Bab 67: Daftar Khusus
Setelah keluar dari lembaga penelitian, Lu Yiming memesan tiket pesawat ke kampung halamannya lewat ponsel, lalu naik taksi menuju bandara.
Ia baru saja memperoleh dua benda gaib yang sangat berguna; seharusnya ia merasa senang, namun anehnya, ia justru diliputi kegelisahan yang samar. Kelopak matanya yang kanan tak henti-hentinya bergerak, firasat aneh itu mirip perasaan ketika ujian masuk perguruan tinggi berantakan namun tetap harus dihadapi. Lu Yiming merenung cukup lama dan merasa kecemasan ini mungkin bersumber dari bencana kelas-S yang kian mendekat...
"Ah, jalani saja selangkah demi selangkah. Yang penting, jemput ayah dan ibu dulu... Kalau semua tinggal di tempat pengungsian yang sama, akan lebih mudah saling menjaga."
Orang tuanya adalah tipe yang sangat kental dengan nilai tradisional, selalu mengeluh bahwa kota besar itu tak nyaman, kurang rasa kekeluargaan, dan tak sebanding dengan kota kecil tempat mereka tinggal. Jika ia tidak pulang sendiri untuk menjemput, mungkin memang sulit membujuk mereka ikut bersamanya.
Kampung halaman Lu Yiming terletak di sebuah kota kecil di utara. Ia tumbuh besar di sana, melewati masa kecil yang indah. Namun, sejak lulus kuliah dan merantau ke selatan, ia terus menetap dan bekerja di sana, sebab perbedaan ekonomi antara utara dan selatan cukup mencolok. Di utara, nyaris tak ada pekerjaan yang cocok, terutama di bidang teknologi informasi.
Sejujurnya, Lu Yiming tidak begitu suka dengan tanah kelahirannya, karena relasi sosial di sana terasa begitu berat... Kota kecil itu bisa ditempuh dengan mobil hanya dalam belasan menit dari ujung ke ujung, dan hampir semua penduduknya memiliki hubungan langsung atau tidak langsung satu sama lain.
Jaringan relasi seperti itu bagi orang tua mungkin menjadi sumber rasa aman tertentu, tetapi bagi seseorang dengan kecemasan sosial ringan, hal itu justru menjadi beban mental yang berat. Ia tak begitu suka bertemu orang yang ia kenal.
Di sisi lain, relasi sosial yang semrawut seperti itu juga membatasi berkembangnya masyarakat kontraktual dan menahan laju ekonomi. Untuk urusan sepele pun harus meminta bantuan kenalan, seolah tanpa koneksi, semuanya tak bisa diurus. Hal inilah yang paling dibenci Lu Yiming.
Untuk sementara ia tak mau terlalu memikirkan hal-hal semacam itu. Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari, akhirnya ia tiba di kampung halaman tanpa kejadian yang tak diinginkan.
Ia membawa lima lembar tiket kapal—artinya ada sepuluh kuota keluarga. Satu untuk keluarganya sendiri, satu lagi untuk keluarga bibinya, dan delapan sisanya, Lu Yiming belum tahu akan diberikan pada siapa. Untungnya, berkat kebijakan pembatasan kelahiran dulu, keluarganya tidak banyak.
Menurut pengumuman pemerintah saat ini, hampir semua pekerja serta orang yang mengetahui informasi penting sudah memperoleh kuota bagi keluarganya. Mulai dari staf lembaga penelitian, para insinyur pembangunan tempat pengungsian, hingga prajurit militer; jika dijumlahkan, bisa mencapai jutaan orang.
Namun sisa kuota yang ada jauh lebih sulit didapat. Menurut analisis tim ahli pemerintah, untuk memulai kembali sebuah peradaban, harus ada populasi dari berbagai kalangan, terutama yang bergerak di bidang industri dan teknologi.
Oleh karena itu, tim penelitian akan mengumpulkan daftar khusus berdasarkan data yang ada. Misalnya, teknisi tingkat tinggi, insinyur senior, dan sejumlah dosen serta profesor universitas, begitu pula para ahli dari berbagai bidang, akan masuk dalam daftar tersebut.
Begitu tanda-tanda bencana kelas-S mulai nyata, seluruh staf dan militer akan dikerahkan untuk mengundang mereka yang tertera dalam daftar naik ke kapal.
Sebenarnya, ini adalah pilihan yang sangat kejam. Mereka yang diundang naik kapal, paling hanya boleh membawa pasangan dan anak mereka. Selain talenta yang sangat langka, orang tua mereka dan kerabat di atas usia enam puluh tahun pada prinsipnya tidak diizinkan ikut.
