Bab Lima Belas: Meminjam!
Untungnya hanya satu senar kecapi yang putus. Namun, untuk sementara waktu, Xiao Yun pun tak bisa menemukan bahan untuk memperbaikinya. Di gunung memang ada Aula Senjata Musik yang khusus untuk memperbaiki alat musik para murid, tetapi semua itu memerlukan kristal spiritual sebagai biaya.
Kristal spiritual adalah mata uang umum yang beredar di antara para pemusik spiritual; sebuah batu kristal yang mengandung kekuatan alam semesta. Sedangkan Xiao Yun, hanyalah seorang pelayan yang baru saja naik ke gunung, dari mana mungkin ia punya kristal spiritual? Jangankan membeli, untuk sekadar memilikinya saja ia tak sanggup.
“Nanti saja kucoba perbaiki!” gumamnya.
Senar yang putus dari tengah, kecuali menemukan senar baru, jelas mustahil untuk diperbaiki. Xiao Yun hanya bisa menghela napas, membungkus kecapi kayu toon miliknya, dan menaruhnya di samping.
Dentang-dentang suara kecapi pun terdengar dari sebelah. Lin Chuyin dan Luo Qing, dua gadis itu, sudah mulai melatih lagu sesuai notasi yang diberikan. Sementara Xiao Yun berbaring di atas rerumputan, menyilangkan kaki, sembari menggigit sehelai rumput liar, mendengarkan mereka bermain.
“Kakak Xiao, lagu ini sepertinya sudah termasuk notasi tingkat lanjut, ya?” Setelah beberapa lama, kedua gadis sudah basah oleh keringat. Lin Chuyin masih tak henti-hentinya merasa heran dan bertanya pada Xiao Yun.
Xiao Yun menggeleng, “Aku juga kurang tahu pasti, tapi yang jelas notasinya lebih baik dari yang kalian mainkan sebelumnya.”
Bukan sekadar lebih baik, melainkan jauh lebih hebat. Baru saja mencoba sekali saja, meski terasa sulit dan banyak bagian yang belum dikuasai, namun semangat di tubuh mereka terasa meningkat pesat. Satu kali memainkan lagu ini, nilainya setara dengan puluhan kali memainkan notasi tingkat dasar.
Perasaan kedua gadis itu jelas penuh sukacita. Lin Chuyin memandang Xiao Yun, raut wajahnya sedikit aneh. Notasi ini jelas berasal dari dirinya, bagaimana mungkin ia tidak tahu tingkatan notasinya? Entah apa yang sedang ia sembunyikan.
“Kakak, bagian ini aku kurang paham, coba jelaskan padaku,” kata Luo Qing pada Lin Chuyin.
Lin Chuyin tersadar, lalu menoleh, “Bagian yang mana?”
“Baris ketiga, nada kelima dan keenam!” Luo Qing menunjuk notasi di hadapannya.
Lin Chuyin mendekat dan melihat, kemudian menggeleng, “Bagian ini aku juga agak bingung.”
Begitu kata-kata itu meluncur, kedua pasang mata langsung menatap Xiao Yun, jelas ingin meminta penjelasan darinya.
“Baris ketiga, perlu mengubah nada dari Gong ke Yu dengan cepat, ada transisi nada yang drastis di sini, harus segera alihkan nada Gong ke Yu!” Xiao Yun menjelaskan tanpa perlu melihat notasinya.
“Hm?”
Kedua gadis itu menunduk, merenungi penjelasan itu, lalu senyuman muncul di wajah mereka. Luo Qing pun bertanya, “Lalu baris kelima? Aku sudah berkali-kali mencoba, tapi rasanya tetap ada yang salah.”
Xiao Yun menjawab, “Baris kelima? Sebenarnya tidak sulit, cukup tarik tiga nada Gong, Shang, Jue, lalu percepat tiga nada Jue, Zhi, Yu.”
