Bab Tujuh: Keluar dari Kediaman, Pertolongan Tak Terduga
Akhir-akhir ini, Mu Qianxia menjalani hari-harinya di kediaman dengan sangat santai. Siang hari ia hanya makan dan tidur, sedangkan malam harinya ia pergi ke tempat Gu Li untuk belajar memainkan guqin. Hari-hari pun berlalu tanpa terasa.
Mu Qianxia merasa dirinya tak bisa terus seperti ini. Sudah saatnya ia keluar dari kediaman dan berjalan-jalan. Sebelumnya, karena berbagai alasan, ia belum sempat benar-benar menikmati indahnya dunia ini.
Dari Liuli, ia mendengar bahwa di pinggiran ibu kota ada sebuah tempat yang sangat cocok untuk berwisata di musim semi. Banyak keluarga bangsawan di ibu kota yang sering pergi ke sana untuk bersenang-senang.
Mu Qianxia pun langsung memutuskan, esok harinya ia akan pergi ke sana untuk berwisata.
Keesokan paginya, Mu Qianxia bangun sangat pagi. Sebenarnya ia tak berniat bangun sepagi itu, cukup bersiap-siap seadanya saja menurutnya sudah cukup. Namun Liuli, si gadis kecil itu, sama sekali tidak setuju. Ia memaksa Mu Qianxia keluar dari selimut ketika langit masih remang-remang, lalu dengan sungguh-sungguh berkata, “Putri, meski kali ini Anda hanya jalan-jalan, tapi bukan tidak mungkin Anda akan bertemu dengan para bangsawan ibu kota. Jika Anda terlihat berpakaian seadanya, pasti akan jadi bahan tertawaan mereka. Lagi pula, Anda bukan hanya mewakili diri sendiri, tapi juga kehormatan kerajaan…”
Rasa kantuk yang masih tersisa pun lenyap seketika oleh ocehan Liuli.
Tak ada pilihan lain, ia pun duduk manis di depan meja rias, membiarkan Liuli menata rambut dan wajahnya. Satu jam lebih akhirnya baru siap keluar rumah.
Namun harus diakui, kepiawaian Liuli memang luar biasa. Setelah dirias dan berdandan, penampilan Mu Qianxia semakin memesona dan menawan. Dipadukan dengan busana mewah yang elegan, ia benar-benar tampak anggun dan berkelas.
Baru saja melangkah ke pintu, Mu Qianxia melihat Gu Li sudah berdiri di sana menunggunya dengan senyum di wajah. Begitu melihatnya datang, Gu Li memberikan salam singkat dan berkata, “Karena hari ini Putri akan bepergian, sebaiknya bawa lebih banyak pengawal dari kediaman. Walau tempat itu biasanya aman, kita tetap harus waspada.”
Mu Qianxia menerima saran baik itu dengan senyum. Akibatnya, rombongan yang tadinya hendak berangkat secara sederhana, kini mendadak jadi besar dan mencolok.
Setelah menempuh perjalanan dengan kereta kuda sekitar satu jam, akhirnya mereka sampai. Begitu turun dari kereta, Mu Qianxia langsung terpesona oleh pemandangan di hadapannya, tak kuasa menahan decak kagum, “Benar-benar pemandangan seindah lukisan, Liuli memang tidak bohong.”
Di sekelilingnya, hamparan hijau membentang. Rumput-rumput kecil mulai menampakkan ujungnya, pepohonan mengeluarkan tunas-tunas baru, dan di padang rumput bermekaran bunga liar di sana-sini, semuanya tampak penuh kehidupan. Di kejauhan, tampak sebuah danau, airnya jernih hingga ke dasar. Cahaya matahari memantulkan kilauan di permukaan air, seolah menaburi permukaan danau dengan perak berkilauan, atau seperti kain sutra hijau yang diremas-remas. Jika menengadah ke langit, terlihat biru cerah tanpa awan, hanya beberapa gumpal awan tipis perlahan melayang terbawa angin.
Sungguh, semua ini tak bisa ditemukan di abad dua puluh satu. Mu Qianxia duduk di atas rumput, bersandar pada batang pohon, memejamkan mata, menikmati harum bunga yang samar, mendengarkan kicau burung dan dengung serangga yang merdu, meresapi keindahan alam yang luar biasa.
