Bab Dua: Gambar Bentuk Rahasia
Melihat bahwa proses peleburan di tungku matahari telah selesai, Suyuan dengan tidak sabar mengulurkan tangan membuka tutup tungku kehidupan dan kematian. Pada detik berikutnya, dari dalam tungku matahari, melayang keluar sebuah kepingan kecil berwarna merah tua.
Jari-jari tangan kirinya terbuka, ia langsung mencengkeram kepingan kecil yang lebarnya kira-kira satu jengkal itu.
Ia mendekatkannya ke cahaya lilin yang redup dan mengamatinya dengan saksama.
Kepingan kecil berwarna merah tua itu tipis seperti sayap serangga, namun sangat keras. Dari teksturnya, tampak seolah-olah dibuat dari kerangka luar seekor kecoa.
Pada permukaan kepingan itu, terukir gambar seekor kecoa yang tampak hidup.
Meskipun hanya berupa garis-garis datar, namun kepingan itu memberi Suyuan kesan aneh seolah-olah benar-benar ada seekor kecoa hidup yang menempel di atasnya.
Di bagian tengah kepingan itu,
tergambar garis-garis setengah transparan yang membentuk siluet manusia. Di dalam siluet itu, terdapat benang-benang putih melengkung yang tersebar di bagian perut sebelah kiri, dengan beberapa titik merah kecil menghiasinya.
Selain itu, tidak ada apa-apa lagi.
“Jadi… benda ini hasil peleburan ‘ilmu rahasia’ itu?”
Setelah mengamati beberapa saat, Suyuan belum juga memahami keistimewaan yang tersembunyi di dalamnya.
Namun ia tidak terburu-buru. Ia kemudian menggunakan pikirannya untuk berkomunikasi dengan tungku kehidupan dan kematian, lalu memperoleh catatan hasil peleburan dari tungku matahari, dan menelusurinya dengan cermat.
Ilmu Rahasia: Pelarutan
Kategori: Diagram Bentuk Ilmu Rahasia
Fungsi: Meningkatkan efisiensi pencernaan dan penyerapan makanan secara signifikan, serta memperkuat tubuh dan daya tahan terhadap berbagai lingkungan ekstrem dan abnormal.
Setelah membaca informasi dari tungku matahari, Suyuan langsung terkejut.
“Kekuatan vitalitas tubuh yang luar biasa, daya tahan terhadap lingkungan ekstrem, ini benar-benar cocok untuk negeri Yue yang penuh wabah serangga dan kabut beracun.”
“Ini benar-benar benda penyelamat!”
“Kalau terus berlatih ilmu ini, jangan-jangan nanti aku benar-benar jadi manusia kecoa.”
Kekuatan vitalitas dan daya tahan kecoa dalam menghadapi lingkungan ekstrem, ia sangat paham betul betapa tangguh dan menakutkannya.
Bahkan jika seekor kecoa diletakkan di ruang hampa udara, ia tetap bisa bertahan hidup untuk beberapa waktu.
Makhluk ini memang monster di antara hewan biasa.
Tak heran kecoa mendapat julukan ‘si abadi yang kuat’.
“Kemampuan tubuh untuk mencerna dan menyerap makanan dengan sangat efisien, jika benar begitu, efek makan sayur liar pun bisa berkali lipat.”
Menggenggam diagram bentuk ilmu rahasia di tangannya, untuk pertama kalinya Suyuan benar-benar merasakan keyakinan untuk bertahan hidup di era negara-negara berperang yang kacau ini.
Setelah sekian lama.
Ia tak kuasa menahan decak kagum, lalu bergumam pelan kepada dirinya sendiri, “Kemampuan dan potensi yang tersembunyi dalam diri hewan di alam benar-benar luar biasa.”
“Jauh melampaui manusia…”
“Andai aku bisa menguasai kemampuan hewan, di zaman penuh kekacauan ini, aku tidak akan takut apa pun.”
Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali.
Suyuan menenangkan kegembiraannya, lalu menggunakan pikirannya untuk merasakan sisa energi dalam tungku kehidupan dan kematian, dan mendapati hanya tersisa sangat sedikit, hampir habis.
Ia hanya bisa tersenyum pahit.
“Awalnya aku berencana menguji habis kemampuan peleburan tungku bulan.”
“Tak disangka, energi misterius yang kukumpulkan selama tiga tahun hampir habis. Tidak tahu juga, energi ini sebenarnya harus diisi ulang dengan apa?”
“Tiga tahun aku mencoba meneliti, tetap saja tidak mengerti.”
Dengan sedikit gerakan pikiran, tungku kehidupan dan kematian pun menghilang dari telapak tangan, kembali bersemayam di bawah pusarnya.
Tenaga dalamnya yang tipis bagai rambut, mengalir lembut di dalam pusar bagian bawah.
Meski ia belum mampu melihat ke dalam tubuh, namun ia bisa merasakan keberadaan tenaga dalam yang lemah, hasil dari kerja keras selama beberapa bulan.
