Bab Seratus Empat: Pondok Jerami
Sejujurnya, perjalanan Wei Shu malam ini tidak sia-sia karena ia berhasil menyaksikan sendiri aksi Bulushen menyelundupkan persenjataan. Mengenai apa tujuannya, Wei Shu tidak terlalu ambil pusing. Ia cukup mengamati pergerakan Kota Baishuang secara diam-diam nanti, maka semuanya akan terungkap. Adapun di mana Bulushen akan menyembunyikan senjata-senjata itu, Wei Shu bahkan lebih tidak peduli lagi.
Ia bukan orang Negeri Jin; jika mereka ingin saling menghancurkan atau bermain nyawa, sebagai orang luar, tidak pantas baginya untuk ikut campur, bukan? Namun, sosok jagoan yang menguasai teknik pernapasan kura-kura (meski hanya kulitnya saja) di hadapannya ini justru membuat Wei Shu merasa terusik.
Jika Kota Baishuang diibaratkan sebagai papan catur, maka yang harus dilakukan Wei Shu saat ini adalah memetakan setiap kekuatan yang ada sebisa mungkin. Hanya dengan cara itulah ia bisa menentukan langkah dan kapan waktu yang tepat untuk terjun ke dalam permainan.
Orang di bawah air ini jelas bukan komplotan Bulushen. Hal itu sudah tampak nyata. Namun, jika dikatakan ia utusan Mangtai, rasanya pun tidak mungkin, karena kemampuan orang-orang dari gunung itu tidak akan se... biasa itu. Ini bukan berarti Wei Shu meremehkan kemampuan orang lain, tetapi ingatan Aqisi sudah terpampang jelas, sehingga ia tidak bisa mengelak dari kenyataan tersebut.
Oleh karena itu, Wei Shu merasa harus mencari tahu siapa sebenarnya sosok di bawah air ini agar tidak ada hal penting yang terlewat akibat kelalaian sesaat.
Batang bambu kecil itu bergerak perlahan dan hati-hati, menunjukkan kesabaran serta kemampuan berenang yang sangat tinggi dari orang di bawah air tersebut. Wei Shu tidak berani lengah barang sedetik pun. Ia terus menatap arah pergerakan batang bambu itu tanpa berkedip, bersiap menangkap suara napas yang nyaris tak terdengar dari bawah air, sambil menjaga jarak sekitar dua puluh langkah darinya.
Ia memiliki firasat bahwa begitu mereka meninggalkan dermaga liar dan situasi dirasa aman, benda ini—bukan, maksudnya jagoan ini—kemungkinan besar akan berlari secepat kuda yang lepas dari kendali.
Benar saja, setelah menempuh jarak sejauh satu batang dupa, dermaga liar telah tertinggal jauh di belakang, dan batang bambu itu tiba-tiba berhenti. Wei Shu membatin, "Akhirnya," namun sebelum pemikirannya tuntas, batang bambu itu melesat lurus ke tengah sungai bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.
Wei Shu terus mengawasinya dengan saksama. Saat melihat batang bambu itu membelah permukaan air dan hendak menghilang dari pandangannya, ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh, melesat menempel di atas permukaan air.
Seketika itu juga, angin berhembus kencang dan air bergejolak; di tengah sungai, sebatang bambu berenang dengan kecepatan tinggi, sementara di tepi sungai, sesosok bayangan ramping mengejarnya tanpa menyerah. Pemandangan ini, jika terlihat oleh orang lain, pasti akan dikira sedang bertemu hantu.
Seperti dugaan Wei Shu sebelumnya, orang di bawah air itu tidak mungkin terus-menerus menyelam; ia pasti akan naik ke darat. Tempat yang ia pilih untuk mendarat adalah sebuah gosong sungai tidak jauh dari Dermaga Tongji. Saat itu, celana Wei Shu sudah basah kuyup dan keringat dingin bercucuran di dahinya.
Apa yang disebut berjalan di atas air sebenarnya tidak mungkin dilakukan dengan melayang di udara, karena itu adalah kemampuan dewa, bukan manusia. Wei Shu sebenarnya hanya memijak bebatuan, lumpur, dan batang rumput di dekat tepi sungai untuk mendapatkan tumpuan, sehingga ia bisa mengimbangi kecepatan renang orang tersebut.
Harus diakui, kemampuan berenang orang ini sangat luar biasa. Kecepatannya di bawah air melampaui kilat. Wei Shu terpaksa mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk tidak kehilangan jejak, hingga ia sendiri pun tampak berantakan. Saat orang itu akhirnya naik ke darat, Wei Shu pun menghela napas lega.
Saat itu, Jalan Yinzhan sudah lama padam lampunya, suasana kota senyap, dan dunia diselimuti kesunyian. Cahaya lampu nelayan di Sungai Cang hanya tersisa dua atau tiga titik; cahaya remang-remang itu tidak mampu menjangkau jauh, membuat dermaga benar-benar gelap gulita.
