Bab Dua Puluh Empat Perasaan Itu Ada, Hanya Waktunya Belum Tiba
Mu Qianxia kembali ke kediaman, duduk di dalam kamar, dan setiap kali teringat gerak-gerik Gu Li barusan, pipinya tak kuasa menahan rona merah dan jantungnya berdegup kencang. Meski ia sudah menjalani dua kehidupan, dirinya tetaplah seorang gadis polos yang bahkan belum pernah jatuh cinta. Tindakan Gu Li yang ambigu tadi adalah kontak pertamanya yang begitu dekat dengan lawan jenis. Di kehidupan sebelumnya, ia memang sering membaca novel dan menonton drama, bahkan sangat menyukai adegan-adegan pria utama yang menggoda. Namun siapa sangka, ketika benar-benar mengalaminya sendiri, perasaan yang timbul ternyata seperti ini—debar jantung yang semakin tak terkendali.
Liuli yang melihat wajah Mu Qianxia memerah tak tahan untuk menggoda, “Wah, Putri, sedang memikirkan apa, ya? Coba tebak, apakah sedang memikirkan Tuan Gu?”
Mu Qianxia merasa canggung seolah rahasianya ketahuan, ia berkata gugup, “Kamu... apa-apaan sih? Sekarang bahkan berani menggoda majikanmu, keberanianmu makin besar saja.”
Liuli menjulurkan lidahnya, “Keberanian hamba ini kan dari Putri, semua ini hamba lakukan demi kebaikan Putri. Urusan pernikahan Putri adalah hal terpenting bagi hamba.”
Mu Qianxia mendengus, “Huh, aku ini masih muda, belum saatnya membicarakan soal pernikahan. Kurasa kamu yang tak sabar ingin menikah, iya kan? Tenang saja, mulai besok aku akan carikan calon suami untukmu.”
Liuli tersenyum manis, “Ampun, Putri, hamba salah, hamba tak berani menggoda lagi. Hamba hanya ingin seumur hidup melayani di samping Putri.”
Mu Qianxia mendengus pelan, “Aku ini orangnya murah hati, jadi kali ini aku maafkan. Cepat sana, suruh pelayan menyiapkan makananku, aku sudah sangat lapar.”
“Baik, hamba menurut. Tapi, Putri, apakah Anda menyukai Tuan Gu?”
Mu Qianxia berpura-pura marah, “Kalau kamu bilang lagi, saat ini juga aku akan menikahkanmu.”
Liuli pun tertawa sambil berlari pergi.
Tinggallah Mu Qianxia seorang diri di dalam kamar, termenung: Apakah benar ia menyukai Gu Li?
************
Keesokan paginya, Mu Qianxia dipanggil masuk ke istana oleh Mu Chenyi. Dalam perjalanan dengan kereta kuda, ia sempat tertidur hingga Liuli membangunkannya ketika tiba di gerbang istana.
Mu Chenyi sedang memeriksa dokumen di ruang kerjanya. Begitu mendengar kasim di depan pintu memberitahu bahwa Mu Qianxia telah menunggu, ia segera menghentikan pekerjaannya dan berkata, “Cepat, suruh dia masuk.”
Bahkan sebelum masuk, Mu Qianxia sudah bersuara manja, “Kakanda, sehari tak bertemu rasanya seperti tiga tahun! Kita ini seperti tak bertemu bertahun-tahun, Adinda sangat merindukan Kakanda.”
Mu Chenyi menegur dengan senyum, “Dasar gadis ini, semakin tak tahu aturan saja, mana boleh berteriak di dalam istana?”
Mu Qianxia segera memeluk lengan Mu Chenyi, bermanja, “Adinda begini karena sangat merindukan Kakanda.”
Mu Chenyi mencolek hidung adiknya, “Kamu memang paling pandai bicara.”
Setelah sekian lama bersama, Mu Qianxia sudah menganggap Mu Chenyi seperti kakak kandung sendiri, sehingga ia berani bersikap manja dan semakin kehilangan rasa canggung.
Mu Qianxia tersenyum bertanya, “Kakanda, kali ini memanggil Adinda ada urusan apa?”
Mu Chenyi mencoba memasang wajah serius, “Sudah lama kamu tak berinisiatif masuk istana menemuiku. Kalau aku tak memanggilmu, kau pasti lupa masih punya kakak.”
Mu Qianxia tersenyum menyanjung, “Adinda selalu mengingat Kakanda, hanya saja akhir-akhir ini begitu sibuk sampai tak sempat istirahat.”
Melihat sikap adiknya yang sopan, Mu Chenyi pun tak mempermasalahkan lagi, ia bertanya santai, “Kudengar kau baru saja mengikuti pertemuan puisi dan berhasil mengalahkan Putri Jiahe yang terkenal sebagai gadis paling berbakat di ibu kota. Kenapa Kakanda tak pernah tahu bahwa adikku punya kemampuan sehebat itu?”
Mu Qianxia merendah, “Itu hanya kebetulan saja, Kakanda. Kalau temanya diganti, belum tentu Adinda bisa. Tapi Kakanda, begini bukankah baik?”
Mu Chenyi tertawa puas, “Kenapa tidak baik? Kakanda sangat bangga. Begitu mendengar kabar ini, rasanya sulit dipercaya. Andai Ayahanda tahu, pasti beliau juga akan sangat senang.”
“Dulu Adinda memang masih kekanak-kanakan dan sering membuat Ayahanda marah. Sekarang demi menjaga nama baik Kakanda, Adinda belajar dengan giat, sampai Tuan Gu di kediaman Adinda saja terkejut melihat semangat Adinda belajar.”
