Bab Lima Belas: Jalan Buntu
Andai orang lain yang mengalaminya, mungkin sudah kehilangan nyawa karena urusan dengan Burung Hantu kali ini.
Namun, hal itu tak terlalu berpengaruh bagi Li Kaixin. Meski Burung Hantu telah menyembunyikan sebuah informasi yang sangat penting darinya, seandainya Li Kaixin menaruh seluruh harapannya pada orang itu, barangkali ia sudah tewas sejak lama.
Tapi Li Kaixin jelas bukan tipe orang yang menaruh seluruh telur dalam satu keranjang.
Lewat percakapan dengan Bos Ma dan Profesor Deng, rahasia yang disembunyikan Burung Hantu sebenarnya sudah ada bayangannya dalam benak Li Kaixin sejak awal.
Setelah meneliti cara kematian empat belas orang dalam tiga belas tahun terakhir, Li Kaixin merasa waktu kini begitu lapang.
Sebab, ada satu tempat yang tak perlu ia datangi lagi.
Kewaspadaan, bagi mereka yang bertahun-tahun berjalan di atas ujung pisau, adalah satu-satunya jalan untuk menjauhi maut.
Jadi, lima ribu yuan yang ia berikan pada Burung Hantu, sejatinya hanyalah pelindung tambahan di pinggangnya saat menari di atas pisau.
Menjelang malam, Li Kaixin tiba di terminal bus Jiangcheng, lalu naik sebuah bus antarkota. Begitu mesin dihidupkan, Li Kaixin pun menghilang di ujung jalan, ditelan gelap malam…
…
Keesokan harinya, sekitar tengah hari, Li Kaixin kembali ke gerbang kampus Universitas Chu dengan wajah penuh debu, menenteng ransel perjalanannya. Selain itu, ia juga membawa sebuah mesin faks baru!
Begitu sampai di asrama, Li Kaixin mencetak beberapa tulisan di kertas A4, lalu membawanya ke lantai delapan untuk mencari Suami Hantu, Qiu Lingyuan.
Orang yang satu ini, selain menghadiri kuliah penting, lebih suka berdiam di kamar sepanjang hari, tak pernah merepotkan siapapun, pun tak mau repot sendiri.
"Bantu aku cari toko faks, kirimkan semua ini!" Begitu pintu kamar Suami Hantu dibuka, Li Kaixin langsung menyodorkan kertas-kertas itu. "Nomor faksnya adalah nomor telepon kamarku, kirim urut, jangan sampai salah."
Suami Hantu melihat kertas-kertas itu, isinya cuma sebaris kalimat Buddhis yang sangat umum. Total enam lembar, masing-masing hanya satu karakter besar, jika disatukan menjadi kalimat: "Namo Amituofo!"
Namun, karakter-karakter itu aneh, setiap goresannya ditulis terbalik, seperti bayangan di cermin.
"Kirim faks ini?" Suami Hantu tahu kira-kira arah tujuan Li Kaixin, tapi tetap saja heran dengan kelakuannya.
"Aku masih banyak urusan. Lakukan saja sesuai instruksiku," jawab Li Kaixin tanpa banyak bicara, lalu berbalik pergi, "Biaya faks kamu tanggung sendiri, jangan sampai salah urutan."
Setelah berpamitan dengan Suami Hantu, Li Kaixin pun mulai melakukan hal yang menurutnya paling penting: mandi lalu tidur.
Saat Li Kaixin tertidur, Kucing Gendut yang dua hari ini koma akhirnya siuman!
Hari itu, A Du dan Jiang Shuai-lah yang menjaga Kucing Gendut di rumah sakit, orang yang sama dengan yang dulu melihat hantu perempuan. Melihat Kucing Gendut terbangun, mereka berdua lega dan gembira.
"Heh? Kenapa aku tidur di sini?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kucing Gendut.
Lalu ia menoleh ke sana ke mari, tampak polos.
Mendengar itu, kedua temannya memandangnya dengan mata merah, nyaris ingin membekap dan mencekiknya di ranjang!
"Aku juga pengen nanya, kenapa kamu bisa-bisanya tidur di sini!" Jiang Shuai menatapnya kesal.
"Bukannya kita lagi main petak umpet?" Kucing Gendut benar-benar polos, "Kok aku bisa di rumah sakit?"
"Sialan, kamu masih sempat tanya?" A Du yang biasanya sabar, kali ini tak bisa menahan amarahnya. "Kamu yang ngajak main petak umpet, gara-gara itu aku cuma tidur sejam dua hari belakangan!"
