Bab Dua Puluh: Sekali senyum meruntuhkan kota, dua kali senyum meruntuhkan negara
Dekorasi di dalam kereta kuda itu tampak kuno dan elegan, kepulan asap tipis dari dupa membubung perlahan, sementara derap kaki kuda terdengar begitu jelas di ruang yang senyap ini.
Mula-mula, Mu Qianxia menatap dengan tenang ke arah pria yang sedang memejamkan mata untuk beristirahat. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan saat pria itu dengan berani mendebat permaisuri di istana tadi, yang sekilas memunculkan ilusi seolah pria itu begitu memanjakannya hingga tidak membiarkan siapapun menyakitinya.
Sekembalinya ke kediaman, Mu Qianxia diseret oleh Gu Li menuju kamar tidur pria itu.
Ini adalah pertama kalinya Mu Qianxia menginjakkan kaki di kamar tidur Gu Li. Tampak balok-balok bangunan terbuat dari kayu cendana puncak awan, lampu-lampu dari batu giok kristal, tirai yang terbuat dari mutir-mutir halus, serta alas pilar dari emas mulia. Di sisi ranjang besar kayu gaharu selebar enam kaki itu tergantung tirai tipis kain *jiaoxiao* yang dihiasi sulaman benang perak dan pola bunga begonia bertabur mutiara. Ketika angin bertiup dan mengibaskan tirai tersebut, rasanya bagaikan jatuh ke dalam lautan awan yang penuh khayalan. Di atas pembaringan terbentang bantal giok penangkap wewangian, dilapisi tikar es sutra lembut, serta ditumpuk dengan selimut bersulam sabuk giok. Di puncak langit-langit aula tergantung sebuah mutiara bulan yang sangat besar, memancarkan cahaya terang benderang bagaikan rembulan. Di atas meja tulis kayu cendana ungu terdapat tumpukan dokumen-dokumen, dengan ujung kuas merah menyala bagaikan berlumuran darah, sementara kursi kayu pir memiliki bantalan duduk bersulam gaya Su, dengan bagian sandaran yang diukir membentuk gulungan ombak.
Mu Qianxia takut dirinya tidak sengaja menyenggol dan merusak sesuatu, sehingga ia tidak berani bergerak sembarangan dan hanya duduk dengan tenang serta patuh di kursi terdekat.
Gu Li berjalan mengambil kotak obat dengan wajah muram. Ia mengeluarkan sebotol obat dari dalamnya, menciumnya lembut di bawah hidungnya, lalu meraih tangan Mu Qianxia dan menunduk untuk mengoleskan obat itu dengan sangat hati-hati. Sinar matahari menyinari sisi wajah Gu Li, menambahkan kelembutan pada parasnya.
Melihat ekspresi Gu Li, Mu Qianxia mau tidak mau terpesona sejenak. Pemandangan pria itu yang kini berkonsentrasi penuh mengoleskan obat untuknya membangkitkan ilusi di hatinya bahwa di dalam mata pria itu hanya ada dirinya, dan bahwa dirinyalah seluruh dunianya. Meskipun ia sangat enggan untuk mengakuinya, perasaan ini terasa begitu menyenangkan.
"Sudah selesai. Selama dua hari ke depan, usahakan lukamu tidak terkena air. Jika ada keperluan, suruh saja Liu Li dan Man Rou yang mengerjakannya," ucap Gu Li lembut.
Mu Qianxia melihat tangannya yang dibalut sedemikian rupa hingga menyerupai Doraemon, lalu berkata dengan nada tanpa kata-kata, "Gu Li, tanganku ini hanya tergores sedikit oleh kucing dan sama sekali tidak parah. Kau membalutku seolah-olah tanganku mengalami cedera yang sangat mengerikan, bukankah ini terlalu berlebihan?"
"Ini untuk memberimu pelajaran, supaya lain kali kau tidak berani terluka sembarangan lagi," dengus Gu Li dingin.
"Oh." Mu Qianxia mengerucutkan bibirnya pasrah.
