Bab Dua Belas: Ciuman Pertama
“Guru, maksud Anda apa?” Untuk sesaat, Ling Rui benar-benar bingung. Tadi dia sudah mengatakan, Lin Dao boleh mematok harga sesukanya, selama dia mampu membayar, seluruh pil yang diproduksi Lin Dao akan dia beli. Dengan begitu, Lin Dao tak perlu khawatir soal penjualan dan bisa dengan tenang membuat pil.
“Aku tentu tahu, Tuan Adipati, Anda punya kekuasaan dan harta melimpah. Tapi Anda harus ingat, hari ini aku datang ke rumah lelang Anda.”
Ling Rui bukan orang bodoh, ia langsung paham. Wajahnya pun sedikit muram, “Guru, apakah Anda menganggap uang yang kuberikan kurang, atau kemampuanku tidak cukup?”
“Bukan, bukan. Anda salah paham. Aku bersedia menitipkan semua pilku untuk dilelang di rumah lelang Anda. Sebagai bukti ketulusan, mulai sekarang setiap bulan aku akan memberimu tiga botol ‘Pilar Langit’ secara gratis. ‘Pilar Langit’ ini adalah pil terbaik yang bisa kubuat. Dengan tubuh sekuat Anda, melayani seratus wanita dalam satu malam pun bukan masalah.”
“Baik, setuju!” Ling Rui menyetujui tanpa pikir panjang. Sungguh bodoh jika menolak tawaran semanis ini!
Tak lama kemudian, pil-pil Lin Dao pun dipajang di meja lelang. Begitu juru lelang menjelaskan khasiat dan efeknya, suasana ruangan langsung riuh. Para bangsawan bangkit dari kursi, berebut ingin memborong semuanya.
“Tak usah banyak bicara, lelang saja segera dimulai!” seru seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dengan nada berkuasa.
Juru lelang tersenyum sopan, “Ada tiga jenis pil hari ini. Pertama, kita mulai dengan ‘Tujuh Malam Tiada Lelah’. Ada dua puluh botol, demi keadilan, akan dilelang empat kali, setiap lima botol dengan harga awal dua ribu koin emas.”
Dua ribu koin emas bukanlah harga mahal. Banyak bangsawan di ruangan itu bisa menghabiskan ratusan koin emas hanya untuk sekali makan. Meski Negeri Nanming dikenal lemah dan kecil, akibat raja sebelumnya yang abai dan raja sekarang yang tak becus, para pejabat hidup mewah sementara rakyat menderita. Karena minim aturan, gaya hidup para bangsawan di sini bahkan lebih bejat dari para bangsawan besar Kekaisaran Dongwu.
“Satu juta koin emas!” Pria paruh baya tadi mengenal betul seluk-beluk lelang. Ia tahu barang pertama pasti bukan yang terbaik, jadi setelah seseorang menawar satu setengah juta, ia pun diam dan membiarkan para bangsawan muda berebut.
Akhirnya, ‘Tujuh Malam Tiada Lelah’ terjual dengan harga rata-rata lima puluh ribu koin emas per botol kepada empat bangsawan muda.
“Selanjutnya, versi peningkatan dari ‘Tujuh Malam Tiada Lelah’, yaitu ‘Tak Terkalahkan’. Menurut hasil uji kami, bahkan pria berusia tujuh puluh tahun pun mampu melayani sepuluh wanita semalam setelah mengonsumsi pil ini! Ada sepuluh botol, harga awal seratus ribu koin emas!”
Baru saja kata-kata juru lelang selesai, seorang kakek berambut putih berseru lantang, “Satu juta!”
“Hebat, Tuan Zhang memang tak kalah dengan usia. Ada yang mau menawar lebih tinggi?” Senyum juru lelang mengembang bagai bunga musim panas. Setiap barang yang terjual, ia mendapat satu persen dari nilainya. Meski tampak kecil, satu sesi lelang saja ia bisa mengantongi dua hingga tiga ratus ribu.
“Tuan Zhang memang lebih muda dari saya, tapi pil sehebat ini sebaiknya untuk saya saja. Satu koma lima juta!” suara rentan dari barisan depan membuat semua bangsawan terdiam.
