Bab 67: Kunjungan, Hari Ini Kau Tak Akan Bisa Melarikan Diri

Jangan Coba Kabur, Permaisuri Pembawa Petaka Gu Xiaoqi 3432kata 2026-02-09 23:52:13

Akhir-akhir ini, terjadi sebuah peristiwa besar di istana—Qin Timur secara sukarela mengirim utusan ke Xichu. Namun, alasan kunjungan ini hanya diketahui oleh Mu Chenyi yang menerima surat kenegaraan lebih awal, sementara yang lain selain terkejut justru kebingungan.

Bersama para utusan Qin Timur, yang datang bukan hanya Putri Ketujuh yang sangat disayangi Kaisar, tapi juga Pangeran Mahkota. Meski Qin Timur belum menetapkan putra mahkota, Pangeran Pertama saat ini adalah putra mahkota yang paling berpengaruh. Banyak yang berspekulasi, mungkinkah tujuan Qin Timur ke Xichu kali ini untuk mencari calon istri bagi sang pangeran?

Jika benar bisa menjalin pernikahan dengan pangeran Qin Timur, maka Xichu tak perlu lagi takut akan serangan musuh di masa depan. Karena itu, para pejabat tinggi pun mengusulkan agar istana mengadakan jamuan, khusus untuk memilih calon istri bagi pangeran Qin Timur. Tentu saja, yang paling bersemangat mengusulkan ini adalah mereka yang memiliki putri yang sudah beranjak dewasa.

Akhirnya, jamuan pun dijadwalkan tiga hari kemudian. Semua putri Xichu yang cukup umur dan belum menikah, juga para gadis dari keluarga pejabat yang memenuhi syarat, diundang ke istana.

Setelah mempersiapkan diri, Mu Qiansha melihat Gu Li berdiri di depan pintu. Tubuhnya yang tinggi semampai bagaikan pinus atau cemara yang tumbuh di tengah hutan. Jubah panjang berwarna putih rembulan membalut tubuhnya yang gagah, garis-garisnya mengalir indah, menegaskan keanggunan serta kemuliaan kain yang dikenakan. Sinar matahari menembus celah-celah daun, membalutnya dengan selubung emas tipis, membuatnya memancarkan aura cemerlang yang menawan.

Di balik segala kemegahan itu, alis dan matanya tetap mempesona. Alisnya yang tegas dan sedikit terangkat seperti goresan kuas, menghadirkan sosok yang luar biasa. Siapapun yang menatap alis itu pasti ingin melanjutkan menatap bibir, matanya, setiap bagian wajahnya, seolah-olah tak ingin berpaling.

Permata putih salju yang menghiasi dahinya semakin menonjolkan kejernihan kulitnya, bagaikan lukisan indah yang telah melewati berbagai warna dunia namun tetap memesona, sulit untuk dilukiskan. Lengan bajunya yang putih berkilauan bergerak lembut seperti kupu-kupu, setiap langkahnya anggun dan menenangkan. Di kain bajunya tersemat sulaman bunga peony besar, kelopaknya bertumpuk-tumpuk, menambah kesan keanggunan dan kemuliaan yang terpancar dari dirinya.

Anggunnya laksana awan putih di langit, indah bak peony yang mekar sempurna.

Mu Qiansha sampai menahan napas, takut jika sedikit saja bergerak akan merusak keindahan pemandangan di depannya.

Gu Li tampaknya menyadari kehadiran Mu Qiansha, ia membalikkan badan dengan senyum tipis di sudut bibir, hangat seperti sinar matahari yang perlahan melelehkan hati, sulit ditolak, lembut dan suci layaknya malaikat, membuat siapa pun di dekatnya ikut terpengaruh oleh kehangatannya.

"Putri, mari kita berangkat."

Mu Qiansha hanya bisa mengangguk kaku, mengikuti Gu Li naik ke dalam kereta kuda. Baru setelah kereta berjalan, ia kembali sadar dan dalam hati mengeluh bahwa ketampanan pria itu benar-benar menimbulkan masalah. Ia pun merasa malu atas sikapnya barusan.

Mu Qiansha berdeham pelan, bertanya ragu, "Gu Li, kau juga akan masuk istana?"

"Benar, Yang Mulia mengundangku untuk menghadiri jamuan kali ini."