"Putri, ini untukmu," ucap Gu Li sambil mengeluarkan belati dan panah lengan yang telah ia siapkan sebelumnya untuk Mu Qianxia namun belum sempat ia berikan.
"Kenapa tiba-tiba kau berniat memberiku benda-benda ini?" tanya Mu Qianxia tidak mengerti sambil menerima benda-benda dari tangan Gu Li.
"Putri, jika akhir-akhir ini hendak keluar rumah, ingatlah untuk membawa kedua benda ini. Bisa digunakan untuk membela diri, dengan begitu aku akan merasa jauh lebih tenang."
"Baiklah, kalau begitu." Meskipun Gu Li tidak memberitahunya alasan yang pasti, tanpa harus berpikir keras pun ia bisa menebak bahwa musuh politik Gu Li hendak bertindak terhadap pria itu, dan kemungkinan besar pihak lawan juga akan mengincarnya demi mengancam Gu Li, itulah sebabnya pria itu mempersiapkan benda-benda ini untuknya.
Tidak disangka, dahulu di Chu Barat ia menjadi sasaran pembunuhan karena pria ini, dan sekarang setelah tiba di Qin Timur ia kembali harus menjadi incaran orang lain karenanya. Sebenarnya apa utang di kehidupan lampaunya kepada Gu Li, hingga di kehidupan ini ia harus membayarnya dengan cara seperti ini.
"Putri, nanti setelah luka di tanganmu sembuh, aku akan mengajarimu beberapa jurus bela diri paling sederhana serta teknik penggunaan panah lengan ini."
"Hmm."
…………
Akhir-akhir ini, Han Yan dibuat sangat sibuk oleh Gu Li hingga kewalahan, bahkan tidak sempat mengejar kepergian Mu Qianxia. Harus diakui bahwa tindakan Gu Li kali ini terlalu kejam. Sebagian besar toko milik Han Yan di Qin Timur telah disegel dengan berbagai macam alasan. Demi mengurus toko-toko yang disegel tersebut, ia harus berlarian ke sana ke mari setiap hari, meminta bantuan ke mana-mana, bahkan tidak memiliki waktu untuk tidur. Jika keadaan ini terus berlanjut, jangankan menjadi pedagang nomor satu di dunia, mempertahankan keluarga Han saja ia tidak akan sanggup.
Tepat ketika Han Yan sedang merasa pusing tujuh keliling, Mu Xiaoxi tiba-tiba muncul di hadapannya bagaikan seorang penyelamat.
…………
"Kakak Han Yan!" sapa Mu Xiaoxi dengan senyuman cerah di ambang pintu Han Yan.
Harus diakui, pada pandangan pertama melihat Mu Xiaoxi, Han Yan tetap terpesona oleh senyuman gadis itu. Senyuman yang mampu meruntuhkan sebuah kota, bahkan sebuah negara, rupanya memang benar-benar ada.
"Xiaoxi, kenapa kau datang? Bukankah kau bilang ada urusan yang harus diselesaikan di rumah? Sudah beres?"
"Tentu saja. Kakak Han Yan tidak lihat siapa aku? Mana mungkin masalah sepele seperti itu bisa menyulitkanku? Aku dengar Kakak Han Yan akhir-akhir ini sangat sibuk sampai pusing, jadi Xiaoxi diam-diam kabur dari tetua di rumah untuk mencarimu. Apa kau merasa terharu?" ujar Mu Xiaoxi sambil tersenyum manis.
"Sangat terharu. Xiaoxi-ku ini selalu begitu cerdas, baik hati, dan rupawan. Nanti mau makan apa, Kakak Han Yan yang traktir," kata Han Yan sambil tersenyum. Tanpa disadarinya sendiri, seiring dengan kedatangan Xiaoxi, mendung di hatinya yang telah menggelayut selama berhari-hari seketika lenyap tak bersisa.
