Percaya Diri yang Kuat

Keberuntungan Besar yang Mengiringi Xie Qi Ling 2278kata 2026-03-31 22:45:15

Mendengar perkataan Gao Zhao, Jia Xibei baru yakin bahwa gadis itu sama sekali tidak tertarik pada paman sepupunya. Namun, ia merasa tidak terima; mengesampingkan latar belakang keluarganya, ketampanan paman sepupunya itu sudah cukup membuat gadis mana pun terpesona, meskipun ia belum banyak melihat pemuda lain.

"Saudari Zhao, tidakkah menurutmu paman sepupuku sangat tampan? Bahkan aku pun merasa iri padanya. Andaikan saja aku memiliki wajah seperti itu."

"Memang tampan. Tapi, apakah ketampanan bisa dimakan? Lagipula, dia bukan seorang gadis."

Gao Zhao melirik Yu Qingwa yang masih asyik mengunyah, lalu bertanya, "Saudari Yu, katakan padaku, apakah ketampanan bisa dibuat makan?"

Yu Qingwa menggelengkan kepalanya. Sambil menelan makanan di mulutnya dengan susah payah, ia tersenyum dan menjawab, "Tidak bisa dimakan. Wajah yang tampan tidak ada gunanya jika dibandingkan dengan makanan lezat."

Jawabannya membuat Jia Xibei ingin menendangnya. Sungguh tidak peka, gadis itu hanya tahu soal makan. Seperti... ah, lupakan saja, ia tidak ingin menggunakan sebutan itu agar Saudari Zhao tidak marah lagi.

Gao Zhao sendiri merasa penasaran dengan Yu Qingwa. Gadis itu tinggal serumah dengan Jia Xibei, yang berarti ia sudah sering melihat Wu Changliang, tetapi sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun. Apakah gadis ini benar-benar menyukai sesama gadis?

"Saudari Yu, kau pernah melihat paman sepupu Kakak Jia, bukan?"

Yu Qingwa mengangguk. Gao Zhao melanjutkan pancingannya, "Apakah kau menyukainya? Pernahkah kau membayangkan suamimu kelak akan seperti dia?"

Yu Qingwa melirik ke arah Jia Xibei. Gao Zhao membatin dalam hati, gawat, jangan-jangan gadis ini benar-benar menyukai Jia Xibei? Kalau tidak, untuk apa ia meliriknya dulu sebelum menjawab?

"Untuk apa aku menyukainya? Suamiku kelak harus seperti ayahku. Ayahku bilang, seorang pria harus berbadan tegap dan kekar agar terlihat tampan dan mampu melindungi seluruh anggota keluarga. Pria yang berwajah mirip wanita seperti itu tidak boleh dinikahi, nanti kita sendiri yang akan menderita."

Gao Zhao kontan tergelak. Rupanya Tuan Yu khawatir putrinya ini agak polos dan takut jika kelak tertipu oleh pria berwajah tampan, sehingga ia sengaja menanamkan pandangan seperti itu pada sang putri.

Namun, Yu Qingwa ini jelas lambat matang dan belum paham soal percintaan. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia memilih makanan daripada pria tampan? Saat ini, gadis itu hanyalah sesosok bola kecil yang polos dan menggemaskan. Melihatnya makan saja sudah cukup mengingatkan Gao Zhao pada sosok panda gemuk yang sangat menggemaskan.

Jia Xibei merasa kecewa. Orang macam apa mereka berdua ini, sampai-sampai tidak terpesona pada paman sepupunya?

"Lalu, untuk apa kau pergi ke Kuil Guanyin? Bukankah sekarang bukan tanggal satu atau lima belas penanggalan Lunar untuk membakar dupa?"

"Duh! Urusan jodohku sedang tidak beruntung. Seorang pemuda tampan baru saja berlalu begitu saja di hadapannya."