"Oh? Kudengar kali ini kakanda hanya mengundang pejabat tinggi berpangkat tiga ke atas. Tak kusangka kakanda juga mengundangmu secara khusus. Tampaknya kakanda benar-benar menaruh perhatian padamu."

Gu Li tersenyum samar, "Aku hanya beruntung mendapat kasih sayang Yang Mulia."

***

Setelah turun dari kereta, karena jamuan belum dimulai, Mu Qiansha diantar seorang pelayan kecil menuju ruang tamu wanita. Belum berjalan jauh, ia melihat Putri Jiahe mendekat.

Di belakang Putri Jiahe, ada dua pelayan perempuan. Mata Mu Qiansha sedikit berkilat saat melihat mereka—kedua pelayan itu tampak tidak biasa. Umumnya, tak ada yang boleh membawa lebih dari satu pelayan ke istana, apalagi dua orang. Bahkan dirinya sendiri biasanya hanya membawa Liuli seorang saja.

Namun pagi ini, sejak bangun tidur, Liuli mengalami sakit perut, hampir setiap beberapa saat harus ke kamar kecil, sampai-sampai tak sanggup berdiri. Maka, hari ini Mu Qiansha tak membawa Liuli ke istana.

Liuli sempat ingin meminta dua pelayan lain menemaninya, namun Mu Qiansha memang tidak suka banyak orang mengikutinya. Lagi pula, acara hari ini adalah jamuan istana, kecil kemungkinan terjadi sesuatu, jadi ia tidak membawa satu pelayan pun. Dan pelayan laki-laki yang tadi mengantarnya pun menghilang begitu Putri Jiahe muncul.

Sorot mata Mu Qiansha berkilat tipis, merasa pertemuan ini dengan Putri Jiahe sepertinya bukan kebetulan.

"Salam sejahtera, Yang Mulia Putri Agung." Benar saja, detik berikutnya, Putri Jiahe sudah berdiri di depannya, menatap sambil tersenyum lembut.

Senyum itu sungguh indah, namun tak sampai ke matanya, bahkan terasa ada kebencian yang tersembunyi.

Mu Qiansha berhenti, menatapnya dengan bibir terkatup, tak memulai percakapan. Ia menunggu Putri Jiahe berbicara, karena jika dia mendekat, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Melihat Mu Qiansha tetap tenang, Putri Jiahe sedikit menyipitkan mata, senyumnya pun tampak sedikit kaku.

"Yang Mulia Putri Agung, perjalanan ke istana tentu membuatmu haus. Aku sudah menyiapkan teh dingin di sini, silakan minum secangkir. Kuharap Yang Mulia tidak menolak."

Selesai bicara, Putri Jiahe langsung mengambil secangkir teh dari tangan pelayannya dan menyodorkannya ke hadapan Mu Qiansha, jelas sudah dipersiapkan sebelumnya.

"Terima kasih atas perhatian Putri Jiahe, tapi saat ini aku tidak haus, sepertinya usahamu sia-sia," jawab Mu Qiansha sambil menatap cangkir teh itu, sorot matanya menggelap, namun wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Sembari berkata demikian, Mu Qiansha hendak berjalan melewati Putri Jiahe.

"Yang Mulia Putri Agung, menurutmu hari ini kau punya pilihan?" Putri Jiahe melangkah ke depan, menghalangi jalan Mu Qiansha, senyumnya lenyap dan digantikan raut dingin, suaranya pun mengandung ancaman.

Saat Putri Jiahe bicara, dua pelayannya langsung bergerak cepat menghalangi jalan Mu Qiansha. Gerakan mereka lincah, jelas memiliki kemampuan bela diri tinggi. Alis Mu Qiansha sedikit berkerut.

"Oh? Apa maksud Putri Jiahe?" Mu Qiansha terpaksa berhenti, menatapnya tanpa sedikit pun rasa panik, bahkan bibirnya melengkungkan senyum tipis.

"Yang Mulia hanya perlu meminum secangkir teh ini, lalu bisa pergi. Aku takkan menahanmu," kata Putri Jiahe, menatap Mu Qiansha yang tetap tenang, dalam hati menggeram, "Aku ingin lihat sampai kapan kau bisa tersenyum."

"Bagaimana jika aku menolak?" Senyum Mu Qiansha semakin lebar, suaranya tetap datar, tak ada tanda-tanda takut sedikit pun.

