Bab 51 Ternyata Kenalan Lama
Saat berpapasan, gadis muda di bawah terpaan atap rumah sedikit memiringkan tubuhnya, dan ketiganya tidak melakukan kontak mata.
Setelah susah payah membereskan dagangannya, Qiu Xiuying akhirnya bisa duduk dan menarik napas lega.
Namun, hujan di luar semakin deras.
Melihat area di bawah atap tidak lagi mampu menahan derasnya air hujan.
Ia berniat bangkit untuk memanggil gadis di luar agar masuk dan berteduh sejenak.
Tanpa diduga, seseorang telah melangkah keluar mendahuluinya.
"Hujannya deras, sudut dinding itu sebentar lagi pasti basah terkena tampias, masuklah untuk berteduh sebentar!"
Qiu Xiuying membelalakkan matanya, mengira dirinya salah dengar.
Apakah ini benar-benar kakak laki-lakinya yang kaku dan pendiam itu?
Ia mencoba mengingat kembali beberapa pemandangan yang sekilas dilihatnya tadi tanpa sengaja.
Ia yakin gadis muda itu memiliki tubuh yang mungil dan molek, dengan tinggi sekitar 160 sentimeter, dan wajah yang tergolong cukup manis.
Mungkinkah kakaknya sebenarnya menyukai tipe gadis seperti ini?
Normalnya, menghadapi kebaikan seperti itu, orang asing pun pasti akan masuk untuk berteduh.
Namun hari ini justru di luar dugaan, gadis yang berteduh di bawah atap itu sama sekali tidak bersuara dan enggan masuk.
Sementara kakak sulungnya, Qiu Zhiying, berdiri di ambang pintu dengan wajah muram, ujung sepatunya basah terkena tampias hujan, dan ia pun tetap bergeming.
Qiu Xiuying menghela napas, kakak lelakinya yang bodoh ini!
Dengan tinggi badan lebih dari 180 sentimeter, berwajah tampan dan tegap, tapi sungguh sia-sia memiliki mulut.
Ia melangkah cepat menuju pintu gudang, lalu menarik kakak lelakinya yang bodoh itu masuk ke dalam ruangan.
Kemudian ia melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah gadis di bawah atap tak jauh dari sana.
"Kak, silakan masuk ke mari untuk berteduh!"
"Bukannya apa-apa, kehujanan itu mudah membuat orang masuk angin, lagipula barang dagangan kalau basah jadi susah dijual!"
Menyerang titik terlemah, Qiu Xiuying sangat jitu dalam bertindak.
Benar saja, setelah ragu-ragu selama kurang dari satu menit, disusul suara sambaran petir di langit, gadis itu ketakutan dan bergegas masuk ke dalam ruangan dalam sekejap.
Tak lama kemudian, hujan lebat mengguyur bumi tanpa ampun.
Qiu Xiuying yang masuk paling belakang dengan sigap dan cepat menutup pintu di belakangnya.
Bahkan suara deru hujan yang bising pun ikut terkurung di luar pintu.
Di tengah cuaca badai petir yang datang tiba-tiba ini, ruang gudang yang remang-remang dan sempit itu terasa kering dan hangat.
Jarak antara satu orang dengan yang lainnya pun terasa semakin dekat.
Qiu Xiuying melirik bangku yang berdebu di sudut ruangan dan memberi isyarat dengan matanya kepada sang kakak.
Qiu Zhiying ternyata tidak sepenuhnya bodoh, ia berjalan dalam diam dan mengeluarkan sebuah bangku lainnya.
Ia mengelapnya hingga bersih menggunakan lap sebelum membawanya ke sini.
Qiu Xiuying berkata sambil tersenyum manis, "Kak, silakan duduk sebentar!"
Melihat situasi ini, hujan di luar sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Gadis itu berjalan ke dekat jendela, menjulurkan lehernya untuk melihat ke luar, keningnya sedikit mengerut sementara ia bergumam pelan.
"Aduh, kenapa tiba-tiba hujan turun begitu deras!"
"Entah apakah jembatan itu akan terendam lagi..."
Sejak awal hingga masuk ke dalam ruangan, gadis itu tidak pernah menatap lurus ke arah Qiu Zhiying sekali pun, tetapi ia justru bersikap cukup ramah kepadanya.
Pasti ada sesuatu!
Di antara kedua orang ini, pasti ada sesuatu yang tersembunyi!
Qiu Xiuying mengangkat alisnya memandang ke arah Qiu Zhiying dengan tatapan penuh tanya.
Sang kakak menatapnya dengan kikuk, mengusap hidungnya yang seolah-olah terkena debu tak kasat mata, lalu berjalan ke sudut dan berjongkok dalam diam.
Heh! Sungguh memalukan!
Gadis itu meletakkan keranjang punggungnya di dekat jendela, lalu berjongkok dan meraba sebuah kantong pusaka kecil dari dalam keranjang.
Sekilas terlihat bahwa kantong itu dijahit dengan tangan, di sulam dengan seuntai kecil buah ceri di atasnya.
Begitu melihat pola sulaman itu, pipi Qiu Xiuying terasa ngilu.
Sulamannya sangat rapi, sangat mirip!
Tak disangka, gadis itu kemudian berdiri dan menyodorkan kantong kecil tersebut ke tangannya sambil tersenyum tipis.