Gao Zhao sebenarnya hanya ingin sedikit menyombongkan diri bahwa ia juga sempat dilirik orang, hanya saja belum ada jodoh. Jika bukan karena insiden ia terjatuh, mungkin saat ini ia sudah memiliki tunas suami. Ia hanya ingin berlagak di depan Jia Xibei.

Jia Xibei terkejut dan buru-buru bertanya, "Keluargamu sedang mencarikan jodoh untukmu?"

Gao Zhao mengangguk. "Umurku sebentar lagi empat belas tahun, tentu keluargaku harus mencarikan suami. Memangnya aku harus tinggal di rumah dan menjadi perawan tua seumur hidup? Bukankah kau sendiri sudah dijodohkan sejak lama?"

Dalam hati Jia Xibei panik: Gawat, gawat! Jika Saudari Zhao sudah bertunangan, bukankah kerja keras kakeknya akan sia-sia? Aku harus segera melapor pada Kakek.

Jia Xibei yang tadinya berniat makan di kediaman keluarga Gao, langsung mencari alasan dan kabur bersama Yu Qingwa secepat kilat. Gao Zhao merasa kebingungan; kenapa raut wajah gadis itu langsung berubah begitu ia menyebut soal pertunangannya?

Celaka! Jangan-jangan mereka benar-benar bernit melancarkan siasat pria tampan padaku? Pantas saja tadi ia menanyakan kenapa aku tidak menganggap paman sepupunya tampan.

Sungguh menyebalkan! Padahal tempo hari aku berniat meminta pertanggungjawaban dari Jia Xibei, tapi malah terlupakan karena perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur. Awas saja kau, tunggu pembalasanku lain kali!

Jia Xibei berlari kencang kembali ke kediaman keluarga Jia. Setibanya di sana, ia langsung bertanya apakah kakeknya sudah pulang. Para pelayan menjawab bahwa sang kakek ada di ruang kerja. Jia Xibei lantas menyuruh Yu Qingwa kembali ke kamarnya sendiri, sementara ia bergegas menuju ruang kerja.

"Kakek, aku ingin memberitahumu sesuatu."

"Tergesa-gesa sekali. Sudah berapa kali kubilang, kau harus bisa menahan diri. Dalam situasi apa pun, kuncinya adalah tetap tenang. Kalau panik, pikiranmu akan kacau." Tuan Jia sedang merapikan beberapa buku yang hendak ia berikan kepada Gao Chengji hari itu, janji yang telah ia buat sebelum kembali ke ibu kota tetapi belum sempat ditepati karena sibuk mengurus akademi beberapa hari terakhir.

"Ini tentang Paman Sepupu."

Barulah Tuan Jia mengangkat kepala dan bertanya, "Ada apa dengan paman sepupumu? Hari ini dia tidak pergi ke akademi, padahal aku sudah menyuruhnya di rumah untuk mempersiapkan PR malam ini terlebih dahulu."

"Ini soal Saudari Zhao. Aku baru saja dari rumah keluarga Gao. Saudari Zhao terjatuh, tapi kali ini wajahnya yang terluka. Astaga, penuh dengan bekas luka, bahkan di bagian hidungnya juga ada. Kudengar dari Saudari Zhao, katanya ia berniat pergi ke kuil untuk melihat calon suami, tapi malah terpeleset dan menggelinding dari tangga. Kakek, kata Saudari Zhao, seandainya ia tidak jatuh, ia pasti sudah bertunangan."

"Sudah bertunangan? Bukankah belum? Kenapa kau malah ribut sendiri."

"Kakek, Saudari Zhao kan sudah mau berumur empat belas tahun, keluarga Gao pasti harus mencarikannya suami. Kalau nanti gadis itu sudah bertunangan, apakah kita harus merebutnya?"

Tuan Jia merapikan buku-buku itu, lalu duduk dan berkata, "Itu pun kalau mereka bisa bertunangan. Kuberi tahu kau, setidaknya dalam dua tahun ke depan, putri keluarga Gao itu belum akan bertunangan."

