Bab Sembilan: Persiapan, Pembukaan Resmi
Gu Li pergi tanpa alasan yang jelas, sementara Mu Qianxia bahkan lebih bingung lagi, tetap berdiri di tempat semula. Ia memikirkan berulang kali, namun tetap tidak mengerti apa yang membuat Gu Li kesal. Seharusnya, dengan kedudukan Gu Li di kediaman itu, ia hampir setara dengan orang kedua setelah kepala keluarga, dan menurut Liu Li, Gu Li biasanya sangat ramah dan tidak tampak seperti orang yang mudah tersinggung.
Setelah pikirannya berputar tanpa henti, Mu Qianxia yang memang bukan tipe yang suka merumitkan masalah, akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Toh, masih banyak hal penting yang menantinya di depan.
***
Beberapa hari terakhir, Mu Qianxia sangat sibuk hingga nyaris kewalahan. Setiap hari setelah sarapan, ia bergegas keluar menuju Penginapan Yuelai untuk berdiskusi dengan Han Yan mengenai berbagai urusan penting.
Mu Qianxia bahkan rela begadang beberapa malam demi menyusun sebuah rencana yang sangat rinci. Fokus utamanya adalah pada rumah hiburan dan restoran.
"Han Yan, lihatlah, rumah hiburan di ibu kota biasanya hanya diberi nama seperti Gedung ini atau Paviliun itu, atau Kafe ini, terlalu biasa dan umum. Kita harus memberi nama yang lebih mewah, seperti Klub X," ujar Mu Qianxia.
Han Yan merenung sejenak, merasa pendapat itu masuk akal, lalu bertanya, "Adakah ide menarik lainnya dari Putri?"
"Pakaian para gadis di klub nanti sudah aku desain, berupa gaun cheongsam dengan belahan tinggi, yang akan sangat menonjolkan bentuk tubuh mereka."
"Ada contoh bajunya, Putri? Bolehkan rakyat jelata ini melihatnya?"
"Aku sudah meminta orang untuk segera membuatnya. Begitu selesai, aku akan segera memberitahumu."
"Kalau begitu, aku akan menunggu kabar baik dari Putri."
"Lalu, apa pendapat Putri tentang restoran?"
Mu Qianxia menepuk bahunya dan berkata, "Bisa bekerja sama denganku adalah keberuntunganmu."
"Oh? Bisa dijelaskan maksud ucapan itu?" tanya Han Yan sambil tersenyum.
"Aku sudah mencari tahu, di kota ini belum ada satu pun restoran herbal. Aku berniat masuk istana dan meminta kepada kakak Kaisar seorang juru masak istana dan tabib, agar mereka meneliti resep masakan herbal yang cocok untuk masyarakat umum."
Han Yan mengangguk setuju, "Ide Putri sangat bagus. Kenapa aku tidak terpikir sebelumnya? Apakah ada sesuatu yang perlu aku lakukan?"
Mu Qianxia terkekeh, "Sudah lama aku menunggu pertanyaanmu itu. Kita akan menerapkan sistem pemegang saham."
"Sistem pemegang saham?" tanya Han Yan, bingung.
"Sederhananya, setiap orang adalah bagian dari usaha ini. Selain gaji bulanan, mereka juga akan mendapat pembagian keuntungan. Seluruh pegawai mendapat 15% saham. Jika kita untung, 15% laba akan dibagikan secara merata kepada para pegawai, sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat. Di akhir tahun, pegawai terbaik akan mendapat hadiah besar."
Han Yan akhirnya mengerti, "Jadi begitu."
Mu Qianxia melanjutkan, "Sisanya, soal pegawai dan tempat, kupercayakan padamu. Ingat, dekorasi kita harus mewah, megah, dan berkelas. Sasaran pelanggan kita adalah kelompok berpengeluaran tinggi. Harus diingat, kekayaan negara ini dikendalikan oleh segelintir orang. Kalau kita tidak memanfaatkan mereka, rugi besar."
Han Yan menirukan gerakan hormat secara formal, "Hamba akan menuruti perintah Putri."
Setelah menjelaskan semuanya, Mu Qianxia segera bergegas menuju istana.
Han Yan menatap punggung Mu Qianxia yang menjauh, menyipitkan mata dan berbisik, "Putri ini benar-benar luar biasa."
***
Di istana, Mu Chenyi sedang membaca laporan para pejabat di ruang kerjanya. Begitu mendengar laporan dari kasim bahwa Putri Agung menunggu di luar, Mu Chenyi segera meletakkan laporannya.
"Segera persilakan dia masuk," perintahnya.
Sebelum Mu Qianxia masuk, suaranya sudah terdengar, "Kakak Kaisar, adikmu ini sangat merindukanmu!"
Mu Chenyi menggelengkan kepala, "Katakan saja, setiap kali kau berbicara seperti ini, pasti ada permintaan yang ingin kau ajukan padaku."
Mu Qianxia tersipu, "Kakak, sungguh, aku benar-benar merindukanmu."
"Kalau begitu, nanti aku tidak akan mengabulkan permintaanmu," ujar Mu Chenyi, pura-pura serius.
Melihat dirinya sudah ketahuan, Mu Qianxia tidak bertele-tele lagi, langsung memeluk lengan Mu Chenyi, "Kakak Kaisar, aku hanya ingin meminta dua orang, satu tabib istana dan satu juru masak istana."
"Oh? Untuk apa kamu butuh kedua orang itu?" tanya Mu Chenyi, heran.
Mu Qianxia tersenyum, "Akhir-akhir ini aku ingin membuka restoran bersama seseorang, jadi butuh juru masak dan tabib istana agar bisa meneliti resep masakan herbal yang cocok untuk umum."
"Dengan siapa kau akan bekerja sama?"
"Han Yan."
"Han Yan? Bukankah dia saudagar terkaya di negeri ini?" Mu Chenyi terkejut. "Bagaimana kau bisa mengenalnya?"
"Tak heran dia sampai dikejar orang. Aku bertemu dengannya secara kebetulan saat sedang bepergian dan menyelamatkannya, dari situlah kami berkenalan."
Mu Qianxia kembali merayu, "Kakak Kaisar, jadi, maukah kau membantuku?"
Mu Chenyi mengusap dahinya, pasrah, "Baik, baik, baik, apa pun permintaanmu, aku kabulkan."
Mu Qianxia berseri-seri, "Terima kasih, Kakak Kaisar. Oh ya, nanti aku juga butuh bantuanmu untuk menulis papan nama restoran."
Mu Chenyi hanya bisa mengangguk tanpa kata. Dirinya, seorang Kaisar, ternyata harus menulis papan nama restoran—benar-benar di luar dugaan.
Setelah mendapat persetujuan dari Mu Chenyi, Mu Qianxia berbincang sejenak dengannya lalu kembali ke kediamannya.
Berkat bimbingan Mu Qianxia, Han Yan segera menyiapkan segalanya. Pada hari pembukaan, mereka menerapkan sistem keanggotaan seperti yang direncanakan Mu Qianxia: siapa pun yang membuat kartu anggota akan mendapat pelayanan terbaik.
Dengan persiapan dan promosi yang gencar, akhirnya Restoran Herbal dan Klub Cahaya Bulan resmi dibuka.