Chenfeng, “Sudahlah. Biarkan ayah beristirahat dengan tenang.”
Liu Yanmei sangat menyesal. Ia tahu, jika saja ia tidak pergi, mungkin ayahnya tidak akan mati. Namun ia juga tidak rela, jika tak bisa menentukan nasibnya sendiri, apa lagi makna hidup?
Baginya, ia hanya ingin sekali saja melawan takdir, tanpa maksud lain.
Tak diduga, hal itu membawa petaka sebesar ini.
Li Chenfeng berkata padanya, “Percayalah padaku, semuanya tidak sesederhana yang kau lihat!”
“Maksudmu, kematian ayahku ada yang janggal?” tanya Liu Yanmei.
“Benar, sangat janggal. Tidakkah kau sadari, begitu kusarankan memeriksa jasad, Liu Tiannan dan yang lain langsung resah? Jelas mereka menyimpan sesuatu,” jawab Li Chenfeng.
Liu Yanmei berpikir sejenak, lalu berkata, “Baik, aku percaya padamu.”
Saat itu, Liu Yanmei maju dan berkata, “Aku curiga kematian ayahku tidak wajar. Karena itu, kami akan memeriksa jasadnya!”
“Kau masih punya muka bicara? Kau tak layak melihat ayah!” bentak Liu Tiannan. “Lagi pula, jasad ayah sudah diperiksa bersama para tetua. Apa kau kira kami akan memalsukan hasilnya?”
Banyak anggota keluarga Liu merasa tidak mungkin. Mereka yakin Liu Yanmei hanya mencari-cari alasan. Maka mereka pun menolak.
Mereka berdiri tegak menghalangi jalan Li Chenfeng.
Liu Yanmei berkata, “Kalau memang tak ada masalah, kenapa kalian melarang kami memeriksa?”
“Aku sudah bilang, kau tak layak!” jawab Liu Tiannan dingin.
Liu Yanmei berkata tegas, “Layak atau tidak bukan kau yang menentukan. Aku tanya padamu, apa sekarang kau kepala keluarga?”
“Tentu saja bukan. Ayah baru saja meninggal, kau sudah mengincar posisi kepala keluarga. Apa maksudmu? Kau masih punya muka untuk mewarisinya? Kau kira keluarga Liu akan tunduk padamu?” balas Liu Tiannan.
“Kalau bukan kau kepala keluarga, berarti kau tak punya hak menghalangiku!” Liu Yanmei menjawab sinis.
“Kalau kami?” Tiga tetua muncul, berdiri di samping Liu Tiannan. Tak diragukan lagi, selain kepala keluarga, merekalah yang paling berkuasa.
Liu Yanmei berkata, “Kalian juga tidak!”
Ketiganya langsung murka, namun saat itu Liu Yanmei mengeluarkan sebuah lencana. Seketika, semua orang terdiam.
Benar, mereka terkejut. Tak menyangka Liu Yanmei memegang lencana kepala keluarga. Lencana itu baru diberikan ayahnya kemarin. Saat itu, Liu Yanmei pun tidak tahu mengapa ayahnya memberikannya.
Kini ia sadar, ayahnya mungkin sudah mengetahui apa yang akan terjadi, sehingga itu adalah pertemuan terakhir mereka. Waktu itu ayahnya tampak sangat sedih.
Dulu Liu Yanmei tidak mengerti, kini semuanya telah jelas baginya.
Di saat seperti ini, hatinya terasa makin perih.
Melihat lencana itu, wajah Liu Tiannan dan para tetua seketika berubah. Mereka tidak menyangka Liu Yanmei memegang lencana kepala keluarga.
“Aku punya lencana kepala keluarga. Sekarang akulah pemimpin keluarga Liu. Segala tindakanku, kalian tak berhak menghalangi!” kata Liu Yanmei.
Tak diragukan lagi, lencana kepala keluarga memang sangat berwibawa. Ketika Liu Yanmei memperlihatkannya, wajah mereka semua langsung berubah.
Liu Tiannan berseru, “Ayah pasti tidak menyerahkan lencana itu padamu! Itu palsu, jangan dengarkan hasutannya!”
Namun Liu Yanmei menjawab, “Semua orang di sini tahu kebenarannya. Tak perlu kau cari-cari alasan!”
“Sekarang aku tanya, adakah yang masih ingin menghalangi?” hardik Liu Yanmei.
Dalam hati, anggota keluarga Liu sangat bimbang. Mereka lebih condong pada Liu Tiannan, namun aturan keluarga jelas: semua harus patuh pada kepala keluarga. Itu sudah menjadi tradisi yang tak pernah dilanggar.
Jelas sekali, ini pilihan yang sulit.
Akhirnya mereka memilih mundur perlahan. Meski mereka memihak Liu Tiannan, namun posisi Liu Tiannan tidak setinggi Liu Yidao. Jika Liu Yidao sendiri yang menyerahkan lencana pada Liu Yanmei, mereka harus tunduk pada keputusan kepala keluarga lama. Dengan demikian, Liu Yanmei menang.
Tiga tetua dan Liu Tiannan pun pucat pasi. Mereka tak menyangka hasilnya seperti ini.
Li Chenfeng berkata kepada mereka, “Jika kalian masih berani menghalangi, jangan salahkan aku bertindak tegas. Jangan paksa aku melampaui batas!”
“Kalian tak akan sanggup menanggung akibatnya!”
Kekuatan Li Chenfeng terlalu besar. Sebagai ahli tingkat raja, kekuatan tiga tetua dan Liu Tiannan jauh di bawahnya.
Di saat seperti ini, mereka benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Li Chenfeng segera melangkah maju. Mereka ingin menghalangi, namun tetap saja tak berani. Menghalangi seorang ahli tingkat raja jelas tindakan bunuh diri.
Liu Tiannan berseru, “Kalau ternyata tak ada apa-apa, apa yang kau lakukan?”
Liu Yanmei menukas, “Jika benar ayah bunuh diri, aku akan melepaskan posisi kepala keluarga!”
Mendengar itu, semua orang terkejut. Meski keluarga Liu sudah menurun, namun bagaimanapun kekuasaan itu tetap besar. Tak disangka Liu Yanmei berani bertaruh seperti itu.
Li Chenfeng tahu, keputusan Liu Yanmei itu menandakan ia benar-benar mempercayainya. Maka ia pun tak berkata apa-apa lagi, ia yakin akan menemukan petunjuk.
Kecuali memang Liu Yidao benar-benar bunuh diri.
Liu Tiannan membentak, “Baik, itu ucapanmu sendiri. Kuharap kau menepatinya!”
Di saat itu, Liu Tiannan tampak sangat percaya diri. Li Chenfeng pun bisa menangkap satu petunjuk: Liu Tiannan telah menyembunyikan segalanya dengan sangat rapi.
Jadi, jika tidak teliti, mencari bukti akan sangat sulit.