Bab Tiga Puluh Dua: Kartu Kuota Tak Terbatas (Bab Tambahan untuk Pemimpin Aliansi Aku di Tepi Sungai Langit)
Sepulang kerja hari itu, dalam perjalanan menuju warnet, Chen Li melihat ponsel Yan Xin dan langsung terkejut, “Gila, dari mana kau dapat uang buat beli ponsel sebagus ini?”
“Ehm, begini ceritanya,” Yan Xin asal bicara saja, “Waktu kerja, ada orang datang ke pos jaga bawa ponsel ini, tanya mau beli atau nggak, katanya nemu di jalan. Awalnya aku kira dia penipu, bawa ponsel palsu buat nipu uangku, tapi setelah dicoba nyalakan, ternyata asli. Dia cuma minta dua ratus ribu, ya sudah aku beli.”
“Mana mungkin ponsel ini cuma dua ratus ribu? Dua juta pun nggak cukup!” Chen Li memeriksa ponsel itu sebentar, lalu menebak, “Ini pasti bukan nemu, mungkin hasil curian.”
Dia sendiri tidak curiga Yan Xin sedang berbohong, sebab waktu kerja di pos jaga, ia sering bertemu kasus-kasus seperti itu, entah barang curian, entah barang palsu.
Yan Xin berkata, “Oh begitu? Kalau begitu jangan kasih tahu siapa-siapa, ribet nanti kalau ketahuan.”
Chen Li mengangguk, “Tenang saja, aku akan rahasiakan.”
Membeli barang curian jelas bukan hal legal, kalau ketahuan bisa merepotkan. Walaupun bisa berdalih tidak tahu, tetap saja bakal membawa masalah.
Jadi lebih baik tutup mulut.
Soal ponsel ini, penjelasan masuk akal untuk Chen Li saja sudah cukup.
Sedangkan orang lain, Yan Xin tak perlu memberi penjelasan.
Orang lain tak tahu kondisi keuangannya; sekalipun dia bilang beli ponsel baru, tak ada yang bisa membantah.
Lagipula, Yan Xin hanya pernah meminjam uang pada Chen Li.
Ia pun tak pernah menunjukkan rasa minder karena miskin di depan orang lain, malah terlihat lebih percaya diri daripada kebanyakan orang, dan dari penampilannya pun, tidak tampak seperti orang sangat kekurangan.
Soal kepercayaan diri, berbekal kenangan belasan tahun ke depan, Yan Xin memang jauh lebih percaya diri daripada kebanyakan anak muda.
Di warnet hari itu, Yan Xin langsung menyambungkan ponselnya ke komputer, lalu mengunduh beberapa aplikasi dan lagu.
Pada masa itu, mengunduh lagu masih gratis, asal memori cukup, bisa unduh sebanyak-banyaknya.
Tapi memori ponsel ini tidak besar, hanya ada kartu memori 512MB, tak bisa menampung banyak.
— Di masa itu, spesifikasi ponsel memang tidak tinggi, kartu memori pun kecil, dan 512MB sudah tergolong besar.
Ponsel ini sebenarnya bisa dipasangi kartu memori 1GB, tapi untuk membaca file jadi lebih lambat, membuat ponsel mudah ngelag.
Jadi, hanya bisa pakai kartu memori sebesar itu.
Hal seperti ini tak terbayangkan di masa depan—hanya ratusan megabyte, bisa dipakai untuk apa? Satu film saja tidak cukup.
Tapi sekarang, file audio visual masih kecil, lagu masih muat beberapa, walaupun kualitas suaranya biasa saja.
Yan Xin tidak terlalu lama di warnet.
Ia mengecek data novel, juga membaca naskah cadangan yang Chen Li tulis malam sebelumnya, memberi beberapa saran perbaikan, lalu memastikan rencana penulisan selanjutnya.
Total, tak sampai satu jam, lalu ia pulang.
Sekarang ponsel itu sudah bisa dipakai, bisa foto-foto, dengar lagu, dan sebagainya.
Tapi saat itu ia belum punya kartu SIM, jadi tak bisa telepon, juga tak bisa internetan.
Setelah meneliti ponsel itu, kesimpulannya: fiturnya terlalu sederhana, tak terlalu mengasyikkan.
Tapi adanya aplikasi QQ cukup lumayan, nanti kalau sudah punya kartu SIM dan koneksi internet, urusan komunikasi jadi jauh lebih mudah.
Keesokan paginya, ia langsung ke gerai operator seluler untuk membuat kartu SIM paket muda dan mengaktifkan layanan internet unlimited seharga dua puluh ribu per bulan.
Saat itu, kecepatan internet ponsel sangat lambat, kebutuhan kuota juga kecil, jadi tak banyak yang ambil paket unlimited; kebanyakan lebih suka paket lima ribu untuk seratus mega, karena itu saja sudah cukup.
Nanti, ketika konten internet makin banyak dan menarik, kebutuhan data pun meningkat, baru orang-orang menyesal tidak ambil paket unlimited sejak awal.
Waktu itu biaya internet memang mahal, di banyak tempat, kelebihan kuota dikenai satu ribu per mega, bahkan ada yang sampai beberapa ribu per mega.
Yan Xin masih ingat di akhir tahun 2007, ada rekan kerja yang buat kartu SIM, mengisi pulsa seratus ribu, lalu nonton film beberapa ratus mega di internet, pulsa langsung terpotong ratusan ribu, akhirnya kartu SIM dibuang.
