21 Melunasi Utang
Halaman (1/3)
Aku adalah seorang pemandu tingkat B.
Aku tahu persis berapa gaji yang masuk ke rekeningku setiap bulan, juga seberapa besar selisihnya dengan para sentinel yang memiliki tingkat dan posisi yang sama.
Karena itu, anggapan bahwa sebanyak apa pun gaji yang diterima, sebanyak itu pula pekerjaan yang harus dilakukan—dan kalau ingin kenaikan gaji, tinggal bekerja lebih banyak—sebenarnya tidak ada salahnya.
Jadi, sebagai seorang pemandu tingkat B yang hanya menerima gaji pokok, pegawai kantoran biasa tanpa ambisi karier dan cukup menjalani hidup seadanya, mengapa pula aku harus memperjuangkan ketidakadilan yang menimpa rekan-rekanku? Aku sendiri juga tidak mengerti.
Bukan berarti aku berkepribadian pasrah begitu saja. Kalau memang harus melawan, aku tetap akan melawan, terutama ketika menghadapi pelecehan seksual di tempat kerja (?)
Namun, berkonflik dengan atasan tetap bukan sesuatu yang biasanya masuk dalam daftar pilihanku, sebab menurutku hal itu tidak terlalu perlu.
…Namun, bukan berarti aku tidak punya pilihan itu. Bukan pula berarti aku tidak boleh memilihnya.
“Aku tahu.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, aku ingin melihat reaksi ketua Grup A, jadi aku menunggu sejenak, menatapnya sambil menanti ia berbicara.
—Saat itu aku tidak sempat memikirkan bahwa nada bicaraku yang penuh keyakinan, juga sikapku yang menunggu penjelasan setelah mengajukan pertanyaan, sama sekali tidak menyerupai pegawai kantoran biasa yang telah bertahun-tahun bekerja di tingkat bawah dengan penuh kecemasan. Sebaliknya, aku justru memancarkan aura seorang pemimpin yang terbiasa duduk di posisi tinggi dan memberi perintah.
Ketua Grup A duduk lebih tegak dalam diam, menelan ludah, lalu berkata:
“…Aku tahu kalian sedang mengalami kesulitan.”
“Ini bukan soal kesulitan, Ketua.”
Jari-jariku mengetuk bibir cangkir perlahan.
“Ini soal ketidakjelasan penanggung jawab pekerjaan. Pembagian tugas yang tidak jelas akan menurunkan efisiensi kerja. Anda seharusnya sangat memahami hal itu, bukan?”
“Aku paham…”
“Kalau begitu, mulai sekarang, apabila ada pekerjaan yang berkaitan dengan pelatihan anggota baru Grup A atau urusan lain yang tidak termasuk dalam wewenang dan tanggung jawab Grup B, jangan lagi melimpahkannya kepada kami dengan alasan kekurangan tenaga.” Aku mengangkat pandangan, menatap ketua Grup A, lalu menunjuk ke atas dengan telunjuk sebagai isyarat. “Terutama, jangan lagi menjadikan bos sebagai tameng. Kalau tidak, lain kali aku akan langsung menemui bos. Saat itu, masalahnya bukan lagi sesuatu yang bisa diselesaikan hanya karena Anda datang menemuiku.”
Ketika aku mendorong pintu hingga terbuka, bahkan aku pun tak urung tertegun di tempat saat melihat sebuah dinding manusia roboh bersamaan dengan suara gaduh.
…Rupanya mereka bersandar di pintu untuk menguping. Satu orang menumpuk di atas orang lain, semakin lama semakin banyak, hingga akhirnya terbentuk dinding yang nyaris roboh. Dan sekali kudorong, dinding itu pun tumbang.
Halaman (1/3)
Para sentinel muda yang tergeletak kacau di lantai menatapku dengan mata berbinar-binar.
“Salam, senior!”
“Senior keren sekali!”
“Ucapan senior benar-benar hebat!”
“Memang luar biasa, senior! Pantas saja senior adalah orang yang kukagumi!”
