Bab Seratus Tiga Puluh: Kiklops
Keesokan paginya.
Sinar matahari yang terik menyengat gurun seperti biasanya. Gurun saat itu tampak sunyi dan tidak berpenghuni, persis seperti hari-hari sebelumnya. Tiba-tiba, sebuah cakar tajam menyembul keluar dari balik pasir.
"Srek."
Tak lama kemudian, seluruh tubuh Ye Cheng muncul di bawah paparan sinar matahari. Ia duduk di atas hamparan pasir, menatap sekeliling dengan pandangan kosong. Ingatannya masih terpaku pada detik-detik sebelum dirinya ditebas menjadi dua bagian; setelah itu, jiwanya terasa seolah melayang ke tempat lain.
Ye Cheng buru-buru menundukkan kepala untuk mengamati tubuhnya sendiri. Saat ini, tubuhnya telah menyatu kembali menjadi utuh. Hanya saja, bekas luka yang sangat mengerikan tertinggal di bagian yang sebelumnya terbelah. Luka itu perlahan mulai menutup, meski kecepatan pemulihannya jauh lebih lambat dibanding biasanya. Namun, Ye Cheng masih bisa melihat dengan mata telanjang bahwa lukanya berangsur sembuh.
Setelah pulih, Ye Cheng berdiri dari atas pasir dan menyeret tubuhnya yang letih menuju tembok kota. Panasnya matahari yang menghantam tubuhnya membuat ia semakin ingin terlelap karena kelelahan. Namun, Ye Cheng menepuk pipinya dengan keras dan terus melangkah maju.
"Sepertinya ada banyak rahasia yang tersimpan dalam diriku!" gumam Ye Cheng dengan senyum getir. Ia tidak tahu bagaimana caranya ia bisa bangkit kembali, tetapi karena kesempatan ini telah diberikan, ia tidak akan menyia-nyiakannya.
"Wuye!" Ye Cheng terus merapalkan nama itu dalam hati dengan tatapan mata yang berubah tajam. "Saat kita bertemu lagi, itu akan menjadi hari kematianmu. Rasa sakit yang kualami, aku akan memastimu merasakannya juga!"
Melihat tembok kota sudah semakin dekat, Ye Cheng segera menyembunyikan dirinya. Tak lama kemudian, ia sampai di pinggiran tembok kota. Saat itu, tugas perbaikan gerbang kota telah dimulai kembali. Berita tentang terbunuhnya Raja Slime telah tersebar ke seluruh ibu kota. Semua orang merayakannya; bahkan banyak pemain yang sebelumnya berhenti bermain karena dibunuh oleh Ye Cheng kini berbondong-bondong kembali masuk ke dalam permainan setelah mendengar kabar tersebut. Meskipun bukan mereka sendiri yang membunuhnya, melihat musuh bebuyutan mereka tewas membuat perasaan mereka sedikit terobati.
Saat itu, jumlah orang di atas tembok kota sangat sedikit, karena banyak pemain sedang merayakan kemenangan di desa atau kota terdekat. Jumlah pemain yang masuk ke dalam "Dunia Monster" saat ini hampir menyaingi keramaian saat peluncuran server. Banyak pemain membeli kembang api yang biasanya tidak pernah mereka gunakan untuk berpesta pora. Bahkan ada yang berencana melintasi gurun untuk merebut kembali wilayah Kerajaan Karl. Namun, itu hanyalah angan-angan; melintasi seluruh gurun membutuhkan kekuatan tempur yang sangat besar, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh tim pemain biasa.
Akan tetapi, Raja Kerajaan Recheno sudah mulai memiliki rencana dan bahkan telah mulai menyusun strateginya. Wuye juga telah mendapatkan sebuah kota sesuai keinginannya, dan ia menamai kota tersebut dengan namanya sendiri. Karena ia adalah pahlawan yang berhasil membunuh Raja Slime, banyak pemain berdatangan ke kotanya dengan niat ingin melihat sang pahlawan secara langsung. Namun, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang masuk ke dalam jaring besar yang telah ia tenun. Wuye ibarat seekor laba-laba; alasan satu-satunya ia belum menyerang orang-orang di kota itu adalah karena jumlahnya belum cukup banyak. Begitu jumlahnya mencukupi, ia akan mulai membantai mereka, dan karena ia memiliki perintah langsung dari raja, tidak seorang pun di Kerajaan Recheno yang akan menghalanginya.