Karena harapan hidup harus diberikan pada generasi muda yang masih mampu beranak. Jika mayoritas masyarakat diisi orang tua, maka kehidupan akan stagnan dan tak ada perkembangan.
Ini sangat berbeda dengan pemilik tiket kapal, sebab satu tiket berarti satu kuota keluarga inti. Selama Lu Yiming mau, ia bisa memberikan tiketnya pada orang tua berusia seabad, bahkan pengemis di pinggir jalan pun boleh.
Selain itu, pemilik tiket kapal otomatis mendapat pekerjaan, tunjangan sosial yang tinggi, dan ruang hunian yang lebih luas—semua fasilitas yang sulit didapat oleh orang lain.
Di sisi lain, diundang saja sudah sangat beruntung, sebab jumlah penduduk begitu besar. Penerima undangan paling hanya lima per seribu hingga satu persen dari total populasi, sisanya hanya bisa pasrah pada nasib.
Lima per seribu... Untuk perbandingan, siswa yang diterima di universitas unggulan nasional saja sekitar dua persen, berarti ini jauh lebih sulit.
Memikirkan hal itu, hati Lu Yiming jadi gelisah. Jika ini terjadi di masa lalu, ia pasti termasuk yang dieliminasi, bahkan mungkin tak akan tahu soal bencana kelas-S. Saat ia sadar, segalanya sudah terlambat.
Ia menggelengkan kepala, memaksa diri untuk tak memikirkan hal berat semacam ini.
Pada akhirnya, Lu Yiming hanyalah salah satu dari sekian banyak orang biasa. Meski punya sedikit kekuasaan, tiket kapal itu hanya cukup menyelamatkan segelintir orang; mustahil ia bisa bermimpi menyelamatkan semua orang.
Ia naik taksi, buru-buru pulang ke rumah, dan membuka pintu dengan kunci.
"Ha! Menang lagi!"
"Ah, andai saja tadi aku tak buang kartu itu!"
Ibunya sedang asyik bermain mahyong bersama para tetangga di kamar kecil, sementara ayahnya tetap duduk di ruang tamu, sibuk menonton acara drama keluarga penuh pertengkaran, bahkan tak sadar ada orang baru masuk ke rumah.
Dari televisi terdengar suara pria dengan intonasi naik turun, "…Cinta sejati harus ada hasrat, tanpa itu paling-paling hanya sekadar teman! Berapa banyak orang yang dari cinta berubah jadi teman, lalu akhirnya jadi tak peduli. Sekarang, mari kita undang tamu berikutnya, kita lihat masalah apa yang muncul di antara suami istri ini, dan apakah masih mungkin didamaikan..."
"Ayah!" panggil Lu Yiming sambil mengambil satu buah persik dari piring di meja, menggigitnya, dan menikmati rasa segar buah itu.
"Eh, Lu Yiming... Kok kamu pulang?" tanya Lu Guoqiang sambil meletakkan remote di tangan, heran, "Hari ini nggak masuk kerja?"
"Perusahaan lagi libur, jadi aku pulang buat istirahat," jawab Lu Yiming dengan alasan yang sudah disiapkan, "Kebetulan ada acara wisata dari kantor, aku mau ajak kalian liburan ke selatan! Toh di rumah juga nganggur."
"Liburan? Nggak mau!" Ayahnya langsung menolak sambil memajukan bibirnya.
Bagi dia, tak ada tempat yang lebih baik daripada rumah sendiri. Pergi liburan di matanya hanyalah pemborosan uang, lebih baik menonton acara jodoh di rumah, nyaman dan gratis.
Bisa melihat tingkah laku para gadis aneh di acara jodoh itu juga sudah cukup menghibur.
Lu Yiming tak menggubris penolakan ayahnya. Ia melanjutkan, "Ini fasilitas gratis dari kantor, hadiah atas prestasi kerjaku. Oh ya, aku juga mau ajak keluarga bibi, sekarang kan pas libur musim panas. Tiket tur sudah aku beli, total habis lebih dari dua puluh juta. Kalau kalian nggak ikut, tiketnya terbuang sia-sia."
"Dua puluh juta? Perusahaan kamu baik banget!" Ayahnya tercengang. Sepanjang hidup bekerja di perusahaan plat merah, ia tak pernah dapat rezeki seperti itu.
"Tentu saja. Sekarang aku sudah jadi manajer di kantor, gaji tahunan sampai ratusan juta. Masa aku nipu kalian? Yuk, ikut aku liburan beberapa hari ke sana."