Namun, Wei Shu melihatnya dengan jelas. Setelah naik ke darat, orang itu langsung berlari menuju deretan pohon poplar di tepi sungai. Tak lama kemudian, terdengar suara gemerisik dari balik pohon, tampaknya orang itu sedang melepas pakaian selamnya dan menggantinya dengan pakaian kering yang sudah disiapkan sebelumnya.
Wei Shu menanti di samping sambil mengatur pernapasannya. Pertarungannya dengan Alan di gang sempit tadi telah memicu luka lamanya kembali. Karena tidak menemukan tempat untuk mandi obat, ia terpaksa menekan energi dingin di dantiannya dengan tenaga dalam untuk sementara waktu, sembari memikirkan cara lain di kemudian hari.
Orang itu segera selesai berganti pakaian, lalu pergi ke arah utara dengan membawa buntalan besar di punggungnya. Wei Shu mengikutinya dengan tenang, tidak lagi terburu-buru seperti saat mengejarnya di air tadi.
Dilihat dari jauh, tubuh orang itu tidak terlalu tinggi, proporsional, dengan anggota tubuh yang panjang, dan gerak-geriknya menunjukkan ketangkasan seorang praktisi bela diri. Sayangnya, kemampuan daratnya jauh di bawah kemampuan airnya. Ilmu meringankan tubuhnya hanya tergolong kelas bawah, sehingga Wei Shu bisa mengikutinya dengan sangat mudah tanpa membuang banyak tenaga.
Demikianlah, kedua bayangan itu bergerak cepat satu sama lain di dalam kegelapan selama lebih dari seperempat jam, hingga di depan tampak sebuah bangunan besar.
Wei Shu langsung mengenali bangunan itu sebagai gudang Dermaga Tongji, tempat khusus untuk menyimpan barang dagangan dalam jumlah besar. Karena proses bongkar muat pedagang sering kali memakan waktu berhari-hari, mereka akan membayar sejumlah uang di dermaga untuk menitipkan barang di sana hingga lengkap, baru kemudian diangkut ke kapal. Selama barang berada di gudang, pihak dermaga akan menugaskan orang khusus untuk menjaga agar tidak hilang.
Namun, saat ini barang-barang besar sudah habis terjual, ditambah lagi dengan adanya kasus pembunuhan besar di kediaman Balan. Para pedagang yang ketakutan memilih untuk menunggu dan melihat situasi. Oleh karena itu, tidak ada yang menyewa gudang, dan dermaga pun tidak menempatkan penjaga malam. Gubuk jerami yang dibangun sementara di sampingnya juga tampak gelap, kemungkinan besar kosong.
Akan tetapi, dari dalam gubuk yang seharusnya kosong itu, justru terdengar suara napas bersahut-sahutan. Setidaknya ada lima orang di sana.
Wei Shu menjulurkan kepalanya dari sudut gudang, menatap gubuk yang gelap itu. Saat itu, pria yang ahli menyelam tadi sudah berdiri di depan gubuk, mengetuk pintu tiga kali, berhenti sejenak, mengetuk dua kali, berhenti lagi, dan terakhir mengetuk lima kali.
Pintu terbuka tanpa suara. Meski dengan penglihatan tajam Wei Shu, ia hanya bisa melihat sekilas bahwa orang yang membukakan pintu adalah seorang pria bertopeng hitam dengan perawakan yang cukup tinggi dan tegap. Pria dari bawah air itu segera menyelinap masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara percakapan yang sangat rendah dari dalam kegelapan.
"Apakah semua sudah berkumpul?" Suara itu terdengar tua dan parau. Usia si pembicara pasti sudah tidak muda lagi, namun napasnya masih terasa cukup kuat.
Tidak ada yang menjawab di dalam ruangan, tetapi terdengar suara "tuk, tuk" beberapa kali. Ada yang nyaring seperti denting giok, ada pula yang berat seperti kayu yang dipukul. Wei Shu mendengarkan sambil menghitung; total ada enam ketukan. Apakah itu berarti ada enam orang yang hadir?
"Baiklah, karena semuanya sudah lengkap, mari kita mulai." Suara si orang tua terdengar lagi, membenarkan dugaan Wei Shu. Kemudian ia berkata, "Nomor Satu, silakan mulai."
Tampaknya, orang tua ini adalah pemimpin pertemuan rahasia di gubuk tersebut. Saat ia menyebut Nomor Satu, nada suaranya mengandung wibawa yang tak terbantahkan.
"Sun Dashou telah mati," suara Nomor Satu terdengar segera setelahnya. Itu adalah suara seorang wanita yang sangat lembut, diucapkan dengan alunan yang merdu dan meliuk-liuk, seperti seorang pemain sandiwara yang sedang melantunkan dialog dengan suara kecil, sungguh unik.
Ruangan itu terdiam sesaat, seolah semua orang sedang menunggu kelanjutan dari Nomor Satu. Namun, wanita itu tidak bicara lagi, membiarkan keheningan menyebar seperti air.