Bab 63: Lulus Lebih Awal?
Bab 63: Lulus Lebih Awal?
“Apa!?”
“Apa yang Anda katakan!?”
“Lulus sarjana!?”
“Tidak, tidak, tidak, Pak Dekan, saya tidak berniat lulus secepat ini!” Qin Yuanqing menggelengkan kepala dengan tegas, menolak tanpa ragu.
Ini benar-benar konyol, semester ini saja belum selesai, bagaimana bisa bicara soal lulus!
Aku belum sempat menikmati indahnya kehidupan kampus, mustahil mau lulus sekarang; mati-matian juga aku tidak mau lulus!
Biasanya, seru rasanya sedikit pamer di kampus, balik ke asrama menyemangati ketiga teman sekamar, sedikit mengolok-olok si gendut, hidup begini begitu menyenangkan, mana mungkin aku mau buru-buru lulus?
“Qin Yuanqing, kemampuan matematikamu sudah melampaui sebagian besar profesor di fakultas. Kalau kamu tidak lulus, duduk di kelas, guru mana yang bisa tenang mengajar?” kata Dekan Li penuh makna, menasihati, “Guru kalkulus kalian kemarin saja sekarang jadi bahan tertawaan. Sudah beberapa kali datang padaku menangis minta mengundurkan diri.”
“Benar, Qin Yuanqing, kemampuan matematikamu sudah berada di puncak, saya pun tidak bisa lagi mengajarkan apa pun padamu,” timpal Kepala Bagian Lin.
Bayangkan saja, pembuktian Dugaan Bilangan Prima Mason-Zhou dan Dugaan Bilangan Prima Kembar dibuat oleh mahasiswa yang duduk di kelas. Guru mana yang tidak grogi? Berdiri saja sudah gemetar.
“Tapi... saya bukan mahasiswa jurusan matematika, saya mahasiswa fisika!” Qin Yuanqing tetap berusaha menegaskan statusnya sebagai mahasiswa fisika.
Dibandingkan jurusan matematika, jurusan fisika jauh lebih besar dan terkenal. Saat ini, jurusan fisika memiliki satu laboratorium kunci nasional, enam pusat riset lintas disiplin, dan tiga lembaga penelitian, dengan dana riset hampir dua ratus juta yuan per tahun. Para dosennya meneliti bidang fisika zat padat, fisika atom dan molekul, fisika energi tinggi, fisika nuklir, astrofisika, biofisika, dan informasi kuantum. Tiap tahun, ratusan makalah terbit di berbagai jurnal utama.
Tentu saja, bukan berarti jurusan fisika sangat hebat. Meski tampak banyak makalah diterbitkan, menurut Qin Yuanqing, hanya ada belasan yang betul-betul bernilai.
Di sini Kepala Lin benar-benar merasa kecewa—seorang jenius matematika sehebat itu, kenapa malah masuk fisika? Sungguh keputusan yang aneh. Setiap bertemu Kepala Bagian Tang dari fisika, matanya selalu memerah.
“Masih bilang mahasiswa fisika, Qin Yuanqing, saya sendiri sudah beberapa kali melihatmu tidur di kelas,” sindir Dekan Li ringan.
Wajah Qin Yuanqing memerah.
Benar-benar kena batunya!
“Itu...itu... Bukankah akhir-akhir ini banyak riset berat, Pak Dekan juga paham matematika, pasti tahu betapa menguras otak bidang ini,” ucap Qin Yuanqing agak canggung.
Ia tidur di kelas bukan tanpa alasan. Materi fisika saat ini terlalu dangkal, masih tahap transisi dari fisika SMA ke fisika perguruan tinggi, dan semua itu sudah lama ia kuasai. Tiap kali dosen mengajar, ia selalu ingin merebut papan tulis dan mengajar sendiri.
Sebenarnya aneh juga, tugas mengajar mahasiswa S1 biasanya tidak dipegang profesor, kebanyakan diserahkan pada mahasiswa doktoral. Kalau sebulan sekali bisa dapat kelas dari profesor saja sudah untung.