“Tak kusangka ternyata Tuan Yao sendiri. Namun, di usia Anda yang segitu, apakah masih berguna? Dua juta!” Tuan Zhang, si kakek berambut putih, jelas tak memberi muka pada Tuan Yao. Di Negeri Nanming hanya ada lima orang bergelar bangsawan tinggi, posisinya sangat terhormat. Namun, dibandingkan dengan Adipati Tianyan, Tuan Yao jelas kalah jauh. Lagi pula, Zhang punya hubungan keluarga dengan Adipati Tianyan; putrinya sudah tiga tahun menikah dan melahirkan anak di kediaman Adipati Tianyan.
“Hmph!” Meski sangat menginginkan ‘Tak Terkalahkan’, Tuan Yao terpaksa menahan diri. Ia tahu, walaupun berhasil memenangkan pil itu, belum tentu dia sempat menikmatinya.
Akhirnya, sepuluh botol ‘Tak Terkalahkan’ tanpa perlawanan jatuh ke tangan Tuan Zhang.
“Kini, puncak acara malam ini. Saudara-saudara, pil yang ada di tanganku dinamai ‘Pilar Langit’. Sesuai namanya, sekali minum, langsung bangkit perkasa, mampu melayani seratus wanita. Berdasarkan pemeriksaan kami, pil ini sama sekali tak beracun, seperti pil ajaib para dewa. Yang terpenting, pil ini bisa menyembuhkan kelemahan pria, bahkan jika Anda sudah sepuluh tahun tak mampu, selama masih punya alatnya, pil ini akan membangkitkannya, membuat Anda jadi raja di dunia asmara!”
“Tak perlu banyak bicara, lima juta! Pil dewa ini harus jadi milikku!” Seorang pemuda di barisan depan langsung berdiri, auranya menggetarkan ruangan. Ia menatap sekeliling, suaranya mengancam, “Mungkin ada yang belum tahu siapa aku. Aku adalah Pangeran Huang She dari Negeri Jiangxia! Siapa pun yang berani menyaingi aku, takkan melihat matahari esok hari!”
Negeri Jiangxia adalah tetangga Nanming, wilayahnya dua kali lipat lebih luas dan kekuatannya jauh melampaui Nanming. Pasukan di dua benteng perbatasan saja sudah lima belas ribu, cukup untuk meluluhlantakkan seluruh Negeri Nanming. Raja Jiangxia, Huang Zu, sudah lama mengincar Nanming, namun anehnya ia selalu gagal menemukan celah untuk menyerang. Begitu ia bergerak sedikit saja, Kekaisaran Dongwu langsung memberi tekanan, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang melindungi Nanming.
Sebagai pangeran yang paling disayangi Huang Zu, begitu Huang She bicara, para bangsawan Nanming malah berlomba menyenangkan hatinya, mana berani bersaing? Apalagi, juru lelang segera mengumumkan kabar yang membuat semua orang bergembira, “Jangan kecewa, karena Adipati Tianyan berteman baik dengan Guru Pembuat Pil, sang Guru sudah sepakat, setiap awal bulan akan dilelang enam puluh botol ‘Tujuh Malam Tiada Lelah’, tiga puluh botol ‘Tak Terkalahkan’, dan sepuluh botol ‘Pilar Langit’ di rumah lelang kami. Jadi, silakan datang lagi.”
Mendengar itu, semua orang bersorak, memuji Adipati Tianyan sebagai panutan. Siapa pria yang tak ingin selalu perkasa dan mempesona wanita? Kini impian itu bisa terwujud, kebahagiaan ini bahkan lebih nikmat daripada menjadi raja.
Sebagai pihak yang paling diuntungkan, Lin Dao hanya tersenyum sinis dalam hati, “Hmph, ini memang pil dewa, tapi tergantung siapa yang meminumnya.”
Saat Lin Dao duduk di kereta kudanya dengan membawa cek emas kekaisaran senilai tujuh juta enam ratus ribu, tak sedikit pun tampak kegembiraan di wajahnya. Sebaliknya, rautnya muram dan penuh kecamuk. Meski malam itu Lin Dao mendapat keuntungan besar, ia juga menyadari jalan hidupnya ke depan akan penuh rintangan dan kesulitan.
Dari pengamatannya malam itu, tak satu pun bangsawan Nanming yang setia pada keluarga kerajaan. Bagi mereka, kerajaan hanya simbol semata. Di wilayah mereka, merekalah raja, bahkan kaisar! Mereka bisa melakukan apa saja tanpa batas. Yang lebih membuat Lin Dao muak, para bangsawan itu sudah membentuk beberapa aliansi, masing-masing punya pemimpin, dan para pemimpin itu kerap bersekongkol, mengabaikan perintah kerajaan.
“Sialan!” Lin Dao menghantam dinding kereta dengan keras, hingga kayu itu berlubang, sisi-sisinya menghitam, bahkan sebilah papan sempat terbakar api kecil. Dalam pukulan itu, tersimpan energi murni Matahari Sembilan!
Lü Lingqi, yang duduk di hadapannya, menatap Lin Dao penuh ketertarikan. Pukulan itu jelas sangat kuat, namun ia sama sekali tak merasakan getaran energi elemen di udara. Itu membuktikan, teknik yang digunakan Lin Dao sangat tinggi. Awalnya, ia mengira Lin Dao hanyalah saudagar kaya, tak menyangka ia menguasai ilmu sehebat ini. Dari pengamatannya saja, ia yakin teknik ini minimal setara tingkatan bumi, bahkan mungkin termasuk empat teknik tertinggi ‘Langit dan Bumi’.
Yang membuat Lü Lingqi tergoda, teknik Lin Dao mirip dengan tekniknya sendiri, ‘Sepuluh Ribu Api’, yang bertipe sama. Jika Lin Dao bersedia mengajarkan teknik itu padanya, dalam waktu lima tahun ia pasti bisa mencapai tingkat ‘Raja’. Namun, itu hanya harapan dalam hatinya saja. Ia hanyalah budak rendah, tak disiksa saja sudah sangat beruntung, apalagi berharap diajari ilmu sehebat itu.
Lin Dao melihat perubahan ekspresi di wajah Lü Lingqi, dari penuh gairah menjadi muram. Ia seolah bisa menebak isi hati gadis itu. Setelah membuang semua amarahnya, Lin Dao pun berusaha bersikap santai. Sebab, tak peduli seberat apa pun rintangannya, ia yakin dapat terus melangkah, bahkan semakin lancar hingga tiada lagi batu maupun lubang di jalannya.
Melihat Lü Lingqi, Lin Dao tersenyum tipis, “Sedang memikirkan apa?”
Lü Lingqi memalingkan wajah, enggan menatap Lin Dao. Ia tahu ia tak bisa bertahan di bawah sorotan Lin Dao, pria ini selalu bisa membaca isi hatinya, membuatnya amat tidak nyaman.
“Hmm, daripada bosan, biar kutebak. Kau pasti sedang bertanya-tanya, kenapa aku bisa memecahkan dinding kereta dengan satu pukulan, bahkan mengeluarkan energi api, benar kan?” Lü Lingqi tetap diam, Lin Dao meneruskan, “Kau diam berarti mengiyakan. Sebenarnya, itu karena teknik yang kulatih bernama ‘Kekuatan Matahari Sembilan’. Seperti namanya, teknik ini sangat kuat dan penuh energi matahari. Aku baru mulai, tapi jika suatu saat aku menguasainya sepenuhnya, mungkin tak ada satu pun di dunia ini yang sanggup mengalahkanku. Bagaimana, iri?”
Lü Lingqi tak menjawab, hanya mendengus, menandakan ia tak terkesan pada kesombongan Lin Dao.
“Tsk, tsk, perempuan harus jujur. Kalau hati dan ucapan tak selaras, orang lain bisa jadi tak suka padamu,” Lin Dao berkata dengan nada dan ekspresi yang membuat Lü Lingqi kesal setengah mati. Ia pun berdiri, hendak keluar dari kereta. Namun, ketika tinggal selangkah lagi menuju tirai kereta, ucapan Lin Dao membuat tubuhnya bergetar hebat, raut wajahnya berubah drastis karena terkejut, “Kalau kau benar-benar ingin belajar, akan kuajarkan padamu.”