Mendengar Han Yan memanggilnya "Xiaoxi-ku", pipi Mu Xiaoxi merona merah dan detak jantungnya berdegup lebih kencang. Namun, ia dengan cepat menekan debar di dadanya itu, lalu mengerjap-ngerjapkan mata ke arah Han Yan dan berkata dengan nada jenaka, "Kakak Han Yan, ini ucapanmu sendiri ya. Nanti jangan menyesal kalau Xiaoxi sengaja memesan makanan yang paling mahal."
"Hahahaha, tenang saja. Kakak Han Yan-mu ini masih punya sedikit uang untuk membiayaimu," balas Han Yan tertawa lepas.
"Kakak Han Yan, nanti kalau urusanmu di sini sudah selesai, kita pergi menemui Kakak Putri bersama-sama ya? Xiaoxi merindukannya. Mumpung kali ini Xiaoxi berhasil menyelinap keluar dengan susah payah, Kakak Han Yan, kabulkanlah permintaan Xiaoxi ya. Lagipula Xiaoxi belum pernah ke Qin Timur." Mu Xiaoxi meraba lengan baju Han Yan, mengerjap-ngerjapkan mata polosnya, lalu merajuk.
Han Yan terdiam cukup lama sebelum berkata pelan, "Baiklah."
…………
Beberapa hari terakhir, Mu Qianxia hanya tinggal di kediaman tanpa melakukan apa pun. Selain Gu Li yang sesekali meluangkan waktu untuk mengajarinya beberapa jurus bela diri, kegiatan sehari-harinya praktis hanya diisi dengan makan, tidur, dan membaca buku. Terlebih lagi, ia baru saja tiba di tempat ini dan tidak mengenal siapa pun di sekitarnya, sehingga tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Jika terus begini, ia merasa dirinya bisa gila. Meskipun ia sudah begitu lama berada di zaman kuno ini, ia tetap saja belum bisa beradaptasi dengan hari-hari tanpa ponsel dan fasilitas elektronik.
Tepat ketika Mu Qianxia sedang duduk termenung di depan meja karena bosan, kepala pelayan tiba-tiba masuk dan berkata dengan hormat, "Putri, ada seseorang di luar kediaman yang mencari Anda."
"Ada yang mencariku? Siapa? Kenapa aku tidak merasa kenal siapa pun? Apa kau benar-benar mendengarnya dengan jelas bahwa orang itu mencari diriku?" tanya Mu Qianxia kebingungan.
"Menjawab Putri, hamba tidak salah dengar. Orang itu memang datang untuk menghadap Putri. Ah, hamba baru ingat, dia berpesan agar jika Putri bertanya, katakan saja bahwa Liyu yang ingin menghadap."
"Liyu? Untuk apa dia datang?" gumam Mu Qianxia pada dirinya sendiri.
"Putri, perlukah hamba mengusirnya?" tanya kepala pelayan dengan hormat.
"Tidak usah, aku akan menemuinya. Ngomong-ngomong, di mana Gu Li?"
"Pangeran Ketiga sedang pergi ke istana."
"Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi." Mu Qianxia melambaikan tangannya.
"Baik."
…………
"Liyu, untuk apa kau datang?" Kalimat itulah yang langsung dilontarkan Mu Qianxia begitu melihat Liyu.
"Tentu saja karena merindukanmu. Satu hari tidak bersua terasa bagaikan tiga musim gugur, begitupun rasanya merindukan seseorang," jawab Liyu sambil mengangkat alis dan tersenyum.
"Heh." Mu Qianxia tertawa hambar dua kali. "Hampir saja aku mempercayainya."
"Apa yang kukatakan semuanya jujur, demi langit sebagai saksi. Xiao Qianqian, kau ternyata tidak percaya padaku, sungguh hancur hatiku." Usai berkata demikian, ia bahkan menutupi wajahnya dengan lengan baju, pura-pura hendak menangis.
Mu Qianxia merasa merinding melihat tingkah Liyu itu, lagipula Xiao Qianqian itu panggilan hantu dari mana.