“Mengubah esensi menjadi tenaga dalam itu memengaruhi pertumbuhan, memang benar anak-anak tidak boleh terlalu dini berlatih tenaga dalam.”
“Tapi sekarang dengan ilmu pelarutan ini, selama aku mampu menguasainya, aku tidak perlu khawatir dengan dampak buruk itu. Kebutuhan tubuhku akan selalu tercukupi.”
Sambil terus berpikir, tiba-tiba Suyuan mendapat pencerahan di benaknya.
Ia kembali mengambil diagram bentuk ilmu pelarutan, mengamati dengan saksama letak dan tanda-tanda pada gambar itu, sambil mengingat gambar jalur meridian dan titik akupuntur yang pernah ia lihat di perpustakaan ayahnya.
Ia membandingkan satu per satu, lalu seketika ia mengerti.
“Benang-benang putih ini, kalau aku tidak salah, adalah jalur meridian pada organ pencernaan seperti lambung dan usus.”
“Kalau begitu, titik-titik merah ini adalah titik akupuntur di area tersebut.”
“Jadi begitu rupanya…”
Pada saat itu juga.
Ia mendengar suara langkah kaki yang sudah sangat dikenalnya dari luar pondok kayu.
“Kreek…”
Pintu kamar yang tertutup rapat didorong terbuka. Seorang pemuda masuk terhuyung-huyung, bau alkohol yang menyengat memenuhi ruangan, pakaiannya yang terbuat dari kain rami basah kuyup.
Di setiap langkah yang diambil, air menetes dari tubuhnya.
Wajahnya yang dulu tampan berubah suram dan lesu karena kumis dan janggut yang tidak terurus, membuatnya terlihat biasa saja, bahkan sedikit lusuh.
“Ayah, Ayah pergi minum lagi?” Suyuan mengernyitkan dahi, berkata, “Keluarga kita jatuh miskin bukan karena salahmu, itu gara-gara para perampok terkutuk itu. Kenapa Ayah harus menyiksa diri sendiri seperti ini?”
“Setidaknya, kita masih punya status bangsawan negeri Yue, hanya saja sekarang sudah jatuh miskin.”
Mendengar kata-kata anaknya, Suwufeng tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
Begitu sedih seperti anak kecil.
“Tapi Ayah membuat ibumu marah dan pergi. Ia pulang ke rumah orang tuanya, dan tidak mau lagi bersama kita.”
“Tidak bisa, aku harus mencari ibumu!”
Mendadak,
Sebelum Suyuan sempat bereaksi, Suwufeng mengerahkan tenaga dalamnya, menerobos keluar dari jendela secepat kuda berlari, dalam sekejap hilang ditelan hujan deras.
“Ayah, Ayah meninggalkan aku lagi?!”
Suyuan buru-buru berteriak di depan pintu, tapi tak ada jawaban yang datang.
“Sungguh, seolah-olah karena aku sejak kecil sudah cerdas dan mandiri, Ayah jadi tega membiarkanku hidup sendiri.”
Mempunyai orang tua seperti ini, Suyuan pun hanya bisa pasrah.
Namun beberapa bulan terakhir, ia sudah terbiasa. Lagi pula, tempat tinggal mereka masih berada dalam jangkauan perlindungan ibu kota negeri Yue, Kuaiji.
Jadi, soal keselamatan diri, ia tidak terlalu khawatir.
“Pedang Delapan Peninggalan Raja Yue, aku memang pernah mendengarnya.”
“Dan sekarang, Raja Yue adalah Wujang.”
“Kalau aku tidak salah ingat, setelah Raja Yue Wujang meninggal, negeri Yue terjebak dalam konflik perebutan takhta, lalu pecah perang saudara. Tapi, tahun tepatnya entah kapan?”
Suyuan menggaruk kepala dengan bingung, ia memang tidak terlalu mengerti soal itu.
Maklum, di kehidupan sebelumnya ia bukan ahli sejarah kuno.
“Lupakan, mumpung keadaan masih tenang, lebih baik gunakan waktu untuk memperkuat diri, agar bisa melindungi diri sendiri.”
“Kalau keadaannya gawat, paling-paling aku pergi ke tempat lain menghindari perang.”
Menghentikan lamunan, Suyuan menenangkan pikirannya.
Ia kembali mengambil diagram ilmu pelarutan, meneliti dengan seksama di bawah cahaya lilin, lalu berusaha memahami maknanya dalam diam.
Catatan: Sebenarnya, menurut sistem marga di zaman Negara-Negara Berperang, nama tokoh utama Suyuan adalah keliru. Seperti nama raja Qin, nama aslinya adalah Zhao Zheng, bukan Ying Zheng. Tapi, setelah mencari banyak referensi sejarah, tidak ditemukan nama marga bangsawan negeri Yue. Jadi, dalam cerita ini, di negeri Yue hanya dikenal nama keluarga tanpa marga. Anak laki-laki mengikuti nama ayah, anak perempuan mengikuti ibu.