Semakin ke depan, kebutuhan akan data internet makin besar, Yan Xin tidak mau menyesal nanti, jadi sejak awal ia ambil paket unlimited.
Setelah memasang kartu SIM, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon si pincang yang punya warung di kampungnya, memberitahu bahwa ia sudah punya ponsel, meminta tolong supaya bos di warung mencatat nomor barunya, lalu mengabari ayahnya, kalau ada apa-apa bisa menghubungi nomornya.
Agar ayahnya tenang, ia sengaja bilang ponselnya bekas, hanya habis seratus ribu.
Kalau tidak begitu, kondisi keluarga yang pas-pasan, baru terima gaji langsung beli ponsel, bisa-bisa dikira anak durhaka, bikin keluarga ketakutan.
Saat pulang ke asrama setelah urusan kartu SIM, sudah lewat jam sepuluh pagi, Chen Li masih terlelap di tempat tidur.
— Anak itu kerja shift tengah, tiap malam ke warnet menulis sampai jam tiga atau empat pagi, jadi siang bangun sangat telat.
Di asrama, selain Yan Xin, tak ada yang tahu apa yang dilakukan Chen Li di warnet; mereka kira hanya bermain game, bahkan ada yang menasihati agar tidak kecanduan, tapi Chen Li tak pernah membantah.
Yan Xin berbaring di ranjang, membuka ponsel dan login QQ.
Ini kali kedua ia login QQ sejak mulai bekerja, dan kali pertama menggunakan QQ lewat ponsel.
Baru saja masuk, dalam beberapa saat, sudah banyak pesan QQ yang masuk.
Ada balasan dari teman-teman QQ lama, juga ada permintaan pertemanan baru.
Yan Xin menanganinya satu per satu.
Pertama ia cek permintaan pertemanan, entah karena nama panggilannya diganti jadi “Jaya Sejahtera”, semua yang mengajukan pertemanan bernama seperti “Mekar Berlimpah Rezeki”, “Sejahtera Selamanya”, “Bersyukur Bahagia”, “Ikhlas Menjalani Hidup” dan semacamnya.
Melihat nama-nama penuh jejak waktu itu, Yan Xin sama sekali tidak tertarik berteman, tak satu pun diterima.
Kalau hanya ingin berteman di dunia maya, lebih baik pakai nama unik yang kekinian, setidaknya yang datang pasti anak muda.
Tapi ia memang tidak butuh pertemanan online, jadi memutuskan tetap memakai nama “Jaya Sejahtera”.
Lalu, ia membalas pesan dari teman-teman QQ.
Ada yang dibalas, ada yang diabaikan begitu saja.
Di antara pesan-pesan itu, ia melihat pesan dari Xiao Shiyu:
“Kamu kerja di mana? Pekerjaan apa?”
“Aku diterima di Universitas **.”
“Aku sudah sampai di Universitas **.”
“Tahun ini kamu pulang kampung saat Imlek?”
Beberapa pesan, dikirim di waktu yang berbeda.
Dalam benaknya, Yan Xin teringat berbagai kenangan tentang teman perempuan cantik itu.
Konon, teman perempuan itu menikah dengan seorang konglomerat yang usianya puluhan tahun lebih tua, tak lama kemudian sang suami meninggal, ia pun jadi wanita kaya.
Dalam ingatannya, bertahun-tahun kemudian, ia sempat bertemu lagi dengan teman perempuan itu, waktu itu ia sendiri sudah menikah dengan Feng Xi, sedangkan teman perempuannya baru saja menjadi janda kaya.
Pertemuan itu memang atas undangan Xiao Shiyu, dan hari itu ia berdandan sangat cantik.
Hari itu, Yan Xin tampak seperti pria empat puluhan yang putus asa, lesu, kumal, dan matanya kehilangan cahaya harapan.
Mereka hanya minum kopi bersama, lalu selesai begitu saja.
Mengingat hal itu, Yan Xin melamun sejenak, lalu menggelengkan kepala dan membalas:
“Aku kerja jadi satpam di Kota Phoenix, Kecamatan Beringin Kecil, lumayan santai, soal Imlek belum pasti bakal pulang atau tidak.”
Ia terus menelusuri pesan, lalu melihat pesan dari akun bernama “Kucing Liar di Reinkarnasi”:
“Selamat, kamu baru saja mendapatkan harta paling berharga di dunia—persahabatan dariku!”
“Sebutkan, apa keinginanmu? Akan kupenuhi harapanmu.”
Dilihat dari waktu pengiriman pesan, itu dikirim tanggal 2 September, lebih dari sepuluh hari lalu.
Sepertinya si Kucing Liar di Reinkarnasi ini juga jarang buka QQ.
Dalam benak Yan Xin, ia menganggap ini sebagai “dewi penolong”, jadi ia membalas,
“Keinginanku, ingin lihat fotomu pakai kaos kaki hitam dan telinga kucing.”
Hidup ini terlalu singkat, waktu terlalu berharga, ia tidak mau buang-buang waktu mengobrol panjang dengan perempuan, bicara soal hidup, cita-cita, sains, sastra, politik, filsafat, urusan negara, lalu di ujung pembicaraan baru minta lihat ini-itu.
Itu terlalu bertele-tele.
Ia memangkas semua proses membosankan itu, langsung saja minta foto.
Sederhana dan efisien.
Kalau dikabulkan syukur, kalau tidak juga tak apa-apa, toh tak ada yang hilang.