Bab Tujuh Puluh Delapan: Penyusup
“Apakah sebentar lagi aku harus masuk ke dalam benda ini?” tanya Ye Cheng sambil mengusap keringat di dahinya.
“Tentu saja. Hanya dengan masuk ke dalamnya kau bisa merasakan keistimewaan dari Penyucian Tubuh Bayanganku ini!” jawab Sang Penguasa Malam, mengelus ‘tungku peleburan’ itu dengan penuh rasa suka.
“Kalau begitu, aku akan mempercayai Anda kali ini.”
Setelah berkata demikian, Ye Cheng pun masuk ke dalam tungku melalui sebuah celah.
Begitu berada di dalam, ia segera merasakan keajaiban di dalam tungku tersebut. Energi bayangan yang memenuhi seluruh ruangan seolah hidup; begitu Ye Cheng melangkah masuk, energi itu langsung menyelimuti tubuhnya, meresap hingga ke setiap pori-porinya dalam waktu singkat.
“Betapa nyaman!” seru Ye Cheng. Tak pernah ia merasa tubuhnya sekuat dan sepadat ini oleh energi. “Andai sekarang aku berubah ke dalam wujud bayangan, entah seperti apa jadinya!”
Pintu masuk perlahan tertutup, menandakan proses penyucian tubuh resmi dimulai. Ye Cheng berendam dalam energi bayangan, membiarkan kekuatan itu mengalir deras membasuh dan meremajakan tubuhnya. Sensasi yang dirasakannya begitu menyenangkan, seperti mandi berendam dalam air hangat.
Namun, seiring waktu berlalu, energi itu berubah liar, menghantam tubuh Ye Cheng kian cepat dan keras. Ia mulai merasa tubuhnya nyaris tak sanggup menahan gempuran itu. Meski begitu, rasa sakit yang dialami masih bisa ia tahan; bagaimanapun, ia telah berulang kali terjun ke dalam berbagai pertempuran, sehingga luka dan sakit bukanlah hal yang asing lagi baginya.
Saat Ye Cheng menjalani penyucian, di luar sana, Athina dan Sang Penguasa Malam masih berdiri di samping tungku, menanti Ye Cheng.
“Berapa lama proses penyucian ini akan berlangsung?” tanya Athina sambil menatap tungku yang berputar.
“Siapa yang tahu? Penyucian memang butuh bantuan dari luar, tapi yang paling utama tetaplah daya tahan si pelaku. Semakin lama ia bertahan, semakin besar pula manfaat yang didapat. Tentu saja, ada kemungkinan kalau terlalu memaksakan diri, energi bayangan bisa melukai tubuhnya,” jawab Sang Penguasa Malam dengan nada tenang.
Athina menatap tungku dengan cemas, lalu menundukkan kepala, merapatkan kedua tangan di depan dada, seolah berdoa untuk Ye Cheng.
Tingkah laku itu tidak luput dari perhatian Sang Penguasa Malam. Ia memandangi pemimpin bangsa Peri Malam itu yang kini seperti gadis polos yang sedang berdoa untuk orang lain, sehingga ia pun paham isi hati Athina. “Tenang saja. Slime itu bisa tumbuh sampai sejauh ini pasti karena kelebihannya. Penyucian ini hanyalah suatu kesempatan untuk mengembangkan potensinya.”
Athina mengangguk, namun kekhawatiran di wajahnya belum juga memudar.
“Anak itu pasti sekarang sudah merasakan ledakan energi bayangan dalam tubuhnya,” bisik Sang Penguasa Malam, memperkirakan waktu Ye Cheng berada di dalam tungku.
Kini Ye Cheng telah memasuki tahap ketiga penyucian. Energi bayangan di sekitarnya makin bergolak, bertabrakan satu sama lain. Beberapa benturan bahkan setara dengan kekuatan panah Athina, dan serangan semacam itu menghantam seluruh bagian tubuh Ye Cheng, bahkan menembus hingga ke organ dalamnya, membuat rasa sakit yang ia derita sungguh tak tertahankan.
