Bab Sembilan Puluh Lima: Nasib Sial Shangguan Mo
Keluarga Shangguan saat itu tengah dipenuhi banyak orang, sebab semua yang hadir adalah kekuatan-kekuatan yang diundang secara khusus oleh keluarga tersebut. Wan Rou dan Tang Peng sendiri tidak ditahan di sana.
Keluarga Gao dan banyak keluarga besar lainnya juga hadir, semuanya datang sebagai tamu undangan. Sebenarnya, tujuan keluarga Shangguan sangat sederhana: mereka ingin para tamu ini menyaksikan langsung kedahsyatan dan kekuatan keluarga Shangguan, agar ke depannya tidak ada yang berani menentang keinginan mereka.
Sebagai keluarga nomor satu di Provinsi Linjiang, martabat keluarga Shangguan sempat tergerus oleh tantangan Li Chenfeng dan perlawanan keluarga Liu. Bahkan, banyak orang di luar mulai membicarakan, apakah keluarga Shangguan hanya harimau kertas—berulang kali diprovokasi oleh Li Chenfeng tanpa pernah membalas. Jika hal ini terus berlanjut, kepercayaan terhadap keluarga Shangguan pasti akan goyah.
Di tengah suasana itu, Shangguan Lieyun berkata, “Selamat datang di kediaman kami. Beberapa hari ke depan, kalian akan disuguhi pertunjukan yang luar biasa!”
“Keluarga kami akan kedatangan tamu istimewa!”
Para tamu pun serentak menyambut, tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Keluarga Shangguan sudah berakar kuat—kali ini, jelas mereka ingin menunjukkan taringnya, memberi peringatan kepada siapa pun yang berani menantang.
Tak lama berselang, Liu Tianxing pun tiba.
Melihat kedatangan Liu Tianxing, semua orang tahu bahwa pertunjukan sesungguhnya akan segera dimulai—hanya saja mereka tidak menyangka, Liu Tianxing menjadi tamu pertama yang hadir.
Liu Tianxing segera menyapa, “Saya, Liu Tianxing, Kepala Keluarga Liu, memberi hormat pada Kepala Keluarga Shangguan.”
Semua tahu, keluarga Liu baru saja kehilangan pemimpinnya, Liu Yidao, akibat pengkhianatan Liu Tiannan. Tak disangka, kini Liu Tianxing memimpin keluarga itu. Meski suasana begitu menekan, Liu Tianxing tetap berdiri tanpa gentar.
Shangguan Lieyun lalu bertanya, “Mengapa kau datang sendirian?”
“Mereka akan segera menyusul. Hanya saja sebelum kemari, mereka masih harus menyelesaikan urusan penting,” jawab Liu Tianxing dengan senyuman.
“Silakan duduk,” ujar Shangguan Lieyun.
Saat itu, Shangguan Wenqing sangat ingin meluapkan amarah, tapi ia dihentikan oleh Shangguan Lieyun.
***
Shangguan Mo tengah menggerakkan kekuatan rahasia untuk mengepung kediaman keluarga mereka. Hari itu, keluarga Shangguan ingin memastikan Li Chenfeng dan kawan-kawannya tak bisa lolos.
“Cepat!” bentak Shangguan Mo dengan tak sabar.
Waktu semakin mendesak, ia harus menyelesaikan semua persiapan sebelum Li Chenfeng tiba. Pasukan khusus pun segera bergerak, menempati setiap titik pertahanan. Shangguan Mo menghela napas lega, lalu bersiap berbalik pergi. Namun, saat berbalik, ia terkejut melihat Li Chenfeng berdiri tenang di hadapannya.
Ini bukan kali pertama mereka bertemu dalam pertarungan. Sejak menyaksikan kekuatan luar biasa Li Chenfeng sebelumnya, Shangguan Mo telah menyimpan rasa takut terhadapnya. Tak disangka, Li Chenfeng kini muncul di tempat yang seharusnya mustahil ia temui.
Refleks, ia ingin berbalik dan melarikan diri, lalu menghubungi pasukan khusus. Namun, saat ia mulai lari, sebuah kekuatan dahsyat menghantam. Long San, yang selama ini bersembunyi, tiba-tiba menyerang. Dalam satu gebrakan saja, Shangguan Mo terlempar ke belakang. Ia tak menyangka, Li Chenfeng ternyata membawa pengawal sekuat itu.
Namun, itu belum selesai. Saat ia hendak kembali melarikan diri, Long Yi muncul.
“Minggir!” hardik Shangguan Mo.
Long Yi hanya tersenyum meremehkan.
Shangguan Mo mengerahkan seluruh kekuatannya, berusaha keluar dari kepungan. Sayangnya, Long Yi bergerak jauh lebih cepat, menghantam Shangguan Mo hingga terlempar. Ketika Shangguan Mo baru saja bangkit, Long Si telah menempelkan pisau ke lehernya.
Tubuh Shangguan Mo bergetar ketakutan.
Tak disangka, di sisi Li Chenfeng ada begitu banyak ahli. Menurutnya, kekuatan Long Yi bahkan setara dengan kepala keluarga. Dari tiga ahli yang muncul, tak satu pun sanggup dia lawan.
Barulah ia sadar, Li Chenfeng bukanlah orang yang bisa diremehkan.
“Kakak, perlu kubunuh saja dia?” tanya Long Si.
Ucapan itu hampir membuat Shangguan Mo mati ketakutan. Li Chenfeng berkata, “Untuk sementara, jangan.”