A Du tidur sedikit. Pertama, karena khawatir pada Kucing Gendut. Kalau sampai terjadi apa-apa, sanksi dari kampus pasti berat. Kedua, malam saat main petak umpet itu benar-benar menakutkan.
Dimarahi seperti itu, Kucing Gendut terdiam, pikirannya masih tertahan di malam petak umpet itu.
"Eh, Cat, malam itu di lantai delapan, apa yang terjadi padamu?" Jiang Shuai bertanya ke intinya.
"Malam itu ya? Coba aku ingat-ingat…" Kucing Gendut termenung.
Mendadak, matanya berbinar.
"Aku ingat sekarang…"
Malam itu.
Wu Xiaofan membungkuk di tembok menghitung detik.
Dua belas orang lain berhamburan ke segala penjuru seperti ayam dikejar.
Meski Kucing Gendut bertubuh besar, nyalinya kecil. Niat awalnya adalah bersembunyi di lantai yang sama dengan Wu Xiaofan, supaya ketahuan duluan dan bisa ikut membantu mencari yang lain.
Setidaknya, tak terlalu menakutkan, dan bisa berdalih ikut menjaga Wu Xiaofan.
Tapi kemudian ia berpikir, kalau ketahuan duluan, takutnya terlalu jelas, bisa jadi bahan tertawaan. Aku takut mati?
Membayangkan ejekan dari Lin Yu dan Jiang Shuai, ia merasa martabat sebagai ketua kelas bakal lenyap, apalagi wibawa.
Akhirnya, Kucing Gendut nekat! Kalau harus bersembunyi, kali ini ia pilih tempat paling pojok, biar susah dicari!
Pilihan tempat paling pojok, antara lantai satu atau delapan. Saat Wu Xiaofan sudah menghitung sampai dua puluh dua, dua puluh tiga, lantai satu sudah tak sempat lagi, Kucing Gendut pun berlari ke lantai delapan.
Sesampainya di sana, ia asal masuk ke sebuah ruangan, dan baru sadar setelah menyalakan senter—ternyata itu toilet perempuan, soalnya tak ada urinoir!
Begitu masuk, refleks pertamanya adalah:
Heh!
Toilet perempuan!
Biasanya saja susah dimasuki, sekarang aku bisa masuk dengan santai!
Keinginan mengintip toilet perempuan sudah muncul sejak kelas lima SD, dan setiap kali keinginan itu muncul, malaikat kecil dalam benaknya selalu menang tipis dari setan kecil. Tapi ujung-ujungnya, dua-duanya kalah juga.
Setan kecil mati dipukuli malaikat kecil, malaikat kecil mati karena menahan diri sendiri.
Kucing Gendut bersandar di kusen jendela toilet, menyalakan rokok, mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap perlahan.
Saat itu, dalam khayalannya, dirinya nyaris serupa Xu Wenqiang yang diperankan Chow Yun-fat, cuma kurang syal putih di leher, topi fedora di kepala, dan dua pistol revolver di pinggang.
Tentu saja, semua itu cuma dalam imajinasi Kucing Gendut.
Satu batang rokok habis, lanjut ke batang berikutnya.
Sialan, Wu Xiaofan kok lama banget nggak datang?
Ia tak tahu Wu Xiaofan justru mencari ke bawah.
Saat hendak keluar dan menyerahkan diri, tiba-tiba ia merasa ada angin dingin bertiup di belakang leher.
Jangan-jangan jendela belum tertutup?
Ia pun menoleh, namun hanya melihat gelap yang kosong.
Begitu ia menoleh kembali, mendadak pandangannya gelap dan ia pun pingsan…
"Setelah itu aku nggak ingat apa-apa lagi. Yang kuingat cuma, aku bermimpi aneh!" begitu kata Kucing Gendut.
"Mimpi apa?" tanya Jiang Shuai.
"Aku mimpi dikejar seseorang! Aku lari sekencang-kencangnya, di dalam hutan purba, makin lama makin dingin!"
"Mimpinya nyata sekali, saat aku hampir putus asa, tiba-tiba di depanku muncul pemandian air panas!" Kucing Gendut bercerita sambil tampak sedikit mabuk kepayang, "Aku langsung loncat ke dalam, dan rasa nyaman sesudahnya, seumur hidup belum pernah kualami."
Air panas?
