Hal-hal lainnya, serahkan saja pada sang pangeran ini untuk menyelesaikannya.
Setelah Gu Chenyu pergi, suasana di antara mereka berdua langsung diliputi keheningan yang janggal.
"Putri, ke mana saja kau hari ini?" Gu Li yang pertama kali membuka suara untuk memecah keheningan.
"Ke mana aku pergi, apa kau tidak tahu?" Mu Qianxia tidak menjawab dan justru balik bertanya.
"Putri, apa kau tahu tempat seperti apa yang kau kunjungi itu? Apakah kau tahu apa sebenarnya tujuan kedatanganmu ke mari?" sudut bibir Gu Li menyunggingkan senyuman.
"Tentu saja aku tahu," jawab Mu Qianxia dengan tenang.
"Putri, bagaimanapun juga ini adalah Dongqin, bukan Xichu. Ada beberapa tempat yang seharusnya tidak kau kunjungi," ucap Gu Li datar.
"Ada apa? Apa sekarang bahkan urusan kemana aku pergi pun harus kauatur? Apakah aku bahkan tidak memiliki kebebasan sebesar itu? Oh ya, lupa memberitahumu, pelayan pria yang kulihat hari ini memiliki paras yang cukup tampan dan sangat kuseukai. Bukankah memelihara pelayan pria di Dongqin kalian tidak melanggar hukum?" tantang Mu Qianxia.
"Putri, kau boleh mencobanya. Aku ingin lihat berapa banyak nyawa yang dia miliki untuk kaupelihara," kata Gu Li dingin.
"Hah, selain menggunakan kekuasaan dan kedudukan untuk menindas orang, apa lagi yang bisa kau lakukan?" cibir Mu Qianxia.
"Kekuasaan dan kedudukan adalah segalanya. Di dunia ini tidak ada keadilan, tidak ada pula yang namanya demokrasi seperti yang kau sebutkan. Yang ada hanyalah perbedaan kasta, yang ada hanyalah siapa yang memiliki kepalan tangan terkuat, dialah yang berkuasa."
"Hah, sejak kapan kau bisa dengan tanpa mengubah ekspresi dan nada suara yang tenang mengucapkan kata-kata seperti itu? Entah apa yang akan terjadi jika orang-orang yang mendukungmu tahu bahwa kau bermuka dua seperti ini, apakah masih ada yang mau mendukungmu?" Mu Qianxia tersenyum manis, namun kata-kata yang diucapkannya penuh dengan ejekan yang amat sangat.
"Aku hanya menyatakan sebuah fakta, dan ini pula yang diakui di lubuk hati setiap orang, hanya saja ada sebagian orang yang berpura-pura suci dan menganggap remeh hal ini," ucap Gu Li dingin.
"Gu Li,..." Ucapan Mu Qianxia langsung terpotong oleh suara kepala pelayan dari luar pintu.
"Yang Mulia, Tuan Perdana Menteri telah tiba."
"Suruh masuk," terdengar suara bernada acuh tak acuh.
Rasa penasaran Mu Qianxia tidak begitu besar, maka ia dengan tahu diri membuka pintu dan berniat untuk pergi. Tepat saat Mu Qianxia hendak melangkah keluar, suara Gu Li terdengar datar dari belakang: "Oh ya, aku hampir lupa memberitahu Putri, seluruh rumah pelacuran di ibu kota akan ditutup selama setengah bulan, jadi selama waktu ini sebaiknya Putri tinggal saja dengan tenang di kediaman."
"Gu Li, jangan keterlaluan! Saat itu aku hanya bertindak atas dasar kehendak sesaat, tetapi kau justru membuat semua rumah pelacuran di ibu kota tutup selama setengah bulan karenanya. Pernahkah kau memikirkan bagaimana mereka harus bertahan hidup tanpa penghasilan selama setengah bulan ini?" Mu Qianxia berbalik dengan marah dan menegur.
"Hal-hal itu sudah tidak ada hubungannya lagi denganku, lagi pula ini hanya sebuah peringatan. Jadi, Putri, karena kau begitu baik hati dan begitu suka memikirkan orang lain, lebih baik mulai sekarang kau tinggal dengan tenang di kediaman saja. Jika merasa bosan tinggal di kediaman dan ingin pergi ke suatu tempat, aku bisa menemani Putri pergi kapan saja," ucap Gu Li sambil tersenyum.
"Tidak perlu." Usai berkata demikian, Mu Qianxia langsung membanting pintu dan pergi.
Saat Perdana Menteri datang, ia kebetulan menyaksikan pemandangan ini. Ini adalah pertama kalinya ia melihat seseorang berani meluapkan emosi kepada Yang Mulia separah itu, sementara Yang Mulia justru tampak tidak peduli sama sekali, hampir membuatnya salah paham mengira bahwa Yang Mulia adalah sosok berhati lembut.
Perdana Menteri melangkah maju dengan cepat, lalu membungkuk hormat, "Menghadap Yang Mulia."