Mu Chenyi mengangguk senang, “Bagus, belajar itu memang menguras tenaga. Sebentar lagi Kakanda akan memerintahkan dapur istana mengirimmu beberapa makanan bergizi.”
“Terima kasih, Kakanda,” jawab Mu Qianxia dengan patuh.
“Oh iya, Kakanda dengar kemarin di pertemuan puisi terjadi insiden, ada yang berniat mencelakakanmu dan bahkan berhasil memindahkan pengawal rahasia yang Kakanda tugaskan untukmu?”
Mu Qianxia mengangguk, “Memang benar, Adinda menduga itu ulah Keluarga Chen.”
Mu Chenyi marah, “Tak tahu sopan! Berani-beraninya mereka menyakiti Putri, mengira aku ini tak berdaya?”
Mu Qianxia menenangkan, “Kakanda jangan marah, marah-marah tidak baik untuk kesehatan. Adinda ini kan selamat, tak mungkin semudah itu masuk perangkap mereka.”
Mu Chenyi mengelus kepala adiknya, “Ini salah Kakanda, sampai adik sendiri pun tak bisa kulindungi. Bagaimana bisa Keluarga Chen berani bertindak sejauh itu padamu.”
“Mana mungkin, bagi Adinda, Kakanda tetap yang terbaik. Walaupun sekarang kita tak bisa berbuat apa-apa pada mereka, bukan berarti masa depan juga demikian. Ada burung yang lama tak terbang, sekali terbang langsung ke langit; ada burung yang lama diam, sekali bersuara membuat semua terkejut. Nanti, bila Keluarga Chen lengah, kita akan beri mereka pukulan telak sampai tak bisa bangkit lagi. Saat itu, semua hutang lama dan baru akan kita tuntut. Apa yang mereka lakukan pada Adinda, pasti akan Adinda balas, hanya saja sekarang belum saatnya.”
Mu Chenyi mendengar perkataan adiknya, menatapnya penuh takjub, “Tak kusangka sekarang kamu sudah begitu bijaksana, tak lagi impulsif seperti dulu. Rupanya setelah mengalami kejadian kemarin, kamu benar-benar sudah dewasa.”
“Setelah sekali berhadapan dengan maut, semua masalah rasanya tak lagi menjadi masalah.”
Mu Qianxia kembali menemani Mu Chenyi berbincang cukup lama di istana, hingga hari mulai sore barulah ia keluar istana.
Melihat waktu masih awal, Mu Qianxia sekalian mampir ke kediaman Hanyan.
Begitu melihat Mu Qianxia, Hanyan langsung mengucapkan selamat, “Selamat, Yang Mulia Putri. Sekarang Anda terkenal di seluruh ibu kota. Semua orang tahu Anda berhasil membuat Putri Jiahe mengakui kekalahan dalam pertemuan puisi. Karya Anda bahkan dianggap sebagai mahakarya yang tak tertandingi dan tersebar ke mana-mana.”
Mu Qianxia melambaikan tangan, “Sst, jangan terlalu mencolok, itu hanya kebetulan. Aku datang ke sini justru ingin berterima kasih padamu karena sudah memperingatkan agar berhati-hati pada orang-orang Keluarga Chen. Kalau tidak, mungkin sekarang namaku sudah tercemar.”
Hanyan merendah, “Aku juga sempat mendengar soal itu. Tak kusangka Keluarga Chen berani berbuat sejahat itu, benar-benar tak menghargai keluarga kerajaan. Tapi walaupun aku tak sempat memperingatkan, aku yakin kamu pasti bisa mengatasi masalah itu dengan kecerdikanmu.”
“Tapi aku juga dengar, Putri Jiahe itu putri satu-satunya Pangeran Yiqin, sangat dimanja keluarganya dan dikenal pendendam. Siapa pun yang menyinggungnya pasti celaka, itulah sebabnya ia bisa begitu akrab dengan Chen Chen, karena watak mereka sangat mirip. Sekarang kau sudah menyinggung keduanya, jadi harus lebih berhati-hati ke depannya.”
Mu Qianxia mengangguk, “Terima kasih atas peringatannya. Aku pasti akan lebih berhati-hati.”
Mereka berdua pun berbincang-bincang hingga langit gelap, barulah Mu Qianxia berpamitan.
*************
Malam hari, di kediaman Putri, Paviliun Mata Air Jernih.
Gu Li sedang membaca buku di dalam kamar. Api lilin bergetar pelan, tiba-tiba muncul sesosok bayangan masuk tanpa suara ke dalam ruangan.
Gu Li mengangkat kepala menatap tamunya.
Tamu itu memberi hormat, lalu berkata, “Putri Jiahe berniat menyewa pembunuh dari Gedung kita untuk membunuh Putri Agung. Sesuai perintah Anda sebelumnya, hamba tidak menerima permintaan itu. Namun, baru saja hamba dapat kabar, ia telah menyewa orang-orang dari Gedung Bayangan, saingan kita, untuk membunuh Putri Agung. Apakah hamba harus turun tangan menyingkirkan para pembunuh itu?”
Benar, orang yang datang itu adalah pemimpin Gedung Bulan Bayangan. Di dunia persilatan, nama Gedung Bulan Bayangan sangat terkenal sebagai kelompok yang ahli dalam membunuh dan mengumpulkan informasi. Asal bayarannya cukup, tak ada tugas yang tak bisa mereka selesaikan. Di kalangan pembunuh, mereka nomor satu. Hanya saja, pemimpin Gedung ini selalu misterius dan menutupi wajah, tak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya.
Gu Li berpikir sejenak, lalu berkata, “Tak perlu. Kau hanya perlu mengawasi mereka. Sisanya biar aku yang urus.”
“Baik, hamba pamit.” Selesai berkata, bayangan itu pun segera menghilang tanpa jejak.