Bab 11: Bersiap Bertindak
Mendengar itu, semua orang tampak kebingungan.
Adu dan Jiang Shuai juga tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Li Kaixin.
"Ikut saja, jangan buang-buang waktu!" kata Li Kaixin, lalu melanjutkan naik ke lantai atas.
Sambil berjalan, Li Kaixin kembali berbicara.
"Kalian tadi melihat kaki hantu wanita itu." Li Kaixin berhenti sejenak, "Tapi pernahkah kalian berpikir, di mana kepala hantu wanita itu waktu itu?"
Setelah diingatkan oleh Li Kaixin, semua orang seketika tersadar, namun bersamaan dengan itu, rasa takut yang menusuk ke lubuk hati terdalam pun ikut menyergap, meninggalkan bayangan hitam yang takkan pernah hilang dari hati mereka.
Setiap orang merasakan detak jantungnya kian cepat.
Bahkan rasanya, sesaat lagi jantung itu akan meloncat keluar dari tenggorokan.
Di lantai tujuh hanya bisa melihat kaki sang hantu wanita.
Maka tubuh bagian atas hantu wanita itu pastilah berada di lantai delapan.
Lebih tepatnya, tinggi tubuh normal hantu wanita itu pas sehingga kepalanya bisa menyembul di jendela toilet wanita lantai delapan—mengintip ke dalam!
Soal apa yang dilihatnya, jawabannya sudah jelas!
"Hantu biasanya tidak membiarkan manusia dengan mudah menemukan jejak mereka. Sekali manusia bisa melihat mereka, seringkali hanya ada satu kesimpulan, yaitu, sang hantu telah menemukan mangsanya. Karena itu, di dunia ini jarang ada yang benar-benar bisa melihat hantu, dan kebanyakan dari mereka yang pernah melihat, akhirnya mati secara tidak wajar!"
"Kaixin, apa kau bisa menangkap hantu?" tanya Zhang Zhongyi yang sangat tertarik dengan urusan menangkap hantu setelah mendengar ucapan Li Kaixin.
"Benar-benar tidak bisa!" jawab Li Kaixin jujur.
"Lalu kenapa kau tahu begitu banyak?" tanya Jiang Shuai pula.
"Hanya karena minat!" jawab Li Kaixin, lalu berhenti berjalan.
Saat itulah semua orang sadar.
Ternyata mereka sudah sampai di depan pintu toilet wanita lantai delapan!
"Telepon si Kucing!" Li Kaixin berdiri menghadap pintu toilet, sebuah batang baja hitam legam meluncur dari lengan bajunya ke tangan. Jika diperhatikan, itu adalah anak panah busur.
Adu segera mengeluarkan ponsel dan menelpon. Dua detik kemudian, dari dalam toilet benar-benar terdengar nada dering, "Ada setangkai awan hujan di angin, setangkai awan hujan..."
"Bukankah nada dering si Kucing lagu 'Dongeng' dari Guangliang? Kenapa jadi lagu lama ini?" Adu sampai tangannya gemetar ketakutan, ponsel hampir terjatuh.
"Tidak penting, kalian tunggu di luar, jangan kemana-mana, tanpa aba-aba dariku jangan masuk." Setelah berkata demikian, Li Kaixin masuk ke dalam.
Li Kaixin tidak menyalakan senter, sebab dalam gelap, menyalakan senter justru mengganggu penglihatan. Karena cahaya senter hanya bisa menerangi tempat yang sangat kecil.
Begitu masuk toilet, tempat pertama yang dilihat Li Kaixin adalah langit-langit, lalu matanya menelusuri sekeliling.
Setelah yakin tidak ada bahaya, barulah ia memanggil orang di luar untuk masuk.
Dua belas senter serentak dinyalakan, menerangi toilet wanita lantai delapan bak siang hari.
Semua masuk dan melihat Li Kaixin berdiri di tengah ruangan.
Tak jauh di depannya, di lantai, siapa lagi kalau bukan Kucing, yakni Hai Guoning si Garfield?
Hai Guoning tergeletak telentang, kedua tangan terulur di atas kepala, sementara kakinya telah hampir seluruhnya masuk ke bilik paling dalam toilet wanita.
Itu jelas-jelas posisi tubuh yang sudah diseret!
Bawah pintu bilik toilet wanita itu jaraknya hampir tiga puluh sentimeter dari lantai, dan pintunya masih tertutup.
Menyadari hal ini, semua serempak mengarahkan senter ke pintu bilik yang masih tertutup itu.
Melihat keanehan mereka, Li Kaixin tersenyum meremehkan, "Kalau di dalam masih ada sesuatu, apa aku akan membiarkan kalian masuk?"
Tiba-tiba, wajah Li Kaixin berubah sangat aneh!
Senyumnya membuat bulu kuduk berdiri.
"Kecuali, aku memang bukan Li Kaixin..."
Menyadari keanehan Li Kaixin...