"Bangun dan bicara!" Gu Li sedikit memalingkan kepala ke arahnya, sudah mengetahui maksud kedatangan orang tersebut.
"Terima kasih, Yang Mulia!" Perdana Menteri bangkit berdiri dan langsung pada intinya, "Yang Mulia, hamba baru saja menerima laporan rahasia bahwa orang-orang kepercayaan Pangeran Pertama akhir-akhir ini sering berhubungan dengan para pejabat penting di istana, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu."
Gu Li tersenyum malas dan berkata dengan santai, "Lalu, Tuan Perdana Menteri, menurutmu apa sebenarnya tujuan dari apa yang dilakukan oleh Kakak Pertama?"
Meskipun dalam pandangan sebagian besar orang, bahkan dalam pandangan Gu Chenjing, kekuatan dan tingkat kemampuan Gu Li hampir setara dengan Gu Chenjing, begitu Gu Li berhasil menjalin pernikahan aliansi dengan Putri Agung Xichu, keseimbangan kekuasaan itu akan bergeser sepenuhnya ke arah Gu Li. Dengan demikian, peluang Gu Chenjing untuk mendapatkan takhta kekaisaran akan hampir tertutup rapat.
Gu Li mengangguk puas, lalu bertanya dengan santai, "Lalu, menurut Perdana Menteri, apa yang harus Yang Mulia ini lakukan?"
"Bukankah Yang Mulia sudah memiliki keputusan di dalam hati?" Perdana Menteri balik bertanya.
Gu Li tersenyum santai, kilatan samar melintas di matanya yang memikat.
Setelah ragu-ragu cukup lama, Perdana Menteri berkata, "Yang Mulia, hamba tanpa sengaja mendengar percakapan antara Anda dan Putri Agung sebelumnya. Sebenarnya Anda khawatir Pangeran Pertama akan berbuat sesuatu yang membahayakan Putri Agung, tetapi Anda tidak ingin Putri Agung terlibat di dalamnya, itulah sebabnya Anda mengatakan hal tersebut."
Gu Li tersenyum tipis, dan setelah sekian lama, ia berucap pelan, "Aku hanya ingin menggunakan kemampuan terbesarku untuk melindunginya, menjauhkannya dari perebutan kekuasaan istana. Cukup baginya untuk tetap mempertahankan kebaikan dan kemurniannya seperti sekarang. Urusan lainnya, biarkan aku saja yang mengerjakannya."
"Baik, hamba mengerti apa yang harus dilakukan kedepannya."
……
Lembah Medis.
Mu Chenyi perlahan membuka matanya, ia sedikit menoleh dan mendapati Han Xiaomeng tertidur pulas di samping tempat tidurnya.
Ia menatap Han Xiaomeng cukup lama, baru kemudian menyadari bahwa ternyata ketika gadis itu tidak berisik dan tidak membuat keroncongan, serta berbaring dengan tenang di sana, ia terlihat begitu cantik.
Wajahnya tanpa pulasan riasan, namun tetap tidak mampu menyembunyikan paras rupawannya. Rambut panjangnya yang hitam terurai di kedua bahunya karena posisinya saat ini, tampak sedikit lembut dan memunculkan perasaan iba serta sayang di hati orang yang melihatnya. Kulitnya yang seputih salju menyerupai telur yang baru dikupas, bibir kecilnya yang kemerahan kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih, lesung pipinya samar-samar tampak di kedua pipinya.
Gerakan Han Xiaomeng sedikit berubah seolah hendak terbangun, Mu Chenyi langsung mengalihkan pandangannya.
"Mu Chen, kau akhirnya sadar. Kau tahu tidak, keadaanmu tadi hampir membuatku ketakutan setengah mati. Untung saja ginseng itu selama bertahun-tahun dijaga oleh ular dan seiring berjalannya waktu telah menghasilkan banyak efek penawar racun ular, sehingga nyawamu berhasil diselamatkan dan kau bisa bertahan dengan aman sampai di Lembah Medis ini. Jika hal seperti ini terjadi lagi di masa depan, aku tidak akan pernah membiarkanmu membuat keputusan gegabah seperti itu lagi," ucap Han Xiaomeng. Apa yang tidak sempat ia ucapkan adalah, saat melihat Mu Chenyi digigit ular tadi, ia hampir lupa apa yang harus dilakukan, seolah-olah detak jantungnya sendiri ikut berhenti bersamaan dengan pingsannya Mu Chen.
"Baiklah, bukankah aku baik-baik saja sekarang? Jangan khawatir lagi," bujuk Mu Chenyi dengan senyuman lembut.
"Aku tidak peduli, jika kau berani melakukan hal seperti ini lagi lain kali, aku tidak akan peduli lagi apakah kau hidup atau mati," ancam Han Xiaomeng pura-pura kejam.
"Iya, iya, lain kali aku tidak akan berani lagi."
……
Keesokan harinya, Mu Qianxia dipanggil oleh Permaisuri untuk menghadap ke istana. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Manrou, "Jika nanti Gu Li kembali, beritahu dia bahwa aku dipanggil oleh Permaisuri ke istana."
