133 Saksi mata
"Bibi kesayangan, aku sudah bicara dengan Kak Jia. Dia orang yang baik, katanya tidak masalah. Nanti kalau dia sudah mengirim surat undangan untuk Kak Qian, kita bertiga akan memakai tusuk konde emas yang sama. Itu pakai uangku, lho! Kalau Kak Jia sampai ingkar janji, aku akan menagihnya dengan membawa tusuk konde emas itu."
Nyonya Jiang menegur, "Ada-ada saja kamu ini. Ibu rasa Nona Jia tidak akan begitu. Entah kapan Yulan akan menikah, kamu harus menyiapkan hadiah pernikahan untuknya. Kalian sudah akrab sejak kecil, jangan beri sembarang barang. Coba tanya Yulan, apa yang sedang dia butuhkan."
"Baik, Bu."
Melihat putrinya mendekat, Nyonya Jiang melambaikan kedua tangannya, "Jangan mencium-cium lagi! Sudah sebesar ini masih saja seperti waktu kecil. Qiaoyun saja terlihat lebih dewasa darimu."
Gao Zhao merasa masygul karena niat baiknya untuk bermanja malah ditolak. Namun, melihat raut wajah bibinya yang penuh harap, ia tetap mendekat dan mengecup pipi sang bibi. Sambil lalu, ia juga mencuri satu kecupan di pipi ibunya sebelum berlari keluar ruangan dengan riang.
Baru saja masuk ke kamarnya sendiri, ia mendengar suara Jia Xibei di luar. Gao Zhao keluar dan melihat Jia Xibei bersama Yu Qingwa sedang menuju kamar ibunya, jadi ia pun mengikuti mereka kembali.
Begitu masuk, Jia Xibei memberi salam dan berkata ingin mengobrol dengan Gao Zhao. Nyonya Jiang tersenyum mempersilakan. Gao Zhao pun membawa mereka ke kamar samping.
"Zhao, tadi saat di jalan, aku dengar Qian sudah bertunangan. Calon suaminya dari ibu kota, apa kau tahu?"
Gao Zhao melirik Yu Qingwa. Jia Xibei segera membujuk, "Adik Yu, pergilah bermain dengan Qiaoyun sebentar. Aku ingin bicara berdua dengan Kak Zhao."
Yu Qingwa yang penurut hendak beranjak pergi, namun Gao Zhao buru-buru mencegah, "Adik Yu, adikku sedang tidur. Tolong bantu jaga dia ya, jangan sampai jatuh dari ranjang."
"Baik, aku akan menjaganya."
Setelah Yu Qingwa pergi, barulah Gao Zhao menceritakan tentang calon suami Qian Yulan.
"Kak Jia, tolong cari tahu saat kau kembali ke ibu kota nanti. Aku sendiri tidak tahu keluarga mana yang melamarnya, hanya dengar suaminya bekerja menjaga tahanan di penjara. Mungkin karena kakinya cacat, makanya dia harus mencari istri sampai ke sini. Kak Jia, sebenarnya aku sudah tahu sejak lama, tapi tidak enak mengatakannya padamu. Tolong bantu Kak Qian nanti ya, aku mohon."
"Pantas saja waktu itu kau memintaku untuk sering menemuinya. Ternyata kau sudah tahu lebih dulu."
Karena sudah tahu alasan di balik percobaan gantung diri Qian Yulan dan masalah keluarga Qian, Jia Xibei merasa sangat iba mendengar kabar ini. Ia tidak lagi mempersoalkan mengapa Gao Zhao merahasiakannya.
"Tenang saja, Kak Qian tidak akan sendirian di ibu kota nanti. Ada kau... dan ada aku. Begitu sampai di ibu kota, aku akan mencari tahu. Penjaga tahanan pasti bekerja di Kementerian Kehakiman. Nanti beri tahu aku namanya, aku pasti akan menyelidikinya."
Gao Zhao melompat dan mengecup pipi Jia Xibei, lalu berkata dengan wajah manis, "Kak Jia memang yang terbaik!"
Jia Xibei mengusap wajahnya dengan ekspresi jijik, "Jangan tersenyum seperti itu! Seram, kelihatan palsu sekali."
Gao Zhao hanya bisa memutar bola matanya.
"Oh ya, Zhao, besok aku akan makan di rumahmu lagi. Paman sepupuku makan di sini, aku bosan sendirian di rumah. Aku akan datang besok."
"Kenapa kau selalu bilang sendirian? Jelas-jelas ada Yu Qingwa bersamamu."
Jia Xibei mendengus kesal, "Dia itu cuma bayanganku. Jadi sama saja aku tetap sendirian dengan bayangan."
Gao Zhao tertawa terbahak-bahak, "Bukankah bagus punya orang yang mengagumimu? Kedua adikku di rumah selalu mengagumiku, katanya kakak tertua itu sangat hebat. Coba kau suruh Yu Qingwa berlatih bela diri, kalau tidak serius, jangan ajak dia bermain. Pasti dia tidak akan mengikutimu lagi."