Yang dimaksud ‘tarik’ yaitu memperlambat, sedangkan ‘percepat’ berarti dimainkan lebih cepat. Kedua gadis itu pun menurut saran Xiao Yun, mencoba berulang kali, akhirnya baris kelima yang tadinya membingungkan mereka langsung terasa jelas.
“Lalu bagaimana dengan baris keenam…”
“Nada kedua belas pada baris ketujuh?”
“Baris…”
…
Dua gadis itu saling bertanya dan menanggapi, layaknya dua murid yang haus ilmu, tiada henti mengajukan pertanyaan pada Xiao Yun. Sementara Xiao Yun pun tidak pelit ilmu, setiap penjelasannya selalu tepat sasaran, seperti embun penyejuk di tengah kemarau, membuat kedua gadis itu merasa mendapatkan harta karun.
“Sudah, hari sudah mulai siang, aku harus kembali. Kalian lanjutkan saja latihan di sini,” ujar Xiao Yun sambil bangkit, setelah semangat dalam tubuhnya sudah pulih.
“Kakak Xiao!” Kedua gadis itu pun berdiri, Lin Chuyin berkata, “Terima kasih atas notasi berharga yang kau berikan, aku sungguh berterima kasih!”
Xiao Yun hanya melambaikan tangan.
Luo Qing tertawa, “Tak kusangka kau cukup dermawan. Baiklah, soal yang tadi, aku maafkan saja!”
Xiao Yun hanya bisa tersenyum kecut, tak tahu harus menjawab apa.
Lin Chuyin menutup mulut sambil tertawa, “Kakak Xiao, kulihat kecapimu rusak. Jika sulit diperbaiki, serahkan saja padaku, biar kubantu.”
“Hah?” Xiao Yun tertegun, “Tapi aku tidak punya kristal spiritual untukmu.”
“Hanya putus satu senar saja, apa perlu sampai pakai kristal spiritual? Aku punya bahan, bisa kuperbaiki sendiri,” jawab Lin Chuyin.
“Bukankah itu merepotkan?” Xiao Yun agak ragu.
“Aduh, kenapa kau ribet sekali, memangnya kau takut kami ambil kecapimu dan tak mengembalikannya?” celetuk Luo Qing di samping.
Gadis ini memang selalu bicara dengan lugas. Xiao Yun menggaruk kepala, lalu menyerahkan kecapi kayu toon itu pada Lin Chuyin, “Kalau begitu, kumohon bantuanmu, Nona Lin.”
Lin Chuyin menerima kecapi itu, menggeleng sambil tersenyum lembut, “Hanya perkara kecil. Dua hari lagi, ambillah di tepi Danau Yanxia ini.”
“Danau Yanxia? Tempat ini namanya Danau Yanxia?” tanya Xiao Yun heran.
“Aku dan kakak yang menamainya. Indah dan puitis, bukan?” jawab Luo Qing dengan bangga. “Saat senja, matahari condong ke barat, cahaya jingga menyelimuti danau, seolah-olah danau terbakar cahaya, sangat cantik.”
Xiao Yun tertawa, “Sepertinya aku terlalu kampungan. Aku pun sempat memberi nama danau ini, yaitu Danau Gajah Batu.”
Mendengar itu, kedua gadis pun tertawa. Lin Chuyin melirik ke danau, “Menurutku nama Danau Gajah Batu malah lebih pas. Mulai sekarang, kita sebut saja Danau Gajah Batu. Nanti, saat kau datang lagi ke sini, akan kuberikan kecapi yang sudah bagus.”
“Terima kasih!” Xiao Yun membungkuk, lalu berbalik dan pergi.
—
“Kakak, kau terlalu mudah menyerah, ya?” protes Luo Qing pada Lin Chuyin.
“Ada apa?” Lin Chuyin tampak bingung.
Luo Qing berkata, “Danau Yanxia yang indah, kenapa harus diganti jadi Danau Gajah Batu hanya karena permintaannya?”