Mu Qianxia menaiki kereta kuda Kediaman Pangeran Ketiga menuju gerbang istana, dan seorang eunuch kecil langsung membimbingnya ke Taman Kekaisaran. Dari kejauhan, ia melihat seorang wanita berbusana istana berwarna merah muda berdiri di sana. Meskipun usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun, ia dirawat dengan sangat baik sehingga tampak seperti seorang gadis berusia dua puluhan.
Mu Qianxia berjalan cepat mendekati Permaisuri, "Menghadap Permaisuri."
"Bangunlah," jawab Permaisuri dingin, tanpa menyertakan secercah emosi pun dalam suaranya.
"Terima kasih, Permaisuri. Entah apa urusan penting yang membuat Permaisuri memanggilku ke istana hari ini?" tanya Mu Qianxia tenang.
"Tidak ada urusan yang terlalu penting, hanya ingin melihat bagaimana kehidupan Putri Agung di Dongqin. Jika ada hal yang pelayan kurang maksimal dalam melayani, jangan sungkan-sungkan untuk langsung mengatakannya kepadaku," ucap Permaisuri sambil tersenyum, meski senyuman itu sama sekali tidak sampai ke matanya.
Pandangan Permaisuri tiba-tiba tertuju pada "Dindian" yang berlari dari tidak jauh, ekspresinya sedikit mengeras seraya berkata, "Kalau begitu, aku pun merasa lega. Jika ada kebutuhan apa pun di kemudian hari, sampaikan saja kepadaku, jangan merasa sungkan."
Begitu Permaisuri selesai berbicara, ia tiba-tiba mengerang kesakitan, memegang perutnya dan membungkuk, alisnya yang indah ikut berkerut erat.
"Permaisuri, ada apa dengan Anda? Jangan menakuti hamba," ucap seorang dayang di sampingnya seraya berjongkok, menunjukkan ekspresi cemas dan khawatir.
"Permaisuri?" Mu Qianxia merasa tidak enak jika hanya berdiri diam, sehingga ia terpaksa pura-pura khawatir untuk memeriksa kondisi Permaisuri.
Akibatnya, Permaisuri justru menubruk tubuhnya, "Putri Agung, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit, entah apa yang terjadi..."
Ketiga orang itu berdesakan menjadi satu, dan jarak di antara mereka terlalu dekat. Seorang gadis berbusana mewah yang melihat pemandangan ini dari kejauhan membelalakkan matanya karena terkejut.
Mungkinkah telah terjadi sesuatu?
"Tidak boleh, aku harus pergi mencari Kakak."
Ia bergegas sepanjang jalan dan akhirnya berhasil mencegat Gu Li di gerbang istana.
……
Mu Qianxia tidak bisa langsung mendorong Permaisuri begitu saja, dan di sekitarnya hanya ada satu dayang, sehingga ia terpaksa berkata: "Permaisuri, bagaimana jika dayang ini memapah Anda terlebih dahulu, dan aku pergi mencarikan tabib untuk Anda?"
"Tidak, tidak bisa, aku tidak bisa bergerak sekarang!" tolak Permaisuri berturut-turut.
"Kalau begitu, bagaimana jika Putri menemani Permaisuri di sini, dan hamba yang pergi memanggil tabib?" Usai berkata demikian, tanpa menunggu persetujuan Permaisuri, dayang itu langsung berlari pergi dengan penuh inisiatif.
Mu Qianxia baru saja hendak membantu Permaisuri duduk, namun tak disangka Permaisuri tiba-tiba membentak dengan suara tajam, "Dindian!"
Mu Qianxia terkejut hingga pikirannya menjadi kosong sesaat akibat bentakan mendadak dari Permaisuri itu. Ketika ia berhasil menguasai diri kembali, makhluk berbulu itu sudah hampir menerkam tubuhnya, cakar-cakar tajamnya nyaris menggores wajahnya. Untung saja refleksnya cukup cepat, ia menepis benda asing yang berada tepat di depan matanya itu dengan telapak tangannya...
Kucing hitam itu jatuh ke tanah, mata hijau terangnya memancarkan cahaya dingin yang menyeramkan, terlihat sangat mengerikan.
Permaisuri sangat terkejut, "Putri Agung, kau berani memukul Dindian-ku?"
Mu Qianxia tersenyum dingin, "Permaisuri sepertinya membalik urutan kejadiannya. Binatang kecil inilah yang bertingkah lebih dulu dan menerkamku seperti orang gila, itulah sebabnya aku melawan."
Permaisuri murka, "Kau berani berkata kasar pada Dindian-ku!"
Ia kembali memberikan perintah kepada kucing hitam itu, "Dindian!" Kucing hitam itu seketika menerjang ke arah Mu Qianxia lagi!
Hanya saja kali ini, tangan Mu Qianxia yang tadinya terulur tiba-tiba terhenti dan tidak langsung memukul balik.