Orang-orang tanpa sadar berdesakan ke arah pintu...
Melihat mereka ketakutan, Li Kaixin kembali tersenyum sinis, lalu menendang pintu bilik itu, "Ketakutan adalah obat terbaik untuk kebodohan!"
Begitu pintu terbuka, ternyata di dalam tidak ada apa-apa.
"Sialan, Kaixin, jangan menakut-nakuti lagi, aku hampir gila malam ini," ujar Jiang Shuai marah karena benar-benar merasa dirinya akan gila.
"Itu hukuman kecil untuk kebodohan kalian malam ini." Suara Li Kaixin terdengar dingin.
"Kaixin, lebih baik kita periksa si Kucing!" Untuk mencairkan suasana, Adu mengganti topik.
Kaixin mengangguk, "Xiaofan, Erqiang, ke sini."
"Ha?"
"Buat apa?"
Meskipun ragu dan takut, keduanya tetap maju.
"Buka celananya!"
"Buka celana?" Mereka berdua serempak bertanya, wajah mereka penuh keheranan.
"Ya, toh biasanya dia suka mengganggu kalian, sekarang saatnya membalas dengan kencing di atasnya." Li Kaixin menunjuk Garfield yang tergeletak seperti babi mati di lantai.
"Abang, janganlah!" Zhou Dongqiang kini tak lagi bertingkah aneh, malah menunjukkan ekspresi memohon.
"Kalian tidak kencing juga tidak apa-apa, tapi setelah Garfield mati, arwahnya akan terus mengikuti kalian." Li Kaixin bicara dengan santai.
"Bagaimana kalau aku saja?" kata Lin Yu.
Garfield selama ini suka menindas karena tubuhnya besar dan dia ketua kelas, lebih dari sekali ia memanfaatkan atau menyakiti semua orang yang hadir. Lin Yu yang menyimpan dendam tentu tak ingin melewatkan kesempatan untuk membalas.
"Kalau waktu SMP, mungkin bisa!" jawab Li Kaixin pada Lin Yu.
"Yang dibutuhkan itu air kencing anak lelaki yang belum baligh!" sambung Zhang Zhongyi.
"Andai saja aku tak perlu ngobrol omong kosong dengan suami hantu tadi, sampai mulut kering dan semalaman belum minum, kalian tak perlu susah-susah. Aku kira, dari kematiannya masih ada beberapa menit lagi." Li Kaixin mendengus, "Tapi aku jamin, kalau setelah Garfield mati, dalam setahun yang kalian bisa tidur nyenyak lebih dari sepuluh malam, aku ganti namaku jadi Toilet Wanita!"
Li Kaixin paling membenci orang yang, di saat hidup-mati, masih saja memikirkan hal-hal bodoh—
Takut dimarahi guru...
Takut diejek teman...
Takut memerciki tubuh Garfield...
Hari ini keluar uang berapa...
Apakah pakaian yang dijemur sudah diangkat belum...
Untuk orang-orang yang tak tahu prioritas di saat genting, Li Kaixin punya sebutan sendiri. Kalau harus diberi nama, menurutnya mereka adalah—Peserta Kategori 2B!
Melihat keduanya masih ragu, Li Kaixin pun terpaksa membuka sendiri sabuknya, berniat kencing duluan.
Melihat gelagat Li Kaixin, Wu Bin tiba-tiba menerobos keluar dari kerumunan, "Sudahlah, biar aku saja, aku masih anak lelaki suci!"
Entah karena terinspirasi atau tersentuh oleh Wu Bin, akhirnya Zhou Dongqiang dan Wu Xiaofan pun ikut-ikutan membuka celana.
Sejujurnya, ketiganya memang tidak suka Garfield, selain karena pernah dirugikan, juga karena dia suka pamer!
Selanjutnya, tiga pistol air menyembur seperti banjir bandang, membasahi tubuh Garfield dari atas sampai bawah, termasuk selangkangannya.
Begitu mereka selesai, Garfield yang tergeletak di tanah akhirnya bereaksi.
Ia muntah keras, cairan kuning keluar dari mulutnya, mengalir di dagu hingga membasahi lantai.
"Sepertinya tidak jadi mati," komentar Li Kaixin, lalu menarik tubuh Garfield dan memanggulnya.
"Semua rapatkan barisan, jangan ada yang ketinggalan, yang kupanggul ini contoh nyata akibat tertinggal!"
Rombongan pun berjalan dari lantai delapan menuju pintu belakang gedung utama.
Selain Li Kaixin, yang lain tetap saja ketakutan dan terus menempel di sisinya.
Li Kaixin tampak tenang, namun ia tahu, saat ini, di suatu sudut tak jauh dari sana, 'dia' pasti sedang mengamati mereka.
Keluar dari gedung utama, Li Kaixin meletakkan Garfield di ruang kesehatan sekolah, menyuruh Adu dan yang lain bergantian menjaga.