Ye Cheng menatap tembok kota di depannya dengan ekspresi ragu. Dengan kekuatannya saat ini, ia tidak bisa bertindak sembarangan meski berhasil masuk ke dalam kota. Ia hanya bisa terus menyergap orang-orang lemah agar tidak menarik perhatian. Selain itu, ia harus waspada agar Wuye tidak mengenali aroma tubuhnya. Jika situasi terus berlanjut seperti ini, entah berapa lama lagi keinginan balas dendamnya bisa terwujud. Bahkan ada kemungkinan ia akan dibunuh lagi, dan apakah ia masih punya kemampuan untuk bangkit kembali jika itu terjadi?
Ye Cheng sempat merasa gentar. Jika ia menyia-nyiakan kesempatan hidup kedua yang diberikan oleh langit ini tanpa perhitungan matang, bukankah itu sama saja dengan membuang nyawa?
"Entah bagaimana kabar Yiso sekarang?" gumam Ye Cheng dengan wajah penuh kecemasan. Yiso dan para Slime lainnya masih berada di dalam kota, dan ia tidak tahu apa saja yang telah mereka lalui. Namun, saat ini Wuye seharusnya sudah kembali ke ibu kota, dan berita kematiannya mungkin sudah tersebar luas. Jika demikian, para pemain kuat tidak akan lagi beraktivitas di luar kota, sehingga Yiso dan yang lainnya seharusnya aman untuk sementara waktu. Sebaliknya, jika keberadaannya ketahuan, bukan hanya dirinya yang dalam bahaya, tetapi ia juga akan memancing para ahli untuk datang dan membahayakan Yiso dan yang lainnya.
"Sepertinya aku belum bisa kembali sekarang!"
Ye Cheng akhirnya membulatkan tekad. Ia perlahan berbalik dan kembali ke dalam gurun. Ia akan kembali menjemput Yiso dan yang lainnya setelah kekuatannya menjadi lebih kuat. Ye Cheng menoleh sekali lagi, lalu dengan tatapan penuh tekad, ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke belakang.
Saat ia pertama kali datang ke gurun bersama para Slime, ia sempat merasakan keberadaan beberapa monster yang kekuatannya tidak kalah dengan dirinya. Meski tidak tahu arah pastinya, ia memiliki firasat di dalam hatinya. Ye Cheng kemudian terbang menuju satu arah.
"Saat aku kembali nanti, Kerajaan Recheno akan dihapuskan dari peta Benua Valanda!" ucap Ye Cheng dengan angkuh.
Setelah mengalami kebangkitan, poin terobosan miliknya telah diatur ulang menjadi nol, yang berarti semua pemain yang pernah ia telan sebelumnya menjadi sia-sia! Jika Ye Cheng hanya mengandalkan pembantaian monster di gurun untuk mengumpulkan poin terobosan, mungkin akan memakan waktu yang sangat lama. Menurut pengamatan Ye Cheng, ada tiga ras terkuat di gurun. Mereka masing-masing berada di arah barat daya, timur laut, dan tenggara pusat gurun. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, mereka tidak saling mengusik. Di antara ras-ras tersebut, jarang terjadi pertempuran.
Ketiga pemimpin ras tersebut adalah Kalajengking Iblis Neraka, Naga Pasir Gurun, dan Raksasa Mata Satu. Jika dihitung dari jumlahnya, Kalajengking Iblis jelas yang terbanyak. Namun, jika berbicara mengenai kemampuan bertarung, Naga Pasir Gurun jelas memiliki kemampuan penghancur yang paling kuat. Sementara itu, ras Raksasa Mata Satu memiliki kecerdasan tertinggi; meskipun tidak bisa setara dengan manusia, mereka mampu membuat dan menggunakan peralatan sederhana.
Ye Cheng tiba di pusat gurun, merasakan ketiga jenis kekuatan tersebut, dan membandingkannya satu sama lain. Akhirnya, ia memilih Raksasa Mata Satu yang jumlahnya tidak banyak dan kekuatannya tidak terlalu kuat.
"Jalan terobosanku bergantung pada kalian!"
Setelah berucap demikian, Ye Cheng terbang menuju ke arah suku tersebut.