“Hanya sebuah nama, tak perlu dipersoalkan!” Lin Chuyin tersenyum, lalu mencolek hidung Luo Qing dengan jari telunjuknya.
Luo Qing manyun, lalu tertawa, “Kakak, caramu licik juga, ya! Setelah kecapinya ada di kita, dia pasti akan datang lagi!”
“Kamu ini, banyak sekali akal bulusnya,” Lin Chuyin melirik Luo Qing, kemudian memandang ke arah hutan dengan tatapan penuh tanda tanya, “Tapi Kakak Xiao itu memang agak misterius. Benarkah ia hanya penebang kayu?”
“Kurasa tidak. Keahliannya dalam musik terlalu tinggi, Kakak, pernahkah kau lihat penebang kayu yang mampu memberi notasi tingkat tinggi dari lagu Air Terjun Gunung? Dan dengan murah hati memberikannya pula?”
Lin Chuyin terdiam, lalu berkata, “Dengan notasi ini, kita pasti bisa meningkatkan kemampuan dalam beberapa hari ke depan. Adik, ayo kita hafalkan baik-baik, setelah hafal segera musnahkan saja.”
“Kenapa harus dimusnahkan?” tanya Luo Qing heran.
“Karena kita hanya murid luar. Menyimpan notasi tingkat tinggi adalah pelanggaran berat!”
“Oh!”
Mengingat peraturan perguruan, mata Luo Qing pun tampak sedikit takut, segera ia meneliti notasi itu. Tak lama, dentingan kecapi kembali mengalun di tepi danau.
—
Senja pun tiba.
Setelah satu tungku ramuan selesai, Mu Tianen berkata pada Xiao Yun, “Aku hendak keluar sebentar, malam ini mungkin tidak pulang.”
“Senior, hari sudah gelap, mau ke mana?” tanya Xiao Yun heran.
“Aku sudah sejak beberapa hari lalu mengincar bunga Bakung Hantu. Malam ini bulan purnama, aku harus menunggunya mekar, lalu memetiknya,” jawab Mu Tianen.
Bakung Hantu? Xiao Yun tertegun, pasti bunga itu sangat berharga sampai Mu Tianen begitu serius.
“Obat di dalam tungku, nanti masukkan ke botol. Buku-buku pengobatan musik di rak sana, kalau tak ada kerjaan, baca saja,” kata Mu Tianen sambil memanggul keranjang obat dan cangkul, lalu berjalan keluar.
Mendengar itu, satu ide melintas dalam benak Xiao Yun. Ia segera memanggil Mu Tianen, menunjuk lukisan kaligrafi di dinding, “Senior, apa tulisan itu hasil karya Anda? Apakah Anda memiliki Kitab Musik? Bolehkah aku meminjamnya?”
Mu Tianen menoleh, lalu menggeleng, “Kau cukup punya wawasan, bisa mengenali Kitab Musik. Tapi Kitab Musik adalah kitab suci kuno, bukan hanya memuat Gulungan Besar Gerbang Awan karya orang suci Ji Xuanyuan, juga memuat Warisan Lima Zaman, yakni Nyanyian Kolam Harmoni dari Kaisar Yao, Nada Agung dari Kaisar Shun, Lagu Daxia dari Yu Agung, Nada Dahu dari Raja Tang, dan Nada Dawu dari Raja Zhou Wu, serta banyak karya agung lain, semuanya lagu dewa dan lagu abadi zaman kuno. Mana mungkin aku memilikinya?”
“Lalu tulisan di lukisan itu…” Xiao Yun masih heran.
Mu Tianen menjelaskan, “Itu hanya potongan kalimat yang pernah kudengar. Kitab Musik sesungguhnya sudah lama hilang, yang tersisa hanya beberapa fragmen. Setahuku, fragmen Lagu Daxia kini tersimpan di istana Kerajaan Daxia, sementara fragmen Lagu Dawu telah terbagi dua, disimpan oleh Kerajaan Dazhou dan Kerajaan Dayan. Selebihnya, sudah lenyap entah ke mana.”