148 Mengalahkan hingga Tumbang
Begitu Gao Cui memasuki ruangan dan melihat kedua gadis itu bertingkah seperti ayam jantan yang hendak adu, dia buru-buru bertanya, "Ada apa lagi ini? Nona Jia, lihatlah Zhao'er kita sudah seperti ini, sudahlah jangan diambil hati. Bibi membuatkanmu sepasang sepatu, Zhao'er sendiri yang meminta Bibi untuk membuatnya, katanya agar kamu bisa memakainya saat menunggang kuda."
Dia mengeluarkan sepasang sepatu berwarna hijau zamrud. Jia Xibei menerimanya, lalu berterima kasih dengan gembira, "Terima kasih banyak, Bibi. Bibi memang yang paling baik padaku. Huh! Adik Zhao bilang ingin menjadi saudari sehidup semati denganku, tetapi sekarang dia malah mencurigaiku? Sungguh membuatku sedih."
Gao Cui tidak tahu menahu duduk perkaranya, dia hanya ingin membela sang keponakan, "Pasti hanya kesalahpahaman, dibicarakan saja nanti juga selesai. Zhao'er kita itu sangat tulus pada orang lain, kalau dia bilang menganggapmu sebagai saudari, itu pasti dari lubuk hatinya yang paling dalam. Nona Jia jangan diambil hati, Zhao'er terkadang suka bergurau, dia tidak punya niat buruk."
Gao Zhao pun tidak ingin Bibinya tahu terlalu banyak, lalu ia berkata sambil tersenyum, "Bibi, kami tadi hanya bercanda saja, tidak benar-benar bertengkar."
"Baguslah kalau begitu. Nona Jia, cepat coba, pas atau tidak di kaki?"
Jia Xibei buru-buru duduk di tepi kang untuk mencobanya, lalu melangkah di lantai beberapa langkah dan tersenyum, "Pas sekali. Bibi, bagaimana Bibi tahu ukuran sepatuku?"
Gao Cui berkata dengan bangga, "Bibi hanya perlu melihat beberapa kali dan langsung tahu, tidak akan meleset. Siapa pun di lingkungan sekitar ini mengagumi kejelian mata Bibi."
Yu Qingwa memandang dengan penuh iri, lalu bertanya dengan tidak sabar, "Bibi, milikku mana?"
Gao Cui juga menyukai Nona kecil dari keluarga Yu itu. Anak yang gemar makan biasanya memiliki tubuh yang sehat, "Ada, semuanya ada. Hanya kurang beberapa tusuk lagi, besok juga sudah selesai."
"Terima kasih, Bibi." Yu Qingwa memeluk Gao Cui dan meniru gaya Kakak Zhao mencium pipinya, membuat Gao Cui tersenyum lebar tanpa henti.
"Kalian mainlah dulu, Bibi mau ke dapur. Mau makan apa, nanti Bibi buatkan."
"Bakso daging! Bibi, aku mau makan bakso daging."
"Baik, baik. Kalau begitu tunggu ya, nanti siang makan di sini."
Gao Cui keluar dengan senyum merekah di wajahnya. Jia Xibei tadinya ingin berkomentar bahwa mereka akan makan bakso lagi, tetapi melihat senyum cerah di wajah Yu Qingwa, ia teringat pada sebutan bakso ceri yang diucapkan oleh Gao Zhao. Sambil bertepuk tangan, dia tertulis, "Mulai sekarang panggil saja Adik Yu si bakso kecil."
"Kalau begitu kau kupanggil tulang iga babi saja, setiap kali datang pasti ingin makan iga panggang."
"Adik Zhao hari ini sengaja ingin berdebat denganku, ya? Kalau begitu aku harus memanggilmu apa? Monyet kurus?" Dia tahu bahwa Adik Zhao paling benci dibilang terlalu kurus, jadi dia sengaja berkata demikian.
Gao Zhao tidak marah. Entah mengapa hari ini ia terus salah bicara, maka ia pun dengan riang memeluk Jia Xibei sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, "Aku yang salah, aku tidak seharusnya berkata begitu. Mulai sekarang aku panggil kau angsa cantik saja, bagaimana?"