Melihat ekspresi Kucing Gendut yang agak sinting itu, Jiang Shuai dan A Du saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak…
…
Li Kaixin tidur lelap hingga pukul sepuluh malam.
Begitu bangun, ia mandi, makan beberapa potong roti dan sekotak susu, lalu mulai mengenakan perlengkapan untuk aksinya malam itu.
Sepasang sepatu Jordan putih-biru muda yang pas di kaki, persis seperti yang dikenakan bintang Denver Nuggets, Anthony, pada All-Star tahun lalu. Di badan, pakaian olahraga abu-abu kebiruan dari AND1, seperti yang dipakai Iverson saat istirahat di pinggir lapangan All-Star. Di bahu, tetap ransel dekil yang sama.
Pakaian ini membuat Li Kaixin tampak penuh semangat. Satu set AND1 itu juga memberinya aura hip-hop.
Menurut Li Kaixin, "Pakai AND1, malam-malam enak buat beraksi!"
Menjelang jam sebelas, setelah semua siap, Li Kaixin keluar dari kamar.
Malam ini, tujuannya jelas: gedung utama!
Baru sampai gerbang asrama, ia sudah berjumpa dengan Suami Hantu yang sedari tadi menunggunya.
"Malam ini kamu jadi berangkat?" Suami Hantu meneliti Li Kaixin dari atas sampai bawah.
"Menurutmu?" Senyum Li Kaixin penuh percaya diri dan sedikit nakal.
"Bukannya kamu bilang nggak bisa menangkap hantu?" Suami Hantu tampak khawatir melihat kostum Li Kaixin, sebab biasanya pemburu hantu memakai pakaian kuno. "Apa kamu mau cari mati?"
"Tidak bisa menangkap hantu bukan berarti tidak bisa beraksi," Li Kaixin melangkah keluar asrama, sembari menimpali, "Pikiranmu sama sekali nggak fleksibel, terlalu kaku…"
…
Kini beralih ke Lan Ran.
Sejak pagi kemarin, setelah menerima SMS dari Li Kaixin, amarah yang lama tertahan dalam hatinya meluap bagaikan magma, menyembur dari kawah ke langit.
Andai malam hari, mungkin sudah menyinari seluruh langit.
Setelah amarah itu terbakar, dan terus berkobar, Lan Ran perlahan merasa, meski Li Kaixin memang keterlaluan, dirinya juga tak sepenuhnya tak bersalah, hatinya pun mulai tenang.
Beberapa hari terakhir, pikirannya hanya dipenuhi kemarahan pada Li Kaixin. Saat kuliah ia seperti zombie, tak mampu mendengarkan apapun.
Kini setelah amarahnya reda, Lan Ran mulai sadar, jika terus seperti ini, semester pertama pasti akan gagal.
Gagal!
Bagi Lan Ran yang polos dan rajin, itu tidak bisa diterima!
Tak ada pilihan, ia pun meminjam catatan teman, dan sepulang makan malam langsung belajar di ruang belajar gedung utama.
Karena terlalu keras belajar, sekitar pukul sepuluh malam, Lan Ran kelelahan dan tertidur di atas meja. Karena posisi tidurnya, orang yang lewat tak menyadarinya.
Begitu terbangun, ia mendapati sekeliling sudah gelap gulita. Melihat ponsel, waktu sudah lewat jam sebelas.
"Sudah larut begini?" Lan Ran menggumam setengah mengantuk, belum merasa takut. "Waduh! Bisa jadi pintu utama gedung sudah dikunci."
Lan Ran sendiri tipe gadis yang agak cuek, istilah anak Sencheng, “otaknya agak longgar”.
Ia buru-buru membereskan tas lalu berlari keluar kelas, dan langsung terkejut dengan suasana di sekitarnya.
Sepanjang hidupnya, Lan Ran sudah menonton banyak film horor, tapi belum pernah benar-benar ketakutan.
Di langit tergantung bulan purnama kebiruan, cahayanya tipis dan dingin membasahi bumi.
Sesekali angin malam bertiup dingin menusuk hingga ke tulang.
Lampu-lampu gedung utama memang sudah dimatikan petugas, tapi Lan Ran masih bisa samar-samar melihat sekeliling.
Koridor…
Kelas…
Tangga…
Toilet…
----------------------------------------------------------------
Saat sekelompok Kucing Gendut bermain petak umpet, selain dirinya, ada satu orang lagi yang saat itu berada dalam bahaya besar, tahukah kamu siapa?