“Sudahlah, kalau kamu tidak mau, kami juga tidak akan memaksa, nanti dibilang otoriter,” kata Dekan Li.
Saat itu juga, hidangan yang dipesan mulai dihidangkan.
Restoran kecil ini meski dekorasinya biasa saja dan tempatnya sempit, hanya tujuh atau delapan meja, tapi tidak melayani umum, hanya menerima pelanggan tetap. Kabarnya, pemilik restoran pernah belajar lima tahun pada seorang juru masak nasional, keterampilannya kelas satu.
Qin Yuanqing baru pertama kali makan di sini, juga berkat Dekan dan Kepala Bagian. Lihat saja tehnya, menggunakan daun Longjing berkualitas tinggi—Qin Yuanqing yang tak paham teh pun tahu ini luar biasa. Aromanya segar, meninggalkan rasa di mulut.
Belum mulai menyantap, aroma masakan sudah membangkitkan selera. Tiap hidangan tampil sempurna dalam rasa, aroma, dan warna, dikerjakan sangat teliti, sekali lihat saja sudah bikin lapar.
Qin Yuanqing dalam hati berniat, nanti harus minta kartu nama pemiliknya, lain kali ketika si nona datang ke Beijing, ia akan mengajaknya ke sini.
“Baiklah, mari kita angkat cangkir teh sebagai pengganti anggur, bersulang untuk Qin Yuanqing, terima kasih atas jasanya bagi matematika Shuimu!” kata Dekan Li dengan senyum ramah.
“Pak Dekan, saya merasa sangat terhormat, ini memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai bagian dari Shuimu!” jawab Qin Yuanqing dengan tulus.
Bercanda, tokoh besar di depannya ini adalah akademisi, otoritas di dunia sains. Walaupun ia belum pernah mengikuti kuliahnya, pasti kemampuannya luar biasa, kalau tidak mana mungkin jadi akademisi.
Gelar akademisi adalah puncak gelar di Tiongkok, seleksi sangat ketat. Mungkin saja ada sistem senioritas, tapi yang jelas, kandidat harus menjadi pemimpin riset di bidangnya, memiliki kemampuan akademik tinggi, kalau tidak, sesama akademisi tidak akan memilihnya.
Sama halnya, orang berkumpul karena kesamaan.
Akademisi di bidang tembakau dan alkohol belakangan memang menuai kontroversi, tapi apakah mereka kurang kompeten di bidangnya?
Tentu tidak. Hanya saja, masyarakat sulit menerima karena rokok dan minuman keras dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi banyak yang menganggap, penelitian soal itu tidak ada nilainya atau bukan teknologi tinggi.
“Haha, akhir-akhir ini ke Yanda benar-benar bikin puas,” Kepala Bagian Lin tertawa, “Kemarin aku lihat seorang profesor di sana sedang membanggakan diri di depan mahasiswa, katanya matematika Yanda nomor satu di Tiongkok. Aku langsung tunjuk wajahnya dan balas, ‘Yanda punya mahasiswa yang membuktikan Dugaan Zhou?’ Profesor itu langsung terdiam.”
Para dosen lain ikut tertawa lepas, tak ada yang merasa keberatan.
Siapa suruh orang-orang Yanda selalu sombong, seolah-olah Shuimu berutang banyak pada mereka, dan selalu mengklaim Yanda mencetak para maestro, sedangkan Shuimu hanya menghasilkan tukang batu. Sudah lama mereka kesal pada sikap Yanda.
Sekarang, Qin Yuanqing telah membuktikan Dugaan Zhou, nama Shuimu pun terangkat, dan mereka bisa dengan bangga membalas Yanda.
Apa hebatnya kamu?
Yanda punya mahasiswa yang bisa membuktikan Dugaan Zhou? Bisa mengadakan dugaan matematika berpengaruh dunia?