Setelah itu ia pergi ke ATM sekolah, mengambil uang, lalu keluar sekolah dan naik taksi, menghilang dalam gelapnya malam.
Di dalam taksi, Li Kaixin tidak langsung menyebutkan alamat, melainkan menelpon lebih dulu.
"Halo? Burung Hantu? Masih hidup, kan! Aku, penyelamatmu, sekarang mau datang beli barang darimu..."
Taksi berhenti di Jalan Kaki Jiangcheng.
Li Kaixin turun, sambil menelpon berjalan masuk ke dalam.
Ia menyusuri jalan utama sekitar lima ratus meter, lalu belok kiri ke gang kecil dan berjalan dua ratus meter, akhirnya ia melihat seorang pria di bawah lampu jalan, sedang mengisap puntung rokok dengan beringas.
Melihat Li Kaixin datang, orang itu melempar puntung rokok ke tanah, menginjaknya beberapa kali, lalu menghampiri.
"Haha, Burung Hantu, setahun tak bertemu, ternyata kau masih hidup!" Sambil tertawa-tawa, Li Kaixin menyapa pria paruh baya itu.
"Kau ini dasar sialan! Sudah berapa kali kubilang, panggil aku Burung Malam!" Burung Hantu sangat tidak suka dipanggil begitu oleh Li Kaixin.
"Burung Malam? Pernah lihat burung malam dengan kepala sebesar itu? Yang mulia Burung Hantu!" Senyum di wajah Li Kaixin menghilang, matanya menyipit, menatap kepala Burung Hantu yang botaknya lebar.
Orang bernama Burung Hantu itu memang agak takut pada Li Kaixin, melihat Li Kaixin seperti itu, ia pun tak banyak bicara, "Malam-malam begini, kau cari apa dariku? Jangan cari-cari urusan mistis padaku!"
"Sudah kubilang, mau beli barang darimu." Li Kaixin kembali tersenyum.
"Kau banyak akal, kami orang biasa, mana mungkin punya barang yang kau cari." Burung Hantu manyun, tak bicara lagi, terus berjalan masuk ke dalam.
"Ini urusan kecil, dengan kemampuanmu pasti bisa." Li Kaixin mengikuti Burung Hantu ke dalam sebuah gudang.
Gudang itu tak terlalu besar, tapi penuh dengan barang dagangan Burung Hantu.
Sepatu palsu Nike, Adidas, Reebok, Converse, Puma, Kappa, AND1...
Semuanya ada!
Selain barang palsu, ada juga sebagian barang selundupan, kebanyakan hasil curian dari toko resmi.
Burung Hantu mengunci pintu gudang, mereka duduk berhadapan di sebuah meja, lalu langsung ke inti pembicaraan.
"Jadi kau mau beli apa dariku?" Burung Hantu sadar diri, tak mau menebak-nebak. "Kau lihat sendiri, aku cuma jual barang palsu, cari makan saja, dulu bilang ke kau aku mafia penyelundup, itu cuma omong kosong!"
"Hei! Burung Hantu, ternyata kau kurang percaya diri?" Li Kaixin tetap menatapnya sambil tersenyum, "Kau meremehkan dirimu sendiri atau terlalu meniliku?"
Burung Hantu tidak menanggapi, ia mengambil sebungkus rokok, menyalakan satu batang, mengisapnya, lalu berucap, "Apa maumu, cepat bilang!"
"Urusan kecil saja, tolong carikan data, siapa saja yang mati di Sekolah Utama Chu selama sepuluh tahun lebih ini, bagaimana mereka mati, aku ingin tahu." Sambil bicara, Li Kaixin mendorong setumpuk uang merah di atas meja.
Li Kaixin memang orang yang to the point, paling benci basa-basi buang waktu.
Burung Hantu mengambil uang itu, menghitung dengan jarinya, "Cuma itu?"
"Tapi aku mau datanya dalam dua puluh empat jam, makin cepat makin baik!" Li Kaixin mengajukan syarat.
"Begitu mendesak, susah juga, info yang kau butuhkan tak bisa dicari sembarang orang, harus dari polisi Jiangcheng!"
Burung Hantu melanjutkan, "Tapi kau tahu sendiri, urusan dengan polisi itu, kalau tak ada uang pelicin tak akan jalan, apalagi kau sangat terburu-buru!"
Apa yang dikatakan Burung Hantu memang benar, data seperti itu hanya bisa didapat dari orang dalam kepolisian, harus cek arsip.
"Kutambah dua ribu lagi, jadi total lima ribu, besok aku datang ambil kabar." Li Kaixin menyerahkan uang, lalu berdiri hendak pergi.
"Kau memang aneh, tak ada yang tahu apa yang kau pikirkan setiap hari..." Burung Hantu mengantongi uang, bergumam.
Li Kaixin sudah keluar, tapi suaranya masih terdengar masuk.
"Haha, daripada menghabiskan waktu memikirkan aku aneh atau tidak, lebih baik segera kerjakan urusanmu..."