"Bisakah kau bicara dengan normal? Kalau kau bersikap seperti ini lagi, aku akan pergi." Mu Qianxia berpura-pura hendak berbalik dan meninggalkan tempat itu.
"Yah, tidak seru. Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Akhir-akhir ini aku merasa bosan, sedangkan kau begitu menarik, tentu saja aku ingin mengajakmu menemaniku bersenang-senang."
"Heh, apa yang menarik dariku? Lagi pula, aku tidak punya waktu, cari saja orang lain." Bercanda, jangankan memikirkan bagaimana reaksi Gu Li jika tahu ia pergi berdua dengan Liyu, ia bahkan sama sekali tidak mengenal Liyu dengan baik kecuali fakta bahwa pria itu adalah penghibur papan atas di Gedung Ruyi. Jika ia pergi begitu saja dengan pria ini, ia bahkan tidak akan tahu ke mana harus menangis jika kelak dijual.
Mu Qianxia baru saja berniat membalikkan badan untuk pergi ketika Liyu melangkah maju dua langkah, menyambar pergelangan tangan Mu Qianxia, dan menyeretnya pergi sebelum ia sempat bereaksi. Para pengawal di gerbang ingin mencegat, namun bagaimana mungkin mereka bisa menjadi tandingan Liyu? Belum sempat mereka melihat gerakan Liyu, Mu Qianxia sudah kadung dibawa pergi oleh pria itu.
"Cepat, laporkan pada Pangeran, katakan bahwa Putri dibawa pergi oleh seorang pria yang mengaku bernama Liyu."
…………
"Liyu, kau mau membawaku ke mana? Lepaskan tanganku, bagaimana jika orang-orang melihatku berpegangan tangan dengan seorang pria di jalanan umum, mau ditaruh di mana mukaku?" protes Mu Qianxia sambil meronta.
"Tenang saja, berdasarkan pemahamanku tentangmu, kau tidak akan peduli dengan pandangan orang lain." Liyu bahkan tidak melirik Mu Qianxia dan terus menariknya berjalan maju.
Baiklah, meskipun Mu Qianxia sangat enggan mengakuinya, sebagai seorang pemuda modern dari abad ke-21 ia memang cukup terbuka dalam hal semacam ini. Jangankan sekadar berpegangan tangan, berpelukan antarlawan jenis pun bukan masalah baginya. Yang ia permasalahkan adalah hubungannya dengan Liyu tidaklah sesekali itu, dan ia paling benci mendekati orang yang tidak akrab, baik pria maupun wanita.
"Fiuh, akhirnya sampai." Liyu melepaskan tangan Mu Qianxia dan menoleh ke belakang sambil tersenyum padanya.
"Kau menyeretku berjalan begitu jauh hanya untuk membawaku ke rumah makan biasa ini?" tanya Mu Qianxia tidak percaya.
"Ini adalah rumah makan yang baru saja kutemukan belakangan ini. Meskipun dekorasinya tidak tampak semegah rumah makan terkenal di ibukota, cita rasa makanannya sama sekali tidak kalah dari rumah makan mana pun di sini, dijamin begitu datang sekali, kau pasti ingin datang untuk kedua kalinya. Sejak pertama kali tidak sengaja mampir ke sini, tempat ini langsung kumasukkan ke dalam daftar markas rahasianya diriku. Biasanya jika tidak ada kesibukan, aku pasti datang ke sini memesan beberapa menu dan menikmati segelas anggur kecil untuk melepas penat. Tempat ini khusus untukmu, kalau orang lain, aku tidak akan pernah sudi membawanya ke sini."
"Benar-benarkah sebagus yang kau katakan?" Harus diakui, perkataan Liyu sedikit membuatnya tertarik.
"Masuklah dan buktikan sendiri, bukankah kau akan langsung tahu? Jika nanti kau merasa aku melebih-lebihkan, aku berjanji akan memenuhi satu syarat darimu."
Melihat ekspresi Liyu yang begitu percaya diri, Mu Qianxia ragu sejenak sebelum berkata, "Baiklah."