“Haha, kali ini Qin Yuanqing membuktikan Dugaan Bilangan Prima Kembar, pengaruhnya pasti lebih besar, nanti kita lihat apakah Yanda masih berani mengaku sebagai matematika nomor satu di Tiongkok,” kata seorang profesor dengan penuh kepuasan.
Yang lain tertawa bersama.
Qin Yuanqing sendiri jadi agak sungkan.
Celaka, aku sekarang jadi musuh nomor satu Yanda; entah sudah berapa orang Yanda yang mengutuk namaku.
Untung aku punya sistem, kebal dari segala kutukan, kalau tidak mungkin sudah celaka karena kutukan itu.
Tiba-tiba, Qin Yuanqing teringat sesuatu yang menakutkan. Beberapa hari lalu, beberapa teman di Yanda sempat mengajaknya ke sana. Jangan-jangan ada niat buruk...
Bayangan dirinya dikeroyok di Yanda membuat Qin Yuanqing merinding. Tidak, ke Yanda sama sekali bukan pilihan.
“Naskah makalahmu dalam versi bahasa Mandarin ini bisa kita terbitkan di ‘Jurnal Matematika’ dalam negeri, ditambah makalahmu yang kemarin, pas untuk satu terbitan!” kata Dekan Li sambil tersenyum.
Qin Yuanqing menggaruk kepala, bertanya, “Pak Dekan, setahu saya kampus kita tidak punya jurnal matematika, kan?”
Dalam negeri memang ada beberapa jurnal matematika, seperti ‘Jurnal Matematika’ milik Akademi Sains Tiongkok, ‘Buletin Ilmiah’ milik Penerbitan Sains, juga jurnal-jurnal matematika milik Yanda, Fudan, dan USTC yang masuk sepuluh besar.
Hanya saja, Shuimu yang mengaku sebagai universitas nomor satu di Tiongkok, justru tidak punya jurnal matematika sendiri.
Begitu Qin Yuanqing berkata demikian, semua yang hadir tampak canggung.
Anak ini, kok bicara tanpa tedeng aling-aling!
Masa langsung menampar muka di depan umum.
Dekan Li cepat menyesuaikan diri. Memang, makin tua makin lihai. Ia pun berkata sambil tersenyum, “Mengajukan jurnal itu bukan perkara sulit, urusan beberapa hari saja!”
“Tapi ingat, mulai sekarang, versi Mandarin makalahmu harus diberikan ke jurnal matematika kampus,” kata Dekan Li.
Bagi kebanyakan orang, mengajukan jurnal itu memang sulit. Tapi bagi Shuimu, gampang saja; alumni Shuimu ada di hampir setiap kementerian, pengaruh universitas ini meliputi seluruh negeri.
Bahkan pemimpin negara saat ini juga lulusan Teknik Irigasi Shuimu.
Tidak ada yang berani macam-macam pada Shuimu.
“Baik, itu mudah!” jawab Qin Yuanqing sambil tersenyum.
Rezeki jangan sampai keluar pagar!
Qin Yuanqing yang tumbuh di desa sangat paham prinsip itu!
Jawaban Qin Yuanqing membuat Dekan Li tersenyum lebar. Dengan makalah-makalah Qin Yuanqing, jurnal matematika Shuimu takkan kekurangan karya bermutu. Tak lama lagi bisa masuk peringkat jurnal matematika utama nasional, bahkan bila Qin Yuanqing produktif, tiap tiga atau empat bulan menghasilkan makalah kelas dunia, dalam setahun saja jurnal itu bisa langsung jadi nomor satu.
Soal sumber makalah, Dekan Li sama sekali tidak khawatir. Dengan dua makalah versi Mandarin karya Qin Yuanqing saja, jurnal itu sudah bisa langsung terkenal. Lagi pula, dalam negeri lebih nyaman membaca dalam bahasa Mandarin; makalah bahasa asing sering sulit dipahami, dan terjemahan pun belum tentu akurat. Tapi kalau Qin Yuanqing sendiri yang menulis langsung dalam bahasa Mandarin, tentu tak ada masalah sama sekali.