…Tapi kalian juga berada dalam jangkauan tembakanku, tahu. Tidak apa-apa?
Aku menghela napas, lalu mengulurkan tangan dan membantu para sentinel yang masih terkapar di lantai untuk berdiri satu per satu.
“Bekerjalah yang baik. Kalau ada waktu, mampir ke Grup B.”
“Baik, Senior! Senior baik sekali!”
Sambil tersenyum dan terus menggumamkan persetujuan, aku menarik mereka berdiri satu demi satu, sampai tanganku menggenggam tangan dengan jari-jari panjang yang berbau asap dan batu vulkanik.
…Kenapa jam tangan ini terlihat begitu familier?
Astaga, bukankah itu seperti jam tangan seharga lebih dari delapan ratus tujuh puluh ribu yang beberapa waktu lalu kumasukkan ke keranjang belanja hanya untuk memanjakan mata? Namun, seharusnya ini hanya tampilan jam yang mirip. Detailnya masih cukup berbeda, dan ini jelas jam tangan pria—baik tali maupun tampilan jamnya sama-sama besar.
“Salam, Senior. Sudah lama tidak bertemu.”
Sebelum sempat melihat wajahnya, suara bernada tawa itu lebih dahulu sampai ke telingaku.
Astaga, si malang kecil—
Ia juga mengenakan setelan jas yang jelas dibuat dengan sangat teliti dan mahal, sambil teronggok di lantai. Jelas sekali ia pun ikut menguping tadi.
Namun, dibandingkan soal apakah ia menguping atau tidak, jam tangan barunya jauh lebih menarik perhatianku.
…Sebenarnya, setinggi apa gaji tingkat A?
Tapi menanyakan gaji rekan kerja bukanlah hal yang sopan. Lagi pula, para sentinel ini sangat mudah salah mengartikannya menjadi, “Kau menanyakan gajiku karena ingin mengatur uangku, ya? Oh, aku mengerti. Kau menyukaiku, ingin nomor teleponku, dan ingin bersamaku.” Jadi, lupakan saja.
Halaman (2/3)
Dengan memanfaatkan tenagaku, ia berdiri, lalu melepaskan genggamannya. Namun, jarak antara kami sudah telanjur merapat. Ujung sepatu pantofelnya yang berujung persegi menyentuh sisi sepatu olahraga putihku dengan ringan, nyaris tanpa suara.
Aroma batu pijar dari tubuhnya perlahan menguar, bercampur dengan sedikit wangi parfum yang menyenangkan.
“Kurasa tidak terlalu lama, bukan?”
Aku menggerakkan bola mata, diam-diam menghindari tatapannya.
“…Dua minggu?”
Si malang kecil itu hanya tersenyum—senyum yang membuat hatiku sedikit gelisah.
“Haha… ternyata cukup lama, ya?”
…Bolehkah aku mengatakannya? Aku benar-benar sudah lupa bahwa sebelumnya aku pernah berjanji akan melakukan pemurnian untuknya pada hari Kamis. Dan hari Kamis yang dimaksud adalah Kamis minggu lalu.
“Aku bisa menunggu selama apa pun.”
Begitulah yang diucapkan si malang kecil, tetapi samar-samar di matanya tampak tiga bagian ketidakrelaan dan tujuh bagian rasa iba pada diri sendiri.
Bukan begitu, Bung. Kau sudah bekerja lebih dari tiga tahun, bahkan bisa dibilang sebagai bintang yang sedang naik daun. Baiklah, kau ikut menguping bersama segerombolan junior di depan pintu atasanmu sendiri. Tapi sejak kapan kau juga mulai berakting berlebihan?
Kapan sebenarnya kebiasaan buruk semacam ini mulai menyebar?
Maka, tanpa ekspresi, aku segera memotongnya.
“Cukup. Jalan. Jangan bicara lagi.”
Pada akhirnya, si malang kecil menendang-nendangkan sepatu pantofelnya dengan riang sambil mengikutiku kembali ke gedung Grup B.
—Bagaimanapun, aku tetap ketahuan. Padahal kukira dia akan melupakannya…