"Jangan tersenyum begitu padaku, kelihatan palsu."
Begitu mendengar kata "palsu" itu, Jia Xibei kembali tidak terima. Dia melepaskan diri dari pelukan Gao Zhao dan bertanya, "Adik Zhao, hari ini jelaskan padaku, kenapa kamu bilang margaku palsu? Siapa yang mengatakan sesuatu?"
Gao Zhao melirik ke arah Yu Qingwa, menyuruhnya pergi bermain bersama Qiaoyun, lalu berkata kepada Jia Xibei, "Apakah kedatangan keluargamu ke rumahku ini membawa tujuan tertentu? Bagaimana perlakuanku padamu? Lihatlah betapa baiknya Bibiku padamu, setiap kali datang selalu membuatkanmu makanan enak. Jika kalian punya niat tersembunyi, apa kalian tidak merasa berdosa pada Bibiku?"
Jia Xibei tadinya mengira gadis itu mengetahui sesuatu, tetapi teringat akan pesan kuku, dia pura-pura tenang dan balas bertanya, "Apa maksudmu? Aku memperlakukanmu dengan setulus hati, dan aku juga menyukai Bibi. Kedatanganku kali ini bahkan membawakan barang bagus untuk Bibi."
"Apa maksudku? Apa kamu tahu ada desas-desus yang mengatakan bahwa ada harta karun tersembunyi di Kabupaten Wucheng?"
Hal ini benar-benar tidak diketahui oleh Jia Xibei. Dengan rasa penasaran dia bertanya, "Harta karun apa? Kenapa aku belum pernah mendengarnya? Di mana harta karun itu disembunyikan? Ayo kita cari bersama?"
Gao Zhao menatapnya lekat-lekat. Melihat ekspresinya tidak dibuat-buat, dia pun menceritakan desas-desus tersebut. Setelah mendengarkannya, Jia Xibei bertanya dengan bingung, "Apa hubungannya harta karun itu dengan keluargaku? Sekalipun ada harta karun, itu kan bukan milik keluarga Jia. Oh, jadi kamu mengira kami datang untuk mencari harta karun? Lucu sekali! Sekalipun kami datang untuk mencari harta karun, buat apa punya niat tersembunyi terhadap keluargamu? Apa keluargamu tahu di mana harta karun itu disembunyikan?"
"Jangan sembarangan bicara, keluargaku tentu saja tidak tahu. Hanya saja, dipikir-pikir bagaimana pun keluarga kalian selalu bertingkah mencurigakan dan terkesan aneh. Jika tidak ada maksud tersembunyi, untuk apa kamu seorang gadis bangsawan dari ibuukota sering datang tanpa urusan ke rumahku? Lalu paman guru kalian itu, sekali lihat saja sudah tahu kalau dia dibesarkan di keluarga terpandang, kenapa mau menjadi murid ayahku? Ini sama sekali tidak masuk akal! Makanya, wajar kalau orang merasa curiga."
Hal ini agak sulit dijelaskan oleh Jia Xibei, jadi dia meniru gaya Gao Zhao mengangkat tangan untuk bersumpah. "Aku, Jia Xibei, bersumpah bahwa keluarga Jia sama sekali tidak tahu menahu tentang harta karun apa pun. Ketulusanku pada Adik Zhao ini nyata dan tidak berniat buruk. Kakekku tidak berniat buruk pada keluarga Gao, dan Paman Guru juga tidak berniat buruk pada keluarga Gao. Jika aku berbohong, biarlah aku... biarlah aku hidup sendiri tanpa pendamping sampai tua!"
Orang jaman dahulu sangat menjunjung tinggi sumpah. Melihat Jia Xibei bersumpah dengan sungguh-sungguh, Gao Zhao pun mempercayainya. Dia teringat pada Tuan Jia yang sesekali pernah ia lihat, jangan-jangan lelaki tua itu memang seorang tokoh berjiwa kekanak-kanakan. Kalau tidak, masakan mengajar di kelas sesuka hatinya sendiri? Meskipun para murid menyukainya, guru-guru berpendidikan ortodoks pasti akan memandangnya sebelah mata. Kemungkinan besar, seperti yang dikatakan ayahnya, lelaki itu adalah orang buangan dari ibuukota.