Namun keindahan itu tak bertahan lama. Semuanya segera buyar.
Seorang pemuda berlari ke arah Mu Qianxia dengan tergesa-gesa, tampak panik menghindari kejaran. Dengan cepat, para pengawal Mu Qianxia membentuk lingkaran, melindunginya di tengah.
Begitu melihat Mu Qianxia, pemuda itu berteriak minta tolong, menarik perhatian para pengejarnya. Ia bahkan pura-pura akrab dengan Mu Qianxia, berkata, “Kebetulan sekali, tak disangka kita bertemu di sini, sungguh takdir!”
Mu Qianxia langsung merasa ada yang tidak beres. Baru saja ia hendak menyangkal bahwa ia mengenal pemuda itu, para pengawalnya sudah terlebih dahulu bertarung dengan para pengejar tadi.
*************
Di kediaman putri, Gu Li sedang bermain catur sendirian di dalam kamar. Suasana sunyi, hanya terdengar suara batu catur jatuh di papan. Tiba-tiba, bibir Gu Li bergerak, seakan bergumam sendiri, “Pertunjukan menarik, sepertinya sudah dimulai…”
**************
Harus diakui, para pengawal kediaman putri cukup handal. Walaupun para pria berbaju hitam itu memiliki kemampuan bela diri tinggi, namun jumlah pengawal lebih banyak sehingga mereka bisa dengan cepat mengalahkan para penyerang itu. Melihat misi gagal, para penyerang pun memilih mundur tanpa banyak pikir, dan Mu Qianxia juga tidak memerintahkan pengejaran lebih lanjut, membiarkan mereka pergi.
Mu Qianxia melambaikan tangan, memerintahkan para pengawal untuk mundur, lalu menatap pria muda di depannya dengan senyum. Pria itu berwajah tampan, sepasang mata indah berbentuk bunga persik menambah pesona nakal pada dirinya. Meski tak secantik Gu Li, tapi tetap layak disebut tampan.
Pemuda itu dengan santai membalas tatapan Mu Qianxia, tampak tenang dan percaya diri. Kalau saja Mu Qianxia tidak tahu ia baru saja lolos dari kejaran, pasti ia mengira pemuda itu juga hanya datang untuk menikmati pemandangan.
Setelah Mu Qianxia selesai mengamatinya, pemuda itu memberi hormat dan berkata, “Rakyat jelata, Han Yan, berterima kasih atas pertolongan Yang Mulia Putri. Jika suatu hari nanti ada kesempatan membantu, saya pasti akan berusaha sekuat tenaga.”
“Oh? Bagaimana kau tahu identitasku?” Mu Qianxia merasa pakaiannya hari ini tidak memperlihatkan jati dirinya.
Han Yan menjawab dengan rendah hati, “Terus terang, saya adalah seorang pedagang. Pakaian yang Yang Mulia kenakan terbuat dari kain salju asap yang diimpor dari selatan, sangat langka dan sulit dibuat. Di seluruh Xichu hanya ada dua gulungan. Satu diberikan kepada Permaisuri, dan satu lagi diberikan kepada Yang Mulia Sang Putri. Karena itu saya berani menebak Anda adalah Sang Putri.”
“Kalau begitu, coba jelaskan, apa ciri khas kain salju asap ini?” Karena sangat jarang, kebanyakan orang tak tahu kain itu.
“Kain salju asap ini, jika dilihat sekilas memang tampak biasa saja. Tapi jika diterpa sinar matahari dan diperhatikan seksama, akan terlihat pola bunga salju yang disulam dengan benang perak…” Begitu bicara soal kain ini, Han Yan langsung menjadi sangat bersemangat dan tak henti-hentinya menjelaskan.
Mu Qianxia pun mencoba mengamati sesuai penjelasannya, dan benar saja, persis seperti yang dikatakan.
Mu Qianxia sadar bahwa pertolongan tak disengajanya kali ini ternyata cukup berharga, matanya pun berkilat, diam-diam merencanakan sesuatu…