Ia terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. Jika luka di permukaan kulit masih bisa ia tahan, serangan ke organ dalam jauh lebih menyiksa, bahkan untuk Ye Cheng yang telah melewati berbagai cobaan sekalipun.
Tubuhnya belum pernah mengalami siksaan seperti ini. Rasanya seperti nyawanya direnggut perlahan.
“Tidak, ini masih belum cukup! Aku harus bertahan!” Ye Cheng menggigit bibir, bertekad dalam hati.
Walau tubuhnya sudah nyaris ambruk, Ye Cheng mulai merasakan bahwa luka yang diterimanya tak lagi separah awalnya. Itu pertanda dirinya mulai beradaptasi. Jika ia mampu bertahan lebih lama lagi, pasti akan terjadi perubahan besar dalam dirinya!
“Tingkat afinitas bayangan meningkat. Tahap berikutnya: Kegelapan Mutlak 1 dari 10.”
Suara sistem yang terdengar dalam benaknya kembali membangkitkan semangat Ye Cheng.
“Asal aku mampu melangkah ke tahap selanjutnya, tubuhku pasti akan sanggup menahan intensitas ini!” pikir Ye Cheng. Meski rasa sakit perlahan mereda, ia tetap harus berjuang keras menahannya. Seperti luka yang terbuka, meski serangan berikutnya tak sesakit luka pertama, rasa perihnya tetap sangat menusuk.
Seiring tekad Ye Cheng, tingkat Kegelapan Mutlak terus naik, hingga mencapai enam dari sepuluh.
Namun, entah kenapa, setelah mencapai enam, angkanya seperti berhenti, tak lagi bertambah.
“Apakah luka yang kuterima sudah tidak cukup berat untuk mendorongku lebih jauh?”
Kini Ye Cheng mulai bisa bergerak leluasa. Ledakan energi bayangan di sekelilingnya sudah tak mampu lagi mencederainya.
Tanpa ia sadari, tungku mulai memancarkan cahaya merah, menandakan penyucian tubuh akan memasuki tahap selanjutnya. Pada saat yang sama, energi bayangan berkumpul membentuk tangan raksasa, membuat Ye Cheng tampak kerdil di hadapannya.
“Cahaya merah itu? Jangan-jangan anak itu sudah memasuki tahap keempat? Tak kusangka!” Sang Penguasa Malam mengangguk puas melihat perubahan pada tungku, namun seketika raut wajahnya berubah serius.
“Tahap keempat? Apa maksudnya?” tanya Athina, melihat cahaya merah namun tak tahu artinya.
“Tahap keempat adalah pintu masuk sejati dalam penyucian tubuh. Di tahap ini, seolah kau sedang bertarung melawan monster ganas—sedikit saja lengah, tubuh bisa hancur lebur,” jawab Sang Penguasa Malam dengan wajah tegang.
“Kalau begitu, tidakkah Ye Cheng dalam bahaya? Jika terjadi sesuatu padanya nanti, Anda pasti akan turun tangan menolongnya, bukan? Bukankah Kastil Iblis masih membutuhkan bantuannya!” seru Athina dengan cemas.
Sang Penguasa Malam tidak menjawab, hanya menatap ke arah tungku seakan berpikir sesuatu. Meski tahap keempat sangat berbahaya, jika berhasil melewatinya, perubahan yang dicapai akan sangat besar. Lagi pula, proses penyucian sudah berlangsung dan mustahil dihentikan, bahkan oleh Sang Penguasa Malam sendiri.
Tiba-tiba, Sang Penguasa Malam menyipitkan mata, seolah menyadari sesuatu. “Ada orang yang datang?”
Ia segera menghilang dari tempat itu, meninggalkan Athina yang hanya bisa menatap tungku lekat-lekat. Wajahnya kini dipenuhi doa yang makin khusyuk.
Namun, yang tak ia ketahui, di tempat Sang Penguasa Malam menyimpan harta karunnya, sekelompok orang tengah berusaha menerobos masuk secara paksa, dan di antara mereka ada seorang dengan kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh.