Bab Sembilan Puluh Enam: Putri, Maafkan Aku
“Kau yakin tidak apa-apa?” Pemimpin Gedung Bulan Kelam menunjuk luka di dada Mu Qianxia.
“Tenang saja, hanya luka kecil, aku tidak akan mati.” Mu Qianxia sengaja mengatakan dengan ringan, tapi hanya dirinya sendiri yang tahu, barusan ia hampir saja kehilangan nyawanya.
Untung saja ia bereaksi cepat waktu itu, sedikit berjongkok, sehingga ujung anak panah itu tidak menembus jantungnya.
Ujung panah itu masih menancap di dadanya, benarkah Mu Qianxia bisa menyebut ini luka kecil?
Pemimpin Gedung Bulan Kelam tak lagi mempermasalahkan hal itu, hanya bertanya, “Apa kau membawa obat?” Darah yang keluar begitu banyak, jika tak segera dihentikan, mungkin ia akan mati karena kehabisan darah. Sekalipun masih hidup, tubuhnya pasti rusak parah.
“Tidak. Kenapa, kau punya obat? Mau sekalian berbuat baik, menolongku menghentikan darah?” Mu Qianxia tidak mengerti kenapa pria di depannya tiba-tiba begitu peduli padanya. Ia juga tidak tahu dari mana datang perasaan yakin bahwa baik dirinya maupun pemilik tubuh asli, tidak mengenal pria ini.
Mu Qianxia percaya, tidak ada orang di dunia ini yang akan baik padamu tanpa alasan, bahkan hubungan keluarga pun penuh dengan perhitungan dan pemanfaatan. Karena itu, ia curiga keras, jangan-jangan pria di depannya punya maksud tersembunyi.
“Berani juga kau, berani mempermainkan aku. Apa kau ingin mati?” Nada suara Pemimpin Gedung Bulan Kelam berubah, ia berjongkok di depan Mu Qianxia, tangan kirinya mencengkeram leher Mu Qianxia. “Tahukah kau, jika tanganku sedikit saja menekan, lehermu akan terpisah dari tubuhmu!”
“Oh, kalau begitu silakan.” Mu Qianxia menjawab datar, seolah hidup dan mati bukanlah urusan besar baginya. Hanya Mu Qianxia sendiri yang tahu, ia sedang berjudi, berjudi bahwa pria di depannya tidak akan membunuhnya, karena...
Tadi sepertinya ia mendengar kekhawatiran dari kata-kata pria itu. Namun ia benar-benar tidak ingat kapan pernah bertemu pria menyeramkan dan kuat ini.
“Kau...” Tekanan di tangan Pemimpin Gedung Bulan Kelam bertambah, tapi Mu Qianxia sama sekali tidak melawan, tidak berusaha kabur, malah menutup mata dengan wajah tenang, pasrah menanti kematian.
“Hmph...” Pemimpin Gedung Bulan Kelam mendengus dingin, akhirnya melepaskan Mu Qianxia. “Hari ini aku sedang baik hati, jadi tidak memperhitungkan perbuatanmu. Kali ini aku biarkan, tapi kalau ada lain kali, aku pasti tidak akan memaafkan.”
Mu Qianxia, “... Kalau ada lain kali?”
Sifat Pemimpin Gedung Bulan Kelam memang tidak menentu, segala yang dilakukannya selalu sesuai kemauannya sendiri. Tak seorang pun mengira ia menyimpan maksud lain, tapi...
Mu Qianxia memang tidak mengenal sifat Pemimpin Gedung Bulan Kelam, hari ini pun baru pertama kali ia mengetahui keberadaan orang ini. Melihat pria itu begitu mudah melepaskannya meski ia menantang, Mu Qianxia jadi ragu, tapi sayang Pemimpin Gedung Bulan Kelam tidak berniat menjelaskan apa pun. Ia mengeluarkan sebotol serbuk obat dari lengan bajunya, menaburkannya di luka Mu Qianxia, lalu berbalik pergi...
Jubah hitamnya berkibar di udara, ujung pakaian panjang itu melengkung indah, lalu menghilang secepat bintang jatuh!
Pemimpin Gedung Bulan Kelam datang tanpa alasan, pergi dengan cara aneh, meninggalkan sekelompok orang biasa yang hanya bisa terpaku menatap punggungnya yang gagah...
Kehadiran Pemimpin Gedung Bulan Kelam begitu mengguncang semua orang. Setelah ia pergi cukup lama, para pengawal baru sadar dari keterpakuan mereka. Para penjaga yang merasa gagal melaksanakan tugas, satu per satu wajahnya memerah karena malu, lalu bergegas ke hadapan Mu Qianxia, berlutut dengan bunyi “duk” dan menundukkan kepala, “Yang Mulia Putri, bagaimana keadaan Anda sekarang? Apakah baik-baik saja?”
Baik? Tidak mati saja sudah lumayan.
Untung saja darah di dadanya sudah berhenti mengalir, ia yakin masih bisa bertahan sampai kembali ke kediaman.
“Tenang saja, aku tidak apa-apa.” Mu Qianxia menjawab datar.
Para pengawal serempak berkata, “Yang Mulia Putri, semua ini karena kelalaian kami, sampai Anda terluka. Mohon hukum kami.”
“Hukum?” Mu Qianxia tersenyum getir. Kejadian hari ini bukan salah mereka. Jika harus menyalahkan, maka salahnya sendiri yang terlalu bodoh, terlalu polos, terlalu naif.
Apalagi, apa haknya ia menghukum mereka sekarang? Demi melindunginya, sudah banyak pengawal yang gugur di tempat.
“Tidak apa-apa, kalian bangunlah, ini bukan salah kalian.” Mu Qianxia menundukkan pandangan, suaranya lembut.
“Terima kasih Yang Mulia atas kemurahan hati.” Para pengawal menarik napas lega diam-diam. Melihat Mu Qianxia berusaha bangkit, salah seorang pengawal yang paling dekat ragu sejenak, akhirnya tetap maju untuk membantu, “Yang Mulia, biar saya bantu Anda berdiri.”
“Baik. Tolong bantu aku ke kereta kuda.” Mu Qianxia sadar kondisi tubuhnya saat ini, ia pun tidak menolak.
Dengan bantuan pengawal itu, Mu Qianxia berdiri, lalu menatap mereka yang tergeletak di tanah dan menghela napas pelan, “Coba periksa, siapa yang masih hidup, di kereta ada obat luka.”
Meskipun mereka terluka karena melindunginya adalah tugas mereka, Mu Qianxia tetap tak tega membiarkan mereka mati tanpa pertolongan.
“Terima... terima kasih, Yang Mulia.” Suara pengawal itu tercekat. Sepanjang hidup baru kali ini ada atasan yang begitu peduli pada mereka, membuatnya semakin hati-hati membantu Mu Qianxia naik ke kereta.
Kereta kuda tadi sempat terbalik, pengawal menyuruh Mu Qianxia menunggu sebentar, lalu menegakkan kereta baru kemudian membantu Mu Qianxia naik, “Yang Mulia, silakan beristirahat dulu, saya akan memeriksa siapa saja yang masih hidup.”
“Ya.” Mu Qianxia sudah tak kuat bicara banyak. Dengan susah payah ia mengambil kotak obat sederhana dari ruang rahasia di kereta, lalu menyerahkannya pada pengawal di luar. Kotak obat itu sebetulnya ia siapkan untuk dirinya sendiri, kalau-kalau suatu saat diperlukan.
Anak panah Zhou Yi begitu mematikan, siapa pun yang terkena panahnya tubuhnya berlubang, kemungkinan besar nyaris tak ada yang selamat. Namun kebaikan hati Mu Qianxia tetap membekas di hati para pengawal.
Mu Qianxia tak tahu apa yang dipikirkan para pengawalnya. Setelah mereka pergi, rasa lelah menyerangnya, kelopak matanya makin berat hingga akhirnya ia tenggelam dalam kegelapan...
...
Kediaman Putri, Taman Peony.
Gu Li duduk diam di tepi jendela kamar Mu Qianxia, menatap wajah Mu Qianxia yang sedang terlelap dengan sorot mata penuh kerumitan dan kedalaman.
Apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar kendalinya. Ia selalu sombong, merasa tak ada seorang pun di dunia ini yang pantas membuatnya memutar otak, dan itulah sebabnya Gu Chenjing mendapat kesempatan. Ia tak pernah menyangka Gu Chenjing akan menggunakan Mu Qianxia sebagai umpan untuk memaksanya. Langkah yang diambil Gu Chenjing sangat berani namun juga cerdik; jika berhasil, ia bisa menyingkirkan Gu Li, kalau gagal, setidaknya membuat Mu Qianxia menyimpan dendam padanya. Namun jika rencananya terbongkar, ia akan menghadapi amarah Mu Chenyi, dan rencana pernikahan Gu Li dengan Mu Qianxia pun akan kandas. Karena itulah, Gu Li sampai lengah terhadap Gu Chenjing.
Gu Li menatap wajah Mu Qianxia yang pucat karena luka, tiba-tiba ia menyesal telah menyeretnya ke dalam masalah ini. Namun kini, rencananya sudah memasuki tahap krusial, ia sama sekali tak mungkin menarik diri.
Jadi, “Putri, maafkan aku.” Gu Li berbisik lirih.
Saat ia tiba dengan cepat, ia melihat Mu Qianxia menutup mata menanti ajal dengan putus asa, pemandangan yang menggetarkan hatinya sedalam-dalamnya. Karena itulah ia tanpa ragu bertanya, “Maukah kau pergi bersamaku?” Meski begitu, setelah bertanya ia menyesal, dan tahu Mu Qianxia pasti menolak, tapi ia tetap ingin tahu jawabannya. Itu adalah bentuk keegoisannya sendiri, sekaligus kesempatan terakhir yang ia berikan untuk gadis itu.
Saat mengenakan topeng, ia adalah Pemimpin Gedung Bulan Kelam, bisa berbuat sesuka hati dan hidup untuk dirinya sendiri; saat melepas topeng, ia adalah Pangeran Ketiga Dong Qin, dengan segudang tanggung jawab, hidup demi negeri.
Ia bukan terlahir dengan ambisi besar, hanya saja ia terlalu cepat mengalami banyak hal, terlalu cepat memahami kenyataan dunia, sehingga ia sadar hanya dengan berdiri di puncak kekuasaan dan mengendalikan nasib banyak orang, ia bisa bertahan hidup dengan lebih baik.
Setelah lama berdiri di puncak kekuasaan, ia sudah terbiasa dengan kesendirian dan kehampaan. Namun Mu Qianxia datang seperti cahaya matahari, dengan caranya sendiri menerobos masuk ke kehidupannya, perlahan menghangatkan hatinya yang beku.
Mungkin suatu hari Mu Qianxia akan membencinya, enggan menemuinya, tapi ia tetap memaksa, hanya demi agar dunianya tidak kembali tenggelam dalam kegelapan dan kesepian yang tiada akhir.
...
Mu Qianxia tidak tahu sudah berapa lama ia tidur. Saat terbangun, langit di luar telah benar-benar gelap, bintang-bintang bertaburan memberi sedikit cahaya.
Mu Qianxia ingin bangkit, namun tak sengaja menarik lukanya, ia tak tahan mengaduh pelan, “Aduh, sakit sekali.”
“Putri, kau sudah sadar.” Gu Li berkata pelan.
Barulah Mu Qianxia melihat Gu Li duduk di tepi jendelanya, “Aku tidur berapa lama?”
“Sudah sehari semalam.”
“Lukaku, kau yang mengurusnya?”
“Ya.”
“Kakakku sudah tahu?”
“Belum.”
Mu Qianxia menghela napas lega, “Baguslah, syukurlah.”
“Gu Li, apa kau sedang marah?” tanya Mu Qianxia hati-hati.
“Menurutmu bagaimana, Putri? Bukankah aku sudah pernah bilang akhir-akhir ini sebaiknya jangan sering keluar rumah? Kalau pun harus pergi, kabari aku dulu dan bawa lebih banyak pengawal. Tapi sepertinya kau mengabaikan semua ucapanku. Kalau begitu, ke depan kau tak usah cari aku lagi.”
Mu Qianxia menatap Gu Li dengan tatapan memelas, membela diri, “Aku pikir akhir-akhir ini di kota tidak ada masalah, dan Han Yan serta Mu Xiaoxi adalah sahabatku. Begitu tahu mereka akan pergi keluar kota, aku jadi panik... jadi lupa.” Suaranya makin pelan, nyaris tak terdengar.
Gu Li mendengus, menatapnya tanpa sepatah kata.
Mu Qianxia segera berpura-pura mengaduh, “Aduh, sakit...”
Gu Li mengerutkan dahi tipis, memeriksa lukanya, setelah memastikan tidak terbuka, ia berkata, “Hmph, sekarang baru tahu sakit? Kenapa sebelumnya tidak hati-hati?”
“Aku tahu aku salah, sungguh.” Mata Mu Qianxia memandang Gu Li dengan penuh harap, matanya bening seperti anak anjing kecil.
Hati Gu Li yang sedingin es akhirnya melunak, “Karena kau mengakui kesalahan, aku maafkan kali ini.”
“Gu Li, apa kau sudah tahu ada yang ingin membunuhmu?” tanya Mu Qianxia dengan suara berat.
“Sudah. Tapi aku tak menyangka dia akan menyerangmu, menjadikanmu umpan, memancingku keluar kota.”
Mu Qianxia sempat ingin bertanya apa ia mengenal Pemimpin Gedung Bulan Kelam, tapi akhirnya mengurungkan niat itu.
Setelah lama, Gu Li perlahan berkata, “Putri, mungkin sekarang aku belum bisa membalaskan dendammu, tapi suatu hari nanti aku pasti membuat dalang di balik kejadian ini membayar lebih dari cukup. Luka yang ia berikan padamu, akan kubalas berkali-kali lipat. Siapa pun yang menyakitimu, tak akan kulepaskan.”
“Baik.”
Kelak, ketika Mu Qianxia mengingat janji Gu Li itu, ia hanya bisa tertawa sinis. Orang yang paling melukai dirinya, bukan orang lain, melainkan Gu Li sendiri.