"Hari ini terburu-buru keluar, Kakak Qian tidak membawa barang lain."
"Ini buah ceri yang dipetikkan adikku kemarin petang, manis sekali!"
"Mumpung hujan dan tidak ada kerjaan, Xiuxiu makanlah untuk cemilan!"
Qiu Xiuying menerima buah ceri di tangannya dengan bingung, seketika terpaku.
Gadis ini bukan saja mengenal kakaknya, bagaimana ia juga bisa mengenal dirinya?
Kenapa di dalam ingatannya sama sekali tidak ada kesan tentang orang ini?
Mungkinkah teman sekelas kakaknya? Bukan, dari usianya saja sudah tidak cocok.
Kakak kandungnya itu setidaknya dua atau tiga tahun lebih tua dari gadis ini, tidak mungkin mereka teman sekelas!
Ia mengingat kembali kata-kata kunci dari ucapan lawan bicara tadi: jembatan, Kakak Qian, adik laki-laki, sulaman yang bagus!
Ia mulai memindai ingatannya dengan cepat, dan akhirnya berhasil mencocokkannya dengan seseorang.
Lebih dari dua tahun yang lalu, Mak Comblang Wang yang terkenal di sekitar sini pernah memperkenalkan seorang calon jodoh untuk kakaknya, pihak wanita sepertinya bernama Xu Qian.
Xu Qian adalah penduduk Desa Xujia, berpenampilan menarik dan pandai menyulam.
Hanya saja ia berbadan lemah sejak kecil, dan keluarganya masih memiliki seorang adik laki-laki yang usianya 10 tahun lebih muda.
Antara Desa Xujia dan Desa Xiaohe terbentang sebuah sungai, ya, sungai yang sama tempat ia pernah hampir tenggelam dulu.
Penduduk Desa Xujia, jika ingin pergi ke pasar Pekan Qingshan, harus melewati Desa Xiaohe.
Sungai di antara kedua desa itu tidak begitu lebar, tetapi arusnya dalam dan deras.
Di atas sungai hanya ada sebuah jembatan lengkung batu yang usianya sudah ratusan tahun.
Jembatan kuno ini sangat kokoh!
Hanya saja setiap kali hujan deras turun, jembatan kuno tersebut selalu terendam air bah dan tenggelam ke dasar sungai.
Hanya setelah hujan reda dan banjir surut, jembatan kuno itu akan muncul kembali ke permukaan air agar penduduk kedua desa bisa lewat.
Qiu Xiuying ingat, saat itu orang tua dan kakaknya bahkan sempat pergi melayat ke rumah pihak wanita bersama mak comblang.
Hanya saja entah bagaimana setelah itu, kedua keluarga tersebut kehilangan kontak.
Saat itu ia sedang tenggelam dalam kekecewaan karena gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi.
Selain itu usianya masih muda dan ia adalah seorang gadis, jadi ia tidak begitu memerhatikan urusan perjodohan kakaknya ini.
Kini jika dipikir-pikir kembali, di antara keduanya mungkin terdapat penyesalan atau kesalahpahaman, bukannya mereka tidak saling cocok.
Ketika ia kembali sadar dari lamunannya, Xu Qian sudah menarik bangku dan duduk di dekat jendela.
Memanfaatkan cahaya yang masuk dari luar jendela, ia melanjutkan menyulam alas sepatu.
Gerakannya lincah, matanya jernih dan bersinar, sungguh sebuah pemandangan yang tenang dan anggun.
Sebaliknya, sang kakak Qiu Zhiying malah berjongkok di sudut ruangan dengan lesu, menunduk termenung menatap permukaan sepatunya sendiri.
Entah apa yang menarik dari permukaan sepatu yang setengah lembap itu hingga harus terus dipandangi.
Qiu Xiuying berpikir sejenak, sebelum mencari tahu kebenarannya secara jelas, ia tidak boleh bertindak gegabah.
Jangan sampai niat baik justru berbuah malapetaka.
Menjelang tengah hari, hujan lebat masih terus mengguyur, tetapi manusia tetap harus makan.
Bola matanya berputar, dan sebuah ide pun muncul di kepalanya.
Qiu Xiuying membawa bangkunya, merebut sudut tempat kakaknya tadi, lalu duduk di sana dan mulai menikmati buah ceri perlahan-lahan.
Kemudian ia mendorong kakaknya dengan lembut.
"Kak, bukankah kita membawa ubi?"
"Ini sudah tengah hari, Kakak Qian pasti lapar, berikan dua untuknya sana!"
Sambil berbicara, ia mengedipkan sebelah mata kepada kakaknya.
Qiu Zhiying langsung paham seketika, wajahnya yang gelap seketika berubah menjadi merah padam.
Ia mengusap telinganya, perlahan bangkit berdiri, mengambil sebuah kotak makan aluminium, lalu berjalan menuju jendela dengan langkah kaki yang kaku dan canggung.
"Qianqian, ... apakah kamu lapar?"
"Tidak lapar, simpan saja untuk kalian makan sendiri."
Xu Qian menjawab tanpa mengangkat kepalanya.
Sang kakak menoleh ke belakang dengan ekspresi tanpa daya.
Ia memutar tubuhnya dalam diam, menghadap ke sudut dinding, hanya menyisakan punggungnya untuk dua orang di dekat jendela itu.
Urusan sendiri, selesaikan sendiri!