Bab Seratus Dua Puluh Sembilan: Pagi Hari Wu Xiaoyu
“ Kak Wan, kenapa kemarin tidak masuk kerja?” tanya seseorang dengan penuh perhatian.
Tang Wan mendengus pelan. “Aku sedang tidak enak badan. Memangnya aku tidak boleh mengambil cuti sehari?”
Zhang Yifan datang dari luar. Begitu melihat Guo Xiao, ia segera menghampirinya.
Guo Xiao menoleh dan terkejut. Wajah Zhang Yifan tampak agak pucat, sementara lingkaran hitam terlihat jelas di sekitar matanya.
“Direktur Zhang, jangan-jangan kau tidak tidur semalaman?”
Zhang Yifan menjawab dengan acuh tak acuh, “Film sebagus ini belum bisa segera diperkenalkan kepada publik, membuatku tidak tenang. Jadi, aku dan orang-orang di bawahku mengeditnya semalaman hingga selesai.”
“Setelah semua urusan selesai, kau tetap harus beristirahat,” ujar Guo Xiao dengan suara berat.
“Hehe, baiklah. Bos, mau melihat hasil jadinya? Dijamin akan membuat mata kalian terbelalak!” kata Zhang Yifan dengan percaya diri.
“Baik. Tampilkan di layar besar, biar semua orang melihatnya,” kata Guo Xiao sambil mengangguk penuh minat. Ia sendiri belum pernah membuat video musik, sehingga sangat penasaran seperti apa hasilnya.
Zhang Yifan mengutak-atik komputer selama beberapa saat, lalu menayangkannya ke layar besar.
Tak lama kemudian, video musik “Dongeng” mulai diputar.
Pada adegan pertama, tampak seorang pria murung muncul di atas panggung. Panggung itu sangat luas, tetapi hanya ada dirinya seorang diri. Ia terlihat begitu kesepian dan sedih.
Ketika membungkuk, samar-samar semua orang seolah mendengar suara-suara penyemangat.
Namun, sebagian besar orang tidak memperhatikannya.
Mereka bahkan mengira Direktur Zhang belum membersihkan seluruh suara dalam proses penyuntingan.
“Apakah dia suami Su Muya?”
“Wah, tampan sekali. Sama sekali tidak kalah dari para aktor pria di film dan televisi.”
“Aura di tubuhnya juga begitu memikat. Kenapa jantungku berdebar-debar, ya?”
Beberapa gadis muda berseru kagum. Sambil menatap Guo Xiao di layar, pipi mereka bersemu merah.
Su Muya diam-diam melirik Guo Xiao.
Guo Xiao menoleh dan tersenyum penuh kemenangan.
“Dasar menyebalkan, bisanya cuma pamer ketampanan. Tapi… dia memang lumayan tampan.”
Su Muya mendengus pelan, tetapi jauh di dalam matanya tampak cahaya kebahagiaan.
Tak lama kemudian, melodi mulai mengalun. Semua orang pun menikmati video musik itu diiringi lagu “Dongeng”.
Hingga akhirnya, suara Su Muya terdengar di tengah layar yang kosong.
“Ketika seluruh dunia mengabaikanku, hanya kaulah yang tidak boleh melakukannya…”
Setelah itu, video musik tersebut pun berakhir.
“Sudah selesai?”
“Kenapa akhirnya seperti ini?”
Semua orang tampak kehilangan dan kecewa, wajah mereka dipenuhi kesedihan.
Banyak gadis muda bahkan tak mampu menahan tangis. Aula itu sama sekali tidak riuh; yang terdengar hanyalah isak tangis mereka.
Bahkan mata beberapa pria pun dipenuhi air mata.
Tang Wan baru pertama kali menonton video musik tersebut. Baru setengah jalan, ia sudah tak kuasa menahan tangis.
Saat melihat bagian akhirnya, ia bahkan menangis tersedu-sedu hingga sulit bersuara.
Su Muya menghampirinya, lalu merangkul Tang Wan dengan lembut sambil menghiburnya dengan suara lirih.
Tang Wan mendongak dan berkata sambil menangis, “Muya, saat melihat adegan ketika kau didorong masuk ke ruang gawat darurat, aku benar-benar ketakutan. Hiks… syukurlah kau masih di sini.”
Su Muya berkata dengan lembut, “Bodoh, aku selalu ada di sini.”
Orang-orang lain juga memandang Su Muya, seolah takut ia benar-benar akan menghilang.
Zhang Yifan mengusap hidungnya dan berkata dengan penuh haru, “Sebanyak apa pun menontonnya, aku tetap tidak bisa menahan perasaan ini. Bos, akting mereka benar-benar luar biasa!”
Guo Xiao mengangguk. “Kalau begitu, luncurkan hari ini juga. Bagian pemasaran dan periklanan harus mempromosikannya habis-habisan.”
“Baik, serahkan kepada kami.”
Wu Xiaoyu terbangun seperti biasa. Ia membuka ponselnya dan memutar lagu-lagu Penyesalan.
Ia adalah salah satu penggemar Penyesalan, bahkan pernah memberinya hadiah virtual senilai beberapa ribu yuan di ruang siaran langsung.
Sambil mendengarkan lagu, ia mencuci muka dan menyikat gigi dengan cekatan, sarapan, lalu meninggalkan rumah dan menaiki bus menuju kantornya.
Bus itu hampir penuh. Isinya para pekerja kantoran yang hendak berangkat kerja.
Wu Xiaoyu duduk di kursi bagian belakang. Sambil mendengarkan musik, ia menjelajahi internet.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.
Mata Wu Xiaoyu langsung berbinar. Itu adalah nada pemberitahuan khusus dari akun media sosial Penyesalan yang ia ikuti secara khusus.
Ia segera membuka media sosialnya dan melihat sebuah unggahan dari Penyesalan.
“Ini lagu baruku, lengkap dengan video musiknya. Silakan kalian nikmati bersama.”
“Lagu baru?”
Wu Xiaoyu tertawa bahagia. Dalam rutinitas kerja yang membosankan dari hari ke hari, lagu-lagu Penyesalan selalu memberinya kekuatan besar.
Ia bahkan belum bosan mendengarkan lagu-lagu sebelumnya. Tak disangka, kini ia sudah merilis lagu baru lagi.
Bagaimana mungkin ia tidak gembira memiliki idola yang begitu rajin berkarya?
Ia segera mengikuti tautan dari Penyesalan, membuka pemutar video, lalu mulai menonton video musik tersebut.
“Eh, siapa pria ini? Tampan sekali!”
“Wah, pemeran wanitanya ternyata Kak Su Muya!”
Wu Xiaoyu hampir melompat kegirangan. Idola favoritnya adalah Penyesalan, sedangkan penyanyi wanita idolanya adalah Su Muya.
Mendengarkan lagu Penyesalan sambil menonton video musik Su Muya—adakah hal yang lebih membahagiakan daripada itu?
“Benar-benar ‘Dongeng’. Sepertinya ini kisah cinta yang indah.”
Wu Xiaoyu menontonnya dengan gembira. Namun, seiring video itu berjalan, senyum di wajahnya perlahan memudar. Setitik air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Tak lama kemudian, air mata itu mengalir. Ia terus menyekanya dengan tisu, tetapi tidak mampu menghentikannya.
Begitu video musik itu selesai, ia tak sanggup lagi menahan kesedihan di dalam hatinya dan tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
Orang-orang di dalam bus memandangnya dengan heran. Mereka tidak mengerti mengapa ia menangis hanya karena menatap ponselnya.
Saat semua orang masih kebingungan, tiba-tiba terdengar tangisan keras dari sisi lain bus.
Ternyata seorang gadis muda lain juga sedang menangis. Sama seperti Wu Xiaoyu, ia mengenakan earphone dan menatap ponselnya.
“Kalian tidak apa-apa?”
“Nona, kalian baik-baik saja?”
Para penumpang bus bergegas menghampiri dan bertanya dengan penuh perhatian.
“Maaf, maaf. Aku sedang menonton video, lalu merasa sangat sedih dan tidak bisa menahan diri. Maaf sudah mengganggu kalian,” kata Wu Xiaoyu sambil berdiri, menangis, dan membungkuk kepada semua orang.
Gadis yang lain juga berdiri dan membungkuk meminta maaf.
Seorang pekerja kantoran bertanya dengan penasaran, “Kalian sedang menonton apa sampai menangis sesedih itu?”
“Aku sedang menonton video musik Penyesalan.”
Kedua gadis itu mengucapkannya hampir bersamaan.
Mereka sama-sama tertegun, lalu saling berpandangan. Keduanya melihat keterkejutan sekaligus kegembiraan di mata masing-masing.
Ternyata mereka sama-sama penggemar Penyesalan.
“Penyesalan? Aku tahu. Dia sudah menulis banyak lagu yang enak didengar. Aku suka semuanya.”
“Benar, aku juga pernah mendengarkan lagunya. Tapi aku lebih menyukai puisinya. Benar-benar luar biasa.”
Para pekerja kantoran di dalam bus pun mulai ikut berbicara.
Hanya beberapa orang yang masih tampak kebingungan. Mereka sama sekali tidak tahu siapa Penyesalan, dan tidak mengerti mengapa begitu banyak orang menyukainya.
“Tapi, bukankah lagu-lagunya tidak sampai membuat orang menangis?” tanya seseorang.
Wajah kecil Wu Xiaoyu bersemu merah. Ia berkata lirih, “Lagu barunya yang baru dirilis berjudul ‘Dongeng’. Itu adalah sebuah video musik. Sungguh… sangat mengharukan.”
Di akhir kalimat, suara Wu Xiaoyu kembali tercekat.
Rasa penasaran semua orang pun semakin besar.