"Jika kau memang tak mau meminumnya sendiri, aku tak keberatan menyuruh orang membantumu." Putri Jiahe tersenyum dingin, tak lagi berpura-pura dan langsung mengancam.

Kali ini, Putri Jiahe tak berusaha menutupi niatnya, dan tak peduli Mu Qiansha mengetahuinya. Baginya, itu sudah tak penting. Ia yakin rencananya yang disusun bersama orang di balik layar pasti berhasil. Begitu itu terjadi, Mu Qiansha akan hancur lebur, apapun yang ia katakan takkan ada gunanya, bahkan meski kaisar sangat menyayanginya.

Bahkan jika Mu Qiansha menuduhnya telah meracuni, ia bisa dengan mudah menyangkal, karena Mu Qiansha takkan pernah bisa mendapatkan bukti. Ia bahkan bisa berbalik menuduh Mu Qiansha telah memfitnahnya.

Dalam keadaan seperti itu, takkan ada yang percaya pada Mu Qiansha. Kalaupun ada, itu pun sia-sia karena nasi sudah menjadi bubur, Mu Qiansha sudah benar-benar hancur.

Saat menerima rencana dari orang itu, Putri Jiahe begitu bersemangat dan berharap-harap cemas. Mu Qiansha telah mempermalukannya di pertemuan puisi, membuatnya kehilangan muka di seluruh ibu kota. Dahulu ia adalah sastrawati nomor satu di ibu kota, ke mana pun pergi disanjung dan dipuja. Namun sejak kemunculan Mu Qiansha, namanya tercoreng, dan ia menjadi bahan tertawaan. Semua rasa sakit yang ia alami sekarang ia anggap akibat Mu Qiansha. Jika bukan karena Mu Qiansha, ia masih menjadi sastrawati nomor satu dan menikmati segala pujian. Karena itu, ia membenci Mu Qiansha, ia ingin menghancurkannya, ingin Mu Qiansha mengalami apa yang ia alami. Kini, ia sudah tak sabar lagi menantikan kehancuran Mu Qiansha.

Tak bisa dipungkiri, saat ini Putri Jiahe sudah hampir kehilangan akal sehat.

"Heh, kau memang langsung saja, Putri Jiahe." Sebenarnya Mu Qiansha sudah lama menyadari maksudnya, jadi tak terkejut mendengarnya bicara seperti itu. Hanya ada satu hal yang membuatnya heran—ini bagaimanapun juga masih di dalam istana, dan jalan ini menuju Istana Fengyang, banyak orang yang lalu lalang di sini, mengapa Putri Jiahe begitu berani berbuat seenaknya di tempat terbuka seperti ini?

Jelas, saat ini Putri Jiahe merasa sangat percaya diri. Artinya hanya ada satu kemungkinan, yaitu Putri Jiahe yakin takkan ada yang lewat atau mendekat, apalagi menemukan mereka di sini.

Jadi, pasti ada orang lain di balik rencana ini, atau Putri Jiahe hanyalah pion, sedangkan dalang sebenarnya masih tersembunyi di balik layar.

Mu Qiansha teringat pada kejadian-kejadian sebelumnya, matanya menyipit—mungkin kejadian kali ini juga terkait dengan peristiwa sebelumnya, hanya saja sekarang yang dimanfaatkan adalah Putri Jiahe.

Putri Jiahe memang putri bangsawan, namun ternyata begitu mudah diperalat orang lain, hal ini cukup membuatnya terkejut.

"Aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu. Pilihannya hanya dua, minum teh ini sendiri, atau kubiarkan orang membantumu. Kedua pelayanku ini adalah ahli bela diri terbaik, bahkan jika kau membawa pelayanmu sendiri hari ini, mereka tetap bukan tandingannya. Jangan harap ada yang menolongmu, semuanya sudah kuatur. Takkan ada seorang pun yang lewat atau mendekat ke sini. Jadi, lebih baik menurut saja, minum teh ini tanpa perlawanan, jangan menambah luka sia-sia untuk dirimu sendiri," kata Putri Jiahe, senyum dinginnya semakin jelas, penuh kebencian, juga kepuasan dan kesombongan yang tak bisa disembunyikan.

Mu Qiansha, hari ini kau takkan bisa melarikan diri.