"Apa karena ia juga pembawa sial? Aku baru saja mendengarnya bercerita. Kenapa nasibnya mirip sekali dengan Paman Sepupu? Selalu saja bernasib malang tanpa alasan jelas. Saudari Zhao bilang dia itu gadis pembawa sial, hanya saja tidak separah Paman Sepupu."

"Jangan bicara sembarangan. Kalau bibi buyutmu sampai mendengarnya, bersiaplah dimarahi habis-habisan. Bahkan Kakek pun tidak akan bisa menyelamatkanmu saat itu."

Jia Xibei merapatkan bibirnya, lalu melanjutkan, "Mana mungkin aku berani mengatakannya di depan Bibi Buyut. Tapi Kakek, kalau kedua orang pembawa sial itu disatukan, bukankah kesialan mereka akan semakin menjadi-jadi?"

"Kau tidak paham. Sulung keluarga Gao itu sama sekali bukan pembawa sial. Justru berkat keberuntungannnyalah keluarga Gao bisa hidup semakin baik. Lagi pula, jika kedua orang itu dipisahkan, keadaannya akan seperti itu. Tapi jika disatukan, situasinya akan berbeda dan hidup mereka justru akan semakin membaik. Oleh karena itulah, ini adalah takdir jodoh di antara mereka berdua."

Jia Xibei mencebikkan bibirnya. "Kalau begitu, takdir jodohku adalah Wang Xiaoer si bodoh itu? Apa bagusnya coba?"

Tuan Jia mendelik, lalu memukul kepala cucunya dengan sebuah buku. "Berterima kasihlah atas apa yang kau miliki. Apa yang kurang dari Wang Xiaoer? Dia bahkan memperlakukanmu bagaikan ratu. Menikah itu harus dengan pria yang memperlakukanmu dengan sepenuh hati. Sebaiknya singkirkan pemikiran seperti itu mulai sekarang, jangan pernah membandingkannya dengan orang lain. Sekaya atau sehebat apapun orang lain, apa gunanya jika tidak tulus padamu? Manusia harus tahu bersyukur. Sifat serakah hanya akan membuat hatimu gelisah. Kau harus meniru sulung keluarga Gao dalam hal ini, paham?"

"Aku mengerti. Aku kan hanya berandai-andai, bukan berarti aku benar-benar jijik padanya. Kenapa Kakek malah m ceramahiku," gerutu Jia Xibei sambil mengelus kepalanya.

"Bahkan berandai-andai pun tidak boleh. Seseorang perlahan akan berubah karena terlalu sering berucap dan berpikir yang tidak-tidak. Itulah sebabnya aku sangat menyukai sulung keluarga Gao itu. Pernahkah kau melihatnya dengan sengaja mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain? Selama kau mengenalnya, apakah ia pernah mengeluh hanya karena kondisi keluarganya yang kurang mampu? Menurutku, rasa percaya dirinya bahkan jauh lebih besar daripada dirimu."

Jia Xibei merenung sejenak, lalu mengangguk mengakui kebenaran ucapan kakeknya. "Itu benar, rasa percaya dirinya memang luar biasa. Kapanpun ia sedang kesal, ia berani berkacak pinggang dan memelototiku. Belum ada seorang pun di ibu kota yang berani bersikap begitu padaku, semua orang selalu berusaha tersenyum manis demi menyenangkan hatiku, bukan?"

"Tapi, apakah kau tulus bergaul dengan mereka? Kalau tidak, kenapa kau tetap mau bermain bersama sulung keluarga Gao? Nenekmu melarangmu pergi ke sana, tapi kau tetap bersikeras, bahkan menyiapkan segelintir oleh-oleh untuk dibawa ke sana dengan alasan ingin bermain bersama nona keluarga Gao itu. Jika kau singkirkan urusan paman sepupumu, apakah kau tetap mau berteman dengannya?"

"Itu karena... karena bermain dengannya terasa sangat menyenangkan."