Benar, tipe orang yang bertindak semaunya tanpa aturan, melakukan sesuatu secara spontan tanpa bisa dipahami dengan cara berpikir orang normal. Kalau tidak, sampai kepalamu pecah pun kamu tidak akan mengerti apa tujuan dari perbuatannya itu.
"Lalu, untuk apa menyuruh Paman Gurumu datang ke sini?"
"Ehm, Kakekku bilang Paman Guru terlalu dimanja dan pemilih soal makanan, jadi dia menyuruhnya datang ke keluarga Gao untuk melihat bagaimana orang-orang biasa menjalani hidup, siapa tahu tabiatnya bisa berubah menjadi lebih baik."
Gao Zhao mengangguk. Orang tua nyentrik yang bertingkah sesuka hati mungkin memang memiliki maksud seperti itu. Sudahlah, biarkan saja. Selama tidak berniat buruk pada keluarga Gao, itu sudah cukup. Kalau tidak, di masa depan dia pasti tidak akan melepaskan Jia Xibei.
Jia Xibei teringat bahwa dia tadinya ingin mengorek keterangan dari Gao Zhao, jadi dia langsung bertanya blak-blakan, "Adik Zhao, kalau kamu tahu aku adalah nona muda dari keluarga terpandang, bagaimana sikapmu?"
Gao Zhao berkata dengan heran, "Aku kan bukan baru tahu kalau kamu berasal dari keluarga terpandang. Sejak pertama kali datang kamu sudah mendongakkan kepala dengan gaya seperti itu, tinggal menempelkan dua kata 'gadis bangsawan' di dahi saja. Ah, benar, saat pertama kali datang kamu mengenakan pakaian pria, berarti harusnya menempelkan tiga kata 'tuan muda bangsawan', hehe, takut orang lain tidak tahu kalau keluargamu itu keluarga terpandang."
"Kamu..." Begitu mendengar kembali ejekan tentang insiden memalukan itu, Jia Xibei menjadi sangat kesal, "Aku bahkan belum meminta pertanggungjawabanmu atas kejadian sabuk pengikatku waktu itu! Pasti itu ulahmu, kan? Huh! Apa karena kamu tahu aku dari keluarga terpandang makanya kamu bersikap baik padaku?"
Gao Zhao mendengus remeh, "Kalau aku tidak menyukaimu, jangankan kamu, meskipun kamu seorang putri raja pun aku tetap malas meladanimu dan membuang-buang waktuku. Tapi, Kakak Jia, aku memang belum pernah bergaul dengan putri bangsawan. Meskipun terkadang kamu agak manja, secara keseluruhan kamu tidak terlalu buruk, kalau tidak, mana mungkin aku sudi meladanimu? Punya waktu luang begitu lebih baik aku melatih ilmu bela diri, hiya! Gadis bangsawan memangnya kenapa? Tetap saja bisa kubanting, hahahaha!"
Kembali ke sifat aslinya yang suka bergurau tanpa kenal malu, Jia Xibei ikut merasa senang dan mulai mempraktikkan beberapa jurus yang telah dipelajarinya, lalu bertarung-tarungan kecil bersama Gao Zhao sambil berseru hiya-hiya.
Setelah bermain sejenak, Jia Xibei membuka kotak kayu yang dibawanya, "Adik Zhao, cepat lihat, ini mutiara yang kuambilkan dari ibuukota. Kemarin aku dengar kamu terluka, makanya aku langsung menyuruh orang mengambilnya kembali ke ibuukota. Lihat betapa baiknya aku padamu! Mutiara ini digiling menjadi bubuk, lalu dioleskan ke wajah agar tidak meninggalkan bekas luka. Aku sendiri belum pernah mencobanya, tapi orang-orang bilang begitu. Kamu coba pakai dulu, kalau habis nanti aku suruh orang mengantarkannya lagi."
Gao Zhao menatap sekotak mutiara tersebut dan hampir saja ingin mengucapkan pribahasa musang berbulu ayam yang datang menengok ayam. Ah, sudahlah, orang lain sudah berniat baik, sebaiknya dia tidak lagi melontarkan kata-kata pedas.