Bab 11 Menerjang ke Arahnya
Halaman (1/3)
Benar saja, yang dikatakan Kakek terbukti. Pada malam hari, tujuh hari kemudian, Nyonya Putih datang lagi.
Malam itu, setelah makan, aku kembali ke kamar. Begitu pintu kubuka, kulihat dia sedang duduk di depan meja rias Ibu, sibuk menata rambutnya.
Aku sangat marah dan kesal, tetapi tidak berdaya menghadapinya. Maka aku mendengus dingin, lalu duduk bersila di atas ranjang sambil membaca buku kecil tentang ilmu menguliti.
Namun, belum lama membaca, aku mulai merasa gelisah.
Dengan perempuan ini berada di sini, aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Lagi pula, membaca buku itu pun tak ada gunanya.
Aku sudah tak tahu berapa kali menghafalkan buku tentang ilmu menguliti itu. Akan tetapi, selama Sang Leluhur belum mengangguk setuju, setiap kali berhasil mengingatnya, perlahan-lahan aku akan melupakannya lagi.
Saat itu, Nyonya Putih berjalan menghampiriku dengan pinggang meliuk-liuk seperti ranting willow.
Cara berjalannya sangat aneh, seolah-olah tiruan yang buruk. Gerakan pinggangnya pun berlebihan.
Namun, itu wajar. Bagaimanapun, dia memang seekor ular.
Sambil memegang cermin perunggu, tangan satunya masih sibuk menata rambut. Tanpa menoleh sedikit pun kepadaku, dia bertanya, “Bagaimana? Cantik, bukan?”
Aku mencibir. “Kau ini ular tanpa kulit. Memangnya punya rambut?”
Dia tidak marah. Sambil terkekeh, dia memasukkan cermin perunggu itu ke dalam bajunya, lalu menjepit pipiku. “Memang aku sudah tak punya kulit, tetapi aku bisa melakukan hal yang sama sepertimu—mencari mayat dan menukar kulit untuk mendapatkan tubuh baru.”
Mendengar itu, amarahku langsung memuncak. Aku berteriak dan melompat, lalu menerjangnya.
Semua ini terjadi karena dia. Aku berubah menjadi seperti sekarang, tidak hanya tak punya banyak waktu untuk hidup, tetapi juga menjadi monster. Dia bahkan masih berani memancing kemarahanku dengan ucapan seperti itu.
Meski aku sangat takut melihat tubuhnya yang berlumuran darah setelah kulitnya dikoyak, saat itu aku sudah tak peduli lagi.
Aku mencengkeram rambutnya dan menariknya sekuat tenaga, berusaha merobek kulitnya.
Nyonya Putih terkikik. Dia sama sekali tidak memedulikan rambutnya yang berantakan.
Seolah-olah tidak merasa sakit, dia tidak berusaha menghentikanku. Sebaliknya, dia juga mengulurkan tangan dan mencubit pipiku.
Aku menggertakkan gigi dengan marah. Mataku bahkan memerah. Aku memukuli dan menendangnya sekuat tenaga.
Dia menganggapku apa?
Anjing yang mengibaskan ekor kepadanya?
Namun, aku benar-benar tidak mampu melukainya.
Setelah mencubit pipiku kuat-kuat, dia malah mendekatkan kepalanya kepadaku.
Jantungku menegang. Jangan-jangan dia hendak memaksaku menelan sesuatu yang aneh lagi?
Aku memalingkan wajah dan mendorongnya sekuat tenaga, tetapi tenagaku terlalu kecil.
Dia memeluk seluruh tubuhku, mengabaikan perlawananku, lalu mengendus-endus wajah dan leherku dengan saksama.
Setelah beberapa lama, barulah dia melepaskanku. Dengan santai, dia berkata, “Bagus, bagus. Sebulan lagi, kau sudah bisa berganti kulit.”
Aku terengah-engah sambil menatapnya dengan penuh kebencian.
Saat ini aku berharap bisa mengambil pisau dan mengikis seluruh sisik ular di tubuhku. Namun, melakukan itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri.
Jika Kakek melihatnya, dia pasti akan bersedih.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Maka aku menghibur diri dalam hati: Kakek pernah berkata bahwa aku masih bisa kembali seperti semula. Aku pasti bisa kembali seperti semula!
Selama lebih dari sebulan berikutnya, Nyonya Putih datang mengunjungiku setiap tujuh hari sekali.
Setiap kali datang, dia sengaja menggodaku dan memancing kemarahanku, lalu menekanku untuk memeriksa tubuhku dengan saksama.
Aku tidak menyerah. Setiap kali, aku melawan sekuat tenaga.
Namun, aku hanyalah manusia biasa dan baru berusia dua belas tahun. Aku sama sekali tidak mampu menghadapinya.
Tujuh hari kemudian, pada malam itu, aku sudah kembali ke kamar sejak awal. Aku berbaring di ranjang, sementara tanganku yang tersembunyi di balik selimut menggenggam erat sebilah pisau.
Meskipun aku tidak mungkin mengalahkannya, aku tidak akan menyerah. Aku bertekad memberinya pelajaran keras.
Kalaupun tetap tidak bisa melukainya, setidaknya aku ingin membuatnya tahu bahwa aku bukan orang yang bisa diperlakukan semaunya.
Bahkan kelinci yang terdesak pun akan menggigit manusia.
Saat itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan suara gedebuk.
Aku terkejut, tetapi kemudian merasa lega.
Setiap kali datang, Nyonya Putih selalu muncul tiba-tiba. Dia sama sekali tidak pernah membuka pintu.
Sejujurnya, hal itu juga selalu membuatku bingung.