"Memangnya aku belum pernah bilang begitu? Tapi dia selalu bersikeras ingin ikut meski sedang berlatih. Kalau aku tidak mau, aku malah takut melihat mulutnya yang berbentuk kotak itu. Semua gara-gara kau! Kalau saja kau tidak bilang mulutnya kotak saat menangis, mana mungkin aku memperhatikannya? Sekarang aku jadi seperti terobsesi, takut sekali melihat mulut kotak itu. Ayahnya pasti juga takut, makanya dia membiarkannya tumbuh seperti itu."
Gao Zhao tertawa geli. Jia Xibei memang tidak sabaran. Jika itu Gao Zhao, ia pasti bisa mendidik Yu Qingwa sampai patuh. Namun, ia tidak mungkin mengatakannya pada Jia Xibei, takut kalau-kalau nanti Jia Xibei malah membujuk Yu Qingwa untuk tinggal di rumahnya.
Melihat Gao Zhao hanya tertawa tanpa bicara, Jia Xibei mengerucutkan bibir dan menumpukan dagu di meja ranjang, "Zhao, beberapa hari lagi aku akan pulang ke ibu kota. Apa yang kau sukai? Nanti saat aku kembali, aku akan membelikannya untukmu."
"Wah, banyak sekali yang aku suka, tapi karena belum pernah ke ibu kota, aku tidak tahu apa saja yang ada di sana. Nanti kalau ada kesempatan ke sana, aku beritahu kau ya."
"Boleh juga, kalau nanti melihat sesuatu, beri tahu aku ya."
"Pasti! Tapi jangan menyesal kalau barangnya mahal ya."
"Tidak akan, aku pasti sanggup. Pilih saja sesukamu."
Keduanya bicara dengan pikiran masing-masing. Jia Xibei berpikir ia masih butuh mendekati Gao Zhao, sementara Gao Zhao berpikir ia tidak akan punya kesempatan ke ibu kota, jadi ia hanya bicara asal saja.
"Aku harus pergi sekarang. Bilang pada bibimu ya, besok aku akan datang makan siang dengan si bayangan. Besok pagi aku akan suruh Xiao Cai mengantar iga babi. Aku suka sekali iga bakar buatan bibimu."
"Bibiku pasti senang sekali dengar kau bicara begitu. Katanya Kak Jia orangnya baik, mulutnya manis, dan pandai makan. Sebenarnya apa sih yang kau incar dari bibiku?"
Keduanya turun dari ranjang sambil bercanda. Begitu keluar ruangan, mereka melihat Yu Qingwa sedang membantu bibi di halaman memetik kacang. Melihat mereka keluar, gadis itu segera bangkit.
"Bibi, besok siang aku akan makan di sini ya. Aku sangat rindu iga bakar buatan Bibi. Besok pagi aku akan suruh Xiao Cai membelikan iganya. Merepotkan Bibi ya, soalnya koki di rumahku tidak semasak buatan Bibi."
Gao Cui tersenyum lebar, "Aduh, Nona Jia ini memang manis sekali mulutnya. Bibi senang sekali kalau Nona Jia datang bermain dengan Zhao."
Gao Zhao menahan tawa, sementara Jia Xibei merasa malu. Ia melirik Gao Zhao dan sengaja berkata, "Bibi, Zhao menertawaiku. Katanya aku nakal sekali, pasti Bibi sudah bosan."
Gao Cui sengaja melotot pada keponakannya dan buru-buru menyahut, "Jangan dengarkan omong kosong Zhao. Bibi tidak pernah merasa begitu. Bibi senang sekali kalian datang. Zhao masih kecil, kamu sebagai kakak jangan dimasukkan ke hati ya. Dia memang suka bercanda, tidak ada niat buruk sama sekali. Bibi yang membesarkannya, jadi Bibi tahu, mungkin dia hanya sedang menggoda kalian."
"Hehe, Bibi, aku tahu kok. Aku dan Zhao sudah akrab sekali. Kami sudah berjanji akan bersaudara seumur hidup. Bibi harus jadi saksinya ya, siapa yang ingkar janji jadi anak anjing!"
Gao Cui sangat berharap ada putri bangsawan yang bisa berteman baik dengan keponakannya seumur hidup. Nona Jia ini terlihat jujur dan apa adanya, jadi ia tentu senang mereka bisa bermain bersama.
"Baik, Bibi jadi saksinya! Siapa yang ingkar jadi anak anjing. Guk guk guk!"
Ucapan itu membuat Jia Xibei dan Yu Qingwa tertawa terbahak-bahak. Mereka bahkan menirukan suara anak anjing. Gao Cui ikut tertawa riang. Nyonya Jiang yang mendengar gelak tawa dari dalam kamar pun ikut tersenyum tipis sambil melanjutkan jahitannya.
Qiaoyun terbangun dengan bingung, melirik ke arah jendela, lalu kembali menarik selimutnya untuk tidur.
Gao Zhao mengantar mereka sampai ke gerbang depan, lalu kembali membantu bibinya memetik kacang sambil mendengarkan bibinya memuji betapa pengertiannya Nona Jia itu.