Li Chenfeng lalu melangkah ke hadapan Shangguan Mo. Kini tubuh Shangguan Mo penuh luka akibat hantaman tadi.
Li Chenfeng bertanya, “Di mana kalian menahan Wan Rou dan Tang Peng?”
“Aku tidak tahu!” jawab Shangguan Mo tegas.
“Begitukah?”
Terdengar suara tulang patah—Long Yi mematahkan lengan Shangguan Mo.
Shangguan Mo menjerit kesakitan.
Suara gaduh itu cukup besar, tapi anehnya, pasukan khusus yang telah dipersiapkan sama sekali tak menampakkan diri. Ada apa gerangan? Seharusnya, mereka sudah muncul.
Li Chenfeng kembali bertanya, “Kau pasti penasaran kenapa pasukanmu belum juga datang menolongmu, bukan?”
Shangguan Mo hanya mendengus dingin.
Li Chenfeng berkata, “Sayang sekali, pasukan khususmu sudah habis tak bersisa.”
“Ketua, semua sudah beres!” Long Er muncul, tubuhnya berlumuran darah—yang jelas bukan miliknya, melainkan darah pasukan khusus.
Melihat itu, Shangguan Mo ingin menghubungi keluarga Shangguan, tapi kini ia sudah tak berdaya.
***
Tak lama kemudian, Liu Yanmei juga hadir di pertemuan keluarga Shangguan. Namun, tokoh penting yang dinanti belum juga tiba. Shangguan Wenqing, yang mulai tak sabar, bertanya, “Anak itu masih berani datang, tidak?”
“Tentu saja dia berani. Bukankah dia adalah bintang utama kalian hari ini?” sahut Liu Yanmei sambil tersenyum.
“Jangan main curang! Kalau memang laki-laki, hadapilah secara jantan!” bentak Shangguan Wenqing.
“Kalau bicara soal tipu muslihat, kalian jauh lebih hebat. Berani-beraninya menculik wakil kepala dan putrinya!” balas Liu Yanmei.
Ucapan itu sontak mengejutkan semua tamu. Tak disangka, keluarga Shangguan berani bertindak terang-terangan. Padahal, selama ini ada aturan tak tertulis: pihak gelap tak boleh mengusik pihak terang.
Keluarga Shangguan benar-benar telah menanggalkan segala kepura-puraan!
Shangguan Wenqing membantah, “Jangan mengada-ada! Musuh keluarga kami hanya anak itu!”
Sementara itu, Shangguan Lieyun tetap duduk tenang di kursi kepala keluarga. Menurutnya, tak perlu banyak penjelasan—pemenanglah yang akan menentukan segalanya.
Setengah jam berlalu, Li Chenfeng belum juga muncul. Bahkan Shangguan Lieyun mulai kehilangan kesabaran, lalu memerintahkan Shangguan Wenqing untuk menghubungi Shangguan Mo.
Namun, tak ada jawaban. Shangguan Wenqing pucat, sedangkan Shangguan Lieyun tampak ragu.
Akhirnya, Shangguan Lieyun memerintahkan Shangguan Wenqing, “Lakukan!”
Orang-orang keluarga Shangguan pun bersiap menyerang Liu Tianxing dan Liu Yanmei. Para tamu lain mulai panik, tubuh mereka gemetar, hanya kepala keluarga Gao, Gao Yunfan, yang tampak tetap tenang.
Pada saat itulah, beberapa penjaga keluarga Shangguan terlempar masuk dari luar, meraung kesakitan di lantai. Semua orang terkejut.
Tak lama, Li Chenfeng pun datang.
Kehadirannya menandakan pertarungan besar hari itu segera dimulai. Apakah Li Chenfeng akan membalikkan keadaan, atau justru posisi keluarga Shangguan akan semakin kokoh?
Semua penuh ketidakpastian. Dulu, mungkin mereka tidak akan melirik Li Chenfeng. Namun kini, setelah keluarga Shangguan begitu mewaspadainya, barulah mereka sadar, Li Chenfeng bukan orang sembarangan. Bahkan, kekuatannya tampak mampu menggoyang keluarga Shangguan.
Shangguan Lieyun berkata, “Akhirnya kau datang juga!”
“Maaf, di perjalanan aku harus membereskan beberapa semut, jadi agak terlambat,” jawab Li Chenfeng.
“Anak muda, di mana pamanku?” hardik Shangguan Wenqing pada Li Chenfeng. Shangguan Mo tak bisa dihubungi, ini pertanda bahaya.
Li Chenfeng menjawab, “Bagaimana aku tahu? Mungkin kau salah tanya orang.”
“Huh! Pamanku mendadak tak bisa dihubungi. Jangan bilang kau tak ada kaitannya!” bentak Shangguan Wenqing.
Li Chenfeng membalas, “Kalau begitu, aku juga tak bisa menghubungi wakil kepala. Apa itu artinya keluargamu juga terlibat dalam hilangnya dia?”
Dihadapkan dengan pertanyaan balik itu, Shangguan Wenqing terdiam. Hanya Shangguan Lieyun yang mengerti, Li Chenfeng ingin menukar Shangguan Mo dengan Tang Peng dan putrinya.
Untuk itu, Shangguan Lieyun berkata, “Menarik sekali. Tak kusangka, di tengah jebakan kami, kau masih bisa membalikkan keadaan. Harus kuakui, aku memang meremehkanmu.”