Dulu, setiap malam aku mengunci pintu rapat-rapat dan menutup semua jendela, tetapi dia tetap bisa masuk.
Kemudian aku berpikir, karena dia seekor ular, mungkin dia menyelinap melalui salah satu lubang di dalam rumah. Aku pun memeriksa seluruh kamar dengan saksama, tetapi tidak menemukan lubang apa pun.
Setelah itu, aku menyerah. Bahkan pintu pun tak lagi mau repot-repot kukunci.
Yang masuk ternyata Kakek. Langkahnya tergesa-gesa dan wajahnya tampak sangat serius, dengan sedikit kegembiraan di matanya.
Aku bangkit dengan gembira dan berkata, “Kakek, kau sudah pulang.”
Pagi tadi Kakek pergi ke bukit belakang. Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukannya, bahkan sempat mengira dia tidak akan pulang malam ini.
Kakek mengusap kepalaku sambil terkekeh. “Sudah lama menunggu, ya?”
Aku mengangguk dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Kakek, tadi pergi melakukan apa?”
Kakek hanya tersenyum tanpa menjawab. Dia berbalik keluar dari kamar. Tak lama kemudian, dia kembali sambil menyeret sesuatu di tangannya.
Aku hanya sempat meliriknya, tetapi sudah hampir kehilangan nyawa karena ketakutan.
Ternyata benda itu adalah boneka seukuran tubuhku, bahkan mengenakan pakaianku!
“Jangan takut, jangan takut. Ini pengganti tubuhmu yang Kakek buat,” kata Kakek.
“Pengganti tubuh?”
Mendengar dua kata itu, aku merasa penasaran dan mulai mengamati boneka tersebut.
Ukurannya sama denganku. Wajahnya pun digambari mata, hidung, dan mulut, tetapi tampak bodoh dan sama sekali tidak menyeramkan.
Setelah kuperhatikan baik-baik, kulit boneka itu ternyata terbuat dari kulit ular, sementara bagian dalamnya diisi jerami.
Saat itu, hidungku mengernyit. Tiba-tiba aku mencium aroma yang tidak asing.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Itu bau abu dupa!
Kakek berkata bahwa bagian dalam boneka itu diisi abu dupa yang dibakar sebagai persembahan untuk Sang Leluhur. Di dalamnya juga terdapat papan kayu yang diukir dengan tanggal dan waktu kelahiranku. Pada bagian belakangnya, Kakek menggambar jimat menggunakan darahku.
Dengan benda ini, Nyonya Putih tidak akan bisa menemukan keberadaanku malam ini.
Aku merasa agak bingung. Mengapa harus membuat semua benda itu?
Ucapan Kakek berikutnya membuat keringat dingin membasahi seluruh tubuhku.
“Kalau malam ini dia datang mencarimu, dia akan mengambil nyawamu. Jadi, malam ini kau sama sekali tidak boleh bersuara. Jangan biarkan dia menemukanmu!”
Aku panik dan bertanya, “Kalau begitu, aku harus bersembunyi di mana?”
“Bersembunyilah di kamar ini. Kalau kau pergi, aroma tubuhmu akan meninggalkan tempat ini dan dia akan menyadari ada yang tidak beres.”
Kakek melemparkan boneka seukuran tubuh itu ke atas ranjang, lalu menutupinya dengan selimut sehingga tampak seolah-olah aku sedang tidur di sana. Setelah itu, dia menyuruhku bersembunyi di bawah ranjang.
Untuk mencegahku mengeluarkan suara tanpa sengaja, dia bahkan menyelipkan sepotong arang hitam ke dalam mulutku.
Setelah berkali-kali mengingatkanku agar tidak bersuara, Kakek meninggalkan kamar.
Aku bersembunyi di bawah ranjang, tidak berani bergerak sedikit pun, apalagi tidur.
Entah berapa lama waktu berlalu, tiba-tiba angin kencang bertiup di luar. Suaranya meraung-raung di sepanjang malam.
Aku diam-diam mengintip ke luar dan melihat bayangan hitam raksasa muncul di depan pintu.
Nyonya Putih datang!
Bayangan hitam itu menghilang dan berubah menjadi sosok manusia. Dalam sekejap mata, perempuan berpakaian putih itu sudah muncul di dalam kamar.
Dia bersenandung dengan irama aneh. Sudut bibirnya terangkat dalam senyuman, seolah-olah sedang merasa sangat gembira.
Mendengar irama aneh itu, kelopak mataku perlahan menjadi berat, seakan-akan aku akan tertidur pada detik berikutnya.
Tiba-tiba, rasa pahit yang luar biasa menyebar dari dalam mulutku. Saking pahitnya, air mataku hampir menetes.
Itu arang yang diselipkan Kakek ke dalam mulutku. Kini arang tersebut terasa sedikit panas, seolah-olah hendak terbakar sendiri, tetapi sama sekali tidak membakar mulutku.
Kesadaranku kembali pulih, dan kulit kepalaku terasa kesemutan.
Irama ini bermasalah!
Kalau bukan karena arang ini, mungkin aku sudah tertidur.
Nyonya Putih berjalan ke sisi ranjangku, lalu berjinjit pelan dengan ujung kakinya. Dia berbalik dan duduk, sementara betisnya bergerak-gerak ringan.
Aku mengepalkan tangan karena marah.
Ular busuk ini, apakah dia segembira itu hanya karena aku akan mati?
Baru saja pikiran itu terlintas, kedua kakinya tiba-tiba menghilang.
Jantungku seketika melompat ke tenggorokan. Seluruh bulu kudukku berdiri karena ketakutan.
Jangan-jangan dia sudah menemukanku?
Halaman (3/3)