Bab 155 Berubah Menjadi Burung Peng
Ye Cheng segera melancarkan serangan. Cara bertarung Kun Roh memang terkekang oleh Ye Cheng. Setelah mengetahui jati dirinya, mereka pun bertarung dengan serba ragu dan kehilangan seluruh semangat.
Dalam beberapa menit saja, Kun Roh terus-menerus menjadi sasaran serangan Ye Cheng, sementara jumlah sesama mereka semakin berkurang.
Satu, dua...
Setiap kali Ye Cheng menyerang, nyawa seekor Kun Roh pun melayang. Tubuh raksasa mereka jatuh dari udara dan menghantam permukaan air.
Kun Roh yang tersisa sudah mengerahkan segenap tenaga untuk bertahan, tetapi tetap tak sanggup membendung serangan Ye Cheng. Tak lama kemudian, jumlah mereka tinggal segelintir.
Saat itulah, seekor Kun Roh yang tampak cukup tua memperlihatkan air mata kesedihan. Lalu, tubuhnya perlahan berubah menjadi cahaya keemasan.
“Apa itu?”
Melihat perubahan tersebut, harapan berkilat di mata Kun Roh yang tersisa.
Pemandangan ini menandakan bahwa ia hampir menyelesaikan evolusinya. Sebentar lagi, ia akan berubah menjadi burung peng besar dan kekuatannya pun akan melonjak.
“Sebentar lagi kau akan mati. Meskipun kau Raja Slime, kau bukan tandingan sosok ini!”
Ye Cheng melihatnya dan tampaknya menyadari sesuatu. Ia baru saja hendak maju ketika Kun Roh lainnya menahannya erat-erat.
Harapan sudah di depan mata. Mana mungkin mereka membiarkan Ye Cheng mengacau?
Proses perubahan menjadi peng berlangsung sangat singkat. Hanya dalam setengah menit, evolusi itu pun selesai.
“Grrra!”
Suara nyaring menggelegar dari paruhnya. Sepasang sayap mengepak, dan ia muncul di hadapan Ye Cheng dengan sorot mata penuh keyakinan.
Ekspresi Ye Cheng berubah serius. Ia menegakkan tubuh perlahan, bersiap menghadapi musuh barunya.
Setelah berubah menjadi burung peng besar, tubuhnya membengkak luar biasa. Ye Cheng memang baru saja naik tingkat dan tubuhnya jauh lebih besar daripada sebelumnya, tetapi dibandingkan dengannya, Ye Cheng masih jauh tertinggal.
“Tak kusangka kau bisa menerobos pada saat seperti ini!”
Ye Cheng memuji lawannya dengan tenang.
Namun, lawannya sama sekali tidak menghargai pujian itu. Slime di hadapannya telah membantai begitu banyak kawannya. Kini, setelah memperoleh kesempatan besar ini, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah membunuh si keparat tersebut.
“Dengan kekuatannya sekarang, ia mungkin sudah berada di puncak Benua Varanda!”
Ye Cheng menyipitkan mata, mengamati lawannya dengan saksama.
Tekanan dahsyat menyapu ke arahnya. Ye Cheng terus mengepakkan sayap untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Namun, sedikit pun rasa takut tak tampak di matanya. Bahkan, ia justru terlihat agak bersemangat.
Setelah memusnahkan Kerajaan Raycheno, Ye Cheng tak lagi merasakan banyak tantangan. Seolah-olah tak ada seorang pun di seluruh Benua Varanda yang mampu menjadi lawannya.
Burung peng besar di hadapannya jelas merupakan lawan yang selama ini ia dambakan. Hanya petarung sekuat inilah yang layak menghadapinya.
Kun Roh menguasai energi bayangan. Namun, setelah berubah menjadi burung peng besar, segalanya berubah drastis.
Atribut yang dikuasai burung peng besar adalah cahaya, yang sangat ampuh untuk mengekang Ye Cheng.
Selain itu, kecepatan dan kekuatannya jauh melampaui Kun Roh. Inilah makna sesungguhnya dari ungkapan “terbang membumbung ke langit”.
“Sepertinya evolusi ini membuatmu jauh lebih kuat!”
Ye Cheng menatap burung peng besar di hadapannya, sorot matanya dipenuhi kekaguman.
“Sekarang, sekalipun kau berlutut dan memohon ampun, tak akan ada yang berubah!”
Burung peng besar itu menjawab dengan tegas, lalu menukik dan melesat ke arah Ye Cheng.
Ye Cheng buru-buru menghindar. Namun, ujung sayap burung peng besar tetap menyentuh kulitnya dan melukai tubuhnya.
Bahkan dengan Baju Naga Iblis yang menyelimuti tubuhnya, ia tetap tak mampu menahan serangan burung peng besar. Serangan itu seolah hanya menyasar tubuh fisiknya dan mengabaikan zirahnya.
“Serangannya ternyata sekuat ini!”
Ye Cheng sama sekali tak terkejut. Sebaliknya, wajahnya malah menampakkan kegembiraan yang luar biasa.
“Jadi, Raja Slime yang tersohor itu ternyata cuma orang gila!”
Melihat senyum Ye Cheng yang nyaris sinting, burung peng besar itu mengernyit dan mulai meragukan kewarasan Ye Cheng.
Kemudian, ia menyemburkan api dari mulutnya. Api itu berbeda dari api biasa karena mengandung banyak unsur cahaya.
Ye Cheng tak berani meremehkannya. Ia segera bergerak menghindar. Jika menerima serangan itu secara langsung, meski tidak mati, separuh nyawanya pasti melayang!
Seketika, puluhan anak panah bayangan terbentuk di belakangnya dan melesat menuju burung peng besar.
Burung peng besar membentangkan sayapnya. Cahaya putih tak berujung memancar dari tubuhnya, lalu meleburkan anak-anak panah bayangan itu begitu saja.
“Mustahil!”
Untuk pertama kalinya Ye Cheng dibuat tak berkutik. Ia bisa menerima jika anak panah bayangannya luput mengenai lawan, tetapi ia tak menyangka lawannya mampu meleburkannya dengan cara yang begitu dahsyat.
“Serangan seperti itu berani kau pamerkan di hadapanku? Apa kau benar-benar mengira kekuatanku tidak meningkat?”
Burung peng besar tertawa tanpa kendali. Kini, keadaan telah berbalik. Dialah monster yang memegang kendali.
Keringat mulai membasahi wajah Ye Cheng. Ia berpikir keras mencari cara untuk mengalahkan musuh di hadapannya.
“Sekarang, rasakan serangan terkuatku!”
Burung peng besar kembali membentangkan kedua sayapnya. Cahaya putih tak berujung memancar dari tubuhnya, berkilauan dan memadat menjadi seekor peng bercahaya.
Peng bercahaya itu terbang ke arah Ye Cheng, sementara paruhnya terus mengeluarkan suara cicitan.
Ye Cheng tahu, serangan yang disebut terkuat tentu tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Ia pun berbelok dan buru-buru terbang ke arah lain, berusaha menjauhkan diri darinya.
Namun, kecepatannya bahkan melampaui Ye Cheng. Ia sama sekali tak bisa menghindarinya.
“Burung peng sialan!”
Ye Cheng tetap terbang secepat mungkin. Namun, energi bayangan mulai berkumpul di tangannya.
Akhirnya, ketika peng bercahaya itu hampir menyusulnya, bola bayangan yang telah lama ia kumpulkan di tangannya dilemparkan ke arahnya.
Cahaya dan kegelapan bertabrakan di udara. Air laut di bawah mereka seolah menguap seluruhnya.
Ledakan dahsyat mengguncang permukaan laut. Karena berada sangat dekat dengan pusat ledakan, Ye Cheng pun terpental jauh.
“Setelah serangan ini, kurasa tak mungkin ada yang selamat!”
Burung peng besar tentu memiliki kebanggaan tersendiri. Jika Ye Cheng mampu menahan serangan terkuatnya, itu berarti Ye Cheng berada di tingkat yang sama dengannya. Ia pun akan menghadapi Ye Cheng dengan lebih serius.
Namun, tampaknya kesempatan itu sudah tak akan datang. Ye Cheng jelas tak mungkin menahan serangan sehebat itu.
“Kasihan sekali kaumku!”
Setelah pertempuran ini, jumlah Kun Roh berkurang hingga delapan puluh persen. Ini jelas merupakan kerugian besar.
“Slime terkutuk! Kalau kau belum mati, akan kubuat kau menyesal masih hidup!”
Tiba-tiba, sebuah suara dingin terdengar dari belakangnya.
“Aku ingin melihat bagaimana kau